Alfaqir (penulis) menemukan pelajaran berharga ini beberapa tahun lalu ketika ibu
menjemput. Saat ibu datang, alfaqir arahkan menghadap pengasuh untuk
meminta izin. Alfaqir lihat dari jauh. Ketika bercakap-cakap, guru tidak
melihat wajah ibu.
Ketika Hari Raya Fitri pun demikian. Sekian banyak tamu, mulai
tetangga hingga murid beliau yang sudah memiliki keturunan, bahkan mungkin
sudah dikaruniai cucu. Bila perempuan mengajak bicara, beliau tidak serta merta
mengarahkan pandangannya menatap wajah mereka.
Ya, kami melihat itu semua. Terkadang alfaqir diperintah untuk melayani
tamu-tamu beliau, walaupun tidak selalu di setiap hari raya, kami melihat beliau dari jauh. Sampai-sampai di rumah ibu pernah berkata, "Beliau gapernah lihat wajah kalau bicara."
Penulis jawab, "loh bukannya memang begitu? tidak diperkenankan melihat
yang bukan mahram?"
Berulang kali beliau selalu memberikan pepeling pada murid
laki-lakinya untuk menjaga pandangan terhadap perempuan, berlaku lembut dan
memuliakan mereka. Sering beliau ngendika:
"Awakmu iki lanang, iling ilingen! Gaonok wong lanang seng
mulyakno wong wedok kecuali wong mulyo, gaonok wong lanang seng nginano wong
wedok kecuali wong lanang ino (Kamu ini laki-laki, ingat ini! Tidak ada
laki-laki yang memuliakan wanita kecuali laki-laki tersebut mulia dan tidak ada
laki-laki yang menghinakan wanita kecuali laki-laki tersebut hina)."
Senada dengan kisah diatas, alfaqir pernah melihat cuplikan video
percakapan Sayid Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri dengan seorang
presenter Arab, Nadin al-Badir. Kisah dari video ini pernah ditulis Lora Ismail
Amin al-Kholili dalam keterangan instagram juga bukunya.
Saat itu Sayid Ali Zainal Abidin Al-Jufri, populer dengan panggilan
Sayid Ali Al-Jufri, diundang salah satu stasiun televisi Uni Emirat Arab
program Ittijaahaat dialog mengenai Muktamar Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah 2016
Chechnya.
Selama satu jam lebih dialog itu berlangsung, Sayid Ali Al-Jufri
sama sekali tidak memandang wajah Nadin al-Badir. Beliau tundukkan pandangannya
kebawah, kadang kesamping. Perilaku beliau ini agaknya membuat presenter ganjil
dan bingung. Hingga diakhir acara Nadin bertanya, "Habib Ali, ini
adalah pertemuan kita yang kedua. Jujur, saya sangat menghormati anda, oleh
karenanya saya menutup setengah kepala saya di acara ini. Tapi, mengapa selama
ini anda menjauhkan pandangan dari wajah saya?"
Sayid Ali Al-Jufri tampak malu dengan pertanyaan itu. Beliau
menjawab:
"Semoga Allah memberkati anda dan membalas kebaikan anda.
Pertama, saya memang tidak terbiasa memandang wanita yang bukan mahram. Kedua,
saya tidak memandang wajah anda karena saya menghormati anda, bukan berarti
saya merendahkan anda. Laki-laki yang bersikap sopan dan menghormati seorang
wanita tidak akan berlama-lama memandang wajahnya. Bukankah Allah Swt.
berfirman: 'Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga
pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat (QS. An-Nur:
30).' Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- juga bersabda: 'Pandangan
adalah anak panah beracun dari sekian banyak anak panah iblis. Siapa yang meninggalkannya
karena takut pada Allah, Allah akan anugerahkan baginya kelezatan iman yang
akan dia rasakan dalam hatinya.'"
Tidak hanya satu video, namun di berbagai kesempatan, mulai
wawancara langsung, obrolan ringan setelah simposium, menjawab pertanyaan
audien, hingga dialog empat mata. Jika dalam kesempatan tersebut adalah seorang
wanita, maka Sayid Ali Al-Jufri tidak pernah terlihat mengarahkan matanya ke
arah wajah mereka.
Pelajaran berharga salah satu perkataan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad lewat tindak tanduk mereka:
"Mata dan telinga adalah dua pintu yang langsung menuju hati.
Apa yang masuk melalui keduanya akan sangat berpengaruh bagi hatinya."
Lebih dari menundukkan pandangan, kami juga diajarkan kewajiban dapur. Guru kami pernah berkata:
"Awakmu iki wong lanang, kudu isok masak (Kamu ini laki-laki, harus bisa masak)."
Beliau sering bersyukur atas istri dan memujinya dihadapan murid-murid beliau. Di mata alfaqir beliau perlakukan istri bak bunga mawar. Bunga mawar diambil untuk dibersihkan dari duri-duri kemudian dirawat dan jaga keindahannya.
Dari beliau alfaqir tahu bahwa perempuan tidak ada kewajiban mengerjakan
pekerjaan rumah, bila bisa bekerja sama kenapa tidak? Masih untung istri tidak
minta hak upah atas susu yang dikeluarkan untuk anak-anak si suami.
Dari beliau alfaqir melihat ilmu itu berjalan, bukan hanya sekadar
teori belaka. Beliau tidak hanya mengusung konsep menjaga pandangan dan berlaku
baik pada wanita, tapi langsung mempraktekkan. Memang benar sebuah pepatah
populer mengatakan:
لِسَانُ
الحَال أفصَحُ مِن لِسَانِ المَقَال
"Bahasa perilaku lebih tajam dari bahasa lidah"
Mereka mengajari kami menghormati wanita. Alfaqir masih belajar
seperti mereka. Mungkin saja di khalayak umum tampak mata kebawah, tapi saat
sendiri?! Masih sering menjadi "saudara" setan dalam mendurhakai-Nya. Alfaqir masih jauh dari yang diharapkan, jauh dari peneladanan perilaku
guru-guru. Tapi setidaknya alfaqir bisa memerhatikan akhlak kenabian dalam diri
mereka.
Semoga Allah selalu mengucurkan taufik dan hidayah-Nya untuk
menggerakkan diri mendekati jalan hidup mereka, aamiin.
Wallahu a'lam
Jumat, 21 April 2023 M - 30 Ramadan 1444 H
Selamat Hari Kartini!
تراب نعلي الحبيب ﷺ


Posting Komentar