Ibn Maryam: Ketika Mereka Kehilangan Al-Masih

Dok. Pribadi | havenlight


Suatu waktu mereka, para hawary sahabat murid setia Al-Masih Ibn Maryam, kehilangan rasul mereka. Mereka mencari-cari, berkeliling, kemudian mendapat kabar, "cobalah kalian pergi ke laut". Hawariyyun bergegas cepat menuju laut. Ketika sampai di tepian, mereka melihat Al-Masih sedang berjalan di air lautan.


Para hawary melihat kaki Isa Al-Masih menapak diatas air. Sesekali mereka melihat tubuh sang rasul terangkat karena ombak yang datang. Timbul tenggelam mengikuti aluran gelombang riak lautan.


Salah seorang hawary memanggil tanya,

"Wahai Nabi Allah?! Bagaimana jika aku mencoba datang menuju padamu?"


Al-Masih, sang guru menjawab,

"Ya, boleh, coba saja"


Salah satu dari mereka mencoba melangkah meletakkan satu kakinya di permukaan air laut. Saat mengangkat kaki lain hendak menapakkannya di atas air ia memanggil,

"Duhai celaka... diriku tenggelam wahai Nabi Allah..."


Al-Masih, sang guru menjawab,

"Lihatlah aku, ulurkan tanganmu padaku, hai orang yang dangkal imannya! Bila seorang anak Adam mempunyai iman dan keyakinan seberat biji gandum saja tentu ia akan dapat berjalan di atas air"


Riwayat mencatat pernah terjadi percakapan antara Hawariyyun dengan Al-Masih Ibn Maryam.


"Wahai Nabi Allah, dengan apa engkau dapat berjalan di atas permukaan air?"


"Dengan iman dan yakin"


"Kami beriman sebagaimana halnya engkau beriman, kami juga juga yakin sebagaimana engkau yakin"


"Kalau begitu, berjalanlah! (di atas air)"


Ketika mereka berjalan di atas air bersama Al-Masih dan tenggelam dimakan gelombang, Al-Masih berkata,

"Kenapa kalian?!"


"Kami takut pada gelombang"


Al-Masih Isa Ibn Maryam menjawab,

"Mengapa kalian tidak takut kepada Tuhan pemilik gelombang itu?!"


Lalu Al-Masih Isa ibn Maryam menarik dan mengangkat mereka. Isa ibn Maryam memukulkan tangannya ke tanah, menggenggamnya, ia buka kepalan tangan ada emas di dalamnya. Di sisi tangannya yang lain ada kerikil. Kemudian Isa bin Maryam bertanya pada mereka para hawary,

"Manakah di antara dua benda ini yang lebih menarik bagi hati kalian?"


Mereka menjawab, "Emas"


"Bagiku, antara keduanya sama saja"


Kisah ini berlanjut mengenai kesederhanaan Al-Masih Isa ibn Maryam. Dilukiskan pula ketika ia pergi menemui para sahabatnya. Ia mengenakan jubah kain wol dan surban, tidak beralas kaki, bermata lembap, dibasahi oleh air mata, bibir yang kering. Ia berkata,

"Assalamu'alaikum, wahai orang-orang Israel! aku adalah orang yang menempatkan dunia pada tempatnya atas izin-Nya, tapi tidaklah aku merasa bangga diri dan sombong, tahukah kalian dimana rumahku?"


Israel balik bertanya,

"Dimanakah rumahmu, wahai Ruhullah?"


Isa Al-Masih menjawab,

"Rumahku adalah masjid-masjid, pijakanku adalah air, rasa lapar adalah lauk paukku, cahaya bulan di malam hari adalah lampuku, tempat terbitnya matahari adalah salatku ketika musim dingin, sayur mayur adalah wewangianku, kain wol adalah pakaianku, rasa khauf pada Tuhan adalah syiarku, teman-teman dudukku adalah orang-orang miskin, ketika pagi datang aku tidak memiliki apa-apa, ketika sore datang aku juga tidak memiliki apapun, dan aku tetap baik hati dan tidak serakah. Adakah yang lebih kaya dan beruntung selain dari aku?!"


Bersambung...



Wallahu a'lam

Kamis, 29 Desember 2022 M - 5 Jumadits-Tsani 144 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ



Catatan Kaki

[1] Imam al-Hafidz 'Imad al-Din Abu al-Fida' Isma'il bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Qshash al-Anbiya' (Kairo: Mu'assasah al-Nur li al-Nasyr wa al-I'lan, 1998)

[2] Ibnu Katsir, Qishashul Anbiya' (Surabaya: Amelia, 2015)

Post a Comment

أحدث أقدم