1500 Tahun Berlalu, Kapan Kita Kembali Padanya?

Dok. Ilustrasi a'rabi ber-tabarruk di pusara Nabi | Sora AI

Alfaqir
mulai menulis jam 02.30 waktu Indonesia bagian barat, di detik-detik lahirnya al-Mustafa, Sang Rasul Terpilih lagi Utama, shallallahu ‘alaihi wasallam. Blog ini bernama Mustafa’s Dust, sudah selayaknya mengarahkan gerak hanya tertuju pada beliau, pemilik keagungan derajat yang semakin hari kian tinggi nan mulia.

 

Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab beliau, Nur al-Dzalam, menyebut ketika Nabi Muhammad mencapai usia 40, beliau diangkat menjadi al-Mustafa Sang Rasul Terpilih, mulai berdakwah periode Mekkah selama 13 tahun, lalu bertolak ke Madinah. [1] Jika kita hitung, maka kita dapati usia beliau semasa hidup di Mekkah 53 tahun. Sementara itu, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menetapkan kalender Islam dimulai sejak berpindahnya Nabi ke Madinah, sehingga kita tahu per tahun ini sudah 1447 tahun beliau hijrah. Mari kita jumlah, 1447 tahun yang lampau beliau memulai periode Madinah di tambah dengan periode kehidupan Mekkah 53 tahun, hasilnya persis 1500 tahun lalu beliau lahir ke dunia. Di angka 1500 ini, masihkah menjauh darinya? Kapan kita kembali lagi padanya atas nama merahnya kerinduan?

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkisah dalam tafsirnya, Cerita seseorang bernama ‘Utbi dengan orang pelosok desa (a’rabi). Waktu itu ‘Utbi sedang duduk santai di sisi makam Rasulullah , kemudian datang a’rabi berziarah. ‘Utbi mendengar apa yang di ucap si a’rabi:

Assalamu’alaika ya Rasulallah, salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah. Aku mendengar dalam al-Quran bahwa Allah berfirman: ‘Seandainya mereka setelah menzalimi diri mereka sendiri datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. An-Nisa: 64)’, aku telah datang padamu wahai Rasulullah untuk memohon ampun atas dosa-dosaku. Aku menjadikanmu sebagai perantara syafaat untukku pada Tuhanku.

 

Dari ayat itu muncul perasaan harap yang besar, kerendahan hati yang luar biasa, bersimpuh mengakui kelemahan diri dalam lumuran kesalahan pada Tuhan. A’rabi melantun sanjungan:


يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ ۰ فَطَابَ مِنْ طِيبِهِنَّ الْقَاعُ وَالأَكَمُ

Wahai insan termulia, sebaik-baik makhluk yang pernah bersemayam di tanah ini jasad sucimu terbaring mulia, hingga bumi pun harum oleh kehadiranmu dan bukit-bukit pun terselimuti semerbak rindu

 

نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ ۰ فِيهِ الْعَفَافُ وَفِيهِ الْجُودُ وَالْكَرَمُ

Jiwaku rela menjadi tebusan bagi pusara yang engkau huni, di dalamnya tersimpan kesucian yang abadi, di situ bersemayam kemurahan tanpa batas dan terpancar kemuliaan tiada tara” 


Kemudian a’rabi itu pergi. ‘Utbi tertidur. Dalam tidurnya, ‘Utbi melihat Nabi bersabda: “Wahai ‘Utbi, temuilah a’rabi itu, sampaikan padanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuninya.” [2]
 

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) mengisahkan kejadian serupa dalam tafsirnya. 3 hari setelah jasad mulia Nabi disemayamkan, Madinah masih berbalut kabut duka. Datang seorang a’rabi dengan langkah gontai bergelora dan menjatuhkan diri di pusara agung Sang Nabi. Dia taburkan tanah kubur mulia Nabi di kepala, mengalun dari bibirnya sebuah permohonan:

Engkau telah bersabda dan kami mendengar sabdamu, wahai Rasulullah. Engkau telah menyampaikan firman dari Allah, lalu kami pun menerima itu darimu. Wahyu yang Allah turunkan kepadamu adalah firman-Nya: ‘Sekiranya ketika mereka menzalimi diri mereka datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. An-Nisa: 64)’, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri, wahai Rasulullah. Aku datang padamu bermaksud agar engkau mohonkan pada Allah ampunan untukku

 
Setelah a’rabi mengadukan kerisauan hatinya, keluar suara lembut dari pusara, “Sungguh, engkau telah diampuni.” [3]
 
***

Firman Allah dalam QS. An-Nisa: 64:

... وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا

“Seandainya mereka menzalimi diri mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (wahai Muhammad), lalu memohon ampunan pada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

 
Kiranya pelaku dosa dan maksiat memohon ampun, kembali pada Allah dengan cara yang benar, bukankah sudah pasti tobat mereka diterima?! Lantas apa guna digabungkannya istighfar mereka dengan istighfar dari beliau ?!
 
Maksiat, dosa, perbuatan yang menyelisihi syariat Allah dan rasul-Nya merupakan salah satu wujud menyakiti dan menimbulkan kesedihan dalam hati beliau. Tidakkah jika kita bersalah dan berdosa, maka kita wajib meminta maaf pada pihak yang tersakiti? Terlebih jika maksiat lahir dari rasa berontak pada aturan beliau, bukankah tobat itu lebih sempurna dan pantas diterima dengan istighfar Rasul ?! [4]
 
Ayat ini bermaksud untuk menunjukkan besarnya kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang datang pada Rasul karena tahu kesalahannya berarti dia datang pada sosok yang Allah muliakan dengan risalah. Orang itu datang pada seorang nabi yang dikhususkan dengan wahyu-Nya. Posisi beliau disini sebagai perantara Allah dengan makhluk-Nya. Siapa saja yang datang pada seseorang yang memiliki keutamaan demikian, maka Allah tidak akan menolak permohonan ampun darinya.

Ayat ini menyiratkan bahwa Nabi Muhammad punya hak untuk menerima permohonan maaf dari siapa saja, bahkan pelaku dosa besar, kemudian beliau memberikan syafaat untuk mereka. [5] Ini adalah rahasia dari lafaz al-Quran sendiri.
 
Pemahaman ini tersembunyi dalam lafaz “واسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ” yang menggunakan kata ganti orang ketiga (sighat ghaib), tidak dengan kata ganti orang kedua (sighat mukhattab). Ayat itu menggunakan “اسْتَغْفَرَ” bukan “اسْتَغْفَرْتَ”. Dari pemilihan lafaz tersebut menghasilkan arti “dan Rasul (Muhammad) memohonkan ampun untuk mereka” bukan “dan engkau memohonkan ampun bagi mereka.” [6]
 
Begini, penggunaan “اسْتَغْفَرَ” menyatakan arti “dia (Nabi Muhammad) telah memohonkan ampun.” Sifatnya pemberitahuan, sesuai dengan potongan ayat sebelumnya, bukan dialog antara Allah dan Nabi Muhammad, sehingga lafaz ini dipilih untuk obyektifitas dalam ketentuan yang universal, yaitu tugas seorang rasul -dalam pembahasan ini Nabi Muhammad, adalah memohonkan ampun bagi umatnya ketika mereka datang untuk bertobat.
 
Konteks akan berbeda jika menggunakan “اسْتَغْفَرْتَ” yang berarti “engkau (Nabi Muhammad) telah memohonkan ampun.” Cocok digunakan dalam dialog Allah pada Nabi Muhammad, sedangkan konteks ayat ini adalah pemberitaan umum pada umat manusia, bukan sekadar percakapan privasi atau instruksi situasional antara Tuhan dan nabi-Nya.

Jika lafaz “اسْتَغْفَرْتَ” digunakan, maka keterangan yang lahir adalah perintah memohon ampunan untuk umat berdosa hanya pada masa itu saja, sedangkan hukum al-Quran bersifat konstan, fungsi kenabian seorang Muhammad tidak berhenti begitu saja setelah ayat itu turun.
 
Lafaz “اسْتَغْفَرَ” memberi isyarat keagungan dan kehormatan dari Allah untuk kekasih-Nya, Muhammad . Ayat di atas tidak menggunakan “اسْتَغْفَرْتَ, engkau (wahai Muhammad) telah memohonkan ampun,” melainkan menyebut Nabi Muhammad sebagai “الرَّسُولُ, seorang utusan pengemban risalah dari Tuhan Semesta Alam,” melalui kata kerja dengan kata ganti orang ketiga. 

Pemilihan lafaz ini memiliki pengaruh pada pembaca al-Quran untuk mengetahui derajat Nabi Muhammad di hadapan umatnya sebagai seorang rasul Tuhan dengan fungsi yang khusus, sebagai perantara syafaat dan istighfar resmi yang mempunyai otoritas ilahiyah bagi para pendosa yang bertobat, serta menjadikan ayat ini sebagai hukum obyektif yang tetap hidup lintas zaman untuk umat beliau, bukan sekadar percakapan personal terbatas pada lawan bicara tertentu.
 
Dari sini kemukjizatan al-Quran terlihat, penggunaan lafaz “واسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ” bukan “لَهُمُ  اسْتَغْفَرْتَ ” memiliki tujuan mengangkat ayat dari sekadar ucapan pribadi Nabi yang bersifat temporer saat beliau masih hidup, menjadi tugas risalah dan kaidah syariat yang lestari tak lekang oleh waktu selama fungsi kerasulan beliau masih berjalan -karena ayat itu merupakan jawaban dari Allah pada orang-orang munafik yang mengadu pada Nabi Muhammad.
 
Lafaz “واسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ” mengungkap makna bahwa syarat diterimanya tobat bila melakukan kezaliman terhadap diri kita sendiri -maksiat dan dosa lainnya, adalah memohon ampun pada Allah dan datang pada Nabi Muhammad (tawasul dengan doa beliau ), kemudian beliau memohonkan ampun untuk kita.
 
Dengan keagungan beliau sedari 1500 tahun yang lalu, sejak hadir ke alam dunia dari rahim suci Sayyidah Aminah untuk kita semua, masihkah kita menjauh darinya? Kapan kita kembali padanya?
 
Ah, beliau sudah wafat, mana mungkin bisa kembali padanya dengan tawasul dan ber-tabarruk?! Masihkah berguna merendahkan diri untuk mendapat berkah sebagai perantara mendekat pada Allah melalui beliau?!
 
Nabi Muhammad hidup di alam kuburnya. Syariat akan terus berjalan. Ayat al-Quran bersifat kontinyu, kita baru saja membahas tentang istighfar resmi dari beliau selaku pemilik otoritas ketuhanan. Nabi Muhammad   sendiri telah mempromosikan dirinya sebagai lambang kasih sayang sepanjang masa.
 
Dengan keagungan Rasul Muhammad sedari 1500 tahun yang lalu, beliau pernah bilang bahwa para utusan Tuhan tetap hidup hingga saat ini, “Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka.” [7]
 
Dengan keagungan Rasul Muhammad sedari 1500 tahun yang lalu, beliau pernah bilang melihat dan mengawasi gerak-gerik kita.
 
“Hidupku adalah kebaikan untuk kalian, karena kalian bisa bercakap denganku dan aku juga bercakap hadis pada kalian. Wafatku juga adalah kebaikan untuk kalian, karena amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku. Jika amal itu baik, maka aku memuji Allah. Jika amal itu buruk, maka aku memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.” [8]
 
Dengan keagungan Rasul Muhammad sedari 1500 tahun yang lalu, beliau pernah bilang khawatir terhadap keadaan kita.
 
“Perumpamaanku dan kalian itu seperti seseorang yang menyalakan api. Kemudian serangga malam mendekat, mulai berjatuhan ke dalam api. Sementara seseorang tadi berusaha mengusir para serangga agar tidak masuk ke dalamnya. Begitu juga aku, aku sedang memegang kalian agar tidak jatuh ke dalam api neraka, tetapi kalian malah terus berusaha melepaskan diri dari tanganku.” [9]
 

Dengan keagungan beliau sedari 1500 tahun yang lalu, beliau pernah bilang rindu berjumpa dengan kita.

Suatu hari Rasulullah keluar menuju pemakaman. Beliau bersabda: “Assalamu’alaikum daara qaumin mu’minin, wa inna in syaa Allahu bikum laahiquun; semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai tempat tinggal kaum beriman, sesungguhnya kami in syaa Allah pasti akan menyusul kalian. Sungguh, aku sangat ingin bisa bertemu dengan saudara-saudara kita.

 
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah kami ini saudara-saudaramu?
 
Beliau menjawab: “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah orang-orang yang lahir setelah aku dan tidak berjumpa denganku, tapi mereka beriman kepadaku dan aku akan menanti mereka di telaga haudh.” [10]
 
Sudah 1500 tahun lalu beliau hadir ke dunia, kapan kita kembali padanya? Kapan kita menjawab kerinduannya?

Shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam 
 

Wallahu a’lam
Jumat, 12 Rabi’ul Anwar 1447 H – 5 September 2025 M

تراب نعلي الحبيب ﷺ

  

Catatan Kaki:

[1] Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani, Nur al-Dzalam Syarh Mandzumah Aqidati al-‘Awwam, Depok: Maktabah al-Turmusy li al-Turats, 2024: 82.

وَمَكَثَ بَعْدَ الْبَعْثَةِ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ، أَيْ: بِاعْتِبَارِ مَجْمُوعِهَا، لِأَنَّ مُدَّةَ فَتْرَةِ الْوَحْيِ وَهِيَ ثَلَاثُ سِنِينَ مِنْ جُمْلَتِهَا وَهُوَ الْأَصَحُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ لَبِثَ بَعْدَ الْبَعْثَةِ فِي مَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ، وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا عَدَا مُدَّةَ فَتْرَةِ الْوَحْيِ. وَأَقَامَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرًا، وَتُوُفِّيَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ، أَيْ: فَإِنَّهُمْ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ ﷺ أَقَامَ بِالْمَدِينَةِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ عَشْرَ سِنِينَ، كَمَا اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ ﷺ أَقَامَ بِمَكَّةَ قَبْلَ الْبَعْثَةِ أَرْبَعِينَ سَنَةً. وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي قَدْرِ إِقَامَتِهِ بِمَكَّةَ بَعْدَ الْبَعْثَةِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَيَكُونُ عُمُرُهُ الشَّرِيفُ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ سَنَةً، قَالَهُ الْبَيْجُورِيُّ عَنِ الْمَوَاهِبِ اللَّدُنِّيَّةِ.

 [2] Imam Ibn Katsir dalam Tafsir.app.

الشَّيْخُ أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ فِي كِتَابِهِ "الشَّامِلِ" الْحِكَايَةَ الْمَشْهُورَةَ عَنْ العُتْبي، قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَمِعْتُ اللَّهَ يقول: ﴿وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا﴾ وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِرًا لِذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّي ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُولُ:

يَا خيرَ مَنْ دُفنَت بِالْقَاعِ(٢) أعظُمُه ... فَطَابَ منْ طِيبِهِنَّ القاعُ والأكَمُ ...

نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أَنْتَ ساكنُه ... فِيهِ العفافُ وَفِيهِ الجودُ والكرمُ ...

ثُمَّ انْصَرَفَ الْأَعْرَابِيُّ فَغَلَبَتْنِي عَيْنِي، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي النَّوْمِ فَقَالَ: يَا عُتْبى، الحقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ له

 [3] Imam al-Qurthubi dalam Tafsir.app.

رَوَى أَبُو صَادِقٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَدِمَ علينا أعرابي بعد ما دَفَنَّا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَحَثَا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ تُرَابِهِ، فَقَالَ: قُلْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَوَعَيْتَ عَنِ اللَّهِ فَوَعَيْنَا عَنْكَ، وَكَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ (وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ) الْآيَةَ، وَقَدْ ظَلَمْتُ نفسي وجئتك تَسْتَغْفِرُ لِي. فَنُودِيَ مِنَ الْقَبْرِ إِنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَكَ.

 [4] Imam Fakhruddin al-Razi dalam Tafsir.app.

المَسْألَةُ الثّانِيَةُ: لِقائِلٍ أنْ يَقُولَ: ألَيْسَ لَوِ اسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وتابُوا عَلى وجْهٍ صَحِيحٍ لَكانَتْ تَوْبَتُهم مَقْبُولَةً، فَما الفائِدَةُ في ضَمِّ اسْتِغْفارِ الرَّسُولِ إلى اسْتِغْفارِهِمْ ؟

قُلْنا: الجَوابُ عَنْهُ مِن وُجُوهٍ:

الأوَّلُ: أنَّ ذَلِكَ التَّحاكُمَ إلى الطّاغُوتِ كانَ مُخالَفَةً لِحُكْمِ اللَّهِ، وكانَ أيْضًا إساءَةً إلى الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ وإدْخالًا لِلْغَمِّ في قَلْبِهِ، ومَن كانَ ذَنْبُهُ كَذَلِكَ وجَبَ عَلَيْهِ الِاعْتِذارُ عَنْ ذَلِكَ الذَّنْبِ لِغَيْرِهِ، فَلِهَذا المَعْنى وجَبَ عَلَيْهِمْ أنْ يَطْلُبُوا مِنَ الرَّسُولِ أنْ يَسْتَغْفِرَ لَهم.

الثّانِي: أنَّ القَوْمَ لَمّا لَمْ يَرْضَوْا بِحُكْمِ الرَّسُولِ ظَهَرَ مِنهم ذَلِكَ التَّمَرُّدُ، فَإذا تابُوا وجَبَ عَلَيْهِمْ أنْ يَفْعَلُوا ما يُزِيلُ عَنْهم ذَلِكَ التَّمَرُّدَ، وما ذاكَ إلّا بِأنْ يَذْهَبُوا إلى الرَّسُولِ ﷺ ويَطْلُبُوا مِنهُ الِاسْتِغْفارَ.

الثّالِثُ: لَعَلَّهم إذا أتَوْا بِالتَّوْبَةِ أتَوْا بِها عَلى وجْهِ الخَلَلِ، فَإذا انْضَمَّ إلَيْها اسْتِغْفارُ الرَّسُولِ صارَتْ مُسْتَحِقَّةً لِلْقَبُولِ واللَّهُ أعْلَمُ.

 [5] Imam al-Baidhawi dalam Tafsir.app.

﴿واسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ﴾ واعْتَذَرُوا إلَيْكَ حَتّى انْتَصَبْتَ لَهم شَفِيعًا، وإنَّما عَدَلَ الخِطابُ تَفْخِيمًا لِشَأْنِهِ وتَنْبِيهًا عَلى أنَّ مِن حَقِّ الرَّسُولِ أنْ يَقْبَلَ اعْتِذارَ التّائِبِ وإنْ عَظُمَ جُرْمُهُ ويَشْفَعَ لَهُ، ومِن مَنصِبِهِ أنْ يَشْفَعَ في كَبائِرِ الذُّنُوبِ.

 [6] Imam al-Alusi dalam Tafsir.app.

﴿واسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ﴾ وسَألَ اللَّهَ تَعالى أنْ يَقْبَلَ تَوْبَتَهُمْ، ويَغْفِرَ ذُنُوبَهُمْ، وفي التَّعْبِيرِ بِـ(اسْتَغْفَرَ) إلَخْ دُونَ (اسْتَغْفَرْتَ) تَفْخِيمٌ لِشَأْنِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلّى اللَّهُ تَعالى عَلَيْهِ وسَلَّمَ - حَيْثُ عَدَلَ عَنْ خِطابِهِ إلى ما هو مِن عَظِيمِ صِفاتِهِ عَلى طَرِيقِ (حَكَمَ الأمِيرُ بِكَذا) مَكانَ (حَكَمْتَ)، وتَعْظِيمٌ لِاسْتِغْفارِهِ عَلَيْهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ، حَيْثُ أسْنَدَهُ إلى لَفْظٍ مُنْبِئٍ عَنْ عُلُوِّ مَرْتَبَتِهِ.

 [7] Riwayat Imam Baihaqi dengan status sahih. Diriwayatakan pula dalam Sunan Abi Dawud dengan sanad hasan, Imam al-Bazzar, Imam Abu Ya’la dalam Sunnah.one.

الأنبياءُ أحياءٌ في قُبورِهم

 [8] Diriwayatkan oleh Imam al-Haitsami, Imam an-Nasa’i, Imam al-Bazzar dan lainnya dalam Sunnah.one.

حياتي خيرٌ لَكم تُحدِثونَ ويَحدُثُ لَكُم ووَفاتي خيرٌ لَكُم تعرَضُ عليَّ أعمالُكم فما رأيتُ من خيرٍ حَمِدتُ اللَّهَ عليهِ وما رأيتُ من شرٍّ استغفرتُ اللَّهَ لَكم

 [9] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan status sahih, Imam Ahmad dan lainnya dalam Sunnah.one.

مَثَلِي ومَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أوْقَدَ نارًا، فَجَعَلَ الجَنادِبُ والْفَراشُ يَقَعْنَ فيها، وهو يَذُبُّهُنَّ عَنْها، وأنا آخِذٌ بحُجَزِكُمْ عَنِ النّارِ، وأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِن يَدِي.

 [10] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan redaksi lebih panjang, Imam bn Hajar al-Asqallani dengan status hasan, Imam Ibn Abdil Barr dengan sanad hasan, Imam Ibn Hibban dan lainnya dalam Sunnah.one.

أنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ خرجَ إلى المقبَرةِ، فقالَ: السَّلامُ عليكُم دارَ قومٍ مُؤمنينَ، وإنّا إن شاءَ اللَّهُ بِكُم لاحقونَ، وَدِدْتُ أنِّي قد رَأيتُ إخوانَنا. قالوا يا رسولَ اللَّهِ، ألَسنا إخوانَكَ؟ قالَ: بل أنتُمْ أصحابي وإخواني الَّذينَ لم يَأتوا بعدُ وأَنا فرَطُهُم على الحَوض.


1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama