Sececah Tarbiyah dari Lumajang


Dok. Pribadi| KKN 52 Lumajang

Empat puluh hari sudah "uzlah" Kuliah Kerja Nyata di Desa Sumberurip, Kabupaten Lumajang. Pelajaran agung berdatangan, tapi hanya satu yang penulis tulis untuk pribadi yang lebih baik.


Disini penulis menemukan teman baru dengan berbagai latar belakang, kebiasaan yang beragam, bermacam-macam isi kepala, pembawaan yang berbeda, dan masih banyak lagi.


Tidak sedikit yang salat, ada pula agnostik, dan masih banyak lagi. Bahkan dengan terang-terangan berkata terakhir sujudnya dua tahun yang lalu, salat ketika sedang butuh saja, kami sambut pengakuannya dengan tawa, hehe...


Yaa sebagaimana kata salah satu guru kami, teman layaknya kapas yang terbakar, merambat dengan cepat. Nilai hubungan teman hanya menampakkan dua, kau yang menarik temanmu atau teman yang akan menarikmu.


Dalam empat puluh hari bersama mereka, dengan kekurangan dan kelebihan kita masing-masing sebagai manusia, selama itu pula selalu penulis putar pepeling dari Habib Ahmad Bafaqih menukil Siidi Syekh Ahmad ar-Rifa'i, pendiri tarekat Rifa'iyah:


من رأى نفسه مساويا لجليسه إنقطع عنه المدد فكيف بمن رأى نفسه خيرا من جليسه لم يصل اليه ولو ذرة من المدد

"Sesiapa yang memandang dirinya setara dengan teman duduknya, terputuslah darinya anugerah Tuhan. Lalu bagaimana dengan orang yang memandang dirinya lebih baik dari teman duduknya? Tentu ia tidak akan mendapat setitik anugerah-Nya"

Penulis melihat bukan tentang kapan terakhir ia menyembah Tuhannya, bukan tentang keraguannya pada agama Rasul Muhammad, bukan tentang goyahnya kepercayaan pada keagungan kalimat laailaahaillallah, melainkan mereka adalah hamba-Nya, mereka adalah umat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Mereka dan penulis ada dibawah jaminan tangis Rasulullah ketika membaca ayat munajat Sang Ruhullah Isa untuk kaumnya:


"Jika Engkau azab mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hambaMu dan jika Engkau ampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (QS. Al-Maidah: 118)


Beliau membaca munajat Nabi Isa lalu menangis lama dan berkata, "aku ingat umatku, bagaimana keadaan mereka setelah kewafatanku?!"


Kami telah dibawah naungan Rasulullah dan luasnya rahmat Allah, nyatanya masih diizinkan menyebut nama "Ya Allah", "Alhamdulillah", "Astaghfirullah", "Allahu Akbar" diantara banyaknya maksiat. Penulis menulis ini juga tidak merasa lebih baik, karena tau aib-aib dalam dirinya. Mungkin kita melakukan kesalahan pada-Nya dan mengerjakan kebajikan dengan jalan yang berbeda. Tapi syukur segala puji karena penulis masih diizinkan menyebut keluhuran nama-Nya.


Demikian pula dalam penjelasan Agus Ismail Aschol (menantu KH. Miftakhul Akhyar, Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), bukankah Allah sendiri berfirman bahwa orang yang telah durhaka pada-Nya kemudian bertaubat, beriman, dan beramal saleh, kelak di akhirat Allah ganti seluruh keburukannya menjadi kebaikan (QS. Al-Furqan: 70)?
Ketika peristiwa itu terjadi banyak orang yang berkata, "duh, kenapa aku dulu berbuat jelek sedikit?", sabda Nabi "layatamannayyana aqwam annahum aktsaru min sayyi'aat", arti bebasnya "kelak akan banyak orang yang berharap sendainya dosa mereka dulu di dunia bertumpuk".


Betapa baiknya Allah, Tuhan kami. Betapa luas ampunan-Nya daripada dosa-dosa kami.


Melihat keagungan hati Nabi yang khawatir nan rindu pada kami, penulis hanya bisa berharap kita akan hidup dan mati di atas kalimat lailahaillallah, berkumpul kelak bersama ahli laailaahaillallah, berjalan bersama dalam bendera panji Rasulullah dan keluarganya. Amin.


Terimakasih Bu Cici, Mbah Dah, Mak Wagiyem, Mas Mustofa, Mbak Dinda, Mbak Upik, Mas Darell, Mbak Fajriyah, Mbak Favi, Mas Hafif, Mas Haris, Mbak Ilvi, Mbak Kiki, Mbak Mariel, Mbak Mega, Mbak Nadin, Mbak Nisrina, Mas Qowi, Mbak Refina, Mbak Khusnul, Mbak Amira, Mbak Alfina, Mbak Frisca, Mas Reyno, Mbak Yuniar, Mas Tamam, sampai berjumpa kembali~


Wallahua'lam
27 Agustus 2022 / 29 Muharram 2022
Perjalanan Lumajang - Surabaya

تراب نعلي الحبيب / رحمة هداية

2 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama