Mereka Mengajariku Menghormati Wanita

Dok. Pribadi | @shuhayr instagram


Alfaqir (penulis) menemukan pelajaran berharga ini beberapa tahun lalu ketika ibu menjemput. Saat ibu datang, alfaqir arahkan menghadap pengasuh untuk meminta izin. Alfaqir lihat dari jauh. Ketika bercakap-cakap, guru tidak melihat wajah ibu.

 

Ketika Hari Raya Fitri pun demikian. Sekian banyak tamu, mulai tetangga hingga murid beliau yang sudah memiliki keturunan, bahkan mungkin sudah dikaruniai cucu. Bila perempuan mengajak bicara, beliau tidak serta merta mengarahkan pandangannya menatap wajah mereka.

 

Ya, kami melihat itu semua. Terkadang alfaqir diperintah untuk melayani tamu-tamu beliau, walaupun tidak selalu di setiap hari raya, kami melihat beliau dari jauh. Sampai-sampai di rumah ibu pernah berkata, "Beliau gapernah lihat wajah kalau bicara." Penulis jawab, "loh bukannya memang begitu? tidak diperkenankan melihat yang bukan mahram?"

 

Berulang kali beliau selalu memberikan pepeling pada murid laki-lakinya untuk menjaga pandangan terhadap perempuan, berlaku lembut dan memuliakan mereka. Sering beliau ngendika:


"Awakmu iki lanang, iling ilingen! Gaonok wong lanang seng mulyakno wong wedok kecuali wong mulyo, gaonok wong lanang seng nginano wong wedok kecuali wong lanang ino (Kamu ini laki-laki, ingat ini! Tidak ada laki-laki yang memuliakan wanita kecuali laki-laki tersebut mulia dan tidak ada laki-laki yang menghinakan wanita kecuali laki-laki tersebut hina)."

 

Senada dengan kisah diatas, alfaqir pernah melihat cuplikan video percakapan Sayid Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri dengan seorang presenter Arab, Nadin al-Badir. Kisah dari video ini pernah ditulis Lora Ismail Amin al-Kholili dalam keterangan instagram juga bukunya.

 
Dok. Sayid Ali Zainal Abidin al-Jufri | @alhabib.ali


Saat itu Sayid Ali Zainal Abidin Al-Jufri, populer dengan panggilan Sayid Ali Al-Jufri, diundang salah satu stasiun televisi Uni Emirat Arab program Ittijaahaat dialog mengenai Muktamar Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah 2016 Chechnya.

 

Selama satu jam lebih dialog itu berlangsung, Sayid Ali Al-Jufri sama sekali tidak memandang wajah Nadin al-Badir. Beliau tundukkan pandangannya kebawah, kadang kesamping. Perilaku beliau ini agaknya membuat presenter ganjil dan bingung. Hingga diakhir acara Nadin bertanya, "Habib Ali, ini adalah pertemuan kita yang kedua. Jujur, saya sangat menghormati anda, oleh karenanya saya menutup setengah kepala saya di acara ini. Tapi, mengapa selama ini anda menjauhkan pandangan dari wajah saya?"

 

Sayid Ali Al-Jufri tampak malu dengan pertanyaan itu. Beliau menjawab:


"Semoga Allah memberkati anda dan membalas kebaikan anda. Pertama, saya memang tidak terbiasa memandang wanita yang bukan mahram. Kedua, saya tidak memandang wajah anda karena saya menghormati anda, bukan berarti saya merendahkan anda. Laki-laki yang bersikap sopan dan menghormati seorang wanita tidak akan berlama-lama memandang wajahnya. Bukankah Allah Swt. berfirman: 'Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat (QS. An-Nur: 30).' Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- juga bersabda: 'Pandangan adalah anak panah beracun dari sekian banyak anak panah iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut pada Allah, Allah akan anugerahkan baginya kelezatan iman yang akan dia rasakan dalam hatinya.'"

 

Tidak hanya satu video, namun di berbagai kesempatan, mulai wawancara langsung, obrolan ringan setelah simposium, menjawab pertanyaan audien, hingga dialog empat mata. Jika dalam kesempatan tersebut adalah seorang wanita, maka Sayid Ali Al-Jufri tidak pernah terlihat mengarahkan matanya ke arah wajah mereka.

 

Pelajaran berharga salah satu perkataan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad lewat tindak tanduk mereka:

"Mata dan telinga adalah dua pintu yang langsung menuju hati. Apa yang masuk melalui keduanya akan sangat berpengaruh bagi hatinya."

 

Lebih dari menundukkan pandangan, kami juga diajarkan kewajiban dapur. Guru kami pernah berkata:

"Awakmu iki wong lanang, kudu isok masak (Kamu ini laki-laki, harus bisa masak)."


Ucapan itu beliau berikan pada murid laki-laki bukan sebatas omdo belaka, kami melihat sendiri beliau memasak untuk keluarganya. Beliau ajarkan kami banyak hal. Beliau ajarkan untuk tidak "alergi" dengan bermacam-macam perbuatan yang dicap sebagai "identitas" perempuan.
 

Beliau sering bersyukur atas istri dan memujinya dihadapan murid-murid beliau. Di mata alfaqir beliau perlakukan istri bak bunga mawar. Bunga mawar diambil untuk dibersihkan dari duri-duri kemudian dirawat dan jaga keindahannya.


Dari beliau alfaqir tahu bahwa perempuan tidak ada kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah, bila bisa bekerja sama kenapa tidak? Masih untung istri tidak minta hak upah atas susu yang dikeluarkan untuk anak-anak si suami.

 

Dari beliau alfaqir melihat ilmu itu berjalan, bukan hanya sekadar teori belaka. Beliau tidak hanya mengusung konsep menjaga pandangan dan berlaku baik pada wanita, tapi langsung mempraktekkan. Memang benar sebuah pepatah populer mengatakan:


لِسَانُ الحَال أفصَحُ مِن لِسَانِ المَقَال

"Bahasa perilaku lebih tajam dari bahasa lidah"

 

Mereka mengajari kami menghormati wanita. Alfaqir masih belajar seperti mereka. Mungkin saja di khalayak umum tampak mata kebawah, tapi saat sendiri?! Masih sering menjadi "saudara" setan dalam mendurhakai-Nya. Alfaqir masih jauh dari yang diharapkan, jauh dari peneladanan perilaku guru-guru. Tapi setidaknya alfaqir bisa memerhatikan akhlak kenabian dalam diri mereka.

 

Semoga Allah selalu mengucurkan taufik dan hidayah-Nya untuk menggerakkan diri mendekati jalan hidup mereka, aamiin.

 
 

Wallahu a'lam

Jumat, 21 April 2023 M - 30 Ramadan 1444 H

Selamat Hari Kartini!

تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama