Dekan FTK: Al-Ilmu Yu'ta Wa La Ya'ti

Dok. Pribadi | Riris


Bersama teman-teman LPM Edukasi melintasi seringai matahari. Menunggu pimpinan fakultas. Jarum panjang dan pendek saling berkejaran, hingga kami diizinkan masuk ruangan. Kami bertemu Prof. Dr. Ali Mas'ud, M.Ag., narasumber utama isu offline-online perkuliahan bulan lalu. Kami gulirkan banyak pertanyaan hingga suatu kesempatan bercerita latar belakang berbagai kebijakan yang diambil.


"... Apalagi kalau pakai bahasa kitab itu, al-'ilmu yu'ta wa la ya'ti, ilmu iku ditekani ora nekani sampean (ilmu itu didatangi bukan mendatangi anda)...", ungkap beliau.


Seketika penulis teringat dengan kisah Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas, dengan pemimpin ke-5 Bani Abbas di Baghdad, Harun al-Rasyid.

***


Suatu waktu Khalifah al-Rasyid di Madinah, tertarik dengan majelis hadis Imam Malik. Khalifah al-Rasyid mengutus seorang perwakilannya untuk mengundang sang imam guna mengajarkan raja serta anaknya hadis di istana. Ajudan sang khalifah menyampaikan pesannya.


"Wahai Abu Abdllah, seyogyanya engkau membedakan kami dengan lainnya hingga memperdengarkan atas anak-anak kami dari engkau kitab Al-Muwattha'"


Sang Amirul Mukminin fil Hadits, Imam Malik, pemilik Kitab al-Muwattha' itu mengatakan:


أعز الله امير المؤمنين، إن العلم منكم خرج، فإن أعززتموه عزّ، وإن ذللتموه ذلّ، والعلم يؤتى ولا يأتي

"Semoga Allah merahmati Amirul Mukminin, sungguh ilmu ini berasal dari kalian (karena Khalifah Harun al-Rasyid memiliki kekerabatan dengan Rasulullah dari leluhurnya), jika engkau memuliakan ilmu maka ia akan mulia, dan jika engkau menghina ilmu maka ia akan hina. Dan ilmu itu didatangi, bukan mendatangi"


Sampailah jawaban pada khalifah. Al-Rasyid pun berkata:

"Engkau benar wahai Imam, aku akan medatangimu, mendengarkan hadis bersama jamaah lainnya"


Harun al-Rasyid harus mengalah duduk bersama rakyat kecil dengan dua anaknya.

***


Itulah Imam Malik, hidup bertemu beberapa khalifah Bani Abbas, selama itu pula ia enggan untuk mencium tangan khalifah di balairung saat menghadap ke istana. Kehormatan ilmu dan pembawanya lebih mulia dari sebuah singgasana. Imam Malik tidak akan membuang sia-sia maslahat umum demi kepentingan pribadi, bahkan bila raja sekalipun yang meminta. Imam Malik tidak merasa sebuah aib bila menegur punggawa kerajaan. Dicacat kemuliaan derajatnya, dikecam, tuduhan fitnah, hingga siksaan cambuk telah dijalani.


Paling tidak dari kisah Imam Malik bin Anas al-Asbahi dan Khalifah Harun al-Rasyid dapat kita ambil pelajaran kukuhnya benteng niat dalam mencari ilmu dan ber-istifadah pada seorang guru dengan menurunkan rasa ke-aku-an dalam diri. Di tengah gejolak berita offline-online yang diselenggarakan oleh kampus, tetaplah kuat dan semangat! Mungkin tidak sedikit dari kita bergeming tentang transportasi, makanan, kerinduan, dan lain sebagainya. Namun, akankah diri kita lupa bagaimana perjuangan Kalimullah Musa yang berjalan jauh demi ilmu Tuhan kepada Nabi Khidr alihimassalam?!


Kisah Musa dan Khidr alaihimassalam telah menunjukkan tingginya derajat ilmu dan keluhuran bagi pemegangnya. Kiranya tak berlebihan bila Dekan kami mengatakan "ilmu itu didatangi, bukan mendatangi", jika ada seorang penuntut ilmu yang menolak bersusah payah dan enggan merendahkan hati dengan alasan ketinggian derajat, mulianya kedudukan yang dimiliki dan jarak yang jauh, maka yang paling berhak atas itu semua adalah Musa! Siapa yang mendapat gelar Kalimullah (Orang yang berbicara dengan Allah) selain dia?! Adakah yang paling mulia pada zamannya kecuali dia?!


Mari kita petik! kesungguhan, kesanggupan, dan seriusnya Musa demi kemuliaan ilmu dan pemiliknya hingga rela keluar dari negerinya cukup sebagai alasan untuk mendatangi ilmu, sebab tidak ada manusia yang lebih tinggi nan mulia dari kedudukan ahli ilmu.


Selamat mencari ilmu!


Wallahu a'lam

Selasa, 1 Maret 2022 - 27 Rajab 1443 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama