Polemik Mushafahah II: Ngutip Turats Online

Dok. Pribadi | Google.com


Bagian kedua dari pembahasan mushafahah (bersalaman) ini bukan murni tulisan penulis, melainkan mengutip dari beberapa laman NU Online. Mengapa? Karena dua alasan. Pertama, penulis bukan orang alim yang menguasai ini dan itu. Kedua, mungkin bisa penulis katakan NU Online adalah salah satu web yang dapat dipercaya untuk saat ini dalam memberikan jawaban sebab selalu mencantumkan keterangan sumber sebagai etika akademik.

 

Perlu digarisbawahi bahwa mushafahah adalah satu dari sekian banyak masalah furu' bukan ushul, sehingga para alim sedari dulu berbeda pendapat mengenai hal ini.

 

Melansir NU Online, mayoritas ulama kecuali Mazhab Syafi'i membolehkan mushafahah dengan perempuan tua yang bukan mahram. [1] Sedangkan Mazhab Syafi'i mengharamkan jabat tangan dan memandang perempuan, sekalipun hanya perempuan tua. Tetapi dalam Mazhab Syafi'i membolehkan mushafahah dengan yang bukan mahram ketika menggunakan penghalang, misalnya sarung tangan. [2]

 

Salah satu ulama Mazhab Syafi'i memberikan keterangan jelas mengenai haramnya mushafahah antar lawan jenis yang bukan mahram dengan alasan sekiranya haram untuk dilihat maka haram pula menyentuh tanpa adanya penghalang, karena menyentuh itu lebih menimbulkan kenikmatan. [3]

 

Ulama dari keempat mazhab, juga Ibn Taimiyah, mengharamkan mushafahah antara laki-laki dengan perempuan muda yang tidak ada hubungan mahram. Namun, ulama Mazhab Hanafi memberi catatan bahwa keharaman itu berlaku sejauh perempuan muda tersebut dapat menimbulkan syahwat kepada lawan jenisnya. [4]

 

Perbedaan diatas diangkat oleh seorang alim mufti Al-Azhar, al-Ustadz al-Syaikh Ali Jum'ah. Beliau menerangkan kebolehan mushafahah yang dianut oleh sejumlah ulama lain disandarkan pada riwayat praktik jabat tangan oleh Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhuma. Adapun penahanan diri Rasulullah Saw. dari jabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah bentuk khususiyah untuk beliau sendiri. [5]

 

Kebolehan tersebut juga diperinci dalam setiap mazhab. Kebolehan mushafahah antara laki-laki dan perempuan ini memiliki syarat tidak dibarengi syahwat, aman dari fitnah, dan si perempuan yang bukan mahram tidak termasuk orang yang disyahwati.

 

Bagi pemuda dan pemudi yang bukan mahram, ulama Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali sepakat haram, bahkan ulama Mazhab Hanafi menguatkan keharaman bila pemudi tersebut termasuk orang yang disyahwati. Sedangkan ulama Mazhab Hanbali menyatakan keharaman mushafahah lawan jenis tanpa ikatan mahram, baik menggunakan atau tidak menggunakan penghalang, misalnya pembungkus tangan. [6]

 

Dari sedikit keterangan para pendahulu yang telah penulis kutip dari NU Online lengkap dengan sumber rujukan, mayoritas ulama telah mengatur dengan ketat, sehingga bila mengedepankan sikap hati-hati hendaknya tidak melakukan mushafahah antar lawan jenis kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Jika dirasa perlu melakukan mushafahah, maka gunakan penghalang dan jika tanpa menggunakan penghalang, maka pastikan aman dari fitnah serta gejolak syahwat.

 

Jika kita tarik dari “Mushafahah I: Chat Pribadi” dan penegasan di awal pembahasan Mushafahah II, maka kita ketahui bahwa perkara ini adalah cabang fikih, bukan akidah. Di dalamnya memuat hasil kontemplasi ijtihadiyah para ahli agama yang diakui kemampuannya oleh seluruh umat Islam dari zaman ke zaman.

 

Pendek pemahaman kami, jika mengerti perbedaan ini adalah keniscayaan ilmu maka besar pula rasa toleransi sesama muslim karena 2 kesadaran. Pertama, kesadaran persaudaraan yang diikat dengan kalimat lailahaillallah. Kedua, kesadaran bahwa agama Islam adalah agama yang dijaga oleh ilmu dan pengetahuan.

 

Sangat disayangkan bila karena perbedaan fikih di dalam tubuh umat Islam melahirkan gap dan pembahasan buruk dibelakang arena pengetahuan, tapi malah bergandengan tangan erat dengan non muslim di berbagai hal, sedangkan sesama muslim dengan perbedaan yang ada dapat bersatu melahirkan inovasi di bidang pendidikan, sosial, dan lainnya.

 

Selanjutnya akan muncul pertanyaan, "Jika tidak dengan bersalaman, murid belajar hormat dan rendah hati darimana??!" Silakan klik laman berikutnya disini.


Bersambung...

 

Senin, 1 Januari 2024 M – 19 Jumadi al-Tsani 1445 H

 

Catatan Kaki:

[1] Syekh Wahbah al-Zuhayli (فقه الإسلامي وأدلته):

وتحرم مصافحة المرأة، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «إني لا أصافح النساء». لكن الجمهور غير الشافعية أجازوا مصافحة العجوز التي لا تشتهى، ومس يدها، لانعدام خوف الفتنة، قال الحنابلة: كره أحمد مصافحة النساء، وشدد أيضاً حتى لمحرم، وجوزه لوالد، وأخذ يد عجوز شوهاء

[2] Syekh Wahbah al-Zuhayli (فقه الإسلامي وأدلته):

وحرم الشافعية المس والنظر للمرأة مطلقاً، ولو كانت المرأة عجوزاً. وتجوز المصافحة بحائل يمنع المس المباشر

[3] Syekh Zainuddin al-Malibari (فتح المعين):

وَحَيْثُ حُرِّمَ نَظْرُهُ حُرِّمَ مَسُّهُ بِلَا حَائِلٍ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِيْ اللَّذَّةِ

 (Catatan kaki nomor 2)

[4] Badan Wakaf dan Keislaman Kuwait (الموسوعة الفقهية الكويتية):

وَأَمَّا الْمُصَافَحَةُ التِيْ تَقَعُ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ مِنْ غَيْرِ الْمَحَارِمِ فَقَدْ اِخْتَلَفَ قَوْلُ الْفُقَهَاءِ فِي حُكْمِهَا وَفَرَّقُوْا بَيْنَ مُصَافَحَةِ الْعَجَائِزِ وَمُصَافَحَةِ غَيْرِهِمْ :فَمُصَافَحَةُ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ العَجُوْزِ التِيْ لاَ تَشْتَهِيْ وَلاَ تُشْتَهَى ، وَكَذَلِكَ مُصَافَحَةُ الْمَرْأَةِ للرَّجُلِ العَجُوْزِ الذِيْ لا لاَ تَشْتَهِيْ وَلاَ تُشْتَهَى وَمُصَافَحَةُ الرَّجُلِ العَجُوْزِ للمَرْأَةِ العَجُوْزِ جَائِزٌ عِنْدَ الحَنَفِيَّةِ وَالحَنَابِلَةِ مَا دَامَتْ الشَّهْوَةُ مَأْمُوْنَةً مِنْ كِلاَ الطَّرَفَيْنِ،…إلَى أَنْ قال…..وَأَمَّا مُصَافَحَةُ الرَّجُل لِلْمَرْأَةِ الأجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ فَقَدْ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الرِّوَايَةِ الْمُخْتَارَةِ، وَابْنُ تَيْمِيَّةَ إِلَى تَحْرِيمِهَا، وَقَيَّدَ الْحَنَفِيَّةُ التَّحْرِيمَ بِأَنْ تَكُونَ الشَّابَّةُ مُشْتَهَاةً، وَقَال الْحَنَابِلَةُ : وَسَوَاءٌ أَكَانَتْ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَثَوْبٍ وَنَحْوِهِ أَمْ لاَ

[4] Syekh Ali Jum'ah (دار الإفتاء المصرية):

مصافحة الرجل للمرأة الأجنبية محل خلاف في الفقه الإسلامي؛ فيرى جمهور العلماء حرمة ذلك، إلا أن الحنفية والحنابلة أجازوا مصافحة العجوز التي لا تُشتَهَى؛ لأمن الفتنة… بينما يرى جماعة من العلماء جواز ذلك؛ لما ثبت أن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه صافح النساء لمَّا امتنع النبي صلى الله عليه وآله وسلم عن مصافحتهن عند مبايعتهن له، فيكون الامتناع عن المصافحة من خصائص النبي صلى الله عليه وآله وسلم

[5] Badan Wakaf dan Keislaman Kuwait (Catatan kaki nomor 3)

 

 

Daftar Pustaka:

Alhafiz Kurniawan, Hukum Jabat Tangan atau Mushafahah dengan Lawan Jenis Bukan Mahram,  NU Online.

LBM PCNU Jombang, Salaman Laki-laki dan Perempuan, NU Online Jombang.

Maftuhan, Bersalaman Pria-Wanita Bukan Mahram,  Nu Online.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama