“Apabila telah datang bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu surga,
ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu para setan”
Banyak pemahaman yang kita terima maksud hadis tersebut, sekelompok
orang menggunakan kiasan, beberapa teguh dengan arti tekstual, ada yang memilih pendekatan
kontekstual, bahkan tidak sedikit individu memaksimalkan kemampuan akalnya
dalam memberikan makna.
Lalu bagaimana pendapat Imam Izzuddin bin Abd Salam?
Sebelum menyelam lebih jauh, rasanya kurang pantas bila tidak
berkenalan dengan tokoh besar ini. Beliau bernama asli Abdul Aziz, digelari
‘Sulthanul Ulama’ karena kompleksnya intelektual dan sumbangsihnya dalam dunia
Islam, wafat pada tahun 660 hijriyah. Selain gelar ‘Sultan/Rajanya Ulama’,
beliau juga berjuluk ‘Izzuddin’, Kehormatan Agama, yang melekat di setiap
sampul-sampul karyanya.
Bagaimana maksud kata “Setan-setan Dibelenggu” menurut Sulthanul
Ulama?
Sebagaimana alfaqir terima pemahaman dari guru kami, Imam
Izzuddin bin Abdis Salam melakukan takwil dalam memahami redaksi “dibelenggunya
para setan”. Beliau menjelaskan dalam karyanya, Maqashid as-Shaum, bahwa “terbelenggu”
diibaratkan terputusnya was-was; bisikan dan godaan yang diberikan setan pada
umat Islam yang sedang berpuasa, karena saat berpuasa tidak ada keinginan untuk
melakukan berbagai maksiat.
Cara memahaminya, puasa melahirkan rasa lapar dan dahaga, rasa ini sebagai penghalang maksiat dan pencegah
dari segala bentuk penentangan aturan agama. Sering terjadi ketika merasa kenyang serta puas cenderung bermalas-malasan, lalai dalam salat tarawih, meninggalkan wirid al-Quran, tidak mengulang
pelajaran, dsb, bahkan tidak segan melakukan perbuatan yang dilarang.
Kita telah mengetahui kendaraan setan dalam tubuh adalah syahwat,
sedang syahwat hanya bisa dihancurkan dengan berpuasa, karena syahwat lahir dari
banyaknya makan dan minum yang masuk dalam tubuh. Maknanya, dengan berpuasa kita
telah memutus kendaraan setan sehingga mereka tidak dapat mengendalikan diri
manusia seluruhnya.
Bagaimana redaksi hadis “Setan-setan Dibelenggu” dipahami secara
lahiriah?
Selain takwil Imam Izzuddin bin Abd Salam, hadis ini juga menjangkau pemahaman lahiriah. Mungkin bila dipahami secara teks akan tumbuh pertanyaan, "mengapa saat puasa masih bermaksiat?" Bermaksiat ketika puasa karena jiwa telah 11 bulan terdidik oleh setan untuk melakukan dan melaziminya. Saat setan-setan dibelenggu, pembawaan; kebiasaan buruk yang telah diajarkan oleh mereka teraplikasikan pada 1 bulan di Ramadan.
Wallahu a’lam
22 April 2022 /
20 Ramadan 1443 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ

Posting Komentar