Cium Tangan: Jejak Adat Warisan Salaf

Dok. Syekh Usamah al-Azhari (berkacamata) dan Syekh Ali Jum'ah | Google 

Di bulan Syawal banyak melihat acara temu keluarga; sowan orang mulia; bertegur sapa dengan guru; agenda halal bihalal organisasi atau instansi, misalnya yang siang tadi alfaqir hadiri. Dalam bermacam-macam bentuk acara, kebiasaan mencium tangan tidak dapat dielakkan. Kebiasaan yang ditanam dalam pendidikan para tetua masyarakat dan pengajar di bangku sekolah rasanya cukup efektif demi menjaga rendah hati, juga identitas unggah-ungguh Jawa yang mulai pudar.

 
Tanpa alfaqir sadari, kebiasaan ini adalah ajaran agama yang berkesesuaian dengan warisan adat dari generasi ke generasi, lestari mulai dari salaf; masa awal Islam hingga kini, 1400 tahun sekian setelahnya.
 
Sejarah dengan rantai periwayatan sahih mencatat delegasi Abdul Qais saat berjumpa dengan Rasulullah berlomba-lomba turun dari unta tunggangan, ada yang melompat, berlari, berjalan cepat untuk berebut mencium tangan dan kaki beliau.
 
Rasulullah pernah berlaku kebaikan pada Ibn Abbas, lalu Ibn Abbas menciumi tangan beliau lima kali. Perbuatan mencium tangan Rasulullah juga dilakukan Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Usamah bin Syuraik, Mazidah al-Abdi, masih banyak lainnya.
 
Riwayat dengan derajat hasan li ghairihi mencatat pernah ada orang Arab Badui datang ke Rasulullah meminta izin mencium kepala, tangan dan kaki beliau, beliau mengizinkan hal itu. Penuturan lainnya mencatat sekelompok Yahudi menyengaja sowan pada Rasulullah untuk mencium tangan dan kaki beliau, setelah itu mereka berucap, "Kami bersaksi bahwa engkau, Muhammad, adalah utusan Allah." Dari kebiasaan para salaf ini, kita tahu dari mana sahabat Yazid bin Aswad bisa berkata bahwa sesungguhnya tangan Rasulullah itu lebih dingin dari es dan lebih harum dari minyak kasturi.
 
Imam Ahmad meriwayatkan, pernah suatu waktu sahabat Khuzaimah bin Tsabit bermimpi melihat dan mencium Rasulullah. Keesokan harinya dia menemui dan mengabarkan mimpi itu pada beliau, lalu Rasulullah memberikan tangan dan dahinya untuk dicium.
 
Dulu, ketika Rasulullah membersihkan darah dari luka yang disebabkan pengusiran penduduk Thaif di kebun yang dijaga seorang Nasrani, bernama Adas. Rasulullah bercerita tentang Nabi Yunus bin Matta padanya. Adas tersadar bahwa seseorang dihadapannya yang terluka sebab pengusiran kaum adalah utusan Allah terakhir yang dinubuatkan oleh kabar-kabar samawi sebelumnya, dengan segera Adas mencium kepala, tangan dan kaki Rasulullah.
 
Suatu waktu Rasulullah pernah didatangi oleh Badui untuk meminta sesuatu yang akan menguatkan iman. Rasulullah menunjukkan mukjizat pohon kurma yang berjalan mendekat, lalu mengeluarkan suara persaksian atas kerasulan beliau. Si Badui berucap, "cukup, cukup, cukup wahai Rasulullah. Wahai Rasulullah, izinkan saya mencium kepala dan kakimu," Rasulullah mengizinkannya. Kemudian si Badui berkata lagi, "Wahai Rasulullah, izinkan saya sujud pada engkau." Rasulullah menjawab, "Tidak, tidak boleh seseorang sujud pada yang lain. Seumpama saya diperintahkan seseorang boleh sujud pada yang lain, pasti saya akan perintahkan istri sujud pada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya."
 
Amir bin al-Tufail tatkala hendak masuk Islam datang berjalan menghadap Rasulullah Saw. dan mencium kedua kaki beliau sambil berucap, "asyhadu an-laa ilaaha illallah wa annaka rasulullah, amantu bika wa bimaa anzala 'alaika, aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan sungguh engkau adalah utusan Allah, aku beriman pada engkau dan beriman pada apa-apa yang telah diwahyukan atas engkau."
 
Kisah yang tidak kalah menarik bagi alfaqir, antara Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib, keduanya adalah intelek dan pembesar sahabat. Kisah pelajaran mengenai penghormatan; pengagungan pada orang yang berilmu dan kerendahan hati hasil didikan madrasah nabawiyah.
 
Suatu hari Sahabat Zaid bin Tsabit menaiki hewan kendaraannya. Kemudian sepupu Rasulullah Abdullah bin Abbas memegang tali tunggangan Zaid sebagai bentuk penghormatan. Zaid berkata, "Jangan begitu, menjauhlah, wahai putra paman Rasulullah!"
 
Abdullah bin Abbas menjawab, "Beginilah kami diperintah-ajarkan untuk bersikap pada para alim dan para pembesar kami"
 
Zaid menimpali, "Tunjukkan tanganmu"
 
Ibn Abbas mengulurkan tangan, segera Zaid menciumnya sambil berkata, "Beginilah kami diperintah-ajarkan bersikap pada keluarga Nabi kami shallallahu 'alaihi wa sallam."
 
Jika kita lihat usia, Zaid bin Tsabit lebih tua 8 tahun dari Abdullah bin Abbas. Sidina Zaid lahir pada 611 Masehi dan Sidina Abdullah lahir pada 619 Masehi. Mereka hidup tidak dalam rentang yang jauh namun tahu nilai kemuliaan ilmu dan akhlak. Sekali lagi, ini adalah didikan madrasah nabawiyah. 

Tidak berhenti disitu, sejarah yang ditulis Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubra menggoreskan kisah dari Tamim bin Salamah. Ketika Umar bin Khattab datang ke Syam, sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah segera mencium tangannya. Dari kisah beliau berdua, Tamim mengatakan bahwa mencium tangan adalah perbuatan sunah.
 
Tidak berhenti di Abu Ubaidah, para sahabat lain juga demikian, meminta tangan mereka satu sama lain untuk saling dicium. Mereka radhiyallahu ‘anhum melakukan demikian hanya beralasan karena tangan tersebut adalah tangan yang berbaiat pada Rasulullah, diantaranya Abu Malik al-Asyja'i mencium tangan Abdullah bin Abi Aufa.
 
Kejadian lain datang dari beberapa jalan periwayatan mengabarkan bahwa Ali bin Abi Thalib mencium tangan atau kaki Abbas bin Abdul Muthalib seraya berkata, "Wahai pamanku, ridailah aku."
 
Narasi sejarah mencatat kerendahan hati Ali bin Abi Thalib terhadap orang berilmu, beliau pernah berkata, “Aku adalah budak orang yang mengajarkanku walau hanya satu huruf, dia yang mengajarkanku ilmu silakan mau menjual diriku, memerdekakan aku atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”
 
Sufyan bin 'Uyainah, seorang ahli fikih Mesir ternama yang lahir pada tahun 107 H, juga salah seorang guru dari Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i, pernah berdiri menyambut kedatangan Husain bin Ali al-Ju'fi lalu mencium tangannya.
 
Tsabit al-Bunani meminta izin pada Anas bin Malik, khadim Rasulullah Saw., mencium apa yang digunakan Anas untuk melihat diri Rasulullah, maka Tsabit menciumi mata Anas.
 
Dari banyaknya riwayat kebiasaan salaf; cium tangan ini, seorang Syaikhul Islam bernama Abu Zakaria Yahya al-Nawawi al-Dimasyqi, pembesar mazhab Syafi'i yang lahir pada 631 H. Beliau menuturkan:
"Dianjurkan untuk mencium tangan orang saleh, seorang zuhud, alim cendekiawan dan lainnya yang termasuk dari ahlil-akhirah. Di sisi lain, sangat tidak dianjurkan untuk mencium tangan seseorang sebab kekayaan atau sebab harta dunia lainnya, demikian ini adalah perbuatan yang sangat tidak dianjurkan sekali." [1]
 
Pendapat ini juga disampaikan oleh Syaikhul Islam; Amirul Mukminin fil-Hadits, Syaikh Ibn Hajar al-Asqalani, alim besar yang lahir pada 773 H di Palestina:
"Imam Malik tidak menyukai cium tangan karena kesombongan dan pengagungan yang berlebihan. Namun, beliau membolehkan mencium tangan seseorang sebab agamanya, orang yang terhormat atau orang yang berilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah.” [2]
 
Dok. Sayid Umar bin Hafidz

Senada dalam Mausu’ah al-Fiqh al-Kuwaitiyah disebutkan berhukum boleh mencium tangan seorang alim yang bertakwa, pemimpin yang adil, kedua orang tua, guru dan siapa saja yang pantas dihormati dan dimuliakan. Semua ini dilakukan dengan niat ibadah dan penghormatan, bukan karena adanya dorongan syahwat. [3]
 
Begitu pula fatwa al-Ustadz al-Duktur al-Syaikh Ali Jum'ah, salah satu anggota Hai'ah Kibar Ulama' al-Azhar, Mufti Besar Negeri Kinanah periode 2003–2023, sepengetahuan alfaqir nama beliau selalu bertengger dalam jajaran 50 tokoh muslim berpengaruh di dunia rentang 2009–2025 versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Amman, Yordania. [4] Beliau mengatakan bahwa mencium tangan seorang alim adalah hal yang dibolehkan, terutama saat alim tersebut dikenal sifat wara'-nya, juga pada penguasa yang adil, kedua orang tua, guru dan siapa saja yang layak dihormati dan dimuliakan. Hal ini disepakati oleh seluruh mazhab Fikih bahwa mencium tangan orang alim lagi saleh tidaklah haram, justru perkara tersebut dianjurkan. [5]
 
Dok. Sayid Umar bin Hafidz dan Syekh Ali Jum'ah (kopyah hijau) | Youtube Dr Ali Gomaa

Pandangan dari cendekiawan besar Islam di atas dan pelbagai riwayat menjadi dasar-dasar rujukan Da’irah al-Ifta’ al-Urdaniyyah mengeluarkan fatwa bolehnya mencium tangan orang tua, para alim, shalihin dan orang-orang yang kita ber-husnudzan pada mereka memiliki keutamaan di sisi Allah. Wejangan tambahan yang dimuat dalam keputusan fatwa nomor 2726 tertanggal 8 November 2012 tersebut bahwa orang-orang yang tangannya dicium -sebab husnudzan orang lain terhadap dirinya, harus menahan diri dari perasaan sombong, menahan diri dari mengagungkan diri sendiri serta menahan diri untuk menyuruh orang lain mencium tangannya. Orang yang suka dilihat hebat oleh orang lain akan merugi di sisi Allah, sementara orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah. [6]

 
Paling akhir, cium tangan terkenal dan tersebar luas di kalangan para sahabat dan para imam. Para sahabat mencium tangan dan kaki Rasulullah, para tabiin mencium tangan para sahabat, orang-orang setelahnya mencium tangan para tabiin, para imam dan berlanjut sampai ke para guru yang telah mendidik jiwa kita. Hingga datanglah masa di dalamnya ada segelintir orang menganggap hal demikian ini sebagai amalan yang baru muncul, entah bagaimana dan dari mana mereka mendapatkan cara berpikir yang demikian, sementara itu para sahabat, tabiin, para imam dan ulama yang tervalidasi kredibilitas keilmuan dan kesalehannya telah melakukan sejak dahulu, dari generasi ke generasi. Untuk segelintir orang ini Syekh Ali Jum’ah mengatakan dalam fatwanya, tidak ada alasan untuk mengingkari serta menolak dianjurkannya cium tangan kecuali mereka yang tinggi hatinya, sehingga tidak mau menerima sesuatu yang dia anggap merendahkan harga dirinya.
 
Wallahu a’lam
 
Sabtu Malam Ahad, 19 April 2025 M – 21 Syawal 1446 H
تراب نعلي الحبيب
  
 

Catatan Kaki:

[1] Redaksi Imam Nawawi:

يقول الإمام النووي رحمه الله: "يُستحب تقبيل يد الرجل الصالح، والزاهد، والعالم، ونحوهم من أهل الآخرة، وأما تقبيل يده لغناه ودنياه وشوكته ووجاهته عند أهل الدنيا بالدنيا ونحو ذلك فمكروه شديد الكراهة، وقال المتولي: لا يجوز"

[2] Redaksi Imam Ibn Hajar al-Asqalani:

الإمام ابن حجر رحمه الله في "فتح الباري": "وإنما كرهها مالك إذا كانت على وجه التكبر والتعظم، وأما إذا كانت على وجه القربة إلى الله لدينه أو لعلمه أو لشرفه؛ فإن ذلك جائز"

[3] Redaksi Mausu’ah al-Fiqh al-Kuwaitiyah:

يجوز تقبيل يد العالم الورع والسلطان العادل وتقبيل يد الوالدين والأستاذ وكل من يستحق التعظيم والإكرام ، كما يجوز تقبيل الرأس والجبهة وبين العينين ، ولكن كل ذلك إذا كان على وجه المبرة والإكرام أو الشفقة عند اللقاء والوداع وتدينا واحتراما مع أمن الشهوة

[4] The Muslim 500, The World’s500 Most Influential Muslims by The Royal Islamic Strategic Studies Centre affiliated with the Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought.
[5] Rujukan Mazhab Fikih yang digunakan dalam Fatwa Syekh Ali Jum’ah:
     Hanafiyah:

قال الحصفكي الحنفي: (ولا بأس بتقبيل يد) الرجل (العالم) والمتورع على سبيل التبرك. درر. ونقل المصنف عن الجامع أنه لا بأس بتقبيل يد الحاكم والمتدين (السلطان العادل).

وقال ابن نجيم: وتقبيل يد العالم والسلطان العادل لا بأس به؛ لما روي عن سفيان أنه قال : تقبيل يد العالم والسلطان العادل سنة.

وذكر الزيلعي في تقبيل اليد ما نصه: وأما على وجه البر والكرامة فجائز، ورخص الشيخ الإمام شمس الأئمة السرخسي، وبعض المتأخرين تقبيل يد العالم أو المتورع على سبيل التبرك، وقبل أبو بكر بين عيني النبي صلي الله عليه وسلم بعدما قبض، وقال سفيان الثوري تقبيل يد العالم أو يد السلطان العادل سنة، فقام عبد الله بن المبارك فقبل رأسه.

قال محمد البابرتي الحنفي: فأما على وجه البر والكرامة إذا كان عليه قميص أو جبة فلا بأس به. وعن سفيان رحمه الله: تقبيل يد العالم سنة، وتقبيل يد غيره لا يرخص فيه.

     Malikiyah:

قال الأبهري: وإنما كرهه مالك إذا كان على وجه التعظيم والتكبر، وقال النفراوي: منها تقبيل الأعرابي الذي قال: أرني آية، فقال: اذهب إلى تلك الشجرة، وقل لها: النبي صلي الله عليه وسلم يدعوك، فتحركت يمينًا وشمالاً، وأقبلت إلى النبي صلي الله عليه وسلم وهي تقول: السلام عليك يا رسول الله، فقال له : قل لها ارجعي فرجعت كما كانت، فقبل الأعرابي يده ورجله، وأسلم. وغير ذلك من الأحاديث.

وإنكار مالك لما روي في تقبيل اليدين إن كان من جهة الرواية، فمالك حجة فيها لأنه إمام الحديث، وإن كانت من جهة الفقه، فلما تقدم وعمل الناس على جواز تقبيل يد من تجوز التواضع له وإبراره، فقد قبلت الصحابة يد رسول الله صلي الله عليه وسلم، ومن الرسول لفاطمة، ومن الصحابة من بعضهم، وظاهر كلامه ولو كان ذو اليد عالمًا، أو شيخًا، أو سيدًا، أو والدًا حاضرًا، أو قادمًا من سفر، وهو ظاهر المذهب

     Syafi’iyah:

قال النووي: المختار استحباب إكرام الداخل بالقيام له إن كان فيه فضيلة ظاهرة من: علم، أو صلاح، أو شرف، أو ولاية، مع صيانة، أو له حرمة بولاية، أو نحوها، ويكون هذا القيام؛ للإكرام لا للرياء والإعظام، وعلى هذا استمر عمل السلف للأمة وخلفها (الرابعة): يستحب تقبيل يد الرجل الصالح، والزاهد، والعالم، ونحوهم من  أهل الآخرة، وأما تقبيل يده لغناه، ودنياه، وشوكته، ووجاهته عند أهل الدنيا بالدنيا، ونحو ذلك فمكروه شديد الكراهة، وقال المتولي: لا يجوز، فأشار إلى تحريمه، وتقبيل رأسه ورجله كيده.

ومن ذلك ما ذكره شيخ الإسلام زكريا الأنصاري حيث قال: (ويستحب تقبيل يد الحي لصلاح ونحوه) من الأمور الدينية كزهد، وعلم، وشرف، كما كانت الصحابة تفعله مع النبي صلي الله عليه وسلم، كما رواه أبو داود، وغيره بأسانيد صحيحة. (ويكره) ذلك؛ (لغناه ونحوه) من الأمور الدنيوية: كشوكته، ووجاهته عند أهل الدنيا.

وقال ابن قاسم العبادي: يسن  تقبيل يد العالم، أو الصالح، أو الشريف، أو الزاهد كما فعلته الصحابة مع رسول الله صلي الله عليه وسلم، ويكره ذلك لغني، ونحوه، ويستحب القيام لأهل الفضل؛ إكرامًا لا رياء وإعظامًا، أي تفخيما. ا ه.

     Hanabilah:

قال المحقق الحنبلي ابن مفلح: أما تقبيل يد العالم والكريم لرفده، والسيد لسلطانه فجائز.

وقال السفاريني: قال في مناقب أصحاب الحديث: ينبغي للطالب أن يبالغ في التواضع للعالم ويذل له. قال: ومن التواضع تقبيل يده. وقبل سفيان بن عيينة، والفضيل بن عياض أحدهما يد حسين بن علي الجعفي، والآخر رجله.

قال الإمام أبو المعالي في شرح الهداية: أما تقبيل يد العالم والكريم لرفده والسيد لسلطانه فجائز، وأما إن قبل يده لغناه فقد روي: من تواضع لغني لغناه فقد ذهب ثلثا دينه انتهى.

 [6] Fatwa Dar al-Ifta’ Yordania:

لذلك لا ينبغي لمن يظن الناس فيهم الخير والصلاح أن يقع في قلوبهم وجه من التكبر والتعاظم بين الناس، فيغريهم تقبيل أيديهم بين الناس، ويتباهون بذلك، فقد خسر من رأى نفسه عند الناس عظيمًا، ولم يكن له عند الله تعالى حظ ولا نصيب، ومن تواضع لله رفعه الله؛ فعليهم بالتواضع، وعلينا تقديرهم وتقبيل أياديهم؛ لما لهم من أيادٍ بيضاء على الناس.

  
Daftar Pustaka:

Lajnah al-Ifta’, Fatwa 2726: Hal Yajuz Taqbil Aydi al-Walidain wa al-Ulama’, 2012, Yordania: Da’irah al-Ifta’ al-‘Am.

Syekh Ali Jum’ah, Nara Katsiran anna Thalabata al-‘Ilmi wa al-Muridina Yaqbiluna Yada al-Ulama’i waal-Masyayikh, Fa Ma Mada Jawaz Dzalik?, 2016.

Syekh Amir Ahmad al-Husaini, al-Kamilu fi Ahaditsi Taqbilu al-Shahabati li-Yadi al-Nabiyyi wa Rijlihi wa Bayanu Istahbabi al-A’immati li-Taqbili Aydi al-Auliya’i wa al-Shalihina.

Syekh Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim, 2009, Surabaya: Mutiara Ilmu.

Syekh Muhammad bin Ibrahim al-Muqri’, al-Rukhshatu fi Taqbili al-Yad, 1987 (1408 H), Riyadh: Dar al-‘Ashimah.


Post a Comment

أحدث أقدم