Jawaban Sekat Tebal Rabiul Awal

Dok. Sayyid Abdurrahman bin Hafidz & Sayyid Abdurrahman Alattas | Al-Hidayaat


Menulis di kesempatan yang mulia ini sedari sorot cahaya mulai memenuhi penjuru bumi di detik-detik kelahiran sosok pemilik syafaat yang diharapkan.
 
Berlanjut sebelum terbitnya sinar fajar, muncul Sang Matahari Pembawa Hidayah, di waktu lahirnya sang kekasih Maha Pengasih yang dimuliakan lagi dijaga.
 
Sebelumnya, alfaqir akan sisipkan pesan Sayyid al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz dalam maulid beliau sebagai pembuka:

 

بِاللّٰهِ كَرِّر ذِكرَ وَصفِ مُحَمَّدٍ كَيمَا تُزِيحَ عَنِ القُلُوبِ الرَّانَا

“Demi Allah! Ulang-ulangi dalam mengingat sifat Nabi Muhammad agar menyingkirkan kotoran-kotoran dari hati”
***
 
Alfaqir pernah membaca sebuah atsar tentang kewafatan Sayyidah Aminah binti Wahb, sekitar 5 atau 6 tahun dari kelahiran Rasulullah. Beliau berbaring sakit di penghujung umurnya, sang putra duduk di sisi kepala. Sayyidah Aminah menoleh, memandang teduh kasih wajah putranya, Muhammad, seraya berucap:

 

بارك فيك الله من غلام يا ابن الذي من حومة الحمام • نجا بعون الملك المنعام

"Engkau adalah seorang anak yang telah diberikan keberkahan oleh Allah, wahai anak yang telah selamat dari kematian, engkau telah selamat dengan pertolongan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memberi Segala Kenikmatan"
 

فودى غداة الضرب بالسهام • بمائة من إبل سوام

"Engkau telah ditebus dari pukulan pedang dengan seratus ekor unta gemuk"
 

إن صح ما أبصرت في المنام • فأنت مبعوث إلى الأنام

"Jika benar tentang apa yang telah aku lihat di dalam mimpi mengenai dirimu, maka engkau akan diutus kepada segenap makhluk"
 

من عند ذي الجلال والإكرام • تبعث في الحل وفي الإحرام

"Engkau diutus sebagai seorang nabi dari Allah, Tuhan Yang Maha Agung nan Mulia di tanah halal dan haram"
 

تبعث بالتحقيق والإسلام • دين أبيك البر إبراهام

"Engkau diutus dengan ajaran kebenaran, yaitu Islam, agama moyangmu yang baik, Ibrahim"
 

فالله أنهاك عن الأصنام • أن لا تواليها مع الأقوام

"Demi Allah! Aku mencegahmu dari segala patung sesembahan, janganlah engkau bersandar-sembah pada itu semua bersama kaum-kaum"
 
Sayyidah Aminah berhenti sejenak. "Setiap yang hidup akan merasakan kematian. Setiap yang baru akan usang. Segala sesuatu yang bertahan lama akan memudar. Dan aku, aku adalah orang yang sedang menghadapi kematian, namaku akan tetap selalu dikenang. Sungguh, aku telah meninggalkan kebaikan dan aku dilahirkan sebagai seorang yang suci" Pungkas beliau.
 
Sayyidah Aminah menghembuskan nafas terakhirnya.
 
Alfaqir mengingat syair ungkapan Sayyidah Aminah saat menghadiri majelis maulid salah satu guru kami, Sayyidi Abdurrahman bin Husain Alattas, tepatnya ketika munsyid membawakan kasidah di bait:
 

كُلُّ بَيـتٍ أَنـتَ سَاكِــــــنُـهُ ليسَ مُحـتَاجَا إِلَى السُّـــرُجِ

"Wahai Nabi, setiap tempat yang engkau singgahi tidak perlu pelita penerang, karena engkau adalah sumber cahaya yang akan menerangi"
 
Sungguh beruntung Sayyidah Aminah. Jika Sayyidah Aminah telah beruntung di dunia dan akhiratnya karena sebuah rahim bagian dari tubuh beliau pernah membawa Nabi Muhammad, lalu bagaimana dengan kita? Bisakah beruntung seperti beliau?
 
Munsyid lanjut membaca rawi dan mendendangkan kasidah syair kerinduan akan Nabi, sampai pada bait syair karangan Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz:
 

يارسول الله أدرك عبيدك • شفه غارق في بحور البليّة

"Wahai Rasulullah, tolonglah umat kecilmu ini, lihatlah bagaimana dia tenggelam dalam lautan cobaan"
 

أنقذه مِن كلّ ما فيه مهلك • واكفه شرَّ الهوى والدنيّة

"Wahai Rasulullah, selamatkan dia dari jurang kebinasaan, cukupkan (bantulah melepas) dia dari keburukan hawa nafsu dan kehinaan"
 
Dilanjut syair tawasul pada Rasulullah, Syekh Ahmad al-Badawi dan Rijaal dari Bani Alawi:
 

رب إني قد مددت يدی • منك أرجو فائضی المدد • فأغثنی أنت معتمدی

"Ya Allah, Tuhanku, sungguh telah aku ulurkan tangan, dari-Mu kuharap luapan pertolongan, maka berilah pertolongan padaku"
 
Semakin nyatalah jauh diri ini dari Nabi.
 
Jauh, jauh, jauh, tidak hanya berbatas waktu juga zaman, rupa-rupanya disekat pula oleh ruh yang kosong.
 
Dalam benak, lalu bagaimana cara dekat dengan Rasulullah dengan pembatas zahir dan batin yang tebal?
 
Setelah munsyid membawa jauh perasaan para pendengar sampailah jawaban beberapa pertanyaan itu pada kami. Jawaban itu disampaikan kemenakan guru besar dari guru kami, Sayyid Abdurrahman bin Sayyid al-Habib Ali Masyhur bin Hafidz:
 

مَن تَعلّق تَخَلّق، وَمَن تَخَلّق تَحَقّق، وَمَن تَحَقّق تَعَشَّق

"Barang siapa mengikat diri; menggantungkan hati pada Rasulullah untuk memiliki hubungan dengan beliau, maka sadar atau tidak sadar akan dekat dan berhias diri dengan akhlak-akhlak kenabian. Barang siapa yang berhias diri dengan akhlak kenabian, maka dia akan dikuatkan hubungan dengan penyatuan akhlak Nabi dalam dirinya. Barang siapa yang telah dikuatkan hubungan kedekatan dengan Nabi, maka dia akan dianugerahi dengan sebenar-benarnya kerinduan pada beliau shallallahu 'alaihi wasallam"
 
Jawaban yang singkat untuk beberapa pertanyaan, cara menjadikan diri beruntung dengan Nabi dan cara mendekatkan diri pada Nabi, walaupun terpaut jarak yang jauh: Ikatkan diri dengan Nabi, berakhlak dengan akhlak; sunah; ajaran beliau, ambil kesempatan untuk "cari muka" pada beliau, lalu rasakan kerinduan menancap kuat hingga pada waktu yang telah ditentukan anugerah keberuntungan memandang wajah beliau yang mulia akan menjadi hujjah kita di hari tidak ada pegangan untuk menjawab berbagai pertanyaan.
 
Sebagaimana bait syair karangan Syekh Isa al-Bayanuni:
 

إن مات جسمك فالهوى يحييه • جسد تمكن حب احمد فيه • تالله إن الأرض لا تبليه

"Jika jasadmu mati, maka cinta pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan menghidupkannya. Jasad seseorang pemilik cinta yang mendarah daging kepada beliau, Demi Allah! Bumi tidak akan menghancurkannya"
 
Keberuntungan dan dekat dengan Nabi berawal dari mengikat diri untuk cinta dan sungguh cinta dibuktikan dengan peneladanan terhadap akhlak dan ajaran.
 
Tulisan ini alfaqir tutup dengan hikmah dari Sayyid al-Habib Umar bin Hafidz dalam buku kumpulan petuah beliau, Tarwih al-Baal, disusun oleh salah satu santri asal Pulau Borneo:
 

إذا تكاثرت أنوارُ ادابه فيك... تَجَلَّت لك الذاتُ النَّبويَّة المُصطَفَوِيّة

"Jika cahaya adab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tumbuh terang dalam dirimu, maka tampak jelas padamu sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"
 
 
Wallahu a'lam
Senin, 16 September 2024 M - 12 Rabiul Awal 1446 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama