Tulisan kali ini untuk mendokumentasikan peristiwa dalam perjalanan hidup kami, dibarengi tujuan mengurai “mokel” dari sudut pandang turats pembesar Islam di zaman yang telah lalu, bukan murni hasil dari isi otak pribadi, melainkan penulisan ulang dari postingan instagram KH. Muhammad Ismail Amin al-Kholili dengan perubahan diksi dan penambahan detail referensi.
Alfaqir bukan pemilik hati mereka, yang bisa kami lakukan menegur keras, memberi penjelasan kemuliaan Ramadan serta perjuangan keras Rasulullah dalam memberi kedudukan tinggi bagi umatnya di sisi Allah. Alfaqir susun kalimat penolakan yang baik terhadap apa yang mereka lakukan, agar mereka tahu bahwa segala jenis pelanggaran syariat tidak bisa dinormalisasi. Sekali meremehkan pelanggaran syariat, baik zahir atau batin, akan menyebabkan hilangnya rasa “jijik” dalam hati pada perilaku tercela.
Seorang imam besar sekaligus kritikus hadis terkemuka, Imam Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, masyhur dipanggil Imam Adz-Dzahabi. Beliau merekam adanya sebuah ketetapan tidak tertulis pada zaman dahulu, bahwa perilaku mokel dan tidak puasa tanpa uzur bagi orang mukmin di cap sebagai perbuatan yang lebih buruk dari pezina dan pecandu minuman keras. Bahkan mukmin zaman dahulu meragukan iman Islam orang yang berbuat demikian serta berprasangka orang seperti itu cenderung memiliki sifat zindiq dalam hatinya dan moral yang rusak. [1]
Tidak cukup begitu saja, perilaku mokel atau tidak puasa tanpa uzur juga dibahas oleh seorang ahli fikih kondang mazhab Syafi’i, Imam Ahmad bin Muhammad al-Haitami as-Sa’di al-Anshari, acap kali disebut dengan Imam Ibn Hajar al-Haitami, sebuah nama yang keharuman ilmunya mampu menjadi pakem rujukan dalam pelbagai putusan hukum syafi’iyah setelah eranya.
Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Az-Zawajir ‘an Iqtirafi al-Kabair, di bagian Kitab Puasa, menjelaskan dosa besar ke 141 adalah meninggalkan puasa di bulan Ramadan atau berbuka sebelum waktunya, baik itu sebab makan, hubungan suami istri atau lainnya. Semua itu dilakukan tanpa uzur yang ditoleransi oleh syariat, misalnya sakit atau safar.
Mengapa mokel masuk dalam dosa besar? Karena puasa Ramadan adalah salah satu pondasi agama Islam [2]. Dalam sebuah hadis dengan lafaz dari Imam Tirmidzi, yang diriwayatkan pula oleh para pesohor hadis lainnya, Imam Abu Dawud, Imam An-Nasa’i, Imam Ibn Majjah, Imam Ibn Khuzaimah dan Imam al-Baihaqi, menyebutkan:
“Barang siapa yang berbuka sehari di bulan Ramadan tanpa adanya rukhshah (keringanan yang telah diatur oleh syariat) serta sakit, maka puasa sepanjang masa hidupnya tidak akan dapat menggantikan puasa Ramadan yang dia tinggalkan sehari, sekalipun dia melakukannya.” [3]
Kedigdayaan bulan Ramadan dalam agama ini tidak berhenti sampai di situ saja. Salah seorang “raja” hadis, Imam al-Bukhari, juga menyebutkan secara ta’liq mengenai riwayat di atas dari Abu Hurairah:
“Siapa saja yang berbuka sehari pada bulan Ramadan tanpa uzur dan tanpa sakit, maka puasa di seluruh masa hidupnya tidak akan dapat menggantikan (puasa Ramadan yang dia tinggalkan sehari tersebut), sekalipun dia melakukannya.” [4]
Ulama di kalangan sahabat, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhuma, mengafirmasi tekstual hadis di atas dengan berkata: “Sungguh orang yang berbuka sehari (mokel) di bulan Ramadan tidak dapat diganti (qadha) oleh puasa sepanjang masa.” [5]
Tabi’in asal Irak, Ibrahim An-Nakha’i, memiliki pendapat yang lebih keras. Imam An-Nakha’i mewajibkan per satu hari puasa Ramadan yang dibatalkan (mokel) diganti dengan puasa tiga ribu hari. Tabi’in asal Madinah, Said bin al-Musayyib, berpendapat wajib per satu hari puasa Ramadan yang ditinggalkan (karena mokel atau lainnya tanpa uzur) diganti dengan puasa tiga puluh hari. Tabi’in asal Madinah lainnya sekaligus guru dari Imam Malik bin Anas, Rabi’ah ar-Ra’yi, berpandangan wajib per satu hari puasa Ramadan yang ditinggalkan diganti dengan puasa 12 hari.
Pendapat tiga figur khazanah Islam di atas bukanlah suatu hal yang mesti dipakai, namun kami cantumkan untuk mengungkap bagaimana luhur nan agungnya bulan Ramadan dalam kacamata syariat. Adapun pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama adalah wajib per satu hari puasa Ramadan yang ditinggalkan diganti dengan puasa sehari, berdasarkan firman Allah:
فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ
“maka dia wajib mengganti puasa sebanyak hari yang dia tidak berpuasa itu pada hari-hari yang lain (QS. Al-Baqarah: 184)”
Tingginya derajat puasa Ramadan belum berakhir, riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Ibn Khuzaiman dan Imam Ibn Hibban dalam kitab shahih mereka bercerita mengenai agungnya puasa Ramadan dalam mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Tatkala aku sedang tidur, datang kepadaku dua orang laki-laki. Kedua laki-laki itu menggenggam kedua lenganku dan menghantarkan aku ke sebuah gunung yang terjal. Kedua laki-laki itu berkata, ‘Naiklah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mampu.’ Kemudian mereka berkata lagi, ‘Kami akan memudahkannya untukmu.’ Maka aku pun naik, hingga ketika aku telah berada di puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara-suara yang sangat keras. Aku bertanya, ‘Suara apakah itu?’ Mereka menjawab, ‘Itulah jerit pekik penghuni neraka.’ Kemudian aku dibawa ke suatu tempat yang lain, disana aku melihat suatu kaum yang digantung terbalik dengan urat tumit mereka, sementara sudut mulut mereka robek menganga dan menyemburkan darah. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka?’ Dijawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal waktunya.” [6]
Peringatan keras yang berulangkali menghambur ke segenap penjuru selama ini tentang mengabaikan salat dan zakat, sedangkan bayang-bayang ancaman bagi pelaku mokel dan orang yang sengaja tidak berpuasa Ramadan seperti di atas jarang terdengar. Mengapa seperti tu? Karena kebanyakan yang terjadi di khalayak manusia adalah abai terhadap salat dan zakat, namun mereka tetap tekun berpuasa. Sehingga masih dapat kita temui orang yang berpuasa tapi masih malas salat atau hanya tekun salat ketika bulan Ramadan saja. Realitas tersebut menunjukkan bahwa puasa tidak ditinggalkan oleh seseorang yang mampu melaksanakannya karena malas, kecuali oleh orang yang sangat jarang dan menyimpang.
Dengan beberapa riwayat yang kami suguhkan dari penjelasan beberapa pembesar pewaris kenabian di atas, kita sedikit tahu betapa dalamnya jurang kerugian nestapa yang tak terkira bagi orang-orang yang menyia-nyiakan Ramadan sedangkan dia masih diberi kesempatan untuk meneguk manisnya hembusan angin rahmat dan ampunan Tuhan.
Wallahu a’lam
Malam Sabtu, 16 Ramadan 1447 H/3 April 2025 M
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1] Redaksi Imam Adz-Dzahabi:
قَالَ الذَّهَبِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بَعْدَ أَنْ أَوْرَدَ جُمْلَةً مِنَ النُّصُوصِ الدَّالَّةِ عَلَى فَرْضِيَّةِ صَوْمِ رَمَضَانَ، قَالَ مُعَلِّقًا: وَعِنْدَ الْمُؤْمِنِينَ مُقَرَّرٌ أَنَّ مَنْ تَرَكَ صَوْمَ رَمَضَانَ بِلَا مَرَضٍ وَلَا غَرَضٍ؛ أَنَّهُ شَرٌّ مِنَ الزَّانِي وَالْمَكَّاسِ وَمُدْمِنِ الْخَمْرِ، بَلْ يَشُكُّونَ فِي إِسْلَامِهِ، وَيَظُنُّونَ بِهِ الزَّنْدَقَةَ وَالِانْحِلَالَ.
[3] Hadis Shahihain dalam Az-Zawajir Imam Ibn Hajar al-Haitami dan Al-Kabair Imam Adz-Dzahabi:
عَن النَّبِي ﷺ أَنه قَالَ بني الْإِسْلَام على خمس شَهَادَة أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله وإقام الصَّلَاة وإيتاء الزَّكَاة وَحج الْبَيْت وَصَوْم رَمَضَان وَعَن ابْن عَبَّاس رضي الله عنهما عرى الْإِسْلَام وقواعد الدين ثَلَاث شَهَادَة أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَالصَّلَاة وَصَوْم رَمَضَان فَمن ترك وَاحِدَة مِنْهُنَّ فَهُوَ كَافِر
[4] Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Imam Abu Dawud, Imam An-Nasa’i, Imam Ibn Majjah, Imam Ibn Khuzaimah dan Imam al-Baihaqi
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ
[4] Ta’liq Hadis Imam Bukhari:
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ
[5] Afirmasi sahabat Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhuma:
وَأَخَذَ بِظَاهِرِ هَذَا الْخَبَرِ عَلِيٌّ وَابْنُ مَسْعُودٍ رضي الله عنهما، فَقَالَا: إنَّ مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ لَا يَقْضِيهِ صَوْمُ الدَّهْرِ
[6] Dalam Shahih Ibn Khuzaiman dan Ibn Hibban:
بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعِرًا، فَقَالَا: اصْعَدْ، فَقُلْت: إنِّي لَا أُطِيقُهُ، فَقَالَا: إنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَك، فَصَعِدْت حَتَّى إذَا كُنْت فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ، فَقُلْت: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالُوا: هَذِهِ عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ اُنْطُلِقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْت مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ، الْحَدِيثَ: أَيْ قَبْلَ تَحَقُّقِ دُخُولِ وَقْتِهِ

Posting Komentar