Ngopi ala Alawi

Dok. Pribadi | Habib Muhammad (Sa'ad) Alaydrus

Alhamdulillah telah diizinkan menulis laman ini untuk melaksanakan nazar tahun 2021 karena sakit yang menyebabkan anosmia dan ageusia saat maraknya kasus Covid-19.

***

Kaum Alawi yang menisbatkan diri sebagai keturunan Rasulullah melalui Sayyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir [1] memiliki jalan hidup yang khas, halnya disebutkan dalam Manhajus Sawi karya Habib Zein bin Ibrahim Sumaith. Mereka hidup dalam lima perkara, ilmu; amal; khauf; wara'; dan ikhlas.


Bani Alawi memerhatikan silsilah dzahabiyyah dalam ilmu dan amal. Salah satu bentuk perhatian mereka menggunakan seluruh amal sebagai sarana menghamba pada-Nya melalui ilmu. Contoh amal terkenal di kaum sarungan serta kawula muda, minum kopi. Cara pandang minum kopi Bani Alawi yang adiluhung membuat berbeda dengan umumnya.


Cara pandang kebiasaan ngopi dapat kita amati dari pembesar golongan mereka, Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad rahimahullah (w. 1132 H), beliau riwayatkan dari Syekh Umar Bamakhramah. Imam Abdullah al-Haddad sebelum ngopi fajar baca al-Fatihah dan ayat kursi; sebelum ngopi siang baca al-Fatihah, al-Quraisy, al-Kautsar, al-Ikhlas; ketika ngopi sahur baca "Ya Qawiyyu" 116 kali, di lain tiga waktu tersebut beliau cukupkan dengan al-Fatihah dan Ayat Kursi sebagai pelengkap.


Sebagaimana penjelasan yang kami dapat secara riwayah dan dirayah dari ad-Duktur Lukman Hakim al-Azhary, dari Habib Ali bin Thahir Alaydrus, dari mu'allif Kitab an-Niyat al-Allamah al-Habib Muhammad (Sa'ad) bin Alawi Alaydrus al-Hadhrami rahimahullah (w. 1432 H), minum kopi memiliki beberapa niat; maksud; tujuan, diantaranya:

  1. Mengikuti kebiasaan salafus saleh dalam menikmati kopi. Dikatakan oleh zuriat Rasul yang tersohor dari Tanah Haram, al-Muhaddits Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki rahimahullah, "'aadaatus saadaat, saadaatul 'aadaat", kebiasaan orang-orang mulia adalah semulia-mulianya kebiasaan -red [2];
  2. Menumbuhkan semangat dalam ibadah;
  3. Membahagiakan penghidang kopi (tuan rumah, bila bertamu);
  4. Melaksanakan adab dan sunnah minum;
  5. Dan seluruh niat baik ngopi yang diketahui Allah Swt -red.


Dalam seruput kopi mengapa mereka mengagungkan niat? Karena telah diriwayatkan dari pemuka tabi'it tabiin, Ibnu Mubarak, berkata:

"Terkadang amal kecil bernilai besar (ganjarannya) sebab niat yang agung dan terkadang amal besar bernilai kecil (ganjarannya) sebab niat yang remeh; kecil"


Telah sampai riwayat sabda Nabi dengan para perawi yang terpercaya:

"Sesiapa yang memiliki keinginan (niat) melakukan kebaikan namun ia tidak (jadi) melakukannya, Allah akan tetap menulis untuknya dengan kebaikan yang sempurna. Bila ia memiliki keinginan melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, Allah akan menulis untuknya 10 hingga 700 kebaikan bahkan lebih dari itu"


Ngopi bukan hanya sekadar pamer jantannya seorang pria juga tradisi semata, golongan Alawi dan alim umumnya melihat ngopi sebagai penolong begadang mereka untuk mendapatkan rahmat rida-Nya melalui bermacam-macam kebaikan dan ketaatan. Al-wasail bi hukmil maqashid, jika ngopi adalah sarana mencapai kemuliaan maka ia mulia.

 

Catatan Kaki:

[1] Jindan bin Novel bin Salim Jindan, Qul Hadzihi Sabili (Tangerang: Yayasan Al-Fachriyah, 2006), 9.
[2] Hai'ah as-Shofwah al-Malikiyyah.


Referensi:

Muhammad bin Alawi Alaydrus al-Hadhrami as-Syafi'i, Kitab an-Niyyat (Maktabah Turmusy lit-Turots, 2018), 102-103.

Wallahua'lam

Jumat, 6 Mei 2022 / 5 Syawal 1443 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama