Wahai Pemilik Kubah Hijau!

Dok. Pribadi | madinahmycity

Hasan bin Tsabit, seorang penyair bangsa Arab, masyhur keindahan susunan kata yang keluar dari lisannya. Disegani adalah haknya. Adat sebelum adanya cahaya iman, masyarakat Arab sangat mahir lagi tersohor dalam hasil karya sastra, syair sebagai produk utama.

Dengan syair, yang berpangkat tinggi dan jubah berkibas panjang akan turun wibawa tatkala bibir bisu akan rajutan bait-bait indah. Sedangkan budak tanpa jubah membentang akan naik kehormatan hingga terpandang bila terampil memainkan diksi-diksi yang menghujam hati para pendengar.

Hasan bin Tsabit, seorang biasa yang lihai dalam menyusun tembang-tembang elok, sehingga menjadi pacuan bagi kaum kafir wilayah Mekkah dan sekitarnya untuk menghasut, menghinakan dakwah dan pribadi agung Sang Utusan Rabb al-Izzati.

Hingga suatu waktu,

“Wahai Hasan! Kami akan memberikan imbalan sesuka hatimu, buatlah syair hinakanlah Muhammad!”, titah untuknya.

“Bagaimana hendak aku mengoloknya?! Sedang aku belum pernah melihat dirinya”, pungkas Hasan.

Seorang Ibn Tsabit tidak mengenal Rasulullah secara menyeluruh, melainkan hanya dari telinga ke telinga, mulut ke mulut, tanpa melihat secara langsung siapakah Muhammad? Seperti apakah Muhammad? Bagaimana perangai Muhammad? Benarkah selama ini tentang Muhammad? Pemberi titah mengarahkan Ibn Tsabit ke sebuah jalan yang biasanya dilalui Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Tunggulah disini, Muhammad sebentar lagi melewati jalan ini”

Dengan sigap Ibn Tsabit menunggu bersembunyi.

Tak lama dari penantian dibalik persembunyian. Muncul-lah sosok gagah rupawan dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya. Berjalan dengan penuh kerendahan hati. Wajahnya memancarkan sinar keagungan ilahi yang dianugerahkan padanya. Dari setiap organ tubuh sucinya, baik mata, hidung, bibir, tangan dan kaki laksana memancarkan sinar bintang dengan mulianya. Tiap langkah sang Nabi dalam menyusuri jalan terlihatlah tabiat sesungguhnya. Dialah Muhammad, orang yang dipuji dan terpuji, putra Abdullah.

Dia adalah yang terbaik dari Bani Muthalib, yang terpilih dari Bani Hasyim, yang terpilih dari Bani Abd Manaf, yang terpilih dari Bangsa Quraisy, yang terpilih dari anak turun Kinanah, yang terpilih dari anak turun orang Arab terbaik Mudlar, yang terpilih dari anak turun Nizar, yang terpilih dari Ismail as., yang terpilih dari Khalilullah Ibrahim, yang terpilih dari sebaik-baik anak cucu Shafiyullah Adam. Dia adalah Muhammad, pancaran nur-nya senantiasa dipindahkan oleh Allah Azza wa Jalla dari tulang rusuk mulia ke rahim yang suci dengan keadaan yang disucikan serta terpelihara. [1]

Dia adalah Muhammad, lahir dari pernikahan sah nan mulia, bukan hasil dari pertumpahan darah dimulai dari kepemimpinan Adam sebagai khalifah di bumi-Nya. Sungguh betapa beruntung dan mulianya tanah yang pernah kau injak, wahai pemilik ‘udzma yang dinanti seluruh makhluk atas bibirnya “ana laha!” [2]

Saat Rasulullah sang pemilik sinar laksana purnama melintas, Hasan bin Tsabit menutupi mata dengan telapak tangan sebab pancaran cahaya Nabi yang menyilaukan penglihatannya. Dia tetap mencoba melihat Rasulullah sambil merenggangkan jari-jari, seakan dia tak mau menghilangkan sebuah kesempatan emas satu kali dalam jatah umurnya. Terus melihat hingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pergi dari pandangannya.

Hasan bin Tsabit pergi menemui pengutusnya, dilemparkan dirham-dirham kaum kafir ke muka dan kepala mereka, “Demi Allah!! Bukan untuk (dirham) ini dia (Muhammad Saw.) dicaci!” Dia kemudian bersyair:

لَمَّا رَأَيتُ اَنوَارهُ سَطَعَت ۞ وَضَعتُ مِن خَيفَتِي كَفِّي على بَصَرِي

Tatkala ‘ku lihat parasnya memancarkan cahaya, ku letakkan telapak tangan tepat di mata

خَوفًا على بَصَرِي مِن حُسنِ صُورَتِه ۞ فَلَستُ أنظُرُهُ الّا على قَدرٍ

Khawatir terhadap mataku dari kebagusan perawakannya, tidak mampu ku lihat melainkan hanya semampunya

رُوح مِن النُّورِ في جِسمِ مِن القَمَرِ ۞ كَحِليَةٍ نُسِجَت بِاالأنجُمِ الزُّهُرٍ

Seolah ruhnya adalah cahaya dalam pancaran raga layaknya purnama, seluruh bagian tubuhnya laksana rangkaian kejora 

Hasan bin Tsabit, salah satu orang yang bersaksi atas Islam sebab keagungan ilahi yang telah dilimpahkan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang melihat Nabi dengan hati yang murni, ia akan menerima jalan hidayah. Inilah sekelumit kisah Hasan bin Tsabit, penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Tak sampai disitu perjalanan bait-bait yang keluar dari lisannya yang terpuji:

قَرَأنَا في الضُّحى وَلَسَوفَ يُعطِي ۞ فَسَرَّ قُلُوبَنَا ذَاكَ العَطاَءُ

Kami membaca dalam ad-Dhuhaa bahwa Allah akan memberimu hingga kau puas, maka pemberian itu membuat hati kami senang

وَحَاشَا يارسول الله تَرضى ۞ وَفِيناَ مَن يُعَذَّبُ أو يُسَاءُ

Sebab tidaklah mungkin engkau rela wahai Rasulullah, jika salah satu diantara kami di siksa atau dipersusah

وَأجمَلُ مِنكَ لَم تَرَقَطُّ عَينِي ۞ وَأكمَلُ مِنكَ لَم تَلِدِ النِّسَاءُ

Yang lebih indah dari engkau tak pernah terlihat oleh mataku, yang lebih sempurna dari engkau tak pernah dilahirkan oleh wanita manapun

خُلِقتَ مُبَرَّءً مِن كُلِّ عَيبٍ ۞ كأنَّكَ قَد خُلِقتَ كَمَا تَشَاءُ

Kau dilahirkan terbebas dari seluruh kecacatan, seakan-akan engkau dilahirkan layaknya apa yang kau harapkan

نَبِيٌّ هَاشَمِيٌّ أبطَحِيُّ ۞ شَمَائِلُهُ سَمَاحَة وَ الوَفَاءُ

Engkaulah nabi (dari) Bani Hasyim wilayah Abthah, perangainya berbudi pekerti luhur nan amanah

Jika para sahabatmu telah rela memberikan kepala mereka demi engkau, lalu bagaimana dengan kami yang jauh? Telah lama banyak dari perindumu, Wahai Perhiasan Dunia, yang menabahkan diri, memendam rindu dan tangis darah dalam penantian jumpa [3], hingga tak berhenti mengalir deras namamu dari kedua bibirnya.

Dalam madah Burdah-nya, Imam Bushiri berkata:

وَكَيفَ يُدرِكُ في الدُّنيَا حَقِيقَتَهُ ۞ قَومٌ نِيَامٌ تَسَلَّوا عَنهُ بِالحُلُمِ

Dan bagaimana mereka mengetahui hakikat Sang Nabi dalam dunia? mereka tidur puas jumpa mengenal Sang Nabi dalam mimpi

فَمَبلَغُ العِلمِ فِيهِ اَنَّهُ بَشَرٌ ۞ وَاَنَّه خَيرُ خَلقِ اللهِ كُلَّهِمِ

Puncak pengetahuan tentang Sang Nabi sesungguhnya beliau seorang manusia, sungguh beliau sebaik-baik ciptaan Allah seluruhnya

وَكُلُّ اَيٍ اَتَى الرُّسلُ الكِرَامُ بِهَا ۞ فَإنَّمَا اتَّصَلَت مِن نُورِه بِهِمِ

Dan segenap ayat (mukjizat) pada para rasul mulia, sungguh itu adalah pancaran sinar Rasulullah pada mereka

فَإنَّه شَمسُ فَضلٍ هُم كَوَاكِبُهَا ۞ يُظهِرنَ اَنوَارَهَا لِلنَّاس في الظُّلَمِ

Sesungguhnya Rasulullah matahari dalam keutamaan dan mereka (para nabi) adalah bintang-bintangnya, para nabi yang memancarkan cahayanya (dari sang matahari) bagi manusia dalam kegelapan [4] 

Usia telah banyak berkurang, Wahai Penguasa Arsy, muliakanlah sisa umur dengan perjumpaan.

Cukup sebuah matlamat bahwa engkau adalah pemilik syafaat, di jubahmu-lah tempat berlindung.

Engkau Sang benteng kegelisahan, saat tumpuan mizan dan shirath.

Engkau Sang penawar, atas diri berlumur dosa dan kekurangan yang berlipat.

Engkau Sang Rasul, lemah lembut pada seseorang yang telah mengetuk pintu kebaikan.

Engkau Sang penolong, atas umat yang sedang mabuk kelimpung di tengah huru-hara mahsyar.

Engkau Sang pemilik kemuliaan, yang telah rela menanggung derita berat dosa umat.

Engkau Sang penenang, bagi penakut yang berlarian ditimpuk salah-dosa kesana kian kemari.

Engkau Sang pemilik cinta Allah yang berlebih, hingga para nabi dan rasul bermunajat dalam hati inginkan menjadi bagian dari pasukan yang kau pimpin.

Wahai yang telah ditinggikan namanya pada tiang-tiang arsy, adakah penghubung teragung disisi-Nya selain dirimu duhai? Kaulah yang suci dan disucikan, dengan namamu aku memohon penghapusan tinta merah dalam catatanku.

Wahai pemilik kubah hijau, jangan lupakan daku.

Dalam firman-Nya kami membaca:

...وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا

...Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Dari ayat diatas telah terlihat betapa agungnya cinta Tuhan terhadapmu, hingga terucap dari lisan suci para perindu:

يا سيدي يا رسولَ الله يا من له الجَاهُ عند الله ۞ إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قدْ جَاءُوك بالذّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ الله

Wahai tuanku, wahai utusan Allah, wahai pemilik kemuliaan tertinggi di sisi Allah,

Sesungguhnya pendosa ini telah datang kepadamu menanggung tumpukan dosa berharap engkau memintakan ampunan Allah atas kami

Bagaimana kami tidak mencintaimu?! Sedangkan engkau telah mencintai kami sebelum kami mencintaimu. Suatu hari engkau berbincang dengan para sahabat:

“Aku sangat rindu pada saudara-saudara kita”

“Bukankah kami ini saudaramu, wahai Rasulullah?”

“Kalian adalah sahabatku, dan saudara kita adalah suatu kaum yang datang setelahku, ia beriman padaku, (padahal) ia tidak pernah berjumpa denganku” [5]

Wahai diri! Jika kamu mengatakan cinta beliau, maka ketauhilah! beliau lebih cinta dan rindu pada dirimu seribu empat ratus sekian tahun yang lalu. Lalu, adakah sesuatu yang akan memutuskan hubungan kita dengannya?! Siapa yang berhak masuk dalam hatimu selain namanya?! Apakah dalam semesta ini ada yang pantas dicintai melebihinya?! 

Pada 12 Rabiulawal ini, jika “maulid (مولد)” adalah isim zaman dari “walada (ولد)” yang memiliki arti waktu kelahiran, maka Paman Nabi, Sayyidina Abbas lah yang “merayakan” maulid dengan membacakan syair dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu hari,

“Wahai Utusan Allah, diriku ingin untuk memujimu”, pinta Sayyidina Abbas

“Katakanlah wahai paman, semoga Allah menjaga gigi-gigimu”, jawab sang Rasul

Sayyidina Abbas mulai membacakan syair:

مِن قبلِها طِبتَ في الظِّلَالِ وفي مُستودعٍ حَيثُ يُخصَفُ الوَرَقُ

Wahai utusan Allah, kau telah semerbak sebelum dilahirkan di bumi, ketika dalam bayangan rusuk Adam, sejak Adam-Hawa menutupi tubuhnya dengan daun surga

Hingga sampai pada kalimat:

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ اْلأَرْضُ وَضَاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ

فَنَحْنُ فِي ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي النُّوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Ketika engkau dilahirkan, terbitlah matahari sebenarnya dan seluruh jagat raya menjadi terang benderang, senantiasa kami dengan cahaya yang engkau bawa akan menembus jalan demi jalan kebenaran [6]

***

لا يعرف قدر المولد الا من عرف قدر المولود

- الحبيب عمر بن حفيظ -

“Tidaklah seseorang mengetahui kadar kemuliaan hari kelahiran Rasulullah (maulid) kecuali orang yang mengetahui kadar keagungan bayi yang dilahirkan (maulud)”

***

Wallahu a’lam

12 Rabiulawal 1443 H – Selasa, 19 Oktober 2021

تراب نعلي الحبيب ﷺ

 

 

Catatan Kaki

[1] Dalam salah satu kitab yang dikarang oleh Imam al-Suyuthi, disebutkan al-Hafidz Syamsuddin bin Nashiruddin al-Dimasyqi berkata dalam syairnya bahwa perpindahan nur (cahaya) agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kening ahli sujud satu ke ahli sujud yang lain. Nur agung tersebut turun-temurun dari masa ke masa hingga lahirlah sang Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam ke alam zahir sebagai rasul terbaik. Nur tersebut dipelihara oleh Allah (sebagai bentuk pemuliaan terhadap kekasih-Nya) pada leluhur Rasulullah serta sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap nama rasul-Nya. (Penjagaan ini ialah) Para leluhur Rasulullah terhindar dari perbuatan zina dan aibnya yang dimulai dari Nabi Adam alaihissalam hingga ayah ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Kholilurrohman: 2019, 90).

[2] Hadis mengenai syafaat dikeluarkan oleh Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Shahih-nya pada Kitab al-Tauhid Bab Kalaami al-Rabbi ‘Azza wa Jalla Yauma al-Qiyamati ma’a al-Anbiya’I wa Ghairihim, termasuk dalam kategori Hadis Qudsi. Takhrij untuk hadis tersebut ada pada pada Shahih Muslim, Sunan al-Tirmidzi, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, dan riwayat lainnya. 

[3] Syair pertama pada Pasal Pertama dalam Qasidah Burdah Imam al-Bushiri.

[4] Qasidah Burdah Imam Abu Abdullah Muhammad al-Bushiri tersebut diambil dari Khulashah al-Madad al-Nabawi fii Awraad Aali Baa’alwi karya al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Syaikh Abu Bakar bin Salim pada Fashl al-Tsaalits fii Madh al-Nabiy (Pasal Ketiga Pujian atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).

[5] Hadis dari Musnad Ahmad bab Anas bin Malik, kategori hadis Marfu’.

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ ، حَدَّثَنَا جَسْرٌ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " وَدِدْتُ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي ". قَالَ : فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ ؟ قَالَ : " أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَلَكِنْ إِخْوَانِي الَّذِينَ آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

١. ( هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ ) : يحي بن معين: قال الدارمي عنه: ثقة | النسائى: لا بأس به | ابن حبان: الثقات | الذهبي: الحافظ | ابن حجر العسقلاني: ثقة ثبت | الحاكم: حافظ ثبت في الحديث

٢. ( جَسْرٌ ) : يحي بن معين: ليس بشيء | البخاري: ليس بذاك | النسائي: ضعيف | الدارقطني: قال البرقني عنه: متروك | قال مرة: ليس بثقة, ولا يكتب حديثه

٣. َ( ثابِتٍ ) : يحي بن معين: قال ابن ابي خيثمة, ويزيد بن الهيثم عنه: ثقة | ابن حبان: كان من أعبد أهل البصرة | النسائي: ثقة | الذهبي: كان رأسا في العلم والعمل, يلبس الثياب الفاخرة, يقال: لم يكن في وقته أعبد منه | ابن حجر العسقلاني: ثقة عابد

٤. ( أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ) : الصحابة

(جامع الكتب التسعة)

[6] Syair tersebut dapat diriwayatkan oleh Khuraim bin Aus dalam Kitab Siyar A’lami al-Nubalaa’ karya Imam al-Dzahabi. Dapat pula ditemukan dalam Kitab Majma’u al-Zawa’id karya Imam al-Haitsami yang diriwayatkan oleh Khuraim bin Aus. (Mausu’ah al-Haditsiyah)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama