Hasan
bin Tsabit, seorang penyair bangsa Arab, masyhur keindahan susunan
kata yang keluar dari lisannya. Disegani adalah haknya. Adat sebelum
adanya cahaya iman, masyarakat Arab sangat mahir lagi tersohor dalam hasil
karya sastra, syair sebagai produk utama.
Dengan
syair, yang berpangkat tinggi dan jubah berkibas panjang akan turun wibawa
tatkala bibir bisu akan rajutan bait-bait indah. Sedangkan budak tanpa jubah
membentang akan naik kehormatan hingga terpandang bila terampil memainkan
diksi-diksi yang menghujam hati para pendengar.
Hasan
bin Tsabit, seorang biasa yang lihai dalam menyusun tembang-tembang elok,
sehingga menjadi pacuan bagi kaum kafir wilayah Mekkah dan sekitarnya untuk
menghasut, menghinakan dakwah dan pribadi agung Sang Utusan Rabb al-Izzati.
Hingga
suatu waktu,
“Wahai
Hasan! Kami akan memberikan imbalan sesuka hatimu, buatlah syair hinakanlah
Muhammad!”, titah untuknya.
“Bagaimana
hendak aku mengoloknya?! Sedang aku belum pernah melihat dirinya”,
pungkas Hasan.
Seorang
Ibn Tsabit tidak mengenal Rasulullah secara menyeluruh, melainkan hanya dari
telinga ke telinga, mulut ke mulut, tanpa melihat secara langsung siapakah
Muhammad? Seperti apakah Muhammad? Bagaimana perangai Muhammad?
Benarkah selama ini tentang Muhammad? Pemberi titah mengarahkan Ibn
Tsabit ke sebuah jalan yang biasanya dilalui Sang Rasul shallallahu
‘alaihi wasallam.
“Tunggulah
disini, Muhammad sebentar lagi melewati jalan ini”
Dengan
sigap Ibn Tsabit menunggu bersembunyi.
Tak
lama dari penantian dibalik persembunyian. Muncul-lah sosok gagah rupawan
dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya. Berjalan dengan penuh kerendahan
hati. Wajahnya memancarkan sinar keagungan ilahi yang dianugerahkan padanya.
Dari setiap organ tubuh sucinya, baik mata, hidung, bibir, tangan dan kaki
laksana memancarkan sinar bintang dengan mulianya. Tiap langkah sang Nabi dalam
menyusuri jalan terlihatlah tabiat sesungguhnya. Dialah Muhammad, orang yang
dipuji dan terpuji, putra Abdullah.
Dia
adalah yang terbaik dari Bani Muthalib, yang terpilih dari Bani Hasyim, yang
terpilih dari Bani Abd Manaf, yang terpilih dari Bangsa Quraisy, yang terpilih
dari anak turun Kinanah, yang terpilih dari anak turun orang Arab terbaik
Mudlar, yang terpilih dari anak turun Nizar, yang terpilih dari Ismail as.,
yang terpilih dari Khalilullah Ibrahim, yang terpilih dari
sebaik-baik anak cucu Shafiyullah Adam. Dia adalah Muhammad,
pancaran nur-nya senantiasa dipindahkan oleh Allah Azza wa Jalla dari
tulang rusuk mulia ke rahim yang suci dengan keadaan yang disucikan serta
terpelihara. [1]
Dia
adalah Muhammad, lahir dari pernikahan sah nan mulia, bukan hasil dari
pertumpahan darah dimulai dari kepemimpinan Adam sebagai khalifah di bumi-Nya.
Sungguh betapa beruntung dan mulianya tanah yang pernah kau injak, wahai
pemilik ‘udzma yang dinanti seluruh makhluk atas bibirnya “ana
laha!” [2]
Saat
Rasulullah sang pemilik sinar laksana purnama melintas, Hasan bin Tsabit
menutupi mata dengan telapak tangan sebab pancaran cahaya Nabi yang
menyilaukan penglihatannya. Dia tetap mencoba melihat Rasulullah sambil
merenggangkan jari-jari, seakan dia tak mau menghilangkan sebuah kesempatan
emas satu kali dalam jatah umurnya. Terus melihat hingga Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam pergi dari pandangannya.
Hasan
bin Tsabit pergi menemui pengutusnya, dilemparkan dirham-dirham kaum kafir ke
muka dan kepala mereka, “Demi Allah!! Bukan untuk (dirham) ini dia
(Muhammad Saw.) dicaci!” Dia kemudian bersyair:
لَمَّا رَأَيتُ اَنوَارهُ سَطَعَت ۞
وَضَعتُ مِن خَيفَتِي كَفِّي على بَصَرِي
Tatkala
‘ku lihat parasnya memancarkan cahaya, ku letakkan telapak tangan tepat di mata
خَوفًا على بَصَرِي مِن حُسنِ صُورَتِه ۞
فَلَستُ أنظُرُهُ الّا على قَدرٍ
Khawatir
terhadap mataku dari kebagusan perawakannya, tidak
mampu ku lihat melainkan hanya semampunya
رُوح مِن النُّورِ في جِسمِ مِن القَمَرِ
۞ كَحِليَةٍ نُسِجَت بِاالأنجُمِ الزُّهُرٍ
Seolah
ruhnya adalah cahaya dalam pancaran raga layaknya purnama, seluruh bagian
tubuhnya laksana rangkaian kejora
Hasan
bin Tsabit, salah satu orang yang bersaksi atas Islam sebab keagungan ilahi
yang telah dilimpahkan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Siapa yang melihat Nabi dengan hati yang murni, ia akan menerima jalan hidayah.
Inilah sekelumit kisah Hasan bin Tsabit, penyair Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
Tak
sampai disitu perjalanan bait-bait yang keluar dari lisannya yang terpuji:
قَرَأنَا في الضُّحى وَلَسَوفَ يُعطِي ۞
فَسَرَّ قُلُوبَنَا ذَاكَ العَطاَءُ
Kami
membaca dalam ad-Dhuhaa bahwa Allah akan memberimu hingga kau puas, maka
pemberian itu membuat hati kami senang
وَحَاشَا يارسول الله تَرضى ۞ وَفِيناَ
مَن يُعَذَّبُ أو يُسَاءُ
Sebab
tidaklah mungkin engkau rela wahai Rasulullah, jika
salah satu diantara kami di siksa atau dipersusah
وَأجمَلُ مِنكَ لَم تَرَقَطُّ عَينِي ۞
وَأكمَلُ مِنكَ لَم تَلِدِ النِّسَاءُ
Yang
lebih indah dari engkau tak pernah terlihat oleh mataku, yang
lebih sempurna dari engkau tak pernah dilahirkan oleh wanita manapun
خُلِقتَ مُبَرَّءً مِن كُلِّ عَيبٍ ۞
كأنَّكَ قَد خُلِقتَ كَمَا تَشَاءُ
Kau
dilahirkan terbebas dari seluruh kecacatan, seakan-akan
engkau dilahirkan layaknya apa yang kau harapkan
نَبِيٌّ هَاشَمِيٌّ أبطَحِيُّ ۞
شَمَائِلُهُ سَمَاحَة وَ الوَفَاءُ
Engkaulah
nabi (dari) Bani Hasyim wilayah Abthah, perangainya
berbudi pekerti luhur nan amanah
Jika
para sahabatmu telah rela memberikan kepala mereka demi engkau, lalu
bagaimana dengan kami yang jauh? Telah lama banyak dari perindumu, Wahai
Perhiasan Dunia, yang menabahkan diri, memendam rindu dan tangis darah
dalam penantian jumpa [3], hingga tak berhenti mengalir deras namamu dari
kedua bibirnya.
Dalam madah Burdah-nya,
Imam Bushiri berkata:
وَكَيفَ يُدرِكُ في
الدُّنيَا حَقِيقَتَهُ ۞ قَومٌ نِيَامٌ تَسَلَّوا عَنهُ بِالحُلُمِ
Dan
bagaimana mereka mengetahui hakikat Sang Nabi dalam
dunia? mereka
tidur puas jumpa mengenal Sang Nabi dalam
mimpi
فَمَبلَغُ العِلمِ
فِيهِ اَنَّهُ بَشَرٌ ۞ وَاَنَّه خَيرُ خَلقِ اللهِ كُلَّهِمِ
Puncak
pengetahuan tentang Sang Nabi sesungguhnya beliau
seorang manusia,
sungguh beliau sebaik-baik ciptaan Allah seluruhnya
وَكُلُّ اَيٍ اَتَى
الرُّسلُ الكِرَامُ بِهَا ۞ فَإنَّمَا اتَّصَلَت مِن نُورِه بِهِمِ
Dan
segenap ayat (mukjizat) pada para rasul mulia, sungguh
itu adalah pancaran sinar Rasulullah pada
mereka
فَإنَّه شَمسُ فَضلٍ
هُم كَوَاكِبُهَا ۞ يُظهِرنَ اَنوَارَهَا لِلنَّاس في الظُّلَمِ
Sesungguhnya
Rasulullah matahari dalam keutamaan dan
mereka (para nabi) adalah bintang-bintangnya, para
nabi yang memancarkan cahayanya (dari sang matahari) bagi manusia dalam
kegelapan [4]
Usia
telah banyak berkurang, Wahai Penguasa Arsy, muliakanlah sisa umur dengan
perjumpaan.
Cukup
sebuah matlamat bahwa engkau adalah pemilik syafaat, di jubahmu-lah tempat
berlindung.
Engkau
Sang benteng kegelisahan, saat tumpuan mizan dan shirath.
Engkau
Sang penawar, atas diri berlumur dosa dan kekurangan yang berlipat.
Engkau
Sang Rasul, lemah lembut pada seseorang yang telah mengetuk pintu kebaikan.
Engkau
Sang penolong, atas umat yang sedang mabuk kelimpung di tengah huru-hara
mahsyar.
Engkau
Sang pemilik kemuliaan, yang telah rela menanggung derita berat dosa umat.
Engkau
Sang penenang, bagi penakut yang berlarian ditimpuk salah-dosa kesana kian
kemari.
Engkau
Sang pemilik cinta Allah yang berlebih, hingga para nabi dan rasul bermunajat
dalam hati inginkan menjadi bagian dari pasukan yang kau pimpin.
Wahai
yang telah ditinggikan namanya pada tiang-tiang arsy, adakah penghubung
teragung disisi-Nya selain dirimu duhai? Kaulah yang suci dan disucikan, dengan
namamu aku memohon penghapusan tinta merah dalam catatanku.
Wahai
pemilik kubah hijau, jangan lupakan daku.
Dalam
firman-Nya kami membaca:
...وَلَوْ
اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا
“...Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi
dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan
Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha
Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Dari
ayat diatas telah terlihat betapa agungnya cinta Tuhan terhadapmu, hingga
terucap dari lisan suci para perindu:
يا سيدي يا رسولَ الله يا من له الجَاهُ
عند الله ۞ إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله
Wahai
tuanku, wahai utusan Allah, wahai pemilik kemuliaan tertinggi di sisi Allah,
Sesungguhnya
pendosa ini telah datang kepadamu menanggung tumpukan dosa berharap engkau
memintakan ampunan Allah atas kami
Bagaimana
kami tidak mencintaimu?! Sedangkan engkau telah mencintai kami sebelum kami
mencintaimu. Suatu hari engkau berbincang dengan para sahabat:
“Aku
sangat rindu pada saudara-saudara kita”
“Bukankah
kami ini saudaramu, wahai Rasulullah?”
“Kalian
adalah sahabatku, dan saudara kita adalah suatu kaum yang datang setelahku, ia
beriman padaku, (padahal) ia tidak pernah berjumpa denganku” [5]
Wahai
diri! Jika kamu
mengatakan cinta beliau, maka ketauhilah! beliau lebih cinta dan rindu pada dirimu
seribu empat ratus sekian tahun yang lalu. Lalu, adakah sesuatu yang akan
memutuskan hubungan kita dengannya?! Siapa yang berhak masuk dalam hatimu selain
namanya?! Apakah dalam semesta ini ada yang pantas dicintai melebihinya?!
Pada
12 Rabiulawal ini, jika “maulid (مولد)”
adalah isim zaman dari “walada (ولد)” yang
memiliki arti waktu kelahiran, maka Paman Nabi, Sayyidina Abbas lah yang
“merayakan” maulid dengan membacakan syair dihadapan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
Suatu
hari,
“Wahai
Utusan Allah, diriku ingin untuk memujimu”, pinta
Sayyidina Abbas
“Katakanlah
wahai paman, semoga Allah menjaga gigi-gigimu”,
jawab sang Rasul
Sayyidina
Abbas mulai membacakan syair:
مِن قبلِها طِبتَ في
الظِّلَالِ وفي مُستودعٍ حَيثُ يُخصَفُ الوَرَقُ
Wahai
utusan Allah, kau telah semerbak sebelum dilahirkan di bumi, ketika dalam
bayangan rusuk Adam, sejak Adam-Hawa menutupi tubuhnya dengan daun surga
Hingga
sampai pada kalimat:
وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ
أَشْرَقَتِ اْلأَرْضُ وَضَاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ
فَنَحْنُ فِي ذَلِكَ الضِّيَاءِ
وَفِي النُّوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ
Ketika
engkau dilahirkan, terbitlah matahari sebenarnya dan seluruh jagat raya menjadi
terang benderang, senantiasa
kami dengan cahaya yang engkau bawa akan menembus jalan demi jalan
kebenaran [6]
***
لا يعرف قدر المولد
الا من عرف قدر المولود
- الحبيب عمر بن حفيظ -
“Tidaklah
seseorang mengetahui kadar kemuliaan hari kelahiran Rasulullah (maulid)
kecuali orang yang mengetahui kadar keagungan bayi yang dilahirkan (maulud)”
***
Wallahu
a’lam
12
Rabiulawal 1443 H – Selasa, 19 Oktober 2021
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan
Kaki
[1]
Dalam salah satu kitab yang dikarang oleh Imam al-Suyuthi, disebutkan al-Hafidz
Syamsuddin bin Nashiruddin al-Dimasyqi berkata dalam syairnya bahwa perpindahan
nur (cahaya) agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari
kening ahli sujud satu ke ahli sujud yang lain. Nur agung tersebut
turun-temurun dari masa ke masa hingga lahirlah sang Musthafa shallallahu
‘alaihi wasallam ke alam zahir sebagai rasul terbaik. Nur tersebut
dipelihara oleh Allah (sebagai bentuk pemuliaan terhadap kekasih-Nya) pada leluhur
Rasulullah serta sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap nama rasul-Nya.
(Penjagaan ini ialah) Para leluhur Rasulullah terhindar dari perbuatan zina dan
aibnya yang dimulai dari Nabi Adam alaihissalam hingga ayah
ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Kholilurrohman: 2019, 90).
[2] Hadis mengenai syafaat dikeluarkan oleh Imam
Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Shahih-nya pada Kitab al-Tauhid Bab Kalaami
al-Rabbi ‘Azza wa Jalla Yauma al-Qiyamati ma’a al-Anbiya’I wa Ghairihim,
termasuk dalam kategori Hadis Qudsi. Takhrij untuk
hadis tersebut ada pada pada Shahih Muslim, Sunan al-Tirmidzi, Musnad Imam
Ahmad bin Hanbal, dan riwayat lainnya.
[3]
Syair pertama pada Pasal Pertama dalam Qasidah Burdah Imam al-Bushiri.
[4]
Qasidah Burdah Imam Abu Abdullah Muhammad al-Bushiri tersebut diambil dari
Khulashah al-Madad al-Nabawi fii Awraad Aali Baa’alwi karya al-Habib Umar bin
Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Syaikh Abu Bakar bin Salim pada Fashl
al-Tsaalits fii Madh al-Nabiy (Pasal Ketiga Pujian atas Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam).
[5]
Hadis dari Musnad Ahmad bab Anas bin Malik, kategori hadis Marfu’.
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ ،
حَدَّثَنَا جَسْرٌ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : " وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي ". قَالَ : فَقَالَ
أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوَلَيْسَ نَحْنُ
إِخْوَانَكَ ؟ قَالَ : " أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَلَكِنْ إِخْوَانِي الَّذِينَ
آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي
١. ( هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ ) : يحي بن معين:
قال الدارمي عنه: ثقة | النسائى: لا بأس به | ابن حبان: الثقات | الذهبي: الحافظ |
ابن حجر العسقلاني: ثقة ثبت | الحاكم: حافظ ثبت في الحديث
٢. ( جَسْرٌ ) : يحي بن معين: ليس
بشيء | البخاري: ليس بذاك | النسائي: ضعيف | الدارقطني: قال البرقني عنه: متروك |
قال مرة: ليس بثقة, ولا يكتب حديثه
٣. َ( ثابِتٍ ) : يحي بن معين: قال ابن
ابي خيثمة, ويزيد بن الهيثم عنه: ثقة | ابن حبان: كان من أعبد أهل البصرة |
النسائي: ثقة | الذهبي: كان رأسا في العلم والعمل, يلبس الثياب الفاخرة, يقال: لم
يكن في وقته أعبد منه | ابن حجر العسقلاني: ثقة عابد
٤. ( أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ) :
الصحابة
(جامع الكتب التسعة)
[6] Syair tersebut dapat diriwayatkan oleh Khuraim bin Aus dalam Kitab Siyar A’lami al-Nubalaa’ karya Imam al-Dzahabi. Dapat pula ditemukan dalam Kitab Majma’u al-Zawa’id karya Imam al-Haitsami yang diriwayatkan oleh Khuraim bin Aus. (Mausu’ah al-Haditsiyah)

Posting Komentar