Hari ini di timeline media sosial penuh dengan berita haji, utamanya wukuf, mengingatkan kami bagian dari kemuliaan bulan Zulhijah ada di 10 hari pertama,
termaktub dalam Al-Quran:
وَالْفَجْرِ
وَلَيَالٍ عَشْرٍ وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
"Demi waktu fajar Hari Raya Kurban, dan demi malam yang
sepuluh awal bulan Zulhijah, dan demi yang genap 10 Zulhijah Idul Adha dan yang
ganjil 9 Zulhijah Hari Arafah" [1]
Dalam beberapa riwayat yang penulis temukan, puncak hari paling mulia di sisi Allah adalah hari ini, Hari Arafah, 9 Zulhijah.
Di dalamnya ada momen penentu ibadah rukun kelima agama Islam, karena Rasul
pernah dawuh, "Haji adalah Arafah." Di balik hiruk pikuk Masjid
Al-Haram dan padang Arafah, terdapat kisah besar hubungan spesial antara hamba
dan Tuhannya.
Tepat hari ini, Allah mengambil janji setia pada anak cucu Adam. Hari ini juga pemenuhan panggilan Tuhan dalam kesetiaan mereka.
وَاِذْ
اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلٰىۛ
شَهِدْنَا
Setelah Allah menciptakan Adam, di usap bagian belakang ruas punggung bawah. Dari usapan itu keluar melalui sulbi beliau seluruh anak cucu
keturunannya hingga hari Kiamat untuk diambil kesaksian janji setia.
Allah mengambil janji dari anak cucu Adam pada Hari Arafah, tanggal
9 Zulhijah, di Lembah Na'man. Letak lembah ini di sekitar Pegunungan Tan'im
masih dalam wilayah Makah, diantara Gunung Nu'aim dan Na'im. Pandangan lain
mengatakan lembah ini di jalan Taif menuju Arafah, ada juga pendapat lembah ini
di belakang Padang Arafah. Pendapat terakhir sesuai dengan pernyataan Sayid
Salim bin Sayyid Umar bin Hafidz dalam safari dakwah di Masjid Istiqlal Jakarta, lokasi
Lembah Na'man ini di dekat Arafah (bi qurbi Arafah).
Di Lembah Na'man, sebelum seluruh jasad ada. Di zaman yang lampau
jauh dahulu kala. Kita berkumpul. Seluruh umat manusia mulai
kejadian awal hingga akhir berkerumun bagaikan semut-semut kecil dihadapan-Nya. Masih ingat? Atau sudah lupa? Mari bersama kita ingat kejadian besar hari
itu.
Setelah seluruh manusia keluar dari sulbi Nabi Adam dan disatukan. Allah dengan keagungan dan kemuliaan-Nya berfirman, "Alastu birabbikum? Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kalian, wahai anak cucu Adam?"
Semua menjawab, "Benar, kami bersaksi Engkau adalah Tuhan kami."
Allah mengajak bicara dengan lafaz "Rabb" yang menunjukkan kedekatan dengan hamba-Nya.
Perhatikan agungnya persaksian ini. Siapa yang mengajak bicara? Siapa yang bertanya? Siapa yang mengambil saksi? Allah.
Apakah Dia perlu perantara? Tidak.
Apa isi persaksian itu? Pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan.
Hanya untuk pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Sang Raja Diraja nan Maha Kuasa kita melakukan percakapan dengan-Nya secara
langsung. Kita secara langsung bercakap dengan Dzat yang membawa
Nabi Muhammad menghadap-Nya pada malam Mi'raj.
Tidak sampai disitu, kami juga teringat kisah saat Khalilurrahman Ibrahim membangun kembali Kakbah. Allah berfirman:
وَاَذِّنْ
فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ
"Wahai Ibrahim! Seru umat manusia mengerjakan haji!"
Nabi Ibrahim bingung, karena pada saat itu Makah masih menjadi
tempat asing, tidak ada kehidupan, hanya pohon-pohon, bukit, dan gunung-gunung
batu.
"Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menyeru manusia? Sedangkan
suaraku tidak menjangkau mereka"
Allah berfirman, "Serulah saja, wahai Ibrahim! nanti Kami yang
akan menyampaikan seruan itu ke manusia"
Nabi Ibrahim tegap berdiri diatas maqam-nya (tempat saat itu beliau berada). Ada yang mengatakan saat itu beliau di atas batu, ada yang berpendapat di atas bukit Safa, pandangan lain berkata
diatas Gunung Abi Qubais. Beliau menyeru:
"Wahai sekalian umat manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian telah
membuat Bait (Baitul Atiq; Kakbah)! Berziarahlah haji kalian semua!"
Dengan panggilan itu, Allah tundukkan seluruh gunung dan bukit, hingga suara Ibrahim mencapai semua permukaan bumi, bayi dalam kandungan; nuthfah dalam sulbi; bebatuan; pepohonan. Segala sesuatu di atas bumi yang mendengarkan seruan ini mereka segera menjawab, "Labbaikallahumma labbaik! (Kami penuhi seruan-Mu, wahai Allah, kami penuhi seruan-Mu)" [2]
Kejadian besar ini juga mengantarkan kami untuk mengulik lagi riwayat kisah yang disebutkan oleh Sayid Abdullah Alwi al-Haddad dalam salah satu karyanya.
Sebuah riwayat ketika Khalifah Umar bin Khattab melaksanakan tawaf
memberikan salam kepada Hajar Aswad kemudian menangis. Umar berkata, "Demi
Allah, batu tidak memberikan manfaat dan mudarat kecuali atas izin Allah, kalaulah aku tidak melihat Rasulullah melakukan ini (mencium Hajar Aswad) aku
tidak akan melakukan hal serupa."
Setelah itu Umar menoleh kebelakang, ada Ali bin Abi Thalib. Umar
berkata, "Wahai Aba Hasan, di batu inilah tempat tumpahnya air mata, karena disinilah kita mencium batu bekas ciuman Rasulullah dan di tempat yang sama pula
Rasulullah melakukannya"
Rupanya Ali mendengar perkataan Umar sebelumnya. Beliau menjawab,
"Wahai Amirul Mukminin, batu Hajar Aswad itu memberikan manfaat dan mudarat. Ketika
Allah mengambil janji setia pada seluruh umat manusia dan berfirman, 'Bukankah Aku (Allah) Tuhan kalian?' janji itu tertulis dan tersimpan oleh batu
ini. Dan Hajar Aswad ini bersaksi bagi siapa saja yang memberikan salam
padanya" [3]
Batu hitam di sisi Kakbah adalah saksi perjanjian besar di Hari
Arafah. Ketika jamaah Haji mulai melaksanakan tawaf bersinggungan dengan bahu
kiri mereka, wajah menatap ke arah batu dan mengangkat tangan salam, mengucap
"Labbaikallahumma labbaik! (aku memenuhi panggilan-Mu, wahai Allah,
aku memenuhi panggilan-Mu)," mereka satu persatu telah datang memberikan
wujud kehadiran dalam memenuhi janji setia sebagai orang beriman.
Bayangkan saja, dalam riwayat disebutkan ketika mengucap talbiyah,
Allah menjawab, "Labbaik wa sa'daik (Ya, panggilan untukmu dan
kebahagiaan untukmu, wahai Hambaku!)"
Dari langit menyeru, "Labbaik wa sa'daik, zaaduka halaal, rahilatuka halaal, wa hajjuka mabrur ghairu ma'zur! (Ya, panggilan untukmu dan kebahagiaan untukmu, bekal harta bandamu halal, perjalananmu halal, hajimu diterima dan tidak sia-sia)" [4]
Jawaban itu dari Tuhan Pemilik Semesta.
Bila rangkaian tawaf telah usai, Hari Arafah menggiring mereka berdiam
diri wukuf di tanah lapang besentuhan dengan teriknya matahari jazirah Arab.
Mereka berduyun-duyun, berpanas-panas, berkumpul, merendahkan diri,
berkotor-kotor, berdesak-desakan, bersusah payah, menangis, apa yang mereka
harapkan?! Hanya ampunan dan luasnya rahmat Tuhan mereka. Pada hari itu Allah
mengunggulkan hamba-hamba-Nya di bumi pada penduduk langit.
"Wahai penduduk langit! Lihatlah hamba-hambaku itu! Mereka
kusut, berdebu, compang camping, mereka datang dari tempat yang jauh, mereka
seperti itu mengharap rahmat-Ku, mereka tidak akan melihat azab-Ku, dan
tidaklah Aku banyak membebaskan hamba-hamba-Ku dari neraka kecuali Hari
Arafah" [5]
Hari ini, 9 Zulhijah, waktu untuk kembali pada-Nya, limpahan rahmat
dan ampunan-Nya akan meliputi seluruh hati pemilik iman walaupun setitik.
Jangan sia-siakan, hari ini adalah tepat Allah membanggakan penduduk bumi atas
penduduk langit seraya berfirman, "apa yang mereka inginkan dari-Ku? (Pasti akan Aku terima)."[6] Berdoalah dengan doa terbaik!
Semoga kita semua diberi kesempatan memberikan
kehadiran pada Hajar Aswad dan pemenuhan janji setia di Arafah, aamiin.
Wallahu a’lam
Rabu, 28 Juni 2023 M – 9 Zulhijah 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1] Sayid Muhammad bin Abdullah bin Ali Alaydarus, Thayy
al-Nasyr fii Duruus al-‘Asyr (Hadramaut: Dar al-Shalah, 2021), 10. Redaksi:
فقد أقسم الله تعالى بالفجر، وبليالي
العشر التي هي عشر ذي الحجة، وهو الصحيح الذي عليه جمهور المفسرين من السلف وغيرهم،
وهو الصحيح عن ابن عباس رَضِيَ اللهُ عَنْهما، وفيه حديث مرفوع، أخرجه الإمام أحمد
والنسائي في التفسير، عن جابر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عن النبي صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ قال : (العشر عشر الأضحى ، والوتر يوم عرفة
، والشفع يوم النحر)
[2] Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir
al-Quran al-Adzim (Tafsir Ibn Katsir, QS. Hajj: 27. Redaksi:
وقوله: ﴿وأذن في الناس بالحج﴾ أي: ناد
في الناس داعيا لهم إلى الحج إلى هذا البيت الذي أمرناك ببنائه. فذكر أنه قال: يا
رب، وكيف أبلغ الناس وصوتي لا ينفذهم؟ فقيل: ناد وعلينا البلاغ. فقام على مقامه،
وقيل: على الحجر، وقيل: على الصفا، وقيل: على أبي قبيس، وقال: يا أيها الناس، إن
ربكم قد اتخذ بيتا فحجوه، فيقال: إن الجبال تواضعت حتى بلغ الصوت أرجاء الأرض،
وأسمع من في الأرحام والأصلاب، وأجابه كل شيء سمعه من حجر ومدر وشجر، ومن كتب الله
أنه يحج إلى يوم القيامة: "لبيك اللهم لبيك".
[3] Sayid Abdullah bin Alawi al-Haddad, al-Washaya al-Naafi’ah (Tarim:
Maqam Imam al-Haddad, 2011), 39.
[4] HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Sulaiman At-Thabrani dari
Abu Hurairah. Redaksi:
أن
النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إذا خرج الحاج حاجًا بنفقة طيبة، ووضع رجله في
الغرز، فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه مناد من السما: لبيك وسعديك، زادك حلال وراحلتك
حلال، وحجك مبرور غير مأزور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة، فوضع رجله في الغرز، فنادى
لبيك، ناداه مناد من السماء: لا لبيك ولا سعديك، زادك حرام ونفقتك حرام وحجك مأزور
غير مأجور".
[4] Alaydarus, Thayy al-Nasyr, 17. Redaksi:
ويوم عرفة من أفضل الأيام، فعن جابر
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ قال: ما من يوم أفضل عند الله من يوم عرفة، ينزل الله تبارك وتعالى إلى
السماء الدنيا فيباهي بأهل الأرض أهل السماء، فيقول : انظروا إلى عبادي شعثاً
غبراً ضاحين ، جاؤوا من كل فج عميق؛ يرجون رحمتي، ولم يروا عذابي ، فلم ير أكثر
عتيقاً من النار من يوم عرفة»، رواه ابن حبان في صحيحه.
[5] HR. Muslim dari Sayyidah Aisyah. Redaksi:
ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ
يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه
لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

Posting Komentar