Hari
Sabtu, 08 Juni 2024, ada pertanyaan “menurut sampean Nabi Khidir masih
hidup?!”. Diam sejenak. Saling menatap. Alfaqir jawab, “kalau saya, saya
ikut pendapat yang mengatakan Nabi Khidir itu sudah wafat.”
Mengapa
demikian? Saya lebih condong hati pada pendapat seorang alim mu’ammar kenamaan
Indonesia, Kiai Haji Maimun Zubair al-Sarani, sebagaimana yang dijelaskan oleh
salah seorang santri beliau mufasir muda, penulis Tafsir Kalla Saya’lamun fi
Tafsiri Syaikhina Maimun, Lora Muhammad Ismail al-Aschaly,
Bangkalan-Madura.
Lora
Ismail Aschal pernah menjelaskan ketika Kiai Maimun ngaji tafsir tepat surat
al-Anbiya’ ayat 35, كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ,
tiap-tiap yang memiliki nyawa akan merasakan kematian.
Meski
diberi Allah umur panjang, Nabi Khidir telah wafat tanpa diketahui, baik tahun
berapa atau periode siapa. Jelasnya, beliau wafat setelah peristiwa bersama
Nabi Musa. Diyakini sebagian ulama, beliau bisa jadi masih hidup di masa Nabi
Muhammad, namun secara pasti tidak akan melewati seratus tahun sejak Rasulullah
shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَرَأَيْتَكُمْ
لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةٍ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ
هُوَ عَلَى ظهر الأرض أحد (رواه البخاري)
“Coba
lihat malam ini, sungguh setelah seratus tahun ke depan, orang yang hidup saat
ini tak ada yang masih tersisa di muka bumi.”
Artinya,
sepanjang-panjangnya umur Nabi Khidir tidak akan melewati batas seratus tahun
yang sudah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sabda itu tepat satu wulan sebelum beliau wafat, 10 Hijriyah. Jika dihitung,
maka menunjukkan tahun 110 Hijriyah.
Sahabat
terakhir wafat adalah Abu Thufail radhiyallahu ‘anhu pada tahun 110
Hijriyah. Sesuai.
Lalu
bagaimana dengan Nabi Isa? Dajal? Bukankah mereka hidup sejak sebelum masa
Rasulullah?! Apakah sebab sabda Rasulullah di atas mereka tiada?! Apakah akhir
zaman tidak terjadi?! Apakah hadis-hadis Rasulullah tentang akhir zaman salah?!
Ketika
ada penyampaian Rasulullah seakan tidak benar, berarti kesalahan ada pada
perawi atau pemahaman penafsir. Banyak ulama mencoba menjawab, diantaranya dengan
meluruskan sabda Nabi bahwa yang terbatas 100 tahun adalah orang yang berada di
atas bumi, sedangkan Nabi Isa di atas langit.
Bagaimana
dengan Dajal? Tempat Dajal berada masih gaib, sehingga bukan di atas bumi,
tiadalah mati. Bila demikian, Nabi Khidir juga tidak wafat, karena saat
Rasulullah bersabda Khidir sedang di laut.
Namun,
alasan yang dipilih tidak wafatnya Nabi Isa dan tidak matinya Dajal meskipun
Rasulullah bersabda hadis seratus tahun di atas adalah karena mereka memiliki
nas tersendiri dari Allah atau Rasul-Nya. Nas untuk tetapnya hidup mereka hingga
akhir zaman.
Nabi
Isa jelas al-Quran menetapkan kehidupan beliau, begitu pula hadis menerangkan
turunnya di akhir zaman. Dajal pun demikian, sudah ada sejak zaman Rasulullah
sebagai halnya cerita dari sahabat Tamim ad-Dari. Sementara Nabi Khidir tidak
ada nas dari Allah dan Rasul-Nya.
Hingga
saat ini tidak ada kabar kuat yang mengecualikan Nabi Khidir masih terus hidup
hingga kiamat. Serupa itu Nabi Ilyas, Ashab al-Kahfi, dan lainnya, penghujung
tentang mereka merupakan kaul ulama yang berbeda-beda. Tapi tidak memutus
kemungkinan beliau-beliau dapat menemui orang-orang tertentu, hanya saja
sekadar dalam bentuk madzhar. Macam demikian ini layaknya seorang
yang saleh berjumpa Rasulullah dalam bunga tidur maupun terjaga. Ini
bukan hal mustahil, sebagaimana hadis yang menerangkan tentang itu.
Intinya,
ulama berselisih pandang mengenai hidup atau tidaknya Nabi Khidir sampai hari
Kiamat. Sebab utama adalah banyaknya kaul dan cerita pertemuan beliau dengan
orang-orang saleh serta tidak ada dalil yang membantah hal itu, kecuali
keumuman ayat tidak adanya manusia yang abadi hingga kiamat dan hadis Rasul
seratus tahun di atas.
Bagi
yang mengatakan Nabi Khidir masih hidup berarti tidak menyalahkan ribuan kisah
ulama maupun orang saleh yang bertemu beliau. Bagi yang mengatakan beliau telah
wafat artinya lebih mengutamakan keumuman hadis dan ayat tanpa membahas
pelbagai cerita pertemuan beliau dengan para salihin.
Para
salihin yang dikasihi Allah dengan segala macam martabatnya, sesuai
klasifikasi kadar ukuran takwa dalam lubuk hati mereka masing-masing, yang
mengaku bertemu dengan Nabi Khidir secara yaqadzatan (langsung), bukan
sekadar bunga mimpi. Pertemuan ini juga keistimewaan dari Allah sebagai bentuk
keramat bagi mereka, seperti Syekh Khalil Bangkalan, ayah beliau, Kiai Haji
Abdul Lathif, Kiai Haji Maimun Zubair dan banyak lagi lainnya. Sejatinya mereka
hanya bertemu madzhar dari Khidir alaihissalam. Ini pandangan
Kiai Haji Maimun Zubair.
Kiai
Maimun mengambil jalan tengah, tetap mengatakan Nabi Khidir meninggal seraya tetap membenarkan kisah-kisah pertemuan tersebut, dengan komentar: pertemuan
itu dengan madzhar beliau, sebuah sosok representatif dari Nabi Khidir.
Ibarat kita bertemu kawan via online, video call, pantulan cermin atau
mungkin hologram real time, ketika kita disoal, “Sedang bertemu-bincang
dengan siapa?” jawaban kita menyebut nama kawan tersebut. Bukan bertemu dengan
hakikat Nabi Khidir yang masih hidup. Inilah pendapat yang dipilih.
Kenapa
memilih pendapat ini? Sebagai umat Nabi Muhammad secara keseluruhan, baik alim,
awam, fasik dan saleh, sebenarnya tidaklah siap bertemu dengan seorang Nabi.
Sekali ada yang menganggap sepele pertemuan dengan Nabi Khidir, berkonsekuensi
antara munafik dan kufur. Sekali tidak hormat pada Nabi Khidir, sekali saja memandang
Nabi Khidir dengan pandangan tidak tepat, padahal beliau kerap muncul dengan
bentuk berbagai macam, maka sangat berbahaya untuk keimanan, karena ini seorang
nabi.
Jika
menyakiti seorang hamba saleh kekasih Allah (baca: wali, pen) saja
balasannya perang dari Allah, lebih lagi ini seorang nabi. Bisa dibayangkan
bagaimana ragam komentar mulut yang tidak terjaga dari netizen tentang beliau?!
Betapa rentannya umat ini dengan azab bila di tengah-tengah mereka ada nabi
yang masih hidup lalu di habisi.
Kita
tahu bahwa kelak sekali orang tidak mengikuti Nabi Isa saat turun kedua kalinya
guna memimpin dunia, berarti dia pengikut Dajal. Bayangkan, sekali seorang nabi
–dalam hal ini Nabi Khidir seperti di beberapa kisah, pen– memanggil
lalu tidak dijawab, pastilah celaka. Betapa besarnya potensi umat ini terkena
azab, nyatanya Nabi Muhammad pernah ngendika: “ummati hadzihi ummatun
marhumah (umatku ini, adalah umat yang dibelaskasihani oleh Allah).” Allah
juga telah menggagalkan rencana menurunkan azab umat ini demi kekasih-Nya, Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jika yang ada hanya madzhar, maka yang mengingkari silakan, tidak terlampau pengingkarannya, yang mengimani pun sangat disilakan. Demikian ini sama halnya cerita masa hidup orang saleh kekasih Allah bahwa dia pernah atau sering berjumpa Rasulullah dalam keadaan terjaga, buah dari berjumpa dalam mimpi, serupa yang disabdakan Rasulullah: "Sesiapa berjumpa denganku dalam mimpi, dia akan berjumpa denganku dalam keadaan terjaga, setan tidak bisa menyerupai diriku." Barang tentu mengingkari hadis ini tidak boleh, namun mengingkari pengakuan orang yang bertemu Rasulullah –meski cenderung suudzan atau suu’ al-adab jika pengakuan itu berasal dari hamba Allah yang saleh lagi kekasih-Nya– tidak akan terlampau berat daripada mengingkari sabda Sang Rasul.
Bahkan perjumpaan
tersebut tidak berimbas pada segi hukum halal haram, meski dia disuruh
melakukan sesuatu oleh Rasul dalam perjumpaan mimpinya. Juga mimpi itu tidak
akan berakibat seseorang menjadi derajat sahabat. Hanya sekadar berjumpa Nabi.
Itulah madzhar. Meski jelas nyata itu Nabi Muhammad, tapi bagaimana pun beliau sudah meninggalkan dunia ini. Beliau telah berada di Al-Rafiq al-A'la. Apa sebabnya? Riwayat dari Sayidah Aisyah bahwa beliau memilih Al-Rafiq al-A'la, memilih meninggalkan dunia ini, tugas telah sempurna. Semua sahabat juga tahu Rasulullah wafat dan pusaranya hingga kini tetap diziarahi. Pengemban amanah Islam pun telah silih berganti, masa Khulafa’ al-Rasyidin hingga dinasti-dinasti atau ulama pewaris anbiya’.
Tapi meninggalnya beliau ini hanya secara zahir, bukan hakikat. Al-Quran masih terus berisyarat bahwa di tengah-tengah kita tetap ada Rasulullah lewat ayat:
وَاعْلَمُوا
أَنَّ فِيكُم رَسول الله (الحجرات: 7)
“Ketahuilah
bahwa di tengah-tengah kalian ada Rasulullah”
Hadits
juga tetap berkumandang bahwa segala
perbuatan kita dihaturkan kepada beliau. Jika beliau melihat kebaikan, maka
beliau memuji Allah. Jika beliau melihat keburukan, maka beliau memohon ampun pada
Allah untuk kita.
حياتي
خير لكم تحدثون ويحدث لكم، ووفاتي خير لكم تعرض علي أعمالكم، فما رأيت من خير حمدت
الله وما رأيت من شر استغفرت لكم.
“Hidupku
baik buat kalian, wafatku juga baik buat kalian. Saat aku hidup kalian bisa
berbincang denganku dan mendengar ucapanku (hadis, pen). Saat aku wafat
amal perbuatan kalian disampaikan padaku, jika aku melihat kalian berlaku
kebajikan maka aku memuji Allah. Namun jika aku melihat kalian berlaku buruk maka
aku memohon ampun pada Allah buat kalian”
Salam
kita juga tetap disampaikan oleh malaikat kepada beliau.
إن
الله ملائكة سياحين يبلغون عن أمتي السلام
“Sesungguhnya
Allah punya malaikat yang berkeliling di bumi, tugasnya menyampaikan salam dari
ummatku kepadaku”
Itu
yang berhubungan dengan kita. Adapun yang berhubungan dengan Allah maka hakikatnya
para beliau, yaitu Nabi Muhammad; Nabi Khidir; Nabi Ilyas; Ashab al-Kahfi atau siapa
saja yang secara zahir meninggalkan jasadnya, ruh mereka tetap ahya-un ‘inda
rabbihim yurzaqun. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka, dilanjutkan rizki
mereka, rizki yang berbeda dari rizki duniawi.
Lora
Irfan Maulana Ramadhan menambahkan, lebih menguatkan bahwa yang ulama temui
adalah madzhar Nabi Khidir dari alam mitsal yaitu ukuran postur
tubuh beliau.
Umumnya ulama yang bertemu Nabi Khidir bercerita bahwa postur tubuh beliau layaknya postur tubuh manusia pada masanya, bahkan adakalanya sifat perawakannya berbeda-beda.
Sementara itu, Nabi Daniel mempunyai ukuran hidung satu dzira' (sekitar 46 sampai 60 cm, pen), lututnya
sama seperti tinggi badan Sahabat Abu Musa Al-Asy'ari ketika menemukan jasad
beliau. Harusnya Nabi Khidir yang hidup sebelum masa Nabi Daniel memiliki
postur lebih besar lagi. The real giant.
Karenanya
ciri-ciri madzhar dari alam mitsal adalah mampu tasyakkul (berubah
bentuk).
Wallahu
a’lam
Jumat,
28 Juni 2024 M – 21 Zulhijah 1445 H
*Tulisan
di atas telah dipublikasikan oleh Lora Ismail Aschaly di cerita instagram
pribadi tertanggal 19-20 April 2024.

إرسال تعليق