Asbath berkata, dari al-Saddiy dari Abi Malik
dari Abi Shalih dari Ibn Abbas dari Murrah dari Ibn Mas’ud dari Anas (sahabat)
dalam firman-Nya Swt.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ
دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِۖ فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ ثُمَّ اَحْيَاهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ
اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ
“Tidakkah kamu memperhatikan
orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena
takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian Allah
menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia,
tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)
Mereka berkata bahwa kampung itu disebut Darwadan, di
pusat kampung tersebut terserang wabah tha’un. Karena wabah,
kebanyakan masyarakatnya melarikan diri ke daerah pinggiran. Sebagian
penduduknya meninggal dan tidak sedikit pula yang masih hidup. Ketika wabah
tersebut diangkat oleh Allah Swt., mereka kembali dengan selamat. Orang-orang
yang tersisa dari golongan tidak melarikan diri ketika melihat golongan yang
kembali dari pelarian mengatakan:
اصحَابنَا هؤلاء كاتوا أّحزَم مِنَّا لَو صَنَعنَا كما صَنَعُوا بَقِينَا
ولَئِن وَقَعَ الطّعون ثّانِيَةً لَنَخرُجَنَّ مَعَهُم
“mereka saudara kami lebih beruntung dari kami,
seandainya bila kami ikut melarikan diri bersama mereka maka pastilah keadaan
kita tidak demikian, dan jika tha’un itu terjadi kedua kalinya maka
kami akan keluar kampung menyelamatkan diri bersama mereka”
Pada tahun selanjutnya, wabah tha’un terjadi kembali. Mereka melarikan diri dengan jumlah 30.000 lebih hingga ke sebuah tempat, yaitu lembah Afih. Kemudian malaikat memanggil mereka dari bawah lembah dan yang lainnya dari atas, “Matilah kalian”. Mereka pun mati.
Saat mereka
telah binasa dan yang tersisa hanya jasad-jasad yang berserakan, lewatlah
seorang nabi (yang dikatakan oleh para ahli Hadis) yakni Hizqil as. Ketika ia
melihat kejadian yang menimpa mereka, ia berdiri di tengah-tengah mereka dan
mulai berpikir atas kejadian itu dan merenungkannya. Di tengah ia merenung,
Allah mewahyukan padanya:
تُرِيدُ ان اريك كيف أحييهم؟ قال: نعم
“Apakah engkau ingin mengetahui bagaimana aku
menghidupkan mereka (kembali)?”
Hizqil as. menjawab, “Ya”.
Sebenarnya Nabi Hizqil as. berfikir serta
merenung semacam demikian tidak lain karena takjub pada qudrah Allah
Swt. atas mereka.
فَقِيلَ لَه: نَاد
فَنَادَى: يا أيَّتُهَا العِظامُ إنَّ اللّهَ يَأمُرُك ان تَجتَمعِي
Diwahyukan atasnya as.: “Serulah”
Maka Hizqil berseru: “Wahai tulang belulang!
Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk bersatu!”
Kemudian tulang-belulang itu beterbangan satu sama
lain, tersusun pada posisinya masing-masing, hingga membentuk kerangka manusia.
Lalu, Allah mewahyukan pada Hizqil as. untuk menyeru pada kerangka-kerangka,
ان نَاد: يا أيَّتُهَا العِظامُ إنَّ اللّهَ يَأمُرُك ان تَكتَسِي لَحمًا
“Wahai
kerangka! Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menutupimu dengan daging!”
Kerangka-kerangka
tersebut menutupi dirinya dengan balutan daging, darah, serta pakaian yang
dikenakan saat ia dimatikan hingga menjadi sosok jasad utuh. Kemudian Allah
Swt. mewahyukan pada Hizqil as. untuk menyeru pada jasad-jasad,
فَنَادى: أيَّتُها الأجسَاد إنَّ اللّهَ يَأمُرُك ان تَقُومي
“Wahai para jasad! Sesungguhnya Allah memerintahkan
kalian bangkit!”
Maka bangkitlah seluruh jasad.
Asbath berkata, Manshur berpendapat dari Mujahid,
bahwa sesungguhnya ketika para jasad dihidupkan kembali mereka mengucapkan,
سبحانك اللّهم وبحمدك لا اله الّا انت
“Maha suci Engkau, wahai Allah, dan bagi-Mu segala
puji, tiada sesembahan selain Engkau”
Setelah itu, mereka kembali pada kaumnya dalam keadaan
hidup, sedang mereka diketahui telah mati. Mereka hidup hingga ajal yang telah
dituliskan atas mereka.
Dari Ibn Abbas bahwa mereka berjumlah sebanyak 4.000
orang, ia mengatakan pula bahwa mereka berjumlah 8.000 orang. Dari Abi Shalih
bahwa mereka berjumlah sebanyak 9.000 orang. Sedangkan dari Ibn Abbas bahwa mereka
berjumlah sebanyak 40.000 orang.
Riwayat dari Sa’id bin Abdul Aziz bahwa mereka adalah
sekumpulan orang yang bermukim di Adzra’/Dzar’aa (Ahli Adzari’aat),
pinggiran Syiria. Ibnu Jarir berpendapat, dari Atha’ bahwa peristiwa demikian
pernah terjadi, yakni sebagai contoh yang gamblang bahwa sesungguhnya semua
atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Pendapat mayoritas pun demikian,
kejadian itu pernah ada.
Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Pemilik Kitab Shahih, Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari jalan al-Zuhri dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin al-Khatthab, dari Abdullah bin bin Harits bin Naufal, dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya Umar bin Khatthab keluar ke negeri Syam, hingga sampai di Saragh beliau ditemui oleh pemimpin pasukan, Abu Ubaidillah bin Jarrah dan para sahabatnya. Mereka memberikan kabar bahwa wabah penyakit (tha’un) tengah melanda negeri Syam.
Berlakulah musyawarah antara sahabat Muhajirin dan
Anshar sampai menyebabkan silang pendapat diantara keduanya. Datanglah
Abdurrahman bin Auf, sebelumnya ia tidak terlihat karena ada kepentingan,
mengatakan:
إنّ عندي مِن هذا عِلمًا سمعتُ رسول اللّه ﷺ يقول: إذا كان بِاَرضٍ واَنتُم بها فلا
تَخرُجُوا فِرَارَ مِنهُ واذا سَمِعتُم به بِاَرضٍ فلا تُقَدِّمُوا عليه
“mengenai masalah ini, aku pernah mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika wabah
penyakit menyerang suatu daerah sedang kalian ada didalamnya, maka janganlah
kaliah keluar untuk pergi menyelamatkan diri. Dan jika kalian mendengar wabah
penyakit menyerang suatu daerah, maka janganlah kalian datang untuk mendekatinya.’
”
Umar bin Khatthab memuji Allah Jalla Jalaluhu, lalu pergi.
Diriwayatkan Imam Ahmad, kami dikabarkan oleh Hajjaj dan Yazid al-Mufti, dikabarkan oleh Ibn Abi Du’aib dari al-Zuhri, dari Salim, dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, bahwasanya Abdurrahman bin Auf mengabarkan pada Umar dan dia berada di negeri Syam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
السَّقَم عُذِّبَ به الأُماَم قَبلَكم, فاذا سَمعتم به في أَرضٍ فلا تَدخلوها
وإذا وقع بِاَرضٍ واَنتم بها فلا تَخرُجوا فِرارًا منهُ
“Wabah penyakit yang demikian pernah ditimpakan pada
kaum-kaum sebelum kalian. Jika kalian mendengar wabah penyakit menyerang suatu
daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah penyakit menyerang
suatu daerah sedang kalian berada didalamnya, maka janganlah kalian keluar
untuk menyelamatkan diri.”
Perawi mengatakan, selanjutnya Umar bin Khatthab pun
kembali dari negeri Syam. Hadis senada juga dikeluarkan oleh pemilik Shahihain dari
Malik, dari Zuhri.
Dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq bahwa tidak
disebutkan kepada kami mengenai waktu berapa lama Nabi Hizqil alaihissalam di
tengah-tengah Bani Israil sampai Allah Swt. memanggilnya pulang ke
haribaan-Nya. Setelah kewafatan Nabi Hizqil as., Bani Israil mulai melupakan
janji yang telah mereka buat pada Allah Swt., bermacam-macam kejadian besar
telah mereka alami, namun pada akhirnya mereka kembali pada penyembahan
berhala-berhala, diantaranya disebut dengan Ba’l. Kemudian Allah Swt. mengutus
kepada mereka seorang nabi, yakni Ilyas bin Yasin bin Finhash bin al-Izar bin
Harun bin Imran.
Wallahua’lam
Jumat, 16
Juli 2021 - 6 Dzulhijjah 1442 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Referensi:
[1] Abu Fida’
Isma’il bin Umar bin Katsir, Qishashul Anbiya’ , Juz II
(Kairo: Dar al-Ta’lif, 1968), 248-251. Dalam al-Maktabah al-Syamilah Android.
[2] Ibnu
Katsir, Qishashul Anbiya’ (Surabaya: Amelia, 2015), 738-740.

إرسال تعليق