Dok. Habib Umar | Al Habib Omar Group Whatsapp
Kenapa Habib Umar? Karena beliau "murid ideologis" Imam Abdullah al-Haddad dalam rantaian ilmu dikalangan Bani Alawi, sehingga alfaqir tertarik untuk melihat "versi sederhana" Imam Abdullah al-Haddad dalam karya-karya Habib Umar.
Dalam salah satu hasil pemikiran Habib Umar, Munthalaqaat fii Binaa-i Dzawati al-Daa'iyaat, ada sifat pendidik yang beliau tulis —agaknya boleh disebut sebagai akhlak yang harus dimiliki pendidik. Disana kami menemukan beratnya seorang pengajar; pendidik mengemban amanat akhlak yang begitu besar. Bagaimana tidak besar? Coba saja pahami setelah ini.
Beliau, Habib Umar, menulis pondasi kepribadian seorang pendidik
sebagai berikut:
الأُولى
هي العِلمُ والثَّانِيَةُ هي العَمَلُ والثَّالِثَةُ الفِكرُ الوَاسِعُ
"Pertama, ilmu. Kedua, amal (perbuatan). Ketiga, pemikiran
yang luas"
Pondasi pertama, ilmu, beliau membagi ilmu menjadi dua, yaitu ilmu
zahir dan ilmu batin.
فَالعِلمُ
الظَّاهِر العِلم بِالأَحكَامِ المُتَعَلِّقَةِ بالجَوَارِحِ، لَكِنَّ العِلم البَاطِن
العِلم بالصِّفَاتِ المُتَعَلِّقَة بالقُلُوبِ
"Ilmu zahir adalah ilmu berbagai hukum yang berkaitan dengan
anggota badan, tetapi ilmu batin adalah ilmu bermacam-macam sifat yang
berkaitan dengan hati seseorang". Menurut beliau buah dari praktek
sebenar-benarnya menggabungkan kedua ilmu tersebut adalah ilmu
ladunni.
Selanjutnya pondasi kedua, amal. Beliau menulis
yang dimaksud dengan "amal" adalah mempraktekkan ilmu dan
menentukan tata cara melaksanakan hukum-hukum Allah serta menunaikannya sesuai
dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya.
Hal yang berat bagi kami ketika beliau menyebut bahwa salah satu
hal yang wajib ditekuni bagi seorang pengajar; pendidik adalah melaksanakan
salat sunah ditengah malam, beristighfar di sepertiga malam terakhir
walaupun hanya sedikit. Beliau tegaskan:
فَلَا
تكون داعِيَةً الى اللّه تعالى مَن تَغفُل عامَّاة لَيلِها أو تنام عامَّاة لَيلِها
ولا تَستَيقِظ، لا لاستغفار في السَّحرِ، ولا لِصلاةِ ركعتين في جَوفِ الَّيل، فتكونُ
غيرَ عاملة، فيَنقُصُ أثَرُها في الدّعوةِ الى اللّه تبارك وتعالى، فإنَّ المَقصُود
مِن الدّعوةِ الى اللّه القِربُ مِن اللّهِ
"Tidaklah pantas menjadi pendidik; pengajar; pendakwah di
jalan Allah orang yang lalai atau tidur disepanjang malamnya dan tidak bangun
malam, dia tidak bangun untuk beristighfar di waktu sahur, juga tidak
mendirikan salat sunah dua rakaat di tengah malam, demikian ini dia dianggap
tidak mengamalkan ilmunya, sehingga dakwahnya di jalan Allah kurang
berpengaruh, karena tujuan dari dakwah di jalan Allah adalah mendekatkan diri
kepada-Nya"
Bagi beliau dalam melaksanakan syariat Allah memiliki dua sisi,
yaitu zahir dan batin, maknanya menegakkan hukum-hukum Allah dibarengi dengan
realisasi keadaan dan hadirnya hati dalam perbuatan zahir.
Dari sini dapat diketahui, untuk menjadi pendidik; pengajar selain
harus berusaha senantiasa mengerjakan kewajiban juga dituntut berupaya menjadi
orang yang jauh dari berbagai hal yang diharamkan, seperti bohong, suuzon, iri,
dengki, sombong, ujub, mengejek, mencaci-maki, bantah-bantahan dan debat,
menyakiti orang lain dan hewan, menjauhi pandangan yang haram, baik dari
majalah; televisi; telepon genggam; internet, dan lain sebagainya.
Setelah sampai paragraf ini mungkin akan terpikir, "kalau
syaratnya seperti ini mending gausah dakwah, gausah jadi pendidik, takut," "aku aja belum bisa bangun malam, berarti belum ngamalin ilmu, terus
gimana mau ngajari orang lain?!" atau perasaan dan khayalan lainnya.
Tenang! Habib Umar menukil dari karya Imam Abdullah al-Haddad, al-Da'wah
al-Tammah, tentang prasangka tersebut.
Mengenai prasangka diatas beliau menulis, perlu diketahui bahwa
pendidik tugasnya mengajarkan ilmu, mengajarkan ilmu termasuk bagian
mengamalkan ilmu. Pendidik yang mengajarkan ilmu namun tidak mengamalkan ilmunya
masih lebih baik daripada pendidik yang tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan
ilmunya. Jika kita tidak mampu melaksanakan kebaikan seluruhnya, maka jangan
lemah melakukan sebagiannya.
Walaupun memang banyak sabda dan riwayat yang menyatakan sebuah tulah
bagi pendidik atau orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, misalnya dalam karya Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali dituliskan salah satu sabda
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam:
أشَدُّ
النَّاس عَذَابًا يوم القيامة عالِم لايَنفَعُه اللّه بعِلمِه
"Manusia yang paling berat azabnya kelak hari Kiamat adalah
orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya"
Perlu diketahui, peringatan sabda diatas akan jadi lebih kuat lagi
patut bagi pendidik yang tidak mengamalkan juga tidak mengajarkan ilmunya.
Mengapa? Karena ibarat dua orang, orang pertama diberi Allah dua kewajiban, namun dia mengerjakan
salah satunya dan meninggalkan yang lain. Sedangkan orang kedua diberi Allah
dua kewajiban, dia meninggalkan keduanya. Sudah tentu orang kedua lebih pantas
dapat peringatan dan layak dihukum.
Kemudian masih overthinking lagi, "pendidik, pengajar itu
dakwah, dakwah hanya buat hamba Allah yang punya pangkat dan kedudukan mulia,
ini tugasnya ulama, aku bukan orang yang pantas, aku bukan ahli ilmu." Pikiran demikian menghasilkan hilangnya keberanian, membuat diam tidak mengajak
ke jalan Allah, malu memberi petunjuk pada orang lain, lalu menyangka bahwa ini
semua adalah rasa tawaduk.
Masih dalam karya yang sama, Munthalaqaat, Habib Umar mengutip
karya Imam Abdullah al-Haddad, bahwa prasangka diatas adalah tawahhumaat
al-faasidah (sangkaan yang rusak/sesat), karena kebenaran tidak akan mencegah kebenaran
lainnya, begitu juga kebaikan tidak akan mencegah kebaikan lainnya. Seyogyanya
pendidik bersungguh-sungguh, bergegas untuk mengajak kebenaran, memberi
petunjuk kebaikan disertai rasa tawaduk (rendah hati), khudhu' (rendah diri
dihadapan Allah) mengakui bahwa dirinya masih lalai dan jauh dari kata khusyuk. Itu adalah
sikap sempurna, sifat kekasih Allah, pantang mundur dari bisikan-bisikan setan,
tidak teralihkan perhatiannya oleh khayalan dan tipuan buruk setan yang
dianggap baik.
Dalam tulisan Habib Umar yang lain, Maqaashidu Halaqaat al-Ta'lim
wa Wasaa-iluhaa, mengingatkan penulis pelajaran Daurah Shaifiyah yang disampaikan
oleh K.H. Khairullah Ramli tentang agungnya posisi seorang pendidik; pengajar.
Posisi mereka dibawah Nabi Saw. Ini salah satu hal berat juga bagi kami.
Habib Umar menulis:
أن
يَتَمَثَّلوا شُعُورًا بأنّهُم في مكانِ الأمَانَة البَالِغَة النِّهَايَة في العَظَمَة
إذ مَنَابِر التَّعلِيم هي مَنَابِر الرّسول الكريم مُبَلِّغ الرِّسَالَة الخَاتِمَة
الشَّامِلَة الكَامِلَة مَن خَتَم اللّه به النَّبِيِّين
"Sepatutnya para pengajar; pendidik dan pendakwah
menggambarkan perasaan dalam hati mereka bahwa mereka sedang berada di tempat
untuk menyampaikan amanat yang penuh keagungan, karena mimbar-mimbar itu
hakikatnya adalah mimbar Rasulullah yang mulia, beliau adalah sang penyampai
risalah yang terakhir yang menyeluruh dan sempurna, Allah menjadikan beliau
sebagai penutup para nabi"
Jadi, setiap pendidik; pengajar; pendakwah harus tahu wibawa, mulia nan luhurnya posisi itu. Dia akan dipertanggungjawabkan atas "mimbar kenabian" yang dipijaknya. Pendidik; pengajar; pendakwah tidak memiliki hak untuk merubah karakter posisi dan mimbar tersebut, baik besar atau kecil, baik dari dekat atau jauh. Tidak boleh bagi pendidik; pengajar; pendakwah maju mundur dalam ajakan kebaikan diatas mimbar melainkan sesuai apa yang telah diatur dan diajarkan oleh Pemilik Mimbar Dakwah, Rasulullah Saw.
Pendidik; pengajar; pendakwah diajarkan untuk memiliki keyakinan
bahwa pendengar dan anak didik lebih baik dari dirinya, sehingga saat
menyebarkan kebaikan dan berdakwah sesungguhnya pendidik; pendakwah sedang
menghadang kucuran rahmat Allah serta mengharap doa, pandangan rahmat,
keberkahan dari para pendengar; anak didik dan syafaat mereka kelak. Karena ini
merupakan hal rahasia yang Allah sembunyikan dalam diri hamba-Nya.
Sungguh, seluruh mimbar adalah milik Rasulullah, sedangkan
pendidik; pengajar; pendakwah adalah penyambung lisan beliau semata.
Wallahu a'lam
Rabu, 8 Maret 2023 M - 15 Sya'ban 1444 H
تراب
نعلي الحبيب ﷺ

Posting Komentar