Sidii dan Skripsi

 
Dok. Pribadi | Zulham


Alhamdulillah puji syukur bisa melazimkan diri dengan beliau beberapa minggu, tidak segan beliau menuangkan banyak ilmu dan pengalaman Hadramaut kepada seseorang yang datang mengharap kemurahan hati dari pewaris kenabian, Sidii al-Habib Abdurrahman bin Husein Alattas.


Alfaqir (baca: saya/penulis) merasa menemukan orang yang tepat guna ngangsu kaweruh sebagai pelengkap data tambahan kajian pustaka pada beliau, memiliki sanad dirayah ke masyayikh Tarim, intisab keturunan dan keilmuan wawasan Bani Alawi, serta thariqah Alawiyah.


Beliau dengan senang hati menerima kekurangan diri ini untuk mengkaji kasidah ternama dari Silsilah Haddadiyah, Qad Kafani, karya al-Imam al-Quthb al-Da'wah wa al-Irsyad wa Ghauts al-Ibad wa al-Bilad al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, sering disebut dengan Imam Haddad.


Secara pemahaman alfaqir rasa beliau sudah pas, ya memang sangat pas, karena tarbiah dari guru-guru beliau.


Habib Abdurrahman dibawah asuhan tarbiah pembesar Hadramaut, diantaranya Habib Umar bin Hafidz, Habib Salim bin Abdullah al-Syathiri, Habib Musa al-Kadzim bin Ja'far Assegaf, dan para guru lainnya yang bersambung dengan pembesar Alawiyyin, sebut saja Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf; Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar; Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad; Habib Abu Bakar Attas bin Abdullah al-Habsyi,


Bersambung pada Habib Umar bin Ahmad bin Smith,


Bersambung pada Habib Abdullah bin Umar al-Syathiri; Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf; Habib Alawi bin Abdullah bin Syihab; Habib Salim bin Hafidz ibn Syaikh Abu Bakar,


Bersambung pada Habib Abdullah bin Muhsin Assegaf; Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur; Habib Ahmad bin Husain al-Attas; Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi,


Bersambung pada Habib Idrus bin Umar al-Habsyi,


Bersambung pada Habib Ahmad bin Umar bin Smith; Habib Abdullah bin Husain bin Thohir; Habib Abdullah bin Umar bin Yahya; Habib Husain bin Saleh al-Bahr al-Jufri,


Bersambung pada Habib Umar bin Segaf Assegaf; Habib Hamid bin Umar Hamid Baalawi,


Bersambung pada Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad; Habib Segaf bin Muhammad Assegaf; Habib Muhammad bin Zein bin Smith,


Bersambung pada Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad; Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi; Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr; Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih,


Bersambung menempuh tarbiah pada Imam al-Quthb al-Da'wah wa al-Irsyad al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad.


Jika sudah sampai pada Imam Abdullah al-Haddad, maka "rantainya" pasti bertaut dengan Kotanya Ilmu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, melalui jalur Ustadz al-A'dzam Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'alawi yang melewati para imam ahlul bait dan cendekiawan muslim Imam al-Ghauts Abu Madyan al-Maghrabi.


Awal menemui beliau atas saran teman, "coba ke Habib Abdurrahman Alattas." Langsung alfaqir cocokkan waktu dengan jadwal majelis beliau, alhamdulillah pas. Diri ini memberanikan untuk mengirim pesan izin kepada beliau, panjang dan lebar. 


Tak lama, "Wa’alaikumussalam, bismillah ditunggu, silakan," Alhamdulillah. Jujur, sore sampai malam itu gembira sekali. Saat pertama kali bertemu dan tahu maksud kedatangan alfaqir, beliau bilang, "Ilmu Hadramaut itu bukan ilmu kolot," diri ini hanya diam. Bukan mengelak, tapi diri yang daif ini biasanya perlu bukti untuk bisa memercayainya. Minggu demi minggu berjalan ternyata apa yang beliau ucapkan itu benar, namun itu tidak akan alfaqir tulis disini.


Terlihat dalam diri beliau bagaimana watak yang diwacanakan oleh orang-orang, "alul bait (keluarga) nabi kalau didatangi dimintai bantuan, mereka akan memberi selagi mereka bisa." Setelah bertemu beliau, alfaqir bisa membenarkan kalimat itu. Kalimat itu benar.


Setidaknya satu kasidah yang kondang di banyak majelis, Yaa Aala Baitin-Nabi, dapat alfaqir jadikan asa tumpuan:


"Wahai keluarga Nabi, pemimpin bangsa Arab, pada kalian aku mengulurkan tangan, maka bantulah kesukaranku"

"Ketauhilah kebenaran dari ahlinya, berjalanlah bersama mereka dalam jalan ketakwaan, tetaplah dibelakang mereka"

"Maka kebahagiaan dapat diraih seluruhnya dengan mengikuti mereka, sungguh beruntung siapa yang melihat mereka atau melihat orang-orang yang pernah melihat mereka"

"Atau berhubungan dengan mereka atau tinggal di tempat mereka, karena mereka adalah kaum yang tidak ada duanya dalam seluruh ciptaan"


Selama 2 bulan lebih beberapa minggu ajeg mengunjungi beliau di majelis asuhannya. Pulang pergi Gresik dengan jarak tempuh kurang lebih 35 KM. Belajar berdua dengan beliau, menyelami luasnya pusara ilmu al-Haddad. Kok jauh sekali? Tidak apa, selagi tahu mulianya tali keilmuan juga agungnya ziarah ke itrah kenabian. Selain itu, awal mengerjakan skripsi alfaqir menanam prinsip, "aku mau buat yang terbaik di skripsi ini, bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, gamau orang yang baca skripsi ini jadi sesat pikir. Setidaknya saat seseorang membacanya dan mungkin ambil sedikit ilmu darinya akan bersambung pada transmisi keilmuan para ulama yang telah lalu."


Ada lagi, akhlak yang membuat tertawan. Beberapa kali beliau udzur karena ada keperluan lain, selalu beliau sempatkan memanggil dan katakan, "rachmad, ta'al! al'afwu yaa (rachmad, sini! maafkan saya)", kaget, langsung jawab, "laba's ya habib (tidak apa-apa, wahai habib)" Terasa heran, kenapa harus meminta maaf?! Padahal diri ini lah yang membutuhkan beliau :')


Ditambah lagi setiap kali selesai berhadapan untuk membedah syair Imam Haddad juga kepentingan lain, beliau selalu senyum berkata, "jazakallah kher, jazakallah kher." Diri ini bingung harus jawab apa, jika "waiyyakum" merasa kurang sopan, maka terpaksa hanya "aamiin aamiin.Alfaqir kehabisan kata untuk ini. Tapi, pantas saja demikian, selain Habib Umar bin Hafidz, beliau juga hasil didikan tokoh besar zaman ini, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf.


Dok. Habib Taufiq Assegaf Pasuruan (Kiri) Habib Umar bin Hafidh (Kanan) | @youssef_sheikh_abdullah


Dulu, alfaqir pernah memiliki angan belajar ke negeri adidaya Paman Sam, atau negeri kangguru, mungkin beberapa negeri lainnya yang acap kali jadi tempat perantauan orang-orang Indonesia. Tapi, setelah bertemu mereka keinginan yang dulu semakin memudar. Kenapa? Karena belum menemukan "rasa" yang sama untuk bisa ditandingkan dengan perasaan saat duduk bersama mereka bagi hamba amatiran seperti diri ini. Meminjam istilah para arif, "man dzaqa 'arafa wa man lam yadzuq lam ya'rif," siapa yang pernah merasa akan mengerti dan yang belum pernah merasakannya dia belum pernah tahu.


Dalam satu kesempatan beliau bertanya, "besok kalau (ada kemauan, pen) mau lanjut beasiswa kemana?," Spontan alfaqir jawab, "yang penting dekat sama guru-guru," Terserah Allah mau tempatkan dimana saja.



Wallahu a'lam

Setelah Ujian Skripsi, 17 April 2023 M - 26 Ramadan 1444 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ


1 Komentar

  1. Masyaallah, selamat atas sidangnya.💐🤲🏻✨Jadi pngen baca skripsinya, siapa tau didalamnya banyak keberkahan yg didapatkan. ☺️

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama