Habib Abdurrahman bin Husein Alattas, Gresik. Jujur, ketika penulis bertanya wajah beliau awalnya santai berubah menjadi serius dengan nada tegas:
"Ga bener. Darimana mereka tau?! Ndabisa dipercaya, mereka (Syiah) mahallul kidzib, mereka mahallul kidzib. Hadza Syiah semua dibalikkan, bahkan Al-Quran mereka koreksi, kalamullah, berani mereka. Hadis mereka koreksi, mereka tidak terima hadis dari Sayyidatuna Aisyah, ini merendahkan Rasulullah (karena, pen) merendahkan Sayyidatuna Aisyah"
Kenapa penulis tanya mereka, para alul bait keturunan Nabi Muhammad? Karena Sayyidah Sukainah binti Husain juga Ahlul Bait. Jika penulis boleh mengutip dalam buku terbitan Yayasan Al-Fachriyah Tangerang berjudul "قل هذه سبيلي", ada sebuah kalimat yang pas:
"Apabila mereka (keturunan Nabi Muhammad, pen) tidak mengenal jalan Ahlul Bait yang merupakan ayah dan kakeknya, pasti tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang mengenal jalan Ahlul Bait."
Mulai Merembuk
Sekarang penulis berpikir, Sayyidah Sukainah hidup di zaman masih tersisa para sahabat Rasul, sedangkan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pernah dawuh:
"Sebaik-baik manusia ialah mereka yang hidup di zamanku, kemudian yang datang setelahnya, kemudian yang datang setelahnya"
Apakah mungkin di zaman terbaik ini Sayyidah Sukainah merelakan hijabnya untuk ditontonkan pada lelaki asing?!
Lagi, Sayyidah Sukainah memiliki saudara kandung sebapak bernama Ali bin Husain, kemuliaannya tertulis dalam perkamen sejarah:
وعلي
ابن الحسين • كل ليلة ألف ركعة
مسبلا
من كل عين • دمعة من بعد دمعة
وعلى
هذا المثال • كان زين العابدين
"Dan Ali ibn Husain setiap malam (tahajud) 1000 rakaat. Menetes turun dari setiap matanya tanpa henti air mata demi air mata. Dan dalam keadaan inilah hingga ia menjadi Zainal Abidin (Perhiasaan Orang-orang Ahli Ibadah, pen)"
Mungkinkah Sayyidah Sukainah sezaman dengan kakaknya, Sang Pemimpin Ahli Ibadah, menyingsingkan kain dari rambutnya lalu dinikmati oleh pria yang bukan mahram baginya?!
Lebih dari itu, Sukainah adalah keturunan Ahlul Kisa' yang disebut dalam Al-Quran:
"Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan segala noda dan kotoran dari kalian para Ahlul Bait, serta mensucikan kalian dengan sesuci-sucinya" (QS. Al-Ahzab: 33)
Kemudian Nabi mengafirmasi dengan sabdanya:
"Aku tinggalkan bagi kalian dua hal, selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, tidak akan tersesat selama-lamanya. Pertama, Kitaballah (Al-Quran). Kedua, Itrah keturunan Ahlul Bait-ku"
Lalu Ali bin Abi Thalib pun pernah di soal, "Apakah kalian ahlul bait diistemawakan dengan sesuatu yang tidak kami miliki?". Beliau menjawab, "Tidak, akan tetapi kami hanya memiliki pemahaman lebih dalam tentang Al-Quran yang diberikan Allah kepada salah seorang dari kami."
Apakah mungkin kita yang hidup jauh dari zaman mereka meragukan didikan Husain bin Ali pada putrinya, Sayyidah Sukainah, dengan menggerai rambutnya di ruang publik?!
Belum lagi tentang mengizinkan masuknya banyak lelaki sastrawan ke rumah Sukainah binti Husain untuk belajar sastra, dsb. Disusul dengan perjanjian pra nikah yang masyhur dinisbatkan pada beliau. Coba saja pada pasal ketiga, "Tidak boleh melarang keluar rumah jika ia (Sukainah) menghendaki (keluar rumah, pen)", agak mengganjal terasa kontradiktif dalam benak penulis.
Kenapa kontradiktif? Menengok dari kebiasaan tidak tertulis masyarakat Arab yang sudah ada sejak era sebelum Islam, menganggap sebuah kehinaan; tulah; rendah; aib bila seorang laki-laki masuk dengan paksa rumah atau tenda perempuan. Dibuktikan dengan apa? Pesan Husain pada kisah Karbala, beliau perintahkan di tenda wanita menggunakan baju-baju panjang dan bersiap pada kesyahidan.
Husain melihat musuh telah gelap mata, jika mereka berani mengangkat pedang padanya, maka mereka tidak akan sungkan merendahkan wanita. Benar saja, mereka meringsek masuk tenda para perempuan Nabi untuk dijadikan tawanan. Lalu, dari kejamnya kisah Padang Karbala, mungkinkah Sayyidah Sukainah menanggalkan rasa malu dengan memasukkan laki-laki lain ke rumahnya?!
Kisah berlanjut, ketika para wanita keluarga Nabi dijadikan tawanan, digiring menuju Kuffah berapa ratus meter berlanjut. Bahkan ada riwayat mengatakan bahwa mereka radhiyallahu 'anhum wa ardhahum ditawan berjalan melewati masyarakat dipaksa membuka penutup wajahnya di siang hari. Hal ini mengundang banyak mata karena paras mereka, hingga banyak berkata yang tak sopan, kejadian ini mengundang salah seorang wanita keluarga Nabi bersuara lantang, "Kami adalah tawanan, keluarga Muhammad!!".
Salah seorang sahabat Nabi dikota itu, Sahl bin Sa'd, melihat tebasan kepala yang menancap tombak mirip dengan Rasul Muhammad dan berkata pada Sukainah, "Siapakah dirimu, nak?", "Aku, Sukainah binti Husain". Dengan sigap Sahl bin Sa'd menyahut, "aku Sahl bin Sa'd, sahabat dari kakekmu, Muhammad, apa yang bisa aku bantu?" Sukainah menjawab, "Wahai Sahl, bila memungkinkan minta mereka untuk menjauhkan kepala (Husain) itu dari barisan kami (para wanita), sehingga membuat masyarakat sibuk memandangi kepala itu dan tidak memperhatikan kami"
Dari kisah di atas, apakah mungkin Sayyidah Sukainah menyusutkan rasa malu yang dimiliki dengan menyilakan pria masuk ke rumahnya?! Lebih-lebih membuat keramaian isu dengan keindahan wajah dan rambutnya?!
Adanya penentangan dari Alawiyyin dan pikiran penulis yang mencoba cari alasan dibalik ini malah mengarahkan prasangka yang bukan-bukan. Coba pikir, penggulingan dan pembantaian keluarga kerabat Husain bin Ali dilakukan Dinasti Umayyah, sedangkan Abu Faraj Al-Ishfahani adalah keturunan Umayyah yang masuk ke Syiah, apakah..., Ah sudah-sudah tak usahlah diteruskan, akan menjalar banyak kemungkinan buruk lainnya.
Harapan kecil penulis adalah jauhi cerita-cerita dari kitab Syiah yang sekiranya menimbulkan perbedaan untuk generasi aswaja, cukupkan cerita yang demikian sebagai wawasan pribadi. Demi melegalkan sebuah "gerakan" akankah menggunakan sebuah kisah yang banyak ditentang? Bila kisah itu benar, tidak apa, setidaknya akan menambah pengetahuan. Namun sebaliknya, bila itu salah, apakah tidak menjadi fitnah pada ahlul bait?
Jika minta hak wanita dalam politik, maka ada Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar; Ummu Salamah, Fatimah Az-Zahra, Lailah al-Ghaffariyah, Ummu Sinam al-Aslamiyah, Atika binti Yazid, al-Khaizaran binti Atha', dan masih banyak lainnya -radhiyallahu anhum wa ardhahum-
Jika minta hak wanita dalam memilih pekerjaan, maka ada Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, Zainab binti Jahsy, Ummu Salim binti Malhan, istri Abdullah bin Mas'ud dan Qillat Ummi Bani Ammar. Bila kita pernah melihat serial Omar yang diputar ketika Ramadan akan ditemukan tokoh perempuan bernama Al-Syifa', diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai petugas pengawas pasar Kota Madinah, dan masih banyak lainnya -radhiyallahu anhum wa ardhahum-
Jika minta hak wanita dalam pendidikan, maka ada Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Fakhr al-Nisa Syaikhah Syuhrah, Mu'nisat al-Ayyubi, Syamiyat al-Taimiyah, Zainab al-Baghdadi, Rabi'ah al-Adawiyah, dan masih banyak lainnya -radhiyallahu anhum wa ardhahum-
Lihat! Masih ada banyak tokoh lainnya yang bisa menjadi sumber pijakan, toh Rasulullah melaknat adanya keserupaan diri perempuan dengan laki-laki juga sebaliknya, tapi Rasulullah tidak ada larangan perserupaan dalam kecerdasan dan amal kebaikan.
Wallahu a'lam
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Referensi:
[1] Wawancara Pribadi.
[2] Jindan bin Novel bin Jindan, Qul Hadzihi Sabili (Tangerang: Al-Fachriyah, 2006).
[3] Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan dalam Islam (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Jender, 1999).

Terima kasih atas ilmunya ✨
BalasHapusterimakasih kembali telah berkenan membaca
HapusPosting Komentar