Risalah Syakban Muhaddits al-Ghumari

Dok. Pribadi | Canva AI

Tulisan ini terbit karena banyaknya pertanyaan mengenai pertengahan Syakban (Nishfu Sya’ban). Alfaqir pilih tulisan agar dapat dibaca kapan dan dimana saja dengan menghemat penjelasan yang berulang.


Risalah mengenai Nishfu Sya’ban ini diambil dari karangan seorang ahli hadis terkemuka asal Maroko, al-Muhaddits al-Kabir Abi al-Fadhl al-Sayyid Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari. Beliau adalah satu tokoh al-Ghumari, seorang alim, sufi dan ahli hadis, nama beliau abadi hingga saat ini, melahirkan banyak pembesar zaman, sebut saja Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Yusri Rusydi Jabbar, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan lain sebagainya.

Sayid Abdullah al-Ghumari wafat pada tahun 1993 di Kota Tangier, Maroko. Kemasyhuran keluarga al-Ghumari sebagai pakar hadis keturunan Rasulullah al-Hasani, baik dari jalur ayah atau ibu, tidak diragukan oleh ulama timur dan barat.
 
Risalah ini berjudul asli “Husnu al-Bayan fi Lailati al-Nishfi min Sya’ban,” alfaqir hanya akan menulis ringkasan dengan membagi beberapa sub pembahasan. Perlu digarisbawahi, mengingat Sayid Abdullah adalah al-muhaddits al-kabir, maka pembahasan Husnu al-Bayan berjalan di atas perspektif ilmu dan kaidah seorang ahli hadis. Tidak ada tendensi mengarah pada organisasi tertentu di dalamnya.
 

***

 
Populer di masyarakat mengenai keutamaan Nishfu Sya’ban dengan menghidupkan malam diisi berbagai macam ibadah, zikir dan doa. Masalah lahir ketika ada sebuah pertanyaan, “apakah menghidupkan malam nishfu sya’ban secara khusus termasuk bidah?”

 

Sebagai pandangan awal, Sayid Abdullah al-Ghumari mengatakan bahwa hadis-hadis yang membahas tentang Nishfu Sya’ban menempati derajat dhaif atau inqitha’ (sanad perawinya terputus), walaupun ada sebagian riwayat yang memang bisa diikuti. Semua hadis ini berinduk pada hadis sahih riwayat Imam Muslim berikut:

 

“Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya di malam hari ada waktu tertentu, jika seorang muslim mendapati waktu itu kemudian dia meminta pada Allah kebaikan dunia dan akhirat, maka Allah akan memperkenankannya, yang demikian ini terjadi di setiap malam.’” [1]

 

Dari riwayat Muslim di atas tidak diragukan bahwa malam Nishfu Sya’ban adalah salah satu malam dalam keumuman hadis tersebut, maka sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh menghidupkannya dengan pelbagai ibadah, doa dan zikir.

 

Berikutnya di dukung oleh riwayat Imam Thabrani dalam Mu’jam-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah kebaikan di sepanjang masa hidup kalian dan bersiap-siap lah menerima hembusan rahmat Allah, karena sesungguhnya ada hembusan rahmat dari Allah bagi hamba-hamba yang dikehendaki oleh-Nya dan minta lah pada-Nya untuk ditutup keburukan dan tenangnya hati dari kecemasan.” [2]

 

Siapa yang Menghidupkan Malam Pertengahan Syakban?

 

Malam pertengahan bulan Syakban dihidupkan pertama kali oleh generasi tabiin daerah Syam, yaitu Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lain sebagainya. Mereka beribadah dengan giat, mengagungkan malam ini dan diikuti oleh masyarakat sekitar. Jajaran alim tabiin wilayah Bashrah setuju dengan perbuatan tabiin Syam. Namun, tidak dengan jajaran alim wilayah Hijaz, mereka mengingkari perbuatan tersebut, diantaranya Atha’, Ibn Mulaikah dan fuqaha Madinah.

 

Bagaimana Cara Mereka Menghidupkan Bulan Syakban?

 

Para ulama berbeda pendapat. Ulama wilayah Syam, Khalid bin Ma’dan; Luqman bin Amir, dsb menganjurkan dengan salat di masjid, menggunakan baju bagus, memakai wewangian, bercelak dan menghidupkan masjid dengan bermacam bentuk kegiatan mulia secara berjamaah. Perbuatan ulama wilayah Syam ini di afirmasi oleh Ishaq bin Rahawaih, seorang ahli hadis dan tafsir, sahabat Imam Ahmad bin Hanbal juga guru dari Imam al-Bukhari.

 

Berbeda dengan Imam al-Auza’i, seorang ahli fikih ternama di masa klasik awal Islam. Menurutnya, makruh berkumpul di masjid menghidupkan malam ini dengan salat dan amal baik lainnya secara berjamaah, cukup seseorang melakukannya di rumah masing-masing.

 

Adanya perbedaan pendapat ini, Sayid Abdullah mengatakan bahwa ayahnya, al-Muhaddits al-Alim Sayid Shiddiq bin Ahmad al-Ghumari lebih mengunggulkan pendapat pertama, karena beliau memerintahkan sanak keluarga, saudara dan rekan-rekannya berkumpul di Zawiyah Shiddiqiyah untuk bersama-sama menyibukkan diri dengan al-Quran, zikir, doa hingga waktu sahur.

 

Dalam Sunan al-Kubra, Imam Baihaqi meriwayatkan penuturan Nashir al-Sunah Imam Syafi’i: “Sesungguhnya doa tidak tertolak di 5 malam, yaitu malam Jumat; malam Hari Raya Kurban, malam Hari Raya Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Syakban.” [3]

 

Sejarah pun menulis mengenai Umar bin Abdul Aziz, keturunan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dari pihak ibu, khalifah kedelapan Dinasti Umayyah disebut sebagai mujaddid pertama dalam Islam, bahwa beliau pernah menulis surat kepada gubernur wilayah Bashrah, “Bersungguh-sungguhlah engkau di 4 malam dalam setahun, sesungguhnya di malam-malam itu Allah mengucurkan deras rahmat-Nya, yaitu malam pertama bulan Rajab; malam pertengahan bulan Syakban; malam Hari raya Fitri dan malam Hari Raya Adha.” [4]

 

Bagaimana Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban?

 

Hadis-hadis yang secara khusus membahas keutamaan salat, ijabahnya doa dan ibadah tertentu di malam ini tidak lepas dari komentar para ulama. Salah satunya Abu Bakar bin al-‘Arabiy al-Ma’afiri yang menyebut sanad hadis mengenai malam pertengahan Syakban terputus, juga memiliki isi riwayat terkesan berlebihan.

 

Hadis pertama. Dalam Sunan Ibn Majjah dari Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika telah datang malam pertengahan bulan Syakban, dirikan lah salat malam, berpuasa lah kalian di siang harinya, sesungguhnya Allah menurunkan perintah-Nya semenjak tenggelamnya matahari di langit dunia seraya berfirman: ‘Adakah yang memohon ampun? Aku ampuni dia, adakah yang meminta rezeki? Aku beri dia rezeki, adakah yang sedang dilanda cobaan? Aku beri dia keselamatan, hingga terbitnya fajar.’” [5]

 

Hadis di atas dapat dijumpai di Mushannaf Abdurrazzaq, dalam rantaian sanadnya terdapat Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Sabrah bernilai matruk (hadis darinya ditinggalkan). Imam Ahmad berkomentar bahwa Abu Bakar ibn Abi Sabrah adalah seorang pendusta.

 

Hadis kedua. Dalam Sunan Tirmidzi dan Ibn Majjah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “aku mencari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku keluar dan aku lihat beliau di Baqi’ sambil mengangkat kepala beliau menghadap langit seraya berkata, ‘Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala menurunkan urusan dan perintah-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban ke langit dunia dan mengampuni dosa umat manusia dengan pengampunan dosa yang lebih banyak dari bulu domba Bani Kalb.’” [6]


Sebagai informasi, Bani Kalb adalah kabilah Arab pada masa itu yang memiliki komoditas ternak banyak dan berbulu lebat.

Hadis di atas ditanyakan Imam Tirmidzi pada gurunya, Imam Bukhari. Imam Bukhari mengatakan bahwa status hadis tersebut dhaif dengan sanad yang terputus.

 

Hadis ketiga. Ibn Majjah meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam pertengahan bulan Syakban Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang-orang musyrik dan orang yang menyimpan permusuhan dengan sesama.” [7]

 

Imam al-Dzahabi, seorang ahli jarh wa ta’dil, guru dari al-Hafidz Ibn Rajab dan al-Hafidz Ibn Katsir mengatakan hadis di atas salah satu perawinya seorang yang majhul (tidak diketahui).

 

Hadis keempat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memandang makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban dan mengampuni para hamba-Nya, kecuali orang yang memiliki pertengkaran dengan sesama dan pembunuh jiwa manusia.”

 

Al-Hafidz al-Mundziri, seorang ahli hadis guru dari Syaikhul Islam Ibn Daqiq al-‘Id, mengatakan bahwa hadis di atas memiliki sanad periwayatan yang lemah.

 

Hadis kelima. Imam Thabrani dan Imam Ibn Hibban dalam kitab hadis mereka dari Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memandang dan mengampuni seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban, kecuali orang musyrik dan orang yang berkelahi dengan sesama.”

 

Masih ada banyak hadis lainnya dan riwayat tentang Nishfu Sya’ban, rata-rata memiliki derajat dhaif. Apakah boleh mengamalkan hadis dhaif? Adakah syarat tertentu pengamalan hadis dhaif? Ya, boleh dan ada syarat tertentu, pernah alfaqir tulis lengkap dengan sumber di pembahasan sebelumnya. (silakan klik disini)

 

Atsar tentang Nishfu Sya’ban

 

Diantara atsar tentang malam pertengahan bulan Syakban riwayat dari Nauf al-Bakali mengatakan: “dulu Ali radhiyallahu ‘anhu keluar rumah pada malam pertengahan bulan Syakban seraya berucap, ‘sesungguhnya ini adalah waktu tidak ada seorang pun yang berdoa pada Allah kecuali Dia akan mengabulkannya, dan tidak ada seorang pun memohon ampun pada Allah pada malam ini kecuali Dia akan mengampuni selama bukan seorang pemungut cukai, tukang sihir, dukun. Wahai Tuhan, ampuni siapa saja yang berdoa kepada-Mu pada malam ini dan siapa saja yang memohon ampunan.’” [8]

 

Selanjutnya ada riwayat dari Sa'id bin Manshur mengatakan: “tidak ada malam yang lebih mulia setelah Lailatul Qadar selain malam Nishfu Sya'ban, di malam itu Allah menurunkan perintah dan urusan-Nya ke langit dunia mengampuni para hamba-Nya kecuali orang-orang musyrik, orang yang bermusuhan dengan sesama dan pemutus tali silaturahim.” [9]

 

Sayid Abdullah al-Ghumari berkesimpulan dengan banyaknya hadis dan atsar mengenai Nishfu Sya'ban dapat diartikan bahwa menghidupkan malam ini dengan membaca al-Quran, zikir dan berdoa demi meraih rahmat Allah adalah sesuatu yang dianjurkan.

 

Doa pada malam Nishfu Sya’ban

 

Sayid Abdullah al-Ghumari mengutip dua riwayat yang ditulis oleh Imam Baihaqi dari Ummul Mukminin Asiyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma. Suatu malam pada pertengahan bulan Syakban Rasulullah pernah bersabda, “Jibril telah datang padaku dan mengatakan bahwasanya malam ini adalah nishf min sya’ban (pertengahan bulan Syakban) dan Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka sebanyak bulu domba Bani Kalb. Allah tidak akan memandang dengan pandangan rahmat kepada orang musyrik, bermusuhan dengan sesama, isbal dengan sombong, durhaka pada orang tua, peminum minuman keras.” Kemudian Rasulullah sujud lama sekali dan berdoa:

 

أعوذ بعفوك من عقابك وأعوذ برضاك من سخطك وأعوذ بك منك جل وجهك لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك
“Hamba berlindung dengan ampunan-Mu dari azab-Mu, hamba berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan hamba berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Maha Mulia kebesaran-Mu, hamba tidak mampu menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

 

Riwayat kedua dengan kejadian yang mirip namun dengan doa yang berbeda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud dan berdoa:

 

أعوذ برضاك من سخطك، وأعوذ بعفوك من عقابك، وأعوذ بك منك أنت كما أثنيت على نفسك، أقول كما قال أخي داود: أغفر وجهى في التراب لسيدى وحق له أن يسجد
“Hamba berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu, hamba berlindung dengan ampunan-Mu dari azab-Mu dan hamba berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu, pujia-pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Hamba berkata sebagaimana yang dikatakan saudara hamba, Daud: ‘Hamba menempelkan wajah ke tanah bersujud untuk Tuhanku, dan memang sudah sepantasnya bersujud untuk Dia.

 

Kemudian mengangkat kepala dan sujud kedua kalinya berdoa:

 

اللهم ارزقنى قلبا تقيا من الشرك نقيا لا جافيا ولا شقيا
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang bertakwa, bersih dari syirik, suci, tidak keras, dan tidak celaka

 

Asal Muasal Doa Masyhur di Malam Pertengahan Bulan Syakban

 

Sayid Abdullah al-Ghumari mengatakan bahwa doa yang tenar di masyarakat adalah doa yang tidak ada asalnya dari hadis, termasuk membaca surat Yasin dengan niat-niat tertentu.

 

Untuk tambahan pribadi, guru kami menerangkan mengapa para ulama masih menganjurkan membaca Yasin 3 kali dengan niat-niat tertentu? Karena mereka menggunakan hadis riwayat Imam Darimi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesiapa membaca surat Yasin di setiap malam dengan mengharap rida Allah, maka akan diampuni dosa orang yang membacanya di malam tersebut.” [10]

 

Sayid Abdullah al-Ghumari mengomentari mengenai doa yang tersebar luas dengan "doa yang indah," sebagaimana di temukan dalam Mushannaf Abi Syaibah dan Ibn Abi Dunya:

 

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، ظَهْرَ اللَّاجِئِينَ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَأَمَانَ الْخَائِفِينَ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَإِقْتَارَ رِزْقِي، وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَيَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ.
“Ya Allah, Dzat yang Maha Pemberi karunia dan tidak membutuhkan imbalan, Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Dzat yang memiliki anugerah dan nikmat. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkaulah tempat berlindung bagi orang yang mencari perlindungan, Engkaulah tempat aman bagi orang-orang yang takut. Ya Allah, jika Engkau telah menetapkan namaku di dalam kitab-Mu sebagai orang yang celaka, terhalang dari rahmat-Mu, terusir, atau sempit dalam rezeki, maka hapuskanlah dengan keutamaan-Mu segala kesengsaraan, keterhalangan, keterusiran, dan kesempitan rezekiku. Dan tetapkanlah aku dalam kitab-Mu sebagai orang yang berbahagia, mendapat rezeki, dan memperoleh taufik untuk berbuat kebaikan. Sungguh, Engkau telah berfirman: 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).'”

 

Apakah pada malam Nishfu Sya’ban dapat merubah yang telah ditakdirkan?

 

Dalam QS. Al-Dukhan ayat 3-4:
 

اِنَّا اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ۝ فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ ۝
“Sesungguhnya Kami mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

 

Menurut Sahabat Ikrimah dan sebagian mufassir mengatakan bahwa “lailatin mubarakah, malam yang diberkahi” dalam ayat tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban.

 

Pendapat ini juga di dukung oleh beberapa hadis berikut:

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa sepanjang bulan Syakban hingga Ramadan. Beliau tidak berpuasa penuh sebulan (selain Ramadan) kecuali Syakban. Aisyah berkata, ‘Wahai Rasulallah, Syakban adalah salah satu bulan yang engkau sukai untuk berpuasa.’ Rasul menjawab, ‘Ya Aisyah, tidak ada satu jiwa pun yang meninggal dalam setahun kecuali telah ditetapkan waktunya di bulan Syakban dan aku ingin ketika waktu untukku ditetapkan sedang aku dalam keadaan beribadah dan beramal saleh.’” [11]

 

Hadis di atas riwayat Abu Ya’la juga ditulis oleh al-Khatib dalam Tarikh-nya dengan derajat dhaif.

 

Hadis berikutnya, “Pada malam ini (malam pertengahan bulan Syakban), setiap kelahiran dan kematian keturunan Adam dicatat, di malam itu pula amal mereka dinaikkan dan rezeki mereka diturunkan” [12]

 

Hadis di atas riwayat Imam Baihaqi dalam kitab Da’awat al-Kabir dengan beberapa perawinya berstatus majhul.

 

Jika menggunakan thariqah al-tarjih, maka pendapat mu’tamad yang disebutkan oleh al-Hafidz Ibn Rajab mengenai “lailatin mubarakah, malam yang diberkahi” dalam QS. Al-Dukhan: 3-4 adalah Lailatul Qadr, bukan Nishf Sya’ban. Hal ini dikuatkan langsung dengan QS. Al-Qadr ayat 1.

 

Jika menggunakan thariqah al-jami’ sebagaimana pendapat Abu al-Duha dan Ibn Abbas, maka disimpulkan penentuan takdir mu’allaq pada malam Nishfu Sya’ban dan penyerahan ke malaikat pada malam lailatul qadar. Maksud diserahkan pada malaikat adalah Allah memberi tugas pada para malaikat yang berkaitan dengan hal ihwal manusia, karena para malaikat tidak tahu isi lauh al-mahfudz.

 

Siapa Saja yang Tidak Mendapat Pengampunan di Malam Nishfu Sya’ban?

 

Sayid Abdullah al-Ghumari menuliskan beberapa orang diantaranya:

1. Orang musyrik [13]

2. Orang yang saling bermusuhan; berkelahi satu sama lain [14]

3. Pembunuh [15]

4. Pemutus silaturahim [16]

5. Musbil (orang isbal dengan sombong) [17]

6. Durhaka pada orang tua [18]

7. Peminum minuman keras [19]

8. Pekerja seks (al-zaniyah bi farjihi) [20]

 

Apakah Ada Salat Khusus di Malam Nishfu Sya’ban?

 

Tidak ada riwayat salat tertentu di malam ini, baik dari jalur sahih maupun dhaif. Jika ada, maka itu maudhu’. Bila menemukan riwayat maudhu’ mengenai salat tertentu yang dilakukan pada malam pertengahan bulan Syakban boleh disampaikan dengan status ke-maudhu’­-annya agar masyarakat umum tidak tertipu.

 

Contoh riwayat tentang salat khusus di malam Nishfu Sya’ban:

1. Salat 100 rakaat dengan membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas 10 kali di setiap rakaat. Menurut Ibn Jauzi riwayat ini maudhu’.

2. Malam nishfu sya’ban membaca al-Ikhlas 1000 kali. Menurut Ibn Jauzi riwayat ini maudhu’.

3. Salat 14 rakaat kemudian duduk membaca al-Fatihah 14 kali, an-Nas 14 kali, ayat kursi sekali lalu dilanjutkan ayat terakhir surat al-Taubah. Menurut Ibn Jauzi, Imam Baihaqi dan Imam Suyuthi riwayat ini maudhu’.

4. Dan masih banyak lagi

 

Adapun salat raghaib yang dilakukan pada malam ini menurut Mujtahid fi al-Madzhab Syaikhul Islam al-Imam Nawawi al-Dimasyqi dalam Majmu’-nya merupakan perbuatan bid’ah qabihah madzmumah (bid’ah yang buruk lagi tercela). [21]

 

Kesimpulan

 

Kesimpulan dari ulasan panjang ini disebutkan oleh Sayid Abdullah al-Ghumari sebagai berikut:

1. Keutamaan malam Nishfu Sya’ban adalah tsabit; sahih.

2. Dianjurkan untuk menghidupkan malam ini dengan bermacam-macam ibadah.

3. Jika dilakukan pembacaan surat Yasin, maka niatkan dengan ikhlas.

4. Salat khusus Nishfu Sya’ban berapapun rakaatnya dengan sifat-sifat tertentu adalah sesuatu yang batil dan tidak diperkenankan untuk melakukannya. Silakan salat tanpa mengkhususkan jumlah tertentu.

5. Memanfaatkan malam Nishfu Sya’ban dengan bertaubat agar mendapat petunjuk dari Allah.

 

Wallahu a’lam

 

Kamis, 13 Februari 2025 M - 14 Syakban 1446 H

 تراب نعلي الحبيب 

 

 

 

Catatan Kaki

(menyusul)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama