Seseorang
telah memilih sebuah keputusan untuk tidak menyalami rekan guru dan murid-murid
perempuan di sekolahnya. Dia tahu mungkin ini akan sedikit berbeda dari umumnya
orang. Ternyata benar, banyak rekan membahas dirinya dibelakang, entah itu
pembahasan yang baik atau buruk dia tidak menceritakannya. Dia bercerita banyak
hal lainnya dan meminta arahan.
Kami
tanyakan pada salah satu guru kami (semoga beliau menganggap kami sebagai
muridnya kelak di hari akhir). Beliau mengambil ilmu riwayah dan dirayah kepada
banyak guru, baik dari Indonesia, Mesir, hingga
Yaman. Diantaranya belajar dengan K.H. Ahmad Marwazie, salah seorang murid
kinasih Musnid al-Dunya al-'Alim 'Allamah Syekh Yasin bin Isa al-Fadani,
pesohor agama Islam pemilik gudang sanad keilmuan abad 20 bertaraf
internasional, rujukan ulama kaliber berbagai penjuru dunia lagi dalam ilmunya
asal Padang Indonesia.
***
Ustadz,
izin bertanya, saat seorang guru lelaki menolak bersalaman dengan guru dan
murid perempuan dengan alasan yang sudah diketahui kemudian dibuat bahasan
dibelakang, bila dijelaskan alasannya mayoritas ulama telah mengharamkan tapi
balik menjawab menggunakan dalil hadis diulurkannya tangan sahabat anshar
ketika baiat dengan Nabi, bagaimana ustadz?
Hadis
tentang Rasulullah tidak pernah bersalaman dengan perempuan ajnab diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari Sayyidah Aisyah
قال
لهن: «انطلقن فقد بايعتكن» ولا وللّه ما مست يد رسول اللّه ﷺ يد امرأة قط، غير أنه
بايعهن بالكلام. قالت عائشة: واللّه ما أخذ رسول الله ﷺ على النساء قط إلا بما
أمره اللّه عز وجل، وما مست كف رسول اللّه ﷺ كف امرأة قط، وكان يقول لهن إذا أخذ
عليهن «قد بايعتكن» كلاما. [1]
(أي دون مصافحة.)
وقال
أم عطية رضي اللّه عنها لما قدم رسول اللّه ﷺ المدينة جمع نساء الأنصار في بيت، ثم
أرسل إلينا عمر بن الخطاب فقام على الباب، فسلم، فرددن عليه السلام، فقال: أنا
رسول اللّه ﷺ إليكن: أن لاتشركن باللّه شيئا فقلن: نعم. فمد يده من خارج البيت
ومددنا أيدينا من داخل البيت ثم قال: اللهم اشهد. [2]
Antum
bertanya hukum atau solusi pada masalah tersebut atau keduanya?
Maaf
ustadz, tanya maksud dari hadis (فمد
يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت) juga
tanya solusi dari ustadz
Hadisnya:
Dari
Urwah, sesungguhnya Aisyah (istri Nabi ﷺ)
mengabarkan kepadanya: "Rasulullah ﷺ
biasa menguji perempuan-perempuan beriman yang hijrah kepadanya dengan ayat
ini, yaitu firman Allah, 'Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita
beriman, untuk membaiatmu -hingga akhir firman-Nya (QS. Al-Mumtahanah: 12,
red)- Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!"
Urwah
berkata, Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ
bersabda kepadanya, 'Aku telah membaiatmu', yakni dengan perkataan. Demi
Allah, tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan sama
sekali dalam melakukan baiat. Tidaklah beliau membaiat mereka melainkan dengan
perkataannya, 'Aku telah membaiatmu atas hal itu'."
Riwayat
ini dinukil juga oleh Yunus, Ma'mar, dan Abdurrahman bin Ishaq, dari Az-Zuhri.
Ishaq bin Rasyid berkata, "Dari Az-Zuhri dari Urwah dan Amrah." [3]
Masuk
ke bagian syarah bagian ini (di Fath al-Baari, red):
Ucapan
لا والله, tidak, demi Allah. Di sini terdapat
sumpah untuk mengukuhkan kabar (bahwa Nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya, red). Seakan-akan Aisyah mengisyaratkan dengan hal
itu akan bantahan yang disebutkan dari Ummu Athiyah (dalam riwayat hadis diatas, red).
Dalam
riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Bazzar, Ath-Thabari, dan Ibnu
Mardawaih, dari Ismail bin Abdurrahman, dari neneknya (Ummu Athiyah) -tentang
kisah pembaiatan- dia berkata: "Beliau membentangkan tangannya dari luar
rumah dan kami membentangkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau
mengucapkan, 'Ya Allah, saksikanlah'." Demikian juga hadits
sesudahnya, dia berkata kepadanya: "Salah seorang perempuan di antara kami
menarik tangannya."
Pernyataan-pernyataan
ini memberi dugaan bahwa mereka membaiat dengan perantara tangan-tangan mereka.
Akan tetapi riwayat pertama mungkin dipahami bahwa membentangkan tangan itu
benar terjadi, tetapi tidak mushafahah (berjabat tangan).
Sedangkan
penarikan tangan bisa dipahami dalam arti enggan menerima, atau mungkin
pembaiatan terjadi dengan memakai ha'il/penghalang (misal sarung tangan atau lainnya)
Abu
Daud meriwayatkan dalam kitab Al Marasil dari Asy-Sya'bi bahwa Nabi ﷺ ketika membaiat wanita, maka didatangkan
kain katun, lalu diletakkan di tangannya seraya bersabda : "Aku tidak
jabat tangan dengan wanita."
Sementara
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i melalui jalur mursal sama
sepertinya.
Begitu
juga diriwayatkan Sa'id bin Manshur, dari Qais bin Abu Hazim. Ibnu Ishaq juga
meriwayatkan dalam kitab Al Maghazi dari Yunus bin Bukair darinya, dari Aban
bin Shalih, bahwa beliau biasa mencelupkan tangannya dalam bejana dan perempuan
juga ikut mencelupkan tangannya.
Riwayat-riwayat
ini mungkin dipahami dalam menceritakan kejadian yang berbeda-beda.
Ath
Thabari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ membaiat kaum wanita
melalui perantara Umar.
Kemudian
An Nasa'i dan Ath Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Al Munkadir bahwa
Umaimah binti Ruqaiqah mengabarkan kepadanya, bahwasanya dia masuk kepada
perempuan-perempuan yang sedang berbaiat. Mereka berkata: "Wahai
Rasulullah, bentangkan tanganmu agar kami menjabat tanganmu".
Beliau
bersabda: "Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan perempuan, tetapi aku
akan mengambil perjanjian dengan kalian."
Beliau
pun mengambil perjanjian atas kami hingga sampai pada: "Janganlah kamu
maksiat dalam perkara yang ma'ruf."
Lalu
beliau melanjutkan :
"Dalam
hal yang kamu mampu dan kamu sanggup."
Kami
berkata :
"Allah
dan Rasul-Nya lebih mengasihi kami daripada diri-diri kami." [4]
Di
Umdatul Qari juga ndak jauh beda (redaksinya dengan Fathul Bari, red) [5]
Izin
bertanya ustadz, untuk riwayat Imam Thabari tentang Rasul membaiat melalui
perantara Umar, apakah Umar yang berjabat tangan atau sebagai saksi atau
bagaimana ustadz?
Rasulullah
mengutus Umar, tapi sama seperti penjelasan Ibnu Hajar. Ada 2 kemungkinan:
1.
Tidak sampai berjabat tangan
2.
Berjabat tangan dengan adanya ha'il/penghalang
Tafsir
Ibn Katsir:
وقال
ابن جرير: حدثنا محمد بن سنان القزاز، حدثنا إسحاق بن إدريس ، حدثنا إسحاق [بن ]
عثمان بن يعقوب ، حدثني إسماعيل بن عبد الرحمن بن عطية، عن جدته أم عطية قالت: لما
قدم رسول الله - صلى الله عليه وسلم - جمع نساء الأنصار في بيت ، ثم أرسل إلينا
عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - فقام على الباب وسلم علينا، فرددن أو: فرددنا -
عليه السلام - ثم قال : أنا رسول رسول الله - صلى الله عليه وسلم إليكن. قالت:
فقلنا: مرحبا برسول الله، وبرسول رسول الله . فقال: تبايعن على أن لا تشر كن بالله
شيئًا، ولا تسرقن ولا تزنين؟ قالت : قلنا: نعم. قالت: فمد يده من خارججالباب - أو:
البيت - ومددنا أيدينا من داخل البيت، ثم قال: اللهم اشهد . قالت وأمرنا (۳) في العيدين أن نخرج
فيه الحُيّض والعواتق، ولا جمعة علينا ، ونهانا عن اتباع الجنائز قال إسماعيل :
فسألت جدتي عن قوله : «يعصينك في معروف». قالت :النياحة
Maaf
ustadz, untuk hadits diatas dhamir huwa pada redaksi (فمد
يده من خارج البيت ومددنا
أيدينا من داخل البيت) ini yang dimaksud adalah tangannya Umar bin Khattab yang
menyalami para perempuan?
Kalau
secara redaksi yang saya pahami, iya itu kembali ke Umar
Baik
ustadz, karena pernah dengar kalau salah satu khalifah (kalau tidak Abu Bakar
atau Umar) pernah berjabat dengan perempuan tua, apakah benar demikian ustadz?
Kalau
kisah salah satu khalifah itu al fakir kurang tau. Tapi dalam kitab Al Musharahah
disebutkan:
فقد
جاء في «الدر المختار شرح تنوير الأبصار»: «أمّا العجوز التي لا تشتهى، فلا بأس
بمصافحتها ومسّ يدِها إذا أمِن. ومتى جاز المسُّ جاز السفرُ بها. ويخلو إذا أمِن
عليه وعليها» [6]
Berjabat
tangan dengan orang tua (laa tustaha) itu laa ba'sa (tidak
apa-apa, red)
Maaf
ustadz, menyambung pembahasan tentang mushafahah, setelah saya lihat di Tafsir
Ibn Katsir juga ada keterangan bahwa Nabi berjabat tangan menggunakan ha'il
(kain diletakkan di telapak tangannya)
وَقَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ
فُضَيْلٍ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ عَامِرٍ -هُوَ الشَّعْبِيُّ- قَالَ: بَايَعَ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ النِّسَاءَ، وَعَلَى يَدِهِ ثَوْبٌ قَدْ وَضَعَهُ عَلَى كَفِّهِ
، ثُمَّ قَالَ: " وَلَا تَقْتُلْنَ أَوْلَادَكُنَّ" فَقَالَتِ امْرَأَةٌ:
تَقْتُلُ آبَاءَهُمْ وَتُوصِينَا بِأَوْلَادِهِمْ؟ قَالَ: وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ
إِذَا جَاءَتِ النِّسَاءُ يُبَايِعْنَهُ، جَمَعَهُنَّ فَعَرَضَ عَلَيْهِنَّ،
فَإِذَا أَقْرَرْنَ رَجَعْنَ
Iya
ada, tapi kalau dilihat dari sanad nya, عامر الشعبي itu tabi'in
Oh,
berarti bisa dikatakan itu hadis maqthu', ustadz?
Mursal,
gugur nya sahabat
Baik
ustadz
Oh
iya solusi untuk murid perempuan yang guru nya seperti ini (guru lelaki
bersalaman dengan murid perempuan, red) tetap bersalaman, tapi lapisi dengan
kain, semisal kerudung nya. (Jika guru lelaki tetap bersalaman dengan murid
perempuan, red) Kalau bisa ingetin gurunya dengan ucapannya, ya ingetin, tapi
jangan sampai suul adab
Baik
ustadz, para siswi memaklumi jika yang demikian guru PAI, tapi masalahnya
dengan guru lainnya yang memandang hal tsb adalah keanehan (padahal jelas semua
sudah tau alasan dia melakukan hal tsb, baik dari latar belakang guru mata
pelajaran PAI maupun alasan secara syariat, red), ada pembahasan di belakang,
"dia ikut ajarannya siapa?" dsb, tanpa tanya langsung pada yang
bersangkutan. Kalau seperti itu bagaimana solusinya ustadz? Mungkin ada
wejangan yg bisa ustadz berikan?
Laporin
ke BK/Wakasek/Kepsek aja. Kalau di sekolah al fakir (SMP), Kepsek nya sendiri
yang larang untuk bersentuhan, kecuali kalau anak baru dan kondisi tertentu,
untuk pembelajaran ketika mereka masuk SMA nanti, yang notabene sudah baligh
semua.
Usia
SMP masih seperti anak-anak
Maaf
ustadz, tapi SMP sekarang dalam satu kelas skitar 80-90% sudah haid, anak SMP
sekarang sudah besar besar badannya, apakah masih diperbolehkan bersalaman
mengingat usia SMP sudah 9 tahun hijriyah lebih?
Kalau
seperti itu tinggal beri pengertian ke
anak-anak nya, tata cara bersalaman
Baik
ustadz, terimakasih jazakallah khairan
Sama
sama, Aamiiiin, waiyyakum
***
Dari
sedikit chat beliau diatas, kami mengambil pemahaman bahwa Rasulullah ﷺ tidak menyentuh wanita yang tidak memiliki
hubungan mahram dengan beliau, kecuali istri dan budak beliau, bahkan ketika membaiat
sahabat perempuan. Demikian sebagaimana dikuatkan oleh hadis Ummul Mukminin
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, penjelasan dari 2 syarah hadis (Fath
al-Baari dan Umdah al-Qari), serta Tafsir Al-Quran (dalam kesempatan ini
menggunakan Tafsir Ibn Katsir), begitu pula pendapat mayoritas ulama yang
didukung oleh beberapa guru kami.
Sedikit pemahaman dari penulisan laman ini didasarkan pada sebab turunnya ayat dan hukum mushafahah (berjabat tangan) antara guru lelaki dengan murid-murid perempuan secara keumuman, berdasarkan kisah Rasulullah merupakan sosok guru yang tidak pernah bersalaman dengan murid-murid perempuan beliau, baik dari kalangan sahabat muhajirin maupun anshar. Jika perlu jawaban yang lebih mendalam secara fikih silakan klik disini.
Bersambung...
Senin,
1 Januari 2024 M – 19 Jumadi al-Tsani 1445 H
Catatan
Kaki:
[1]
Hadis Sayyidah Aisyah oleh Imam Muslim
[2]
Hadis Ummu Athiyah oleh Thabaqah Ibn Sa'd dan Abu Dawud
[3]
Hadits Ummu al-Mukminin Aisyah -radhiyallahu 'anha-:
عَنْ عُرْوَةَ أَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَمْتَحْنُ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ بهذه الآية بِقَوْلِ اللهِ
تَعَالَى (يَا أَيُّهَا النَّبِيِّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ -
إِلَى قَوْلِهِ - غَفُورٌ رَحِيمٌ) قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَنْ
أَقَرَّ بهذا الشرط مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ بَايَعْتُكَ، كَلَامًا، وَلَا وَاللَّهُ مَا
مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةِ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ، مَا يُبَايِعُهُنَّ
إِلَّا بِقَوْلِهِ : قَدْ بَايَعْتُكَ عَلَى ذَلِكَ. تَابَعَهُ يُونُسُ وَمَعْمَرُ
وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ عَنِ الزُّهْرِي وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ
رَاشِدٍ عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عُرْوَةَ وَعَمْرَةَ.
[4]
Fath al-Bari, Kitab Tafsir al-Quran:
قوله
(ولا والله) فيه القسم لتأكيد الخبر، وكأن عائشة أشارت بذلك إلى الرد على ماجاء عن
أم عطية فعند ابن خزيمة وابن حبان والبزار والطبرى وابن مردويه من طريق اسماعيل بن
عبد الرحمن عن جدته أم عطية في قصة المبايعة قال «فمد يده من خارج البيت ومددنا
أيدينا من داخل البيت ثم قال: اللهم اشهد» وكذا الحديث الذي بعده حيث قال فيه
«قبضت منا امرأة يدها» فإنه يشعر بأنهن كن يبايعنه بأيديهن، ويمكن الجواب عن الأول
بأن مد الأيدى من وراء الحجاب إشارة الى وقوع المبايعة وإن لم تقع مصافحة، وعن
الثاني بأن المراد بقبض اليد التأخر عن القبول ، أو كانت المبايعة تقع بحائل، فقد
روى أبو داود في (المراسيل) عن الشعبي «ان النبي صلى الله عليه وسلم حين بايع
النساء أتى ببرد قطرى فوضعه على يده وقال: «لا أصافح النساء» وعند عبد الرزاق من
طريق إبراهيم النخعى مرسلا نحوه، وعند سعيد بن منصور من طريق قيس بن أبي حازم
كذلك، وأخرج ابن إسحق في المغازي من رواية يونس بن بكير عنه عن أبان بن صالح أنه
صلى الله عليه وسلم «كان يغمس يده في إناء، وتغمس المرأة يدها فيه» ويحتمل التعدد.
وقد أخرج الطبراني أنه بايعهن بواسطة عمر، وروى النسائي والطبرى من طريق محمد بن
المنكدر «أن أميمة بنت رقيقة - بقافين مصغر - أخبرته أنها دخلت في نسوة تبايع،
فقلن يارسول الله ابسط يدك نصافحك، قال: إنى لا أصافح النساء، ولكن سأخذ عليكن،
فأخذ علينا حتى بلغ: ولا يعصينك في معروف، فقال: فيما طقتن واستطعتن، فقلن: الله
ورسوله أرحم بنا من أنفسنا» وفي رواية الطبرى «ماقولى المائة امرأة إلا كقولى
لامرأة واحدة» وقد جاء في أخبار أخرى أنهن كن يأخذن بيده عند المبايعة من فوق ثوب
أخرجه يحيى بن سلام في تفسيره عن الشعبى، وفي المغازى لابن إسحق عن أبان بن صالح
«أنه كان يغمس يده في إناء فيغمسن أيديهن فيه. »
[5]
Umdah al-Qari, Kitab Tafsir al-Quran Q.S. Al-Mumtahanah:
قوله: حدثنا يعقوب، وفي وراية أبي ذر
أخبرنا يقعوب. قوله: «يمتحن»، أي: يختبر وامتحانهن أن يستحلفن ما خرجن من بغض زوج
وما خرجن رغبة عن أرض إلى أرض وما خرجن التماساً للدنيا. وما خرجن إلا حباً لله
ولرسوله، قاله ابن عباس قوله: «بهذه الآية» أشارت به إلى قوله تعالى: «يا أيها
النبي إذا جاءك المؤمنات يبايعنك» [الممتحنة: ١٢] المبايعة المعاقدة على الإسلام
والمعاهدة كأن كل واحد منهما باع ما عنده من صاحبه وأعطاه خالصة نفسه وطاعته
ودخيلة أمره. قوله: «الآية»، أي: اقرأ الآية بتمامها وهو قوله: «على أن لا يشركن
بالله شيئاً ولا يسرقن ولا يزنين ولا يقتلن أولادهن ولا يأتين ببهتان يفترينه بين
أيديهن وأرجلهن ولا يعصينك في معروف فبايعهن واستغفر لهن إن الله غفور رحيم» وقال
المفسرون: لما فرغ رسول الله ﷺ من بيعة الرجال أخذ في بيعة النساء وهو على الصفا
وعمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه أسفل منه وهو يبايع النساء بأمر رسول الله ﷺ
عليه ويبلغهن عنه قوله: «فمن أقر بهذا الشرط وهو: «أن لا يشركن بالله شيئا» الخ
قوله: «قال لها» أي: للمبايعة منهن «قد بايعتك كلاماً» وهو منصوب بنزع الخافض، وهو
من قول عائشة، والتقدير: كان يبايع بالكلام ولا يبايع باليد كالمبايعة مع الرجال
بالمصافحة باليدين. قوله: «لا والله» القسم لتأكيد الخبر أي: ما مست يده يد امرأة
فيه رد على ما جاء عن أم عطية رواه ابن خزيمة وابن حبان والبزار والطبراني وابن
مردويه من طريق إسماعيل بن عبد الرحمن عن جدته أم عطية في قصة المبايعة. قالت: فمد
يده من خارج البيت ومددنا أيدينا من داخل البيت. ثم قال: اللهم اشهد، وكذا جاء في
الحديث الذي يأتي بعده حيث قالت فيه: فقبضت منا امرأة يدها فإنه يشعر بأنهن كن يبايعنه
بأيديهن. فإن قلت: ما وجه الرد هنا والأحاديث كلها صحاح؟ قلت: أجابوا عن الأول،
بأن مد الأيدي من وراء الحجاب إشارة إلى وقوع المبايعة وهو لا يستلزم المصافحة.
وعن الثاني بأن المراد بقبض اليد التأخر عن القبول أو كانت المبايعة بحائل، فافهم.

Posting Komentar