Tahu nama dan wajah beliau sejak jenjang aliyah, sebab salah satu dari teman alfaqir sering memutar video terjemah irsyadatis-suluk dan ibtihal beliau di Mushalla Ahlul Kisa' Darul Mustafa tiap malam Jumat.
Tapi, tahu tentang beliau karena guru-guru. Di sela-sela pembahasan fikih, mereka cerita tentang beliau. Di sela-sela pembahasan tasawuf mereka cerita tentang beliau. Di setiap keadaan mereka punya harapan besar untuk meniru dan berkumpul bersama beliau.
Mengulang-ulang kalam hikmah dan keadaan guru mereka bak perkara fardu. Itulah identitas mereka, berupaya agar terus mencintai seorang guru.
Bertemu dan satu majelis dengan maha guru dari guru-guru kami untuk pertama kali adalah salah satu anugerah terbesar dari-Nya, seorang alim allamah dari Wadi Ahgaf Hadramaut, Sayyid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA.
Menulis laman ini agaknya butuh berpikir berat, karena apa yang telah dirasakan oleh lubuk hati akan sulit dituangkan dalam sebuah tulisan 🥹😢
Intinya, bertemu dengan beliau mengingatkan kami pada wasiat Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad ketika menyimak secara online rauhah Sayyid Jindan bin Naufal bin Salim bin Jindan BSA. Imam al-Haddad berkata:
"Dan haruskanlah bagi kalian untuk berkumpul dengan orang-orang baik, beradab dengan adab mereka, mengambil faidah dengan tingkah laku mereka [1], perkataan mereka [2], dan menziarahi mereka baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup dengan ta'dzim dan sebenar-benarnya prasangka baik kepada mereka [3], yang demikian itu menghasilkan kemanfaatan bagi seseorang yang berkunjung pada mereka dan mendapat bagian dari anugerah mereka atas izin Allah. "
Lebih lanjut Imam al-Haddad menjelaskan tentang sebab terhalangnya kebaikan dan manfaat ketika bertemu dengan orang-orang saleh.
"Sesungguhnya sedikitnya manfaat yang dirasakan oleh orang-orang saat ini ketika bertemu dengan kaum shalihin adalah karena sedikitnya rasa ta'dzim dan buruknya prasangka terhadap mereka, sebab inilah orang-orang terhalang atas berkah kaum shalihin, tidak bisa melihat kemuliaan kekhususan mereka, hingga berpikir tidak ada lagi kekasih Allah (wali) di zaman ini. Tidak ada yang mengerti mereka para kekasih Allah kecuali orang-orang yang hatinya telah disinari cahaya oleh Allah dengan cahaya pengagungan dan prasangka baik terhadap kekasih-Nya. Sebagaimana yang telah dikatakan: al-madad fil-masyhad, anugerah dan kemanfaatan yang diberikan Allah pada seseorang tergantung cara pandang sebesar apa keyakinan yang dimiliki dan setulus apa hormat serta pengagungan yang dirasakan [4]."
محبتهم ديني وفرضي وسنتي وعروتي الوثقى وافضل ما عندي
"Mencintai orang-orang saleh yang memiliki kedekatan dan mengenal Tuhannya adalah agamaku, kewajiban bagiku, sunah untukku, tali ikat terkuatku, dan inilah hal terbaik yang aku miliki"
Setelah sebentar bertemu, alfaqir sedikit tahu bila pertemuan pertama seperti ini bekasnya, lalu bagaimana dengan mereka yang telah bertahun-tahun belajar dengan beliau. Tak heran mereka selalu mengikutsertakan nama sang guru, "nawaina kama nawa syaikhil Habib Umar (kami niatkan sebagaimana niatnya Habib Umar)", meniatkan segala aktivitas mereka seperti niat guru mereka, seperti maksud guru mereka, seperti amal guru mereka.
Tulisan ini hanya sedikit ekspresi atas gembiranya jiwa kami hari ini dan semalam, bisa secuil merasakan bagaimana para gurunya dalam merindukan beliau. Hari dan malam anugerah, mata kotor alfaqir bisa melihat beliau dari jauh. Bila sudah melihat beliau kiranya sah untuk mengutip potongan syair Huwannur gubahan Sayyid Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, pengarang Maulid Simtuddurar:
إِذَا عَلِمَ الْعُشَّاقُ دَائِي فَقُلْ لَهُمْ • فَإِنَّ لِقَا أَحْبَابِ قَلْبِي دَوَاؤُهُ
"Jika para perindu mengetahui penyakitku, maka katakan pada mereka sesungguhnya perjumpaan dengan kekasih hati itulah obatnya"
Penulis yang faqir ini akan akhiri tulisan dengan mengutip salah satu alumni Dar al-Mustafa, Agus Khoiron Hasan Hanafi, dalam akun X-nya:
Mungkin, suatu saat nanti anak atau cucuku akan bertanya, “Ayah tahu Habib Umar?”
“Satu zaman dengan beliau?!”
“Pernah bertemu beliau?”
“Pernah mengaji, ambil ijazah atau berbaiat kepada beliau?!!”
Kan kujawab, “Aku selalu berharap bisa benar-benar menjadi murid beliau, dan aku sangat beruntung karena pernah berharap”.
Wallahua'lam
Surabaya, 23 Agustus 2023 M - 6 Safar 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1]
Mengambil faidah dengan melihat tingkah laku mereka, Sayyid Jindan menambahkan
bahwa orang yang paling sial adalah seseorang duduk dengan orang saleh tapi
tidak berbekas (dihatinya), contoh Fir'aun yang hidup berdampingan dengan Nabi
Musa dan Abu Lahab yang hidup berdampingan dengan Nabi Muhammad.
[2]
Mengambil faidah dari perkataan orang-orang saleh, Sayyid Jindan menjelaskan
man la yanfa'uka lahdzuh la yanfa'uka lafdzuh, seseorang yang tidak memberikan
manfaat ketika kamu memandangnya jangan harap kamu dapat mengambil manfaat dari
ucapannya.
[3]
Berprasangkan baik kepada orang-orang saleh dijelaskan Sayyid Jindan: ya'taqid
annahum wali, yaitu dengan meyakini bahwa mereka adalah kekasih Allah.
Dikatakan pula oleh Imam Junaid, at-tashdiq bi 'ulumina wilayah sughra, yaitu
meyakini keilmuan yang dimiliki orang-orang mulia adalah termasuk bagian kecil
kekhususan. Karena prasangka baik adalah akses anugerah besar tanpa susah
payah.
[4] Tentang masyhad (cara pandang), dijelaskan Sayyid Jindan dengan mengutip sebuah syair ma ladzdzatul-'aisyi illa shuhbatil-fuqara' humus-salatin wal-ahbab wal-'umara', yaitu tidak ada kenikmatan hidup kecuali dengan berkumpul dengan para orang-orang yang merasa fakir hadapan Allah, mereka lah para penguasa, para kekasih, dan pemimpin.



Posting Komentar