Berawal ketika mencari hadis tentang kasih sayang untuk kelengkapan
kajian pustaka skripsi, penulis lebih memilih Mukhtashar Shahih Bukhari, Tajrid
Al-Sharih, karya Imam Ahmad Al-Zabidi.
Hadis kasih sayang yang penulis cari ada dalam Kitab al-Adab, di bagian
akhir tertulis hadis yang sudah tak asing lagi di kuping umat Islam, "engkau
bersama dengan orang yang kau cintai."
Berikut riwayat yang penulis baca di Mukhtashar Shahih Bukhari Imam
Al-Zabidi:
حديثُ أَنَسٍ رضي اللّٰه عنهُ أَنَّ رَجُلًا مِن أَهلِ البَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ يَسأَلُهُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ؟٬ تَقَدَّمَ. وَزَادَ في هذه الرِّوَايَةِ بَعدَ قَولِهِ: «أَنتَ مَعَ مَن أَحبَبتَ» فَقُلنَا: وَنَحنُ كَذٰلِكَ؟ قال: «نعم» [1[
Menurut riwayat, hadis tersebut keluar dari lisan mulia Nabi ketika
orang pelosok (rajulan min ahlil-badiyah) bertanya kepada Rasulullah mengenai
kapan datangnya Hari Akhir. Rasulullah balik bertanya persiapan apa yang telah
dikerjakan. Orang pelosok tadi menjawab:
"Wahai Nabi, aku tidak menyiapkan banyak amalan salat atau
puasa buat hari itu. Tetapi, aku sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya."
Dari jawaban diatas Rasul bersabda, "Engkau bersama dengan
orang yang kau cintai." Sabda itu terkesan biasa, karena memang sudah
sering digaungkan di mimbar-mimbar dakwah dengan berbagai riwayat, salah
satunya "al-mar'u ma'a man ahabba."
Karena tugas skripsi penulis sedikit banyak membahas Imam Abdullah bin Alawi
al-Haddad, sehingga membawanya untuk menilik beberapa karya beliau. Saat itu penulis menemukan
penjelasan spesifik dari Imam Al-Haddad tentang hadis populer ini di salah satu
karyanya, al-Nafais al-'Uluwiyyah.
Imam Haddad pernah di soal begini:
وساله السيد الجليل عيسى بن السيد محمد الحبشي: عن قول رسول اللّٰه ﷺ: «المرء مع من أحب»٬ فهل مطلق حتى يحصل لمن لم يوافق محبوبة في أعماله وأقواله وغيرهما من تقلباته؟ [2[
"Sayid Isa bin Muhammad al-Habsyi bertanya: tentang maksud
sabda Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-, 'Seseorang akan bersama dengan
orang-orang yang dicintainya.' Apakah hadis tersebut mengandung arti yang
mutlak, bagi seorang yang tidak mengikuti tindak-tanduk dan tutur kata
orang-orang yang dicintainya?"
Imam Haddad menjawab:
"Hadis diatas mengandung arti anjuran dan ancaman. Seseorang
akan dikumpulkan dengan orang-orang yang dia cintai, baik yang dicintainya itu
tergolong orang-orang baik maupun orang-orang yang tidak baik"
Lebih lanjut beliau katakan, perlu diketahui kebersamaan dengan
seseorang yang dicintai adalah karena ia mencintainya. Tetapi kebersamaan
dengan orang-orang yang dicintai tak akan bisa terwujud kalau tindak-tanduk dan
tutur katanya tidak cocok dengan tindak-tanduk dan tutur kata orang-orang yang
dicintainya.
Selanjutnya Imam Haddad menjelaskan bahwa pengakuan cinta tidak
dapat dibuktikan, kecuali dengan bukti yang konkrit, yaitu adanya kecocokan
kehendak dan tindak-tanduk antara yang mengaku cinta dengan yang dicinta.
Secara akal, jika seseorang mengaku cinta pada orang lain, tetapi
tindak-tanduknya bertentangan dengan orang yang dicintai mana mungkin cintanya
bisa murni?
Persyaratan untuk mendapat kebersamaan dengan orang-orang yang
dicintai tidak mengharuskan tindak-tanduk seorang pecinta cocok seratus persen
dengan yang dicinta. Mengapa? Karena hal itu tidak mungkin terjadi. Meski
demikian, untuk mendapat kebersamaan dengan orang-orang yang dicinta, seseorang
harus menyamakan tindak-tanduknya dengan mereka, tanpa hal itu tidak mungkin
bisa terjadi.
Jawaban Imam Haddad diatas walaupun cenderung mengarah pada hal
ihwal kaum asketik Islam ala golongan Alawi, namun tetap dapat diambil
pelajaran bahwa mencintai kalangan orang saleh, terlebih lagi cinta pada Nabi Muhammad, dapat melahirkan motivasi untuk
dapat berbuat serupa, agaknya dari kecintaan tersebut bisa muncul rasa optimis
dan rendah hati dalam beragama.
Jika penulis boleh simpulkan, pola pikir Imam Haddad mengisyaratkan
"cinta bukan modal ucapan, tapi juga menuntut usaha." Rasul sendiri
bersabda dalam riwayat Imam Turmudzi:
من
أحيا سنتي فقد أحبني [3[
"Siapa orang yang menghidupkan sunahku, maka sungguh dia
mencintaiku"
Bila berharap bangkit dan berkumpul di golongan Nabi Muhammad,
sudahkah memelajari sirah kehidupan beliau? Sejauh mana kita meneladani
kepribadiannya? Sudah berapa ribu kali lisan kita mengulang salawat salam pada
beliau? Seluas apa pemahaman kita terhadap ilmu yang telah beliau wariskan? Seberapa
besar kecintaan kita pada keturunan dan para pewaris beliau? Atau malah harus
bermuhasabah sudah berapa kali kita menyakiti hati beliau? Sudah berapa banyak
kotoran yang telah dilemparkan oleh kita pada tingginya nama beliau?
Penulis sempatkan pula melihat sedikit penjelasan hadis di sebuah
artikel tentang dikumpulkannya seorang pecinta dengan yang dicintai sebagaimana
dituturkan Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali dengan mengutip kalam Imam Hasan
Al-Bashri, salah satu pembesar agama ini di periode awal
Islam sekaligus "guru ideologis" Imam Haddad dalam rantai keilmuan:
وقال
الحسن على ضده يا ابن آدم لا يغرنك قول من يقول المرء مع من أحب فإنك لن تلحق الأبرار
إلا بأعمالهم فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم [4[
"Wahai anak cucu Adam! Jangan terlena dengan hadis 'seseorang
akan dikumpulkan bersama yang dia cintai' karena sungguh engkau tidak akan
berkumpul dengan orang-orang abror (baik) kecuali dengan beramal seperti
mereka, sesungguhnya Yahudi dan Nasrani juga mencintai para nabi mereka tapi
mereka tidak berkumpul bersama nabi-nabinya"
Dari kutipan ucapan Imam Hasan Al-Bashri diatas, Imam Ghazali
melanjutkan penjelasan bahwa sekadar ucapan "aku cinta" tanpa
mengikuti dalam pribadi dan amal (baik sebagian atau seluruhnya) tidaklah
bermanfaat.
Mengikuti sunah dan ajaran nabi itu banyak, tidak hanya sebatas
aksesoris belaka, bukankah menuntut ilmu, tersenyum, berkata baik, tidak
menyakiti hati sesama, berbicara secukupnya, memakai parfum, ajeg membaca quran,
berjabat tangan, memuliakan wanita, tidak mempermalukan orang lain juga bagian
dari sunah dan ajaran beliau? Serta masih banyak lagi
Sependek pemahaman penulis, dengan kata lain, lakukan perbuatan apapun
utamanya kebaikan untuk menyenangkan dan membahagiakan Nabi Muhammad, untuk
mencari rida Allah Swt, agar cinta tidak terbatas oleh ucapan tetapi juga
dengan kuatnya ta'alluq (ketergantungan raga dan jiwa dengan Nabi) serta
peneladanan.
Haul Imam Haddad, Sabtu, 27 Mei 2023 M - 7 Zulkaidah 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1] Ahmad
bin Ahmad Al-Zabidi, Mukhtashar Al-Bukhari Al-Tajriid Al-Sharih (Beirut: Daar
Al-Fikr, 2005), 431.
[2]
Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Al-Nafais Al-'Uluwiyyah (tk: Daar Al-Hawi, 1993),
78.
[3] Abu
Isa Muhammad Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi (Al-Jami' Al-Kabir), Juz 4 (Beirut:
Daar Al-Gharb Al-Islamiy, tt), 410 dalam shamela.ws.
[4] Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Juz 2 (Beirut: Daar Al-Ma'rifah, tt), 160 dalam shamela.ws.

إرسال تعليق