Kira-kira satu minggu setelah PBAK 2019 UIN Sunan Ampel Surabaya. Sore
hari itu -lupa tanggal pastinya hehe, kami semua dikumpulkan di Masjid Raya
Ulul Albab guna pembukaan kelas Ma’had bagi para mahasiswa baru. Jujur saja,
bagi tipe orang yang susah memulai pembicaraan seperti diriku, hal seperti ini
adalah momen yang membosankan. Namun dari belakang ada teman yang
menyusul.
“Ndek kene ae (disini saja)”, ucapnya.
“oke”, timpalku.
Padahal diriku tidak terlalu kenal dengannya.
Setelah duduk, berlanjut acara pembukaan, sambutan, dsb, dia
membuka smarthphone-nya, mungkin untuk sekadar mengecek notifikasi
atau membalas pesan yang masuk. Saat dia membuka lock screen, aku
sedikit terkejut. Ada rantaian nasab dengan tulisan tangan berbahasa Arab.
Kedua kalinya dia mengecek notifikasi, aku beranikan diri melirik nasab
siapa yang terpasang di layar kuncinya. Sekilas terbaca tulisan paling besar,
kedua dari atas, محمد (Muhammad).
Aku bergumam “wih, arek iki sueneng mbek alul bet-e Nabi, sampe digae layar
kunci (wih, anak ini cinta dengan alul bait-nya Nabi, sampai dijadikan
layar kunci)”. Aku buka pembicaraan,
“eh iku ndek layar kuncimu nasab e sopo? Habaib? (eh itu di
layar kuncimu nasabnya siapa? Habaib?)”
“iki ta? (ini ta?)”, sambil menunjukkan layar smartphone-nya
“he’em (iya)”
“iki nasabku (ini nasabku)”
Seketika wajahku menunjukkan raut tak percaya, “hah?!.”
“iki aku dikek i teko mbah-mbahku (nasab ini aku dikasih
dari leluhurku)”
“terus ketemu e ndek sopo? (terus ketemunya di siapa?)”
“ndek Mbah Mutamakkin, ero ta? (di Syaikh Mutamakkin, tau?)”
“ga hehe (tidak)”
Dia ini melanjutkan kisah siapakah Syekh Mutamakkin, dimana letak maqbarah-nya,
hubungannya dengan Gus Dur, hingga adat tahunan keluarga besarnya. Kemudian aku
minta melihat nasab itu, dia scroll galeri dan ku pinjam
sebentar untuk melihat.
Benar saja, disitu aku melihat runtutan nasabnya yang bersambung ke
Syaikh Ahmad Mutamakkin hingga Sultan Hadiwijaya Jaka Tingkir. Jaka Tingkir
menikahi putri dari Sultan Trenggono. Sultan Trenggono adalah keturunan dari
Raden Fatah Demak yang menikah dengan salah satu putri Raden Rahmatullah Sunan
Ampel. Secara urut mataku melihat Raden Rahmatullah bin Ibrahim Asmaraqandi bin
Jamaluddin Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Adzamatkhan bin Sayyid Amir
Abdul Malik Adzamatkhan bin Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad bin
Sayyid Ali bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi bin Sayyid
Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad
an-Naqib bin Sayyid Ali al-Uraidli bin Sayyid Ja’far as-Shadiq bin Sayyid
Muhammad al-Baqir bin Sayyid Ali Zainal Abidin bin Sayyid Husain bin Imam
Ali karramallahu wajhahu dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Aku sadar, ada aliran darah mulia Adzamatkhan dalam dirinya, fam
keturunan Rasulullah tertua; paling awal melakukan islamisasi di
Nusantara.
Keesokan harinya. Saat istirahat kuliah, aku dan dia keluar kelas sambil
bicara mengenai tugas. Ketika menuruni tangga Gedung Eltis posisiku ada
didepannya,
“eh mad, gausah di kei ero arek-arek foto wingi (eh
mad, tidak perlu diberitahukan ke teman-teman foto
(rantai keturunan) kemarin)”
“ya sopo yoan, emang lapo’o? (ya siapa juga yang akan
memberitahukan ke teman-teman, emang kenapa?)
“aku isin (aku malu)”
“lapo isin?! (kenapa malu)”
“akhlakku sek ngene (akhlakku masih begini)”
Jawaban sederhana, tapi mampu membuatku terdiam.
Bukan hal yang mengherankan. Temanku lainnya, yang memiliki darah Sunan
Ampel melalui jalur Sayyid Zainal Abidin Sunan Cendana, yang memiliki darah
Sayyid Hasan at-Turabi bin Ali bin Faqih al-Muqaddam Muhammad Ba’alawi, yang
memiliki darah para Kiai, dan banyak lainnya juga demikian, tidak memiliki
ambisi untuk dihormati, disegani, dipanggil dengan sebutan-sebutan sakral.
Mereka menjadi diri sendiri tanpa perlu menyeret trah keluarga yang ada dalam
dirinya.
Aku pernah mendengar mauidhah hasanah dari Habib Taufiq
bin Abdul Qadir Assegaf, habib kenamaan asal Pasuruan, saat di Sidosermo
Ndalem-Surabaya, mengatakan:
“إذا لم تكن نفس شريف
كأصله, فماذا تغني رفع المناصب؟ ,
Itulah teman-teman yang aku temui, enggan menunjukkan nama besar hanya
tidak ingin mencoreng kesucian aslaf. Mereka mengajarkan padaku
beratnya akhlakul karimah, dan khusus mereka adalah memelihara
sifat-sifat mulia sebagai konsekuensi dari garis keturunan yang mulia nan
terpelihara. Temanku yang lain pernah berkata “tidak penting kamu turunan
siapa, tunjukkan akhlak yang baik kamu akan dipandang dari keturunan yang baik”
Yang aku pahami saat seseorang berteriak nasabnya akan teringat
kemuliaan leluhurnya, misalnya:
“Saya keturunan Nyai Asma’ binti Khalil Bangkalan”, kita bergumam
“wah, cicitnya Syaikh Kholil bin Abdul Latif, semoga bisa mewarisi lautan
ilmu seperti kakeknya”
“Namaku Ahmad Hayaze”, terlintas dalam benak “wah, marga
Hayaze, semoga bisa benar-benar wara’ seperti kakeknya, Sayyidina Umar”
“Nama saya Aliyah Jamalullail”, terbayang dalam hati “wih, ada
nama Jamalullail nih, ada hubungan sama Habib Muhammad Hasan Jamalullail yang
baca Quran terasa madu di lidahnya”, dan
banyak lainnya.
Tapi teman-temanku bukanlah yang demikian, mereka seperti yang dikatakan
oleh Anregurutta Prof. Habib Muhammad Quraish bin Abdurrahman
Shihab:
“Kita tidak ingin menjadikan garis keturunan ini sebagai suatu
keistimewaan yang melebihi kewajaran. Tidak usah kamu yang berkata dirimu
‘habib’, tidak usah kamu yang menyatakan dirimu ‘saya profesor, saya doktor’,
biar dari kegiatanmu orang berkata ‘ini wajar dinamai habib’, ‘ini wajar jadi
profesor’”
Niat awal tulisan ini dibuat untuk mengenang pelajaran besar di awal
bangku kuliah. Aku temukan pelajaran ini dengan cara ‘ra-aitu’, ‘sami’tu’,
‘syahidtu’, level tertinggi dalam mencari ilmu. Dari mereka diriku
belajar secara nyata kalam Habib Muhsin bin Alwi Assegaf yang disampaikan oleh
Habib Jindan bin Naufal Salim Jindan:
من فاته الكتاب فلا
يفوته المحراب, من فاته المحراب فلا يفوته الأداب
Telah banyak aku temukan teman-teman dari marga saadah Ba’alawi;
Assegaf, bin Syaikh Abu Bakar, Basyaiban, dsb hingga gawagis dan nawaning,
mulai dari madrasah berjenjang hingga saat ini. Banyak dari mereka keberatan
dengan panggilan yang layak mereka dapatkan, alasan ilmu dan akhlak mereka
prioritaskan. Coba saja aku panggil mereka dengan panggilan khas, tidak akan
nampak wajah hati yang pongah, bangga diri, menyodorkan tangan untuk dicium,
tidak! melainkan wajah tawadhu’ seketika muncul, seakan
membawa beban berat dari para salaf mereka. Inti dari itu semua, mereka adalah
yang dikatakan oleh Sayyidina Ali:
ليس الفتى من يقول كان
أبي, لكنّ الفتى من يقول ها أنا ذا
Wallahu a’lam
1 Rajab 1443 H – 3 Februari 2021
تراب نعلي الحبيب ﷺ

Posting Komentar