Dok. Habib Umar
Masih belum bisa move on dari Rihlah Dakwah Habib Umar bin Hafidz di Stadion Joko Samudro, Gresik sepekan lalu. Di menit-menit akhir, beliau Habib Umar bin Hafidz, membacakan sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya.
Imam Ahmad bin Hanbal menuliskan bahwa Rasul pernah berkata, "Perbaharuilah iman kalian." Para sahabat merespon, "Bagaimana kami memperbaharui iman kami, wahai Rasulallah?." Rasul menjawab, "Perbaharuilah iman dengan memperbanyak kalimat laa ilaaha illallah." Kemudian beliau men-talqin kami semua.
Dok. Video Suara Talqin
Alhamdulillah, impian penulis untuk mendengar dan dituntun 2 kalimat syahadat dari lisan beliau secara langsung telah terwujud, walaupun di acara umum.
Penulis menyalin sebuah tulisan tentang kalimat syahadat ini dari Gus Nurrizzain Tibyan asal Madura berikut.
***
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّه لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُو الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِ (آل عمران: ١٨)
Ibn Al-Qayyim menjelaskan dan dikutip oleh Sayyid Murtadha al-Zabidi rahimahumallah ta'ala dalam Syarah Ihya' Ulumiddin (1/100) bahwa:
Menggunakan satu fi'il (kata kerja) شَهِدَ dalam ayat ini bermakna bersaksi; Allah ta'ala, lalu malaikat, lalu ulama. Menunjukkan bahwa syahadat para malaikat dan para ulama adalah satu dan sangat erat dengan persaksian Allah terhadap diri-Nya. Syahadat mereka hanya jelmaan/tampilan dari persaksian Allah sendiri atas ke-Esa-an-Nya.
Tidak heran ketika pernah Sayyid al-Habib Umar bin Hafidz meminta mendengar langsung kalimat tauhid yang keluar dari lisan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani
Sekaligus dalam lafaz ini menggunakan kata اُولُو (yang mempunyai) dalam bahasa Arab penggunaannya adalah mereka yang kompeten dan ahli di bidangnya. Bukan hanya sekadar berilmu, tapi ilmu yang telah mendarah-daging dengan dirinya, tidak tergantikan dengan yang lain.
Teringat dalam Maulid Ad-Diba'i juga, bahwa sepertiga umat Muhammad dosanya sangat banyak, akan tetapi ia mempunyai persaksian yang tulus lagi murni, bersaksi atas ke-Esa-an Allah dan kerasulan Nabi Muhammad, lalu ia mendapat ampunan dan dimasukkan ke dalam surga.
لا حعلتُ من اخلصَ لي بالشهادةِ كمن كذب بي، أدخلوهم الجنة برحمتي
"Tidaklah akan Aku samakan antara orang-orang yang mengucapkan syahadat dengan hati yang tulus, dengan orang-orang yang mendustakan Aku. Masukkanlah mereka yang bersyahadat dengan hati tulus ke dalam surga dengan rahmat-Ku (Pen)" [1]
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah bertanya, "Ya Rasulallah, siapa yang paling beruntung dengan syafaatmu kelak di hari kiamat?." Nabi bersabda: "Aku sudah mengira kalau tidak ada yang lebih dulu bertanya soal ini daripada kamu, sebab kamu begitu semangat mendengar hadis. Yang paling beruntung mendapat syafaatku kelak di hari kiamat adalah yang mengucapkan laa ilaaha illallah murni dari lubuk hatinya." [2]
Saya (Kiai Nurizzain Tibyan, pen) teringat bahwa al-Habib Abdul Qadir Jeddah (dan mungkin habaib yang lain) ketika sampai bacaan di atas saat membaca Maulid Ad-Diba'i, seketika membaca syahadat dua. Bahagianya kita bisa bersyahadat mengikuti syahadatnya para ulama dan para auliya Allah.
Semoga syahadat yang di dada kita ini terhubung dengan syahadat yang dibawakan oleh guru-guru kita yang terhubung sampai kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Amin. [3]
***
Setelah penulis cari, apa yang telah dilakukan beliau, Habib Umar bin Hafidz, tertera riwayat dalam salah satu karya alim ulung bertaraf internasional, Pemimpin Ulama Hijaz pada zamannya, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Banten rahimahullah ta'ala, menyebutkan:
مَن قال لا إله إلا اللّهُ وَمَدَّهَا هُدِمَت له اَربَعَة آلافِ ذَنبٍ مِنَ الكَبَائِرِ قالوا يا رسول اللّه فَاِن لَم يَكُن له شَئٌ مِن الكَبَائِرِ قال يُغفَرُ لِأَهلِهِ وَلِجِيرَانِهِ رواه البخارىُّ اه سنوسى
"Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah dan memanjangkannya maka 4000 dosa besarnya akan diampuni. Sahabat bertanya, 'Wahai Rasul, jika dia sama sekali tidak memiliki dosa besar?.' Rasul menjawab: 'Maka dosa-dosa keluarga dan tetangganya yang akan diampuni'" (Keterangan dari Imam Sanusi) [4]
Lebih dari itu, ketika salah seorang keturunan Rasul bernama Sayyid Ali al-Ridha datang ke sebuah perkumpulan, penduduk setempat berduyun-duyun keluar rumah untuk melihat.
Saat itu Sayyid Ali al-Ridha mengenakan penutup wajah. Ketika di luar kota, mereka meminta untuk melihat wajah beliau. Sayyid Ali al-Ridha membuka penutup dan wajahnya dipenuhi dengan cahaya, sontak keadaan penduduk berjumlah sekitar dua puluh ribu pecah dengan tangisan. Mereka mengatakan, "Ceritakan pada kami suatu hadis yang engkau riwayatkan dari ayah dan kakekmu."
Sayyid Ali al-Ridha menjawab:
"Aku meriwayatkan dari ayahku, Musa al-Kadzim. Dari ayahnya, Ja'far al-Shadiq. Dari ayahnya, Muhammad al-Baqir. Dari ayahnya, Ali Zainal Abidin. Dari ayahnya, al-Husain. Dari ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Dari Rasulullah, dari Allah ta'la (riwayat lain: Dari Rasulullah, dari Jibril, dari Mikail, dari Allah ta'ala), bahwa Dia berfirman: 'laa ilaaha illallah adalah benteng-Ku, barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah dia telah masuk benteng-Ku, dan barangsiapa yang masuk benteng-Ku selamat dari azab-Ku.'" [5]
Demi agungnya dua syahadat yang telah didengar penulis dari beberapa guru, penulis selalu berharap untuk selalu memegang ajaran mereka sampai bersua kembali di pengadilan Tuhan, dan penulis merasa beruntung dengan harapan itu.
Wallahu a'lam
Rabu, 30 Agustus 2023 M - 13 Safar 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
[1] Maulid
Ad-Diba'i bagian 14 di aplikasi NU Online.
[2] Redaksi
Shahih Bukhari:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَقَالَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ
هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى
الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ (صحيح بخاري، ١١٧/٨)
[3] Tulisan oleh Gus
@nurizzaintibyan. Tapi, tulisan tersebut telah dihapus oleh pemilik akun.
[4] Syekh
Muhammad Nawawi Banten. Tanqih al-Qaul. Surabaya: Maktabah
al-Hidayah, Tt.
[5] Terdapat
banyak riwayat tentang hadis ini, namun seluruhnya memiliki kesamaan makna.
Ketika mendengarkan hadis dari guru kami terdapat perbedaan lafaz, dalam Tanqih
al-Qaul pun demikian:
لا
إله إلا الله كلامي وأنا هو من قالها دخل حصني ومن دخل حصني أمن من عقابي أخرجه
الشيرازي عن علي
لا إله إلاَّ الله حِصْنِي وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أمِنَ مِنْ عَذَابِ الله

Posting Komentar