Eltis 303: Jangan Sebut Nasabku! Aku Malu dengan Akhlak

Dok. Pribadi | Tangga Eltis

Kira-kira satu minggu setelah PBAK 2019 UIN Sunan Ampel Surabaya. Sore hari itu -lupa tanggal pastinya hehe, kami semua dikumpulkan di Masjid Raya Ulul Albab guna pembukaan kelas Ma’had bagi para mahasiswa baru. Jujur saja, bagi tipe orang yang susah memulai pembicaraan seperti diriku, hal seperti ini adalah momen yang membosankan. Namun dari belakang ada teman yang menyusul.

Ndek kene ae (disini saja)”, ucapnya.

oke”, timpalku.

Padahal diriku tidak terlalu kenal dengannya.

Setelah duduk, berlanjut acara pembukaan, sambutan, dsb, dia membuka smarthphone-nya, mungkin untuk sekadar mengecek notifikasi atau membalas pesan yang masuk. Saat dia membuka lock screen, aku sedikit terkejut. Ada rantaian nasab dengan tulisan tangan berbahasa Arab. Kedua kalinya dia mengecek notifikasi, aku beranikan diri melirik nasab siapa yang terpasang di layar kuncinya. Sekilas terbaca tulisan paling besar, kedua dari atas, محمد (Muhammad). Aku bergumam “wih, arek iki sueneng mbek alul bet-e Nabi, sampe digae layar kunci (wih, anak ini cinta dengan alul bait-nya Nabi, sampai dijadikan layar kunci)”. Aku buka pembicaraan,

eh iku ndek layar kuncimu nasab e sopo? Habaib? (eh itu di layar kuncimu nasabnya siapa? Habaib?)”

iki ta? (ini ta?)”, sambil menunjukkan layar smartphone-nya

he’em (iya)”

iki nasabku (ini nasabku)”

Seketika wajahku menunjukkan raut tak percaya, “hah?!.”

iki aku dikek i teko mbah-mbahku (nasab ini aku dikasih dari leluhurku)”

terus ketemu e ndek sopo? (terus ketemunya di siapa?)”

ndek Mbah Mutamakkin, ero ta? (di Syaikh Mutamakkin, tau?)”

ga hehe (tidak)”

Dia ini melanjutkan kisah siapakah Syekh Mutamakkin, dimana letak maqbarah-nya, hubungannya dengan Gus Dur, hingga adat tahunan keluarga besarnya. Kemudian aku minta melihat nasab itu, dia scroll galeri dan ku pinjam sebentar untuk melihat.

Benar saja, disitu aku melihat runtutan nasabnya yang bersambung ke Syaikh Ahmad Mutamakkin hingga Sultan Hadiwijaya Jaka Tingkir. Jaka Tingkir menikahi putri dari Sultan Trenggono. Sultan Trenggono adalah keturunan dari Raden Fatah Demak yang menikah dengan salah satu putri Raden Rahmatullah Sunan Ampel. Secara urut mataku melihat Raden Rahmatullah bin Ibrahim Asmaraqandi bin Jamaluddin Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Adzamatkhan bin Sayyid Amir Abdul Malik Adzamatkhan bin Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad an-Naqib bin Sayyid Ali al-Uraidli bin Sayyid Ja’far as-Shadiq bin Sayyid Muhammad al-Baqir bin Sayyid Ali Zainal Abidin bin Sayyid Husain bin Imam Ali karramallahu wajhahu dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Aku sadar, ada aliran darah mulia Adzamatkhan dalam dirinya, fam keturunan Rasulullah tertua; paling awal melakukan islamisasi di Nusantara.

Keesokan harinya. Saat istirahat kuliah, aku dan dia keluar kelas sambil bicara mengenai tugas. Ketika menuruni tangga Gedung Eltis posisiku ada didepannya,

eh mad, gausah di kei ero arek-arek foto wingi (eh mad, tidak perlu diberitahukan ke teman-teman foto (rantai keturunan) kemarin)”

ya sopo yoan, emang lapo’o? (ya siapa juga yang akan memberitahukan ke teman-teman, emang kenapa?)

aku isin (aku malu)”

lapo isin?! (kenapa malu)”

akhlakku sek ngene (akhlakku masih begini)”

Jawaban sederhana, tapi mampu membuatku terdiam.

Bukan hal yang mengherankan. Temanku lainnya, yang memiliki darah Sunan Ampel melalui jalur Sayyid Zainal Abidin Sunan Cendana, yang memiliki darah Sayyid Hasan at-Turabi bin Ali bin Faqih al-Muqaddam Muhammad Ba’alawi, yang memiliki darah para Kiai, dan banyak lainnya juga demikian, tidak memiliki ambisi untuk dihormati, disegani, dipanggil dengan sebutan-sebutan sakral. Mereka menjadi diri sendiri tanpa perlu menyeret trah keluarga yang ada dalam dirinya.

Aku pernah mendengar mauidhah hasanah dari Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, habib kenamaan asal Pasuruan, saat di Sidosermo Ndalem-Surabaya, mengatakan:

إذا لم تكن نفس شريف كأصله, فماذا تغني رفع المناصب؟ ,

Kalau turunan yang baik tidak seperti datuknya, lalu apa perlunya ditinggikan panggilannya, sayyid; gus; mas?! Tidak ada nilainya!
 خير خلف لخير سلف, Turunan yang baik dari kakek moyang yang baik. Jika punya datuk yang baik; alim dan kamu bodoh; tidak baik, maka kamu telah memotong pohon rindang, tangkai indah dari datuk kamu! Kamu (lah) sebabnya! 

Itulah teman-teman yang aku temui, enggan menunjukkan nama besar hanya tidak ingin mencoreng kesucian aslaf. Mereka mengajarkan padaku beratnya akhlakul karimah, dan khusus mereka adalah memelihara sifat-sifat mulia sebagai konsekuensi dari garis keturunan yang mulia nan terpelihara. Temanku yang lain pernah berkata “tidak penting kamu turunan siapa, tunjukkan akhlak yang baik kamu akan dipandang dari keturunan yang baik

Yang aku pahami saat seseorang berteriak nasabnya akan teringat kemuliaan leluhurnya, misalnya:

Saya keturunan Nyai Asma’ binti Khalil Bangkalan”, kita bergumam “wah, cicitnya Syaikh Kholil bin Abdul Latif, semoga bisa mewarisi lautan ilmu seperti kakeknya

Namaku Ahmad Hayaze”, terlintas dalam benak “wah, marga Hayaze, semoga bisa benar-benar wara’ seperti kakeknya, Sayyidina Umar

Nama saya Aliyah Jamalullail”, terbayang dalam hati “wih, ada nama Jamalullail nih, ada hubungan sama Habib Muhammad Hasan Jamalullail yang baca Quran terasa madu di lidahnya”, dan banyak lainnya.

Tapi teman-temanku bukanlah yang demikian, mereka seperti yang dikatakan oleh Anregurutta Prof. Habib Muhammad Quraish bin Abdurrahman Shihab:

Kita tidak ingin menjadikan garis keturunan ini sebagai suatu keistimewaan yang melebihi kewajaran. Tidak usah kamu yang berkata dirimu ‘habib’, tidak usah kamu yang menyatakan dirimu ‘saya profesor, saya doktor’, biar dari kegiatanmu orang berkata ‘ini wajar dinamai habib’, ‘ini wajar jadi profesor’

Niat awal tulisan ini dibuat untuk mengenang pelajaran besar di awal bangku kuliah. Aku temukan pelajaran ini dengan cara ‘ra-aitu’, ‘sami’tu’, ‘syahidtu’, level tertinggi dalam mencari ilmu. Dari mereka diriku belajar secara nyata kalam Habib Muhsin bin Alwi Assegaf yang disampaikan oleh Habib Jindan bin Naufal Salim Jindan:

من فاته الكتاب فلا يفوته المحراب, من فاته المحراب فلا يفوته الأداب

Barangsiapa yang gagal; tidak berhasil dalam kitab (ilmu) maka jangan gagal dalam mihrab (ibadah), barangsiapa siapa yang yang gagal; tidak berhasil dalam mihrab (ibadah) maka jangan gagal dalam adab (akhlak)

Telah banyak aku temukan teman-teman dari marga saadah Ba’alawi; Assegaf, bin Syaikh Abu Bakar, Basyaiban, dsb hingga gawagis dan nawaning, mulai dari madrasah berjenjang hingga saat ini. Banyak dari mereka keberatan dengan panggilan yang layak mereka dapatkan, alasan ilmu dan akhlak mereka prioritaskan. Coba saja aku panggil mereka dengan panggilan khas, tidak akan nampak wajah hati yang pongah, bangga diri, menyodorkan tangan untuk dicium, tidak! melainkan wajah tawadhu’ seketika muncul, seakan membawa beban berat dari para salaf mereka. Inti dari itu semua, mereka adalah yang dikatakan oleh Sayyidina Ali:

ليس الفتى من يقول كان أبي, لكنّ الفتى من يقول ها أنا ذا

Tidak dikatakan seorang pemuda siapa yang mengatakan ‘Ini Ayahku’, tapi dikatakan seorang pemuda adalah dia yang mengatakan ‘Inilah Aku’”

 

Wallahu a’lam
1 Rajab 1443 H – 3 Februari 2021

تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

أحدث أقدم