Mulanya, Nabi Isa ibn Maryam memerintahkan para muridnya,
Hawariyyun, melaksanakan puasa selama 30 hari. Kemudian mereka meminta kepada
sang guru agar Tuhan berkenan menurunkan hidangan dari langit untuk mereka
sebagai makanan juga penenang hati tanda diterimanya amal puasa yang telah
dilakukan.
Menurut Hawariyyun, hidangan langit yang mereka minta akan jadi
hari raya, dapat mencukupi segenap kebutuhan, mulai dewasa, anak-anak,
laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan sebagainya.
"(Ingatlah) Ketika Hawariyyun pengikut-pengikut Isa berkata:
'Wahai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit
kepada kami?'" (QS. Al-Maidah: 112)
Ada pendapat mengatakan, Hawariyyun meminta hidangan langit
guna memenuhi kebutuhan karena kemiskinan mereka. Mereka minta hidangan itu
turun setiap hari, sehingga dapat mengisi perut dan memberikan makan pada orang
lain.
Nabi Isa tidak serta merta mengabulkan permintaan murid-muridnya.
Beliau mengingatkan agar tidak berlebihan, karena khawatir berujung tidak
bersyukurnya mereka pada anugerah (Mukjizat, pen) yang hendak diberikan itu.
"Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul
orang yang beriman'" (QS. Al-Maidah: 112)
Nabi Isa memberi peringatan untuk bertakwa dalam mencari rezeki
seperti biasanya bila mereka benar-benar orang beriman, tidak meminta
anugerah yang demikian. Sebab boleh jadi permintaan tersebut akan jadi fitnah
bagi mereka.
(Peringatan Nabi Isa ini berdasar pada kisah para Nabi sebelumnya.
Ketika suatu kaum minta mukjizat pada Nabi mereka kemudian mengingkarinya,
Allah akan turunkan azab yang tidak pernah dilihat sebelum dan sesudahnya)
Namun, Hawariyyun bersikeras agar Nabi Isa memohon pada Allah
menurunkan hidangan langit, karena mereka memang butuh memakannya. Di samping
itu, jika benar hidangan itu turun maka iman mereka akan bertambah mantap pada
kekuasan Allah sekaligus pembenaran dan bukti mereka terhadap kerasulan serta
ajaran Isa ibn Maryam.
"Mereka berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu, supaya
tentram hati kami dan kami yakin bahwa kamu telah berkata benar pada kami serta
kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.'" (QS. Al-Maidah: 113)
Dengan berat hati Isa putra Maryam pergi ke tempat salatnya,
mengenakan surban di kepalanya, merapikan kedua kakinya, menundukkan kepalanya,
membasahi kedua matanya dengan air mata seraya memohon pada Allah agar
mengabulkan permintaan kaumnya.
"Isa putra Maryam berdoa: 'Wahai Tuhan kami, turunkanlah
kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan
menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang
datang sesudah kami, dan menjadi tanda kekuasaan Engkau, berilah kami rezeki
dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.'" (QS. Al-Maidah: 114)
Allah mengabulkan doa Sang Ruhullah Isa ibn Maryam.
"Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan
itu kepadamu, barang siapa yang kufur diantaramu sesudah turun hidangan itu,
maka sungguh Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan
pada seorang pun manusia di seluruh alam." (QS. Al-Maidah: 115)
Ketika hidangan tersebut mulai turun dari langit, diantara
awan-awan putih yang berarak-arakan, orang-orang terperanjat dan terkagum-kagum
melihat kejadian ini. Perlahan-lahan hidangan itu turun mendekat ke tanah.
Setiap kali hidangan tersebut mendekat, Nabi Isa terus memohon pada Allah agar
memberkatinya sebagai hidangan rahmat dan keselamatan, bukan sebagai bencana
bagi kaumnya.
Hidangan dari langit itu terus mendekat dan mendarat. Nabi Isa
menyingkap kain penutupnya seraya mengucapkan:
بسم الله خير الرازقين
"Dengan nama Allah, sebaik-sebaik pemberi rezeki"
Ketika disingkap, disana ada 7 potong ikan besar, harum lagi gurih,
dan 7 buah roti besar nan wangi. Riwayat
lain mengatakan hidangan itu berupa daging dan roti. Ada pula pendapat
didalamnya ada berbagai buah, termasuk delima.
Nabi Isa memerintahkan Hawariyyun untuk menyantap hidangan yang telah mereka minta,
tapi mereka malah berkata: "Kami tidak akan memakannya sebelum engkau
memakannya terlebih dahulu." Nabi Isa menjawab: "Bukankah kamu yang
merengek-rengek minta hidangan itu?!" Hawariyyun tetap menolak makan
pertama kali.
Dalam menghadapi congkak kaumnya, Nabi Isa tak kehabisan akal.
Beliau panggil para fakir miskin, orang terlantar, orang sakit, orang
kelaparan, hingga berjumlah 1.300 orang guna menikmati hidangan langit itu.
Atas izin Allah, mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa dalam
hidangan langit membawa kesembuhan bagi berbagai macam penyakit. Konon,
hidangan itu turun sekali dalam sehari hingga diperkirakan yang telah
mencicipinya berjumlah 7.000 orang.
Hidangan itu turun pada kaum Nabi Isa hampir setiap hari,
sebagaimana susu unta Nabi Saleh yang diminum setiap hari oleh kaumnya.
Kemudian Allah perintahkan Nabi Isa untuk mengkhususkan hidangan langit itu
bagi orang-orang miskin atau yang membutuhkannya saja. Tidak diperkenankan bagi
orang kaya. Keputusan ini membuat kaumnya keberatan, utamanya orang munafik
diantara mereka. Hidangan dari langit itu dihentikan, orang-orang munafik
diubah menjadi babi-babi.
Kaum Nabi Isa diperintahkan agar tidak khianat, tidak mengambil dan
menyimpan hidangan langit untuk hari esok. Tapi mereka tidak setia dan
bertentangan dengan syarat tersebut, mereka mengambil dan menyimpan hidangan
untuk persediaan kemudian hari. Akhirnya diubahlah mereka menjadi kera-kera dan
babi-babi.
Wallahu a'lam
Jumat, 7 April 2023 M - 16 Ramadan 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1] Imam al-Hafidz 'Imad al-Din Abu al-Fida' Isma'il bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Qshash al-Anbiya' (Kairo: Mu'assasah al-Nur li al-Nasyr wa al-I'lan, 1998)
[2] Ibnu Katsir, Qishashul Anbiya' (Surabaya: Amelia, 2015)

Posting Komentar