Ibn Maryam: Hidangan Dari Langit

 
Dok. Pribadi | The Last Supper Wikipedia


Mulanya, Nabi Isa ibn Maryam memerintahkan para muridnya, Hawariyyun, melaksanakan puasa selama 30 hari. Kemudian mereka meminta kepada sang guru agar Tuhan berkenan menurunkan hidangan dari langit untuk mereka sebagai makanan juga penenang hati tanda diterimanya amal puasa yang telah dilakukan.


Menurut Hawariyyun, hidangan langit yang mereka minta akan jadi hari raya, dapat mencukupi segenap kebutuhan, mulai dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan sebagainya.


"(Ingatlah) Ketika Hawariyyun pengikut-pengikut Isa berkata: 'Wahai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?'" (QS. Al-Maidah: 112)


Ada pendapat mengatakan, Hawariyyun meminta hidangan langit guna memenuhi kebutuhan karena kemiskinan mereka. Mereka minta hidangan itu turun setiap hari, sehingga dapat mengisi perut dan memberikan makan pada orang lain.


Nabi Isa tidak serta merta mengabulkan permintaan murid-muridnya. Beliau mengingatkan agar tidak berlebihan, karena khawatir berujung tidak bersyukurnya mereka pada anugerah (Mukjizat, pen) yang hendak diberikan itu.


"Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman'" (QS. Al-Maidah: 112)


Nabi Isa memberi peringatan untuk bertakwa dalam mencari rezeki seperti biasanya bila mereka benar-benar orang beriman, tidak meminta anugerah yang demikian. Sebab boleh jadi permintaan tersebut akan jadi fitnah bagi mereka.


(Peringatan Nabi Isa ini berdasar pada kisah para Nabi sebelumnya. Ketika suatu kaum minta mukjizat pada Nabi mereka kemudian mengingkarinya, Allah akan turunkan azab yang tidak pernah dilihat sebelum dan sesudahnya)


Namun, Hawariyyun bersikeras agar Nabi Isa memohon pada Allah menurunkan hidangan langit, karena mereka memang butuh memakannya. Di samping itu, jika benar hidangan itu turun maka iman mereka akan bertambah mantap pada kekuasan Allah sekaligus pembenaran dan bukti mereka terhadap kerasulan serta ajaran Isa ibn Maryam.


"Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu, supaya tentram hati kami dan kami yakin bahwa kamu telah berkata benar pada kami serta kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.'" (QS. Al-Maidah: 113)


Dengan berat hati Isa putra Maryam pergi ke tempat salatnya, mengenakan surban di kepalanya, merapikan kedua kakinya, menundukkan kepalanya, membasahi kedua matanya dengan air mata seraya memohon pada Allah agar mengabulkan permintaan kaumnya.


"Isa putra Maryam berdoa: 'Wahai Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.'" (QS. Al-Maidah: 114)


Allah mengabulkan doa Sang Ruhullah Isa ibn Maryam.

"Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang siapa yang kufur diantaramu sesudah turun hidangan itu, maka sungguh Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan pada seorang pun manusia di seluruh alam." (QS. Al-Maidah: 115)


Ketika hidangan tersebut mulai turun dari langit, diantara awan-awan putih yang berarak-arakan, orang-orang terperanjat dan terkagum-kagum melihat kejadian ini. Perlahan-lahan hidangan itu turun mendekat ke tanah. Setiap kali hidangan tersebut mendekat, Nabi Isa terus memohon pada Allah agar memberkatinya sebagai hidangan rahmat dan keselamatan, bukan sebagai bencana bagi kaumnya.


Hidangan dari langit itu terus mendekat dan mendarat. Nabi Isa menyingkap kain penutupnya seraya mengucapkan:

بسم الله خير الرازقين

"Dengan nama Allah, sebaik-sebaik pemberi rezeki"


Ketika disingkap, disana ada 7 potong ikan besar, harum lagi gurih, dan 7 buah roti besar nan wangi.  Riwayat lain mengatakan hidangan itu berupa daging dan roti. Ada pula pendapat didalamnya ada berbagai buah, termasuk delima.


Nabi Isa memerintahkan Hawariyyun untuk menyantap hidangan yang telah mereka minta, tapi mereka malah berkata: "Kami tidak akan memakannya sebelum engkau memakannya terlebih dahulu." Nabi Isa menjawab: "Bukankah kamu yang merengek-rengek minta hidangan itu?!" Hawariyyun tetap menolak makan pertama kali.


Dalam menghadapi congkak kaumnya, Nabi Isa tak kehabisan akal. Beliau panggil para fakir miskin, orang terlantar, orang sakit, orang kelaparan, hingga berjumlah 1.300 orang guna menikmati hidangan langit itu.


Atas izin Allah, mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa dalam hidangan langit membawa kesembuhan bagi berbagai macam penyakit. Konon, hidangan itu turun sekali dalam sehari hingga diperkirakan yang telah mencicipinya berjumlah 7.000 orang.


Hidangan itu turun pada kaum Nabi Isa hampir setiap hari, sebagaimana susu unta Nabi Saleh yang diminum setiap hari oleh kaumnya. Kemudian Allah perintahkan Nabi Isa untuk mengkhususkan hidangan langit itu bagi orang-orang miskin atau yang membutuhkannya saja. Tidak diperkenankan bagi orang kaya. Keputusan ini membuat kaumnya keberatan, utamanya orang munafik diantara mereka. Hidangan dari langit itu dihentikan, orang-orang munafik diubah menjadi babi-babi.


Kaum Nabi Isa diperintahkan agar tidak khianat, tidak mengambil dan menyimpan hidangan langit untuk hari esok. Tapi mereka tidak setia dan bertentangan dengan syarat tersebut, mereka mengambil dan menyimpan hidangan untuk persediaan kemudian hari. Akhirnya diubahlah mereka menjadi kera-kera dan babi-babi.


Wallahu a'lam

Jumat, 7 April 2023 M - 16 Ramadan 1444 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ



Catatan Kaki:

[1] Imam al-Hafidz 'Imad al-Din Abu al-Fida' Isma'il bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Qshash al-Anbiya' (Kairo: Mu'assasah al-Nur li al-Nasyr wa al-I'lan, 1998)

[2] Ibnu Katsir, Qishashul Anbiya' (Surabaya: Amelia, 2015)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama