Sidi Abdurrahman: Guru Tidak Boleh Qanaah dengan Ilmu!

Dok. Pribadi | Zulham

Akhir tahun 2023, menghadap Sidi Abdurrahman Alattas, bertanya unek-unek hati kelanjutan dari pertanyaan teman kepada Sidi Hasan Alkaff.


"Seumpama ngajar ngaji setiap hari, sedari awal terjadwal libur sehari dalam seminggu di hari tertentu karena pengajarnya ada ngaji, entah itu fikih atau yang lain. Apakah kejadian itu bisa menyalahi kaidah al-muta'addi afdhalu minal-qaashir?"


Beliau diam beberapa detik.


"Ndak, ndak termasuk. Karena orang kalau sudah jadi guru harus banyak belajar, guru tidak boleh qanaah (menerima apa adanya) dengan ilmunya. Seumpama dia ngajar 3 hari, berarti dia belajar di 4 hari sisanya. Harus terus lebih banyak belajar. Kita ini masih disuruh Sayyidil Habib (Habib Umar bin Hafidz BSA) ndengarkan dars fajar, mendengarkan rauhah beliau"


Bukan masalah kejadian keseharian atau kaidah fikih yang dimuat dalam pertanyaan, tapi jawaban yang mengajarkan habit teladan.

 

Kita diajarkan beliau untuk selalu merasa haus lautan ilmu dan pengetahuan. Ini adalah jalan mereka. Menjaga diri agar tidak serupa keledai yang mengangkut lembaran-lembaran kertas saja. Menghias diri dan tidak jauh dengan pengetahuan yang menuntun amal. 


Diri ini melihat pengajaran mereka, kita manusia adalah berlian. Manusia dan ilmu tak bisa lepas, manusia wajiblah terus digosok, bening memantul cahaya dan menyilaukan mata diri dan sekitar. Bila tidak digosok, tertutup kilatnya, berselimut debu, hilang dan binasa entah dimana ia tercecer. Karena sempurnanya akal bagian dari sempurnanya agama.


Selaras dengan kalam Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran bin Abdurrahman Assegaf al-'Alawi al-Husaini at-Tarimi:


"Kejahilan adalah api yang membakar agama seseorang dan ilmu adalah air yang memadamkannya" [1]

 

Begitu pula dengan guru lainnya, terlihat dari mereka sibuk menambah kekayaan pikiran dan hati. Begitulah mereka mengajarkan tidak enggan menambah faidah. Kalau kata Buya Hamka, bak lautan semakin dalam menyelam bertemulah berbagai bentuk makhluk ajaib yang belum pernah terlihat dan dengar, ombak tidak ada habis, tersimpan mutiara-mutiara indah di dasarnya, perbendaharaan yang tidak pernah selesai diungkap. Itulah ilmu.


Dalam tinta sejarah pernah merekam dari salah seorang pembesar tabi'in mengenai kemuliaan ilmu, murid Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan al-Bashri:


"Seandainya ilmu memiliki bentuk, niscaya bentuknya lebih indah daripada matahari, bulan, bintang dan langit" [2]


Seorang Nashir al-Sunnah, Imam Muhammad bin Idris as-Syafi'i pernah dawuh:


"Siapa orang yang tidak suka dengan ilmu, maka tidak ada kebaikan pada orang tersebut. Karena sesungguhnya ilmu itu kehidupan bagi hati dan pelita bagi pandangan" [3]


Sidii Abdurrahman Alattas pernah juga ngendika sewaktu ngaji hari Ahad:


"Tidak ada seseorang yang diangkat derajatnya kecuali mereka adalah orang orang yang dzu 'ilmin; orang-orang yang punya ilmu, kapasitas ilmunya besar, semangat dalam mencari ilmunya kuat"


Cukuplah gelar "berilmu" itu diperebutkan untuk dinisbatkan ke seseorang karena agungnya sebagai alasan mencari sampai akhir hayat.


Imam Ahmad bin Hanbal pernah di soal, "Wahai Imam, berapa lama lagi engkau membawa botol tinta, sungguh engkau telah mencapai derajat seperti ini  (alim, perawi hadis, fakih, terkumpul kompleksitas berbagai macam keilmuan Islam dalam diri beliau) dan engkau adalah imam besar dari umat Islam."


Beliau menjawab, "Ma'al mihbarah ilal-maqbarah, aku selalu bersama botol tinta pena (mencari ilmu) sampai aku masuk dalam kubur."


Imam al-Baghawi pun meriwayatkan demikian, bahwa beliau pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "aku terus mencari ilmu sampai aku masuk dalam kubur."


Akhir dari tulisan ini alfaqir tutup dengan kalimat dari Abdullah bin Mubarak,


لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ

"Disebut berilmu seseorang selama dia terus belajar. Namun jika seseorang merasa berilmu, maka saat itulah sungguh dia telah menjadi bodoh"


Wallahua'lam


Senin, 15 Juli 2024 M - 8 Muharram 1445 H

تراب نعلي الحبيب ﷺ



Daftar Pustaka: 

[1] [2] [3] Sayyid Zein bin Ibrahim bin Sumaith, Manhaj al-Sawiy Syarh Ushul Thariqah al-Sadah Ali Ba'alawi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama