Polemik Mushafahah I: Chat Pribadi

 
Dok. Pribadi | Google.com


Seseorang telah memilih sebuah keputusan untuk tidak menyalami rekan guru dan murid-murid perempuan di sekolahnya. Dia tahu mungkin ini akan sedikit berbeda dari umumnya orang. Ternyata benar, banyak rekan membahas dirinya dibelakang, entah itu pembahasan yang baik atau buruk dia tidak menceritakannya. Dia bercerita banyak hal lainnya dan meminta arahan.

 

Kami tanyakan pada salah satu guru kami (semoga beliau menganggap kami sebagai muridnya kelak di hari akhir). Beliau mengambil ilmu riwayah dan dirayah kepada banyak guru, baik dari Indonesia, Mesir, hingga Yaman. Diantaranya belajar dengan K.H. Ahmad Marwazie, salah seorang murid kinasih Musnid al-Dunya al-'Alim 'Allamah Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, pesohor agama Islam pemilik gudang sanad keilmuan abad 20 bertaraf internasional, rujukan ulama kaliber berbagai penjuru dunia lagi dalam ilmunya asal Padang Indonesia.

 

***

 

Ustadz, izin bertanya, saat seorang guru lelaki menolak bersalaman dengan guru dan murid perempuan dengan alasan yang sudah diketahui kemudian dibuat bahasan dibelakang, bila dijelaskan alasannya mayoritas ulama telah mengharamkan tapi balik menjawab menggunakan dalil hadis diulurkannya tangan sahabat anshar ketika baiat dengan Nabi, bagaimana ustadz?

 

Hadis tentang Rasulullah tidak pernah bersalaman dengan perempuan ajnab diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidah Aisyah

قال لهن: «انطلقن فقد بايعتكن» ولا وللّه ما مست يد رسول اللّه ﷺ يد امرأة قط، غير أنه بايعهن بالكلام. قالت عائشة: واللّه ما أخذ رسول الله ﷺ على النساء قط إلا بما أمره اللّه عز وجل، وما مست كف رسول اللّه ﷺ كف امرأة قط، وكان يقول لهن إذا أخذ عليهن «قد بايعتكن» كلاما. [1] (أي دون مصافحة.)

 

وقال أم عطية رضي اللّه عنها لما قدم رسول اللّه ﷺ المدينة جمع نساء الأنصار في بيت، ثم أرسل إلينا عمر بن الخطاب فقام على الباب، فسلم، فرددن عليه السلام، فقال: أنا رسول اللّه ﷺ إليكن: أن لاتشركن باللّه شيئا فقلن: نعم. فمد يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت ثم قال: اللهم اشهد. [2]

Antum bertanya hukum atau solusi pada masalah tersebut atau keduanya?

 

Maaf ustadz, tanya maksud dari hadis (فمد يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت) juga tanya solusi dari ustadz

 

Hadisnya:

Dari Urwah, sesungguhnya Aisyah (istri Nabi ) mengabarkan kepadanya: "Rasulullah biasa menguji perempuan-perempuan beriman yang hijrah kepadanya dengan ayat ini, yaitu firman Allah, 'Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita beriman, untuk membaiatmu -hingga akhir firman-Nya (QS. Al-Mumtahanah: 12, red)- Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!"

 

Urwah berkata, Aisyah berkata, Rasulullah bersabda kepadanya, 'Aku telah membaiatmu', yakni dengan perkataan. Demi Allah, tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan sama sekali dalam melakukan baiat. Tidaklah beliau membaiat mereka melainkan dengan perkataannya, 'Aku telah membaiatmu atas hal itu'."

 

Riwayat ini dinukil juga oleh Yunus, Ma'mar, dan Abdurrahman bin Ishaq, dari Az-Zuhri. Ishaq bin Rasyid berkata, "Dari Az-Zuhri dari Urwah dan Amrah." [3]

 

Masuk ke bagian syarah bagian ini (di Fath al-Baari, red):

Ucapan لا والله, tidak, demi Allah. Di sini terdapat sumpah untuk mengukuhkan kabar (bahwa Nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya, red). Seakan-akan Aisyah mengisyaratkan dengan hal itu akan bantahan yang disebutkan dari Ummu Athiyah (dalam riwayat hadis diatas, red).

 

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Bazzar, Ath-Thabari, dan Ibnu Mardawaih, dari Ismail bin Abdurrahman, dari neneknya (Ummu Athiyah) -tentang kisah pembaiatan- dia berkata: "Beliau membentangkan tangannya dari luar rumah dan kami membentangkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau mengucapkan, 'Ya Allah, saksikanlah'." Demikian juga hadits sesudahnya, dia berkata kepadanya: "Salah seorang perempuan di antara kami menarik tangannya."

 

Pernyataan-pernyataan ini memberi dugaan bahwa mereka membaiat dengan perantara tangan-tangan mereka. Akan tetapi riwayat pertama mungkin dipahami bahwa membentangkan tangan itu benar terjadi, tetapi tidak mushafahah (berjabat tangan).

 

Sedangkan penarikan tangan bisa dipahami dalam arti enggan menerima, atau mungkin pembaiatan terjadi dengan memakai ha'il/penghalang (misal sarung tangan atau lainnya)

 

Abu Daud meriwayatkan dalam kitab Al Marasil dari Asy-Sya'bi bahwa Nabi ketika membaiat wanita, maka didatangkan kain katun, lalu diletakkan di tangannya seraya bersabda : "Aku tidak jabat tangan dengan wanita."

 

Sementara Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i melalui jalur mursal sama sepertinya.

 

Begitu juga diriwayatkan Sa'id bin Manshur, dari Qais bin Abu Hazim. Ibnu Ishaq juga meriwayatkan dalam kitab Al Maghazi dari Yunus bin Bukair darinya, dari Aban bin Shalih, bahwa beliau biasa mencelupkan tangannya dalam bejana dan perempuan juga ikut mencelupkan tangannya.

 

Riwayat-riwayat ini mungkin dipahami dalam menceritakan kejadian yang berbeda-beda.

 

Ath Thabari meriwayatkan bahwa Nabi membaiat kaum wanita melalui perantara Umar.

 

Kemudian An Nasa'i dan Ath Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Al Munkadir bahwa Umaimah binti Ruqaiqah mengabarkan kepadanya, bahwasanya dia masuk kepada perempuan-perempuan yang sedang berbaiat. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, bentangkan tanganmu agar kami menjabat tanganmu".

 

Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan perempuan, tetapi aku akan mengambil perjanjian dengan kalian."

 

Beliau pun mengambil perjanjian atas kami hingga sampai pada: "Janganlah kamu maksiat dalam perkara yang ma'ruf."

 

Lalu beliau melanjutkan :

"Dalam hal yang kamu mampu dan kamu sanggup."

 

Kami berkata :

"Allah dan Rasul-Nya lebih mengasihi kami daripada diri-diri kami." [4]

 

Di Umdatul Qari juga ndak jauh beda (redaksinya dengan Fathul Bari, red) [5]

 

Izin bertanya ustadz, untuk riwayat Imam Thabari tentang Rasul membaiat melalui perantara Umar, apakah Umar yang berjabat tangan atau sebagai saksi atau bagaimana ustadz?

 

Rasulullah mengutus Umar, tapi sama seperti penjelasan Ibnu Hajar. Ada 2 kemungkinan:

1. Tidak sampai berjabat tangan

2. Berjabat tangan dengan adanya ha'il/penghalang

 

Tafsir Ibn Katsir:

وقال ابن جرير: حدثنا محمد بن سنان القزاز، حدثنا إسحاق بن إدريس ، حدثنا إسحاق [بن ] عثمان بن يعقوب ، حدثني إسماعيل بن عبد الرحمن بن عطية، عن جدته أم عطية قالت: لما قدم رسول الله - صلى الله عليه وسلم - جمع نساء الأنصار في بيت ، ثم أرسل إلينا عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - فقام على الباب وسلم علينا، فرددن أو: فرددنا - عليه السلام - ثم قال : أنا رسول رسول الله - صلى الله عليه وسلم إليكن. قالت: فقلنا: مرحبا برسول الله، وبرسول رسول الله . فقال: تبايعن على أن لا تشر كن بالله شيئًا، ولا تسرقن ولا تزنين؟ قالت : قلنا: نعم. قالت: فمد يده من خارججالباب - أو: البيت - ومددنا أيدينا من داخل البيت، ثم قال: اللهم اشهد . قالت وأمرنا (۳) في العيدين أن نخرج فيه الحُيّض والعواتق، ولا جمعة علينا ، ونهانا عن اتباع الجنائز قال إسماعيل : فسألت جدتي عن قوله : «يعصينك في معروف». قالت :النياحة

 

Maaf ustadz, untuk hadits diatas dhamir huwa pada redaksi (فمد يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت) ini yang dimaksud adalah tangannya Umar bin Khattab yang menyalami para perempuan?

 

Kalau secara redaksi yang saya pahami, iya itu kembali ke Umar

 

Baik ustadz, karena pernah dengar kalau salah satu khalifah (kalau tidak Abu Bakar atau Umar) pernah berjabat dengan perempuan tua, apakah benar demikian ustadz?

 

Kalau kisah salah satu khalifah itu al fakir kurang tau. Tapi dalam kitab Al Musharahah disebutkan:

فقد جاء في «الدر المختار شرح تنوير الأبصار»: «أمّا العجوز التي لا تشتهى، فلا بأس بمصافحتها ومسّ يدِها إذا أمِن. ومتى جاز المسُّ جاز السفرُ بها. ويخلو إذا أمِن عليه وعليها» [6]

Berjabat tangan dengan orang tua (laa tustaha) itu laa ba'sa (tidak apa-apa, red)

 

Maaf ustadz, menyambung pembahasan tentang mushafahah, setelah saya lihat di Tafsir Ibn Katsir juga ada keterangan bahwa Nabi berjabat tangan menggunakan ha'il (kain diletakkan di telapak tangannya)

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ عَامِرٍ -هُوَ الشَّعْبِيُّ- قَالَ: بَايَعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ النِّسَاءَ، وَعَلَى يَدِهِ ثَوْبٌ قَدْ وَضَعَهُ عَلَى كَفِّهِ ، ثُمَّ قَالَ: " وَلَا تَقْتُلْنَ أَوْلَادَكُنَّ" فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: تَقْتُلُ آبَاءَهُمْ وَتُوصِينَا بِأَوْلَادِهِمْ؟ قَالَ: وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا جَاءَتِ النِّسَاءُ يُبَايِعْنَهُ، جَمَعَهُنَّ فَعَرَضَ عَلَيْهِنَّ، فَإِذَا أَقْرَرْنَ رَجَعْنَ

 

Iya ada, tapi kalau dilihat dari sanad nya, عامر الشعبي itu tabi'in

 

Oh, berarti bisa dikatakan itu hadis maqthu', ustadz?

 

Mursal, gugur nya sahabat

 

Baik ustadz

 

Oh iya solusi untuk murid perempuan yang guru nya seperti ini (guru lelaki bersalaman dengan murid perempuan, red) tetap bersalaman, tapi lapisi dengan kain, semisal kerudung nya. (Jika guru lelaki tetap bersalaman dengan murid perempuan, red) Kalau bisa ingetin gurunya dengan ucapannya, ya ingetin, tapi jangan sampai suul adab

 

Baik ustadz, para siswi memaklumi jika yang demikian guru PAI, tapi masalahnya dengan guru lainnya yang memandang hal tsb adalah keanehan (padahal jelas semua sudah tau alasan dia melakukan hal tsb, baik dari latar belakang guru mata pelajaran PAI maupun alasan secara syariat, red), ada pembahasan di belakang, "dia ikut ajarannya siapa?" dsb, tanpa tanya langsung pada yang bersangkutan. Kalau seperti itu bagaimana solusinya ustadz? Mungkin ada wejangan yg bisa ustadz berikan?

 

Laporin ke BK/Wakasek/Kepsek aja. Kalau di sekolah al fakir (SMP), Kepsek nya sendiri yang larang untuk bersentuhan, kecuali kalau anak baru dan kondisi tertentu, untuk pembelajaran ketika mereka masuk SMA nanti, yang notabene sudah baligh semua.

Usia SMP masih seperti anak-anak

 

Maaf ustadz, tapi SMP sekarang dalam satu kelas skitar 80-90% sudah haid, anak SMP sekarang sudah besar besar badannya, apakah masih diperbolehkan bersalaman mengingat usia SMP sudah 9 tahun hijriyah lebih?

 

Kalau seperti itu tinggal beri pengertian ke  anak-anak nya, tata cara bersalaman

 

Baik ustadz, terimakasih jazakallah khairan

 

Sama sama, Aamiiiin, waiyyakum

 

***

 

Dari sedikit chat beliau diatas, kami mengambil pemahaman bahwa Rasulullah tidak menyentuh wanita yang tidak memiliki hubungan mahram dengan beliau, kecuali istri dan budak beliau, bahkan ketika membaiat sahabat perempuan. Demikian sebagaimana dikuatkan oleh hadis Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, penjelasan dari 2 syarah hadis (Fath al-Baari dan Umdah al-Qari), serta Tafsir Al-Quran (dalam kesempatan ini menggunakan Tafsir Ibn Katsir), begitu pula pendapat mayoritas ulama yang didukung oleh beberapa guru kami.

 

Sedikit pemahaman dari penulisan laman ini didasarkan pada sebab turunnya ayat dan hukum mushafahah (berjabat tangan) antara guru lelaki dengan murid-murid perempuan secara keumuman, berdasarkan kisah Rasulullah merupakan sosok guru yang tidak pernah bersalaman dengan murid-murid perempuan beliau, baik dari kalangan sahabat muhajirin maupun anshar. Jika perlu jawaban yang lebih mendalam secara fikih silakan klik disini.

 

Bersambung...

 

Senin, 1 Januari 2024 M – 19 Jumadi al-Tsani 1445 H

 

 

Catatan Kaki:

[1] Hadis Sayyidah Aisyah oleh Imam Muslim

[2] Hadis Ummu Athiyah oleh Thabaqah Ibn Sa'd dan Abu Dawud

[3] Hadits Ummu al-Mukminin Aisyah -radhiyallahu 'anha-:

عَنْ عُرْوَةَ أَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَحْنُ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ بهذه الآية بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى (يَا أَيُّهَا النَّبِيِّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ - إِلَى قَوْلِهِ - غَفُورٌ رَحِيمٌ) قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَنْ أَقَرَّ بهذا الشرط مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ بَايَعْتُكَ، كَلَامًا، وَلَا وَاللَّهُ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةِ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ، مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ : قَدْ بَايَعْتُكَ عَلَى ذَلِكَ. تَابَعَهُ يُونُسُ وَمَعْمَرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ عَنِ الزُّهْرِي وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاشِدٍ عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عُرْوَةَ وَعَمْرَةَ.

[4] Fath al-Bari, Kitab Tafsir al-Quran:

قوله (ولا والله) فيه القسم لتأكيد الخبر، وكأن عائشة أشارت بذلك إلى الرد على ماجاء عن أم عطية فعند ابن خزيمة وابن حبان والبزار والطبرى وابن مردويه من طريق اسماعيل بن عبد الرحمن عن جدته أم عطية في قصة المبايعة قال «فمد يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت ثم قال: اللهم اشهد» وكذا الحديث الذي بعده حيث قال فيه «قبضت منا امرأة يدها» فإنه يشعر بأنهن كن يبايعنه بأيديهن، ويمكن الجواب عن الأول بأن مد الأيدى من وراء الحجاب إشارة الى وقوع المبايعة وإن لم تقع مصافحة، وعن الثاني بأن المراد بقبض اليد التأخر عن القبول ، أو كانت المبايعة تقع بحائل، فقد روى أبو داود في (المراسيل) عن الشعبي «ان النبي صلى الله عليه وسلم حين بايع النساء أتى ببرد قطرى فوضعه على يده وقال: «لا أصافح النساء» وعند عبد الرزاق من طريق إبراهيم النخعى مرسلا نحوه، وعند سعيد بن منصور من طريق قيس بن أبي حازم كذلك، وأخرج ابن إسحق في المغازي من رواية يونس بن بكير عنه عن أبان بن صالح أنه صلى الله عليه وسلم «كان يغمس يده في إناء، وتغمس المرأة يدها فيه» ويحتمل التعدد. وقد أخرج الطبراني أنه بايعهن بواسطة عمر، وروى النسائي والطبرى من طريق محمد بن المنكدر «أن أميمة بنت رقيقة - بقافين مصغر - أخبرته أنها دخلت في نسوة تبايع، فقلن يارسول الله ابسط يدك نصافحك، قال: إنى لا أصافح النساء، ولكن سأخذ عليكن، فأخذ علينا حتى بلغ: ولا يعصينك في معروف، فقال: فيما طقتن واستطعتن، فقلن: الله ورسوله أرحم بنا من أنفسنا» وفي رواية الطبرى «ماقولى المائة امرأة إلا كقولى لامرأة واحدة» وقد جاء في أخبار أخرى أنهن كن يأخذن بيده عند المبايعة من فوق ثوب أخرجه يحيى بن سلام في تفسيره عن الشعبى، وفي المغازى لابن إسحق عن أبان بن صالح «أنه كان يغمس يده في إناء فيغمسن أيديهن فيه. »

[5] Umdah al-Qari, Kitab Tafsir al-Quran Q.S. Al-Mumtahanah:

قوله: حدثنا يعقوب، وفي وراية أبي ذر أخبرنا يقعوب. قوله: «يمتحن»، أي: يختبر وامتحانهن أن يستحلفن ما خرجن من بغض زوج وما خرجن رغبة عن أرض إلى أرض وما خرجن التماساً للدنيا. وما خرجن إلا حباً لله ولرسوله، قاله ابن عباس قوله: «بهذه الآية» أشارت به إلى قوله تعالى: «يا أيها النبي إذا جاءك المؤمنات يبايعنك» [الممتحنة: ١٢] المبايعة المعاقدة على الإسلام والمعاهدة كأن كل واحد منهما باع ما عنده من صاحبه وأعطاه خالصة نفسه وطاعته ودخيلة أمره. قوله: «الآية»، أي: اقرأ الآية بتمامها وهو قوله: «على أن لا يشركن بالله شيئاً ولا يسرقن ولا يزنين ولا يقتلن أولادهن ولا يأتين ببهتان يفترينه بين أيديهن وأرجلهن ولا يعصينك في معروف فبايعهن واستغفر لهن إن الله غفور رحيم» وقال المفسرون: لما فرغ رسول الله ﷺ من بيعة الرجال أخذ في بيعة النساء وهو على الصفا وعمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه أسفل منه وهو يبايع النساء بأمر رسول الله ﷺ عليه ويبلغهن عنه قوله: «فمن أقر بهذا الشرط وهو: «أن لا يشركن بالله شيئا» الخ قوله: «قال لها» أي: للمبايعة منهن «قد بايعتك كلاماً» وهو منصوب بنزع الخافض، وهو من قول عائشة، والتقدير: كان يبايع بالكلام ولا يبايع باليد كالمبايعة مع الرجال بالمصافحة باليدين. قوله: «لا والله» القسم لتأكيد الخبر أي: ما مست يده يد امرأة فيه رد على ما جاء عن أم عطية رواه ابن خزيمة وابن حبان والبزار والطبراني وابن مردويه من طريق إسماعيل بن عبد الرحمن عن جدته أم عطية في قصة المبايعة. قالت: فمد يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت. ثم قال: اللهم اشهد، وكذا جاء في الحديث الذي يأتي بعده حيث قالت فيه: فقبضت منا امرأة يدها فإنه يشعر بأنهن كن يبايعنه بأيديهن. فإن قلت: ما وجه الرد هنا والأحاديث كلها صحاح؟ قلت: أجابوا عن الأول، بأن مد الأيدي من وراء الحجاب إشارة إلى وقوع المبايعة وهو لا يستلزم المصافحة. وعن الثاني بأن المراد بقبض اليد التأخر عن القبول أو كانت المبايعة بحائل، فافهم.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama