Takwil Sultannya Ulama pada 'Terbelenggunya Setan'

 

Dok. Pribadi | Galeri Kitab Kuning


Bulan Ramadan semerbak sabda-sabda Nabi di sosial media. Sabda yang terkenal diriwayatkan oleh pemilik dua kitab ter-shahih setelah al-Quran, Imam Bukhari dan Imam Muslim.


Apabila telah datang bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu para setan


Banyak pemahaman yang kita terima maksud hadis tersebut, sekelompok orang menggunakan kiasan, beberapa teguh dengan arti tekstual, ada yang memilih pendekatan kontekstual, bahkan tidak sedikit individu memaksimalkan kemampuan akalnya dalam memberikan makna.


Lalu bagaimana pendapat Imam Izzuddin bin Abd Salam?


Sebelum menyelam lebih jauh, rasanya kurang pantas bila tidak berkenalan dengan tokoh besar ini. Beliau bernama asli Abdul Aziz, digelari ‘Sulthanul Ulama’ karena kompleksnya intelektual dan sumbangsihnya dalam dunia Islam, wafat pada tahun 660 hijriyah. Selain gelar ‘Sultan/Rajanya Ulama’, beliau juga berjuluk ‘Izzuddin’, Kehormatan Agama, yang melekat di setiap sampul-sampul karyanya.


Bagaimana maksud kata “Setan-setan Dibelenggu” menurut Sulthanul Ulama?


Sebagaimana alfaqir terima pemahaman dari guru kami, Imam Izzuddin bin Abdis Salam melakukan takwil dalam memahami redaksi “dibelenggunya para setan”. Beliau menjelaskan dalam karyanya, Maqashid as-Shaum, bahwa “terbelenggu” diibaratkan terputusnya was-was; bisikan dan godaan yang diberikan setan pada umat Islam yang sedang berpuasa, karena saat berpuasa tidak ada keinginan untuk melakukan berbagai maksiat.


Cara memahaminya, puasa melahirkan rasa lapar dan dahaga, rasa ini sebagai penghalang maksiat dan pencegah dari segala bentuk penentangan aturan agama. Sering terjadi ketika merasa kenyang serta puas cenderung bermalas-malasan, lalai dalam salat tarawih, meninggalkan wirid al-Quran, tidak mengulang pelajaran, dsb, bahkan tidak segan melakukan perbuatan yang dilarang.


Kita telah mengetahui kendaraan setan dalam tubuh adalah syahwat, sedang syahwat hanya bisa dihancurkan dengan berpuasa, karena syahwat lahir dari banyaknya makan dan minum yang masuk dalam tubuh. Maknanya, dengan berpuasa kita telah memutus kendaraan setan sehingga mereka tidak dapat mengendalikan diri manusia seluruhnya.


Bagaimana redaksi hadis “Setan-setan Dibelenggu” dipahami secara lahiriah?


Selain takwil Imam Izzuddin bin Abd Salam, hadis ini juga menjangkau pemahaman lahiriah. Mungkin bila dipahami secara teks akan tumbuh pertanyaan, "mengapa saat puasa masih bermaksiat?" Bermaksiat ketika puasa karena jiwa telah 11 bulan terdidik oleh setan untuk melakukan dan melaziminya. Saat setan-setan dibelenggu, pembawaan; kebiasaan buruk yang telah diajarkan oleh mereka teraplikasikan pada 1 bulan di Ramadan.

 

Wallahu a’lam

22 April 2022 / 20 Ramadan 1443 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

أحدث أقدم