Ustadz Bassam: Guru itu Mas'uliyatul 'Ilm!

 

Dok. Pribadi | Ustadz Bassam (tengah)


Rabu, 25 Mei 2022, setelah salat duhur, dosen kami, Bassam Abul A'la, M.Pd.I. serta teman-teman sekalian bersepakat mengadakan kelas dadakan Metode Pembelajaran PAI. Ruang FTK 212 menjadi destinasi berlabuh kaki kami setelah melewati puluhan anak tangga.

 
Dalam beberapa menit berlalu, beliau Ustadz Bassam, kami memanggilnya, menjelaskan:
 
"Guru itu bukan job, apa yaa?", Sambil memikirkan penjelasan lanjutan
 
"Pekerjaan?", Penulis menyahut
 
"Iya, guru itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan mas'uliyatul 'ilm, tanggung jawab ilmu. Kalian sebagai guru, orang yang berpendidikan, kalian sudah belajar lama kan bisa sampai ke tahap ini? (kalian) harus mampu menyebarkan amanah ilmu yang kalian punya"
 
Penulis terdiam. Hati mengerdil. Masih belum pantas untuk harapan sebesar itu. Amanah pendidikan yang diemban terlalu agung untuk hamba amatiran seperti penulis yang daif ini.
 
Penulis berpikir mungkin saja Ustadz Bassam mengatakan demikian sependapat dengan Imam Sufyan Ats-Tsauri, imam mazhab yang tidak bertahan eksis sekaligus guru Imam Malik, terekam dalam salah satu karya pesohor mazhab Syafii, Imam Nawawi:
 
"Sesiapa yang bakhil dengan ilmunya, kelak ia diuji dengan salah satu dari tiga, lupa terhadap ilmunya, atau mati dan tidak manfaat ilmunya, atau hilang catatannya"
 
Sembilan puluh menit perkuliahan berjalan otak penulis sibuk dengan kalimat "guru itu mas'uliyatul 'ilm!"
 
Selama itu pula benak penulis memutar kalam Imam Syathibi yang pernah penulis temukan ketika proses pengerjaan tagihan makalah mata kuliah salah seorang anggota Mufti MUI Jawa Timur, Dr. H. Syamsudin, M.Ag., Ushul Fiqh, seputar Maqashidus-Syari'ah.
 
Dalam karya monumentalnya, al-Muwafaqat, Imam Syathibi berkata bahwa ilmu memiliki ruh berupa amal, sebagaimana Allah telah menampar orang-orang yang senang mengingatkan tapi selalu absen mengamalkan.

"Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk berbuat kebajikan, sedang kamu lupa terhadap dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab? Tidakkah kamu berpikir?" (QS. Al-Baqarah: 44)

 
Mencegah jiwa serta raga untuk tidak mendurhakai-Mu saja masih usaha berat dan panjang, lalu bagaimana mas'uliyatul 'ilm terlaksana? Lalu ingin mengajak peserta didik taat bila diri sendiri masih sering bermaksiat?
 
Sedang penulis tahu Imam Ghazali pernah berkata pada muridnya:

"Dia, penuntut ilmu, bersangka bahwa ilmu dengan sendirinya dapat menyelamatkan dirinya tanpa perlu diamalkan. Sungguh, dia, tidaklah tahu bahwa ilmu tanpa pengamalan hanya menjadi lawan yang memberatkan baginya di akhirat kelak"

 
Bila mengamalkan ilmu untuk diri sendiri masih tertatih, lalu apa yang penulis katakan di hadapan peserta didik bisa diterima?
 
Sungguh satir Allah itu indah!
 
Mungkin diri penulis sering terperosok di lembah hitam yang sama, tapi layaknya Abu Nawas dalam syair i'tiraf yang tidak pernah putus harapan akan rahmat-Nya. Semua tahu hamba yang papa; hina; kecil; fakir; miskin; lemah sulit meniti tangga-tangga ilahi demi menggapai rahmat-Nya, tapi rahmat-Nya akan meliputi segala sesuatu, bukankah penulis termasuk sesuatu itu?
 
Tentang judul utama, mas'uliyatul 'ilm, sungguh mudah bicara dan mengajar, sungguh sulit praktek dan mengamalkan

 

Wallahu a’lam

Ahad, 26 Juni 2022 / 26 Dzulqa’dah 1443 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ

3 تعليقات

  1. Al mu'allimu huwa Al maahir fis shona'ah ya'lamuha ghoiroh.
    Emang bener² susah si jd "Guru" yg bener² guru.
    Thanks 4 sharingg

    ردحذف

إرسال تعليق

أحدث أقدم