Ketika bab Qada
dan Qadar, kami arahkan untuk menulis pengalaman atau kejadian hidup diluar
keinginan dan bayangan peserta didik, bagaimana mereka menjalani, juga cara
mereka temukan jalan solusi dan manajemen hati bahwa itu adalah bagian dari
takdir.
Satu demi satu
terkoreksi, salah satu ashab kami menulis lebih dari 2 halaman. Dia
menceritakan masalah panjang dan lebar. Masalah remaja umumnya: bertahan dengan
lingkungan, bagian mencari kesesuaian diri dengan berbagai bentuk pribadi di
sekitar.
Sebagai pendamping,
tugas kami adalah memenuhi hati dalam puncak rahmat dan belas kasih pada setiap
muslim, sehingga tulisan ini lahir berguna bagi kami pribadi sebagai pengingat,
pun dapat jadi pesan bagi yang lain dalam mencari teman atau sahabat.
Pesan dalam tulisan
ini adalah sebagaimana yang diajarkan oleh guru kami, beberapa perkara yang
perlu diperhatikan.
Pertama,
carilah teman dan sahabat yang cerdas. Sungguh, musuh yang berakal masih lebih
baik ketimbang teman yang bodoh.
Kedua, carilah
teman dan sahabat yang baik akhlaknya.
Antara kayu bakar dan kayu gaharu akan tampak ketika dibakar, jika ingin
mengetahui kualitas akhlak seseorang maka bakarlah; buat dia terdesak dan
marah. Ketika marah, orang mulia tampak dari apa yang dia perbuat dan orang
durjana tampak dari apa yang dia ucapkan.
Di sisi lain,
boleh jadi kita dikuasai oleh nafsu dan syahwat maka teman dan sahabat yang
memiliki perangai mulia sangat berguna sebagai pagar. Pagar ini adalah jelmaan
dari mulianya adab mereka. Saat mereka melihat kebaikan dalam diri kita, mereka
tidak segan menyebutnya. Ketika mereka melihat keburukan dan aib, mereka tidak malu
menegur, menutup lalu merahasiakannya.
Masing-masing
dari kita mesti berhati-hati dalam bergaul dengan sesama manusia. Betapa banyak
orang dalam lisan berkawan, dalam hati bermusuhan.
Ketiga, carilah
teman dan sahabat saleh. Perlu rasanya dipahami, teman saleh nan bertakwa
adalah salah satu kriteria utama. Bagaimana kita bisa percaya pada teman, jika
dia sendiri tidak memiliki rasa takut pada Allah?! Bahkan pendirian yang dia
miliki saja dapat berubah-ubah sesuai keadaan dan kebutuhan. Jika pada Allah,
Tuhan Raja Diraja yang menciptakan keberadaannya, mencoba dia tipu dan kelabui,
lalu bagaimana dengan kita yang memiliki kelemahan dan kekurangan?!
Teman dan
sahabat yang buruk adalah seseorang yang penuh syahwat dengan urusan manusia,
sibuk dengan menelisik aib sesama, menjauhkan diri kita dari proses kemajuan
kualitas pribadi. Kefasikan semacam ini membuat kita jeli keberadaan semut di
tengkuk hamba lain dan buta akan gajah di pelupuk mata sendiri, maka batasi
komunikasi dan berhati-hati.
Keempat,
carilah teman dan sahabat yang tidak rakus dengan harta. Sungguh, cinta dunia
adalah pangkal dari segala kesalahan dan dosa. Sebab itu, teman dan sahabat
yang rakus akan dunia merupakan racun yang mematikan. Tabiat manusia tercipta
untuk meniru dan mengikuti teman, jangan tergopoh, jangan sampai korbankan
agama demi harta, pilihlah yang baik untuk jiwa dan raga, kesederhanaan dalam
segala urusan adalah jalan terbaik menitih kebahagiaan.
Kelima,
terakhir. Carilah teman dan sahabat yang jujur. Berteman dan bersahabat dengan
mereka akan menjamin keamanan zahir dan batin, karena kita akan selamat dari
lidah licinnya. Mereka tidak ragu menegurmu ketika salah dan tidak berat hati
memujimu ketika benar.
Dalam interaksi
kehidupan dunia, sesuaikan dengan tujuan diri. Jika guna persiapan kebahagiaan
di hari kebangkitan, maka cari serta timbang teman dan sahabat atas kadar
agamanya. Jika kepentingan untuk dunia, maka cari serta timbang teman dan
sahabat atas kadar baiknya tabiat perilaku. Jika berharap ketentraman hati,
maka cari serta timbang teman dan sahabat atas selamat tidaknya kita dari
keburukan yang dia miliki.
Untuk memenuhi
tujuan diri di atas, perlu memperhatikan ukuran dalam menjalin hubungan dengan
mereka. Ukuran seseorang bergantung pada keadaan orang yang hendak kita jadikan
teman, terlebih sahabat, mereka bisa layaknya makanan utama, obat atau bahkan virus
penyakit yang harus dijauhi.
Orang seperti
makanan pokok adalah orang yang tidak bisa kita tinggalkan. Diri kita akan
selalu butuh, sehingga berteman serta berkumpul dengannya adalah sebuah
keniscayaan.
Orang seperti
obat adalah orang yang mungkin kita butuhkan tapi tidak ditinggalkan secara
keseluruhan. Kita berteman dengannya, tapi tidak ada urgensi lebih dari sekadar
apa yang dibutuhkan. Tidak ada unsur merugikan ataupun menguntungkan, semua
berjalan semestinya.
Orang seperti
virus penyakit. Orang ini adalah orang yang tidak bisa tidak dihindari. Dalam
realita kita berusaha menghindar, tapi terkadang penyakit datang juga. Meskipun
kita tidak menyukainya, orang seperti penyakit tetap ada dan akan mendekat
dalam kehidupan di dunia. Kita tidak dituntut untuk memblokir interaksi
dengannya, melainkan hanya berusaha selamat darinya dan tidak menafikkan setiap
makhluk akan membawa faidah tersendiri.
Jika kita
bertemu dengan orang tipe ketiga ini, maka perhatikan ihwal keadaan dan
lisannya, ambil pelajaran untuk kita, karena seorang mukmin adalah cermin bagi
mukmin lainnya. Jika menemukan faidah dari keberadaannya, maka ambil saja. Jika
melihat kejelekan, maka jauhi perbuatannya.
Satu lagi, bila
bersua dan berinteraksi dengan tipe ini, jangan pernah meremehkan, terutama bila
dia seorang muslim. Karena dalam ukhuwah islamiyah diharamkan oleh Rasulullah
atas darah, harta dan kehormatan. Demikian ini perbuatan orang berakal.
Ketiga jenis
ini telah kami temui dalam rentang masa keberadaan di dunia, dan akan terus
berlanjut. Sungguh, kami beruntung memiliki guru dan orang tua yang memberi
kami bekal dalam memanajemen hati bertemu dengan berbagai macam adanya manusia serta menjelaskan hak-hak mereka dalam lingkaran teman dan sahabat. Hafidzahumullah
fi al-tha'ah wa al-khair wa al-sa'adah wa al-salamah, aamiin.
Mengutip maqalah yang disandarkan ke salah seorang sahabat agung, khalifah pengganti sekaligus mertua Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, al-Faruq Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:
فقلما تصيب ذلكما
أُعطِيَ العبدُ بعد الإسلامِ نعمةً خيرًا مِن أخٍ صالحٍ فإذا وجد أحدُكم ودًا مِن
أخيه فليَتَمسَّك به
"Tidaklah seorang hamba diberi nikmat pemberian yang lebih baik setelah Islam selain nikmat memiliki saudara (teman; sahabat) yang saleh. Jika engkau dapati rasa sayang dari saudara; teman; sahabat yang baik, maka pegang dia erat-erat, karena yang demikian ini jarang ditemukan."
Tidak sampai disitu, kawan dan sahabat yang baik lagi saleh adalah salah satu tanda dari terkumpulnya kebaikan Tuhan dalam diri seseorang. Karena dalam sebuah khabar dijelaskan sesiapa yang dikehendaki Allah kebaikan dalam dirinya, maka akan dianugerahi teman dekat yang baik lagi saleh, mereka akan mengingatkan dan menolong dalam kebaikan. [2]
Penjelasan di
atas adalah setitik penjelasan yang kami dapat dan temukan, terkumpul dalam sebuah nadzam yang
pernah kami hafalkan dulu,
عن المرءِ لَاتَسأل وَسَل عَن قَرِينِه فانّ القَرينَ بالمُقارِنِ يَقتَدِى
"Ojo takon
songko wong siji, takono kancane, kerono sak temene konco manut kang ngancane,
janganlah tanya seseorang itu pada dirinya tapi tanya-lihatlah siapa temannya
karena seseorang akan mengikuti bagaimana temannya."
Nadzam
di atas, uraian perkara sebelumnya, keduanya adalah bagian lautan pemahaman
ulama dari salah satu hadis Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:
اَلْمَرْءُ عَلَى
دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang
itu tergantung pada keadaan agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa
kamu sekalian berteman."
Firman ilahi dalam al-Quran menyebutkan:
“Sebagian para karib setia pada hari Kiamat menjadi
musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang (berkarib setia) yang memiliki
rasa takwa.” [3]
Begitu banyak
hal yang memengaruhi hidup, tapi satu perkara yang akan merubah diri adalah dengan
siapa kita berkawan. Tidak sedikit orang mulia turun jadi hina karena kawan,
sebab seseorang itu dianggap sama dengan orang yang berjalan bersama dengannya,
layaknya sepasang sandal melengkapi satu sama lain, bagai dua tangan yang
saling membasuh.
Segala sesuatu
memiliki kesamaan dan kemiripan dengan selainnya, karena ini lah hati seseorang
dianggap sama dengan lainnya saat dapat bertemu dan berkawan.
Ini adalah sedikit risalah dari panjangnya penjelasan
Hujjah al-Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi
al-Syafi’i dalam salah satu karya beliau, Bidayah al-Hidayah. Kami
sarankan jika ingin mengenal hak dan kewajiban dalam sahabat dan kawan, maka
selami karya beliau serta penjelasan lanjut (syarh) nya, Maraqi al-Ubudiyah, yang di tulis
oleh Sayyid Ulama al-Hijaz al-‘Allamah Syekh Muhammad Nawawi bin
Umar al-Bantani al-Jawi al-Syafi’i.
Wallahu a’lam
Ahad, 11 Mei 2025 M - 13 Zulkaidah 1446 H
تراب
نعلي الحبيب ﷺ
Pembahasan Selanjutnya Baca: Cari Circle Bekal Akhirmu!
Catatan Kaki:
[1] Abu Thalib al-Makki, Qutu al-Qulub, Juz
2, Hal. 360:
وفي الخبر: من أراد الله
به خيراً رزقه خليلاً صالحاً، إنْ نسي ذكره وإنْ ذكر أعانه
[2] QS. Az-Zukhruf: 67:
﴿ ٱلۡأَخِلَّاۤءُ یَوۡمَىِٕذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِینَ
﴾
والأخِلّاءُ: جَمْعُ
خَلِيلٍ، وهو الصّاحِبُ المُلازِمُ، قِيلَ: إنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ التَّخَلُّلِ
لِأنَّهُ كالمُتَخَلِّلِ لِصاحِبِهِ والمُمْتَزِجِ بِهِ (التحرير والتنوير - ابن
عاشور (١٣٩٣ هـ))
Daftar Pustaka:
Abu Thalib al-Makki, Qutu al-Qulub fi Mu'amalah al-Mahbub, Juz 2, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2005, dalam Maktabah Syamilah.
Alala, Surabaya: Maktabah Syekh Salim bin Sa’d Nabhan.
Imam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Bidayah
al-Hidayah, Depok: Maktabah Turmusy li al-Turats, 2022.
Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani, Maraqi
al-Ubudiyah ‘ala Matni Bidayah al-Hidayah.
Posting Komentar