Sayyidah Fatimah, Kisah 20 Jumadil Akhir

Dok. Pribadi | @shuhayr instagram

Kesempatan kali ini spesial hari kelahiran Sayyidah Fatimah bint Rasul. Mengutip karya terkenal al-Duktur Abduh Yamani berjudul "Innaha Fatimah al-Zahra'". Di dalamnya tertulis:

Pada hari Jumat, tanggal 20 Jumadil Akhir, tahun ke-10 dari pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra, tepatnya 5 tahun sebelum kenabian. Lahirlah putri kesayangan Muhammad sebagaimana sabda:

"Fatimah adalah belahan dari diriku, sesiapa yang membuatnya marah, maka ia telah membuatku marah"

Tepat hari ini lahir sosok suci lagi disucikan:

"Apakah kau tidak mengetahui sesungguhnya putriku, Fatimah, ia suci lagi disucikan, tidak terlihat darinya darah, baik karena haid dan persalinan"

Dinamai "Fatimah" karena Allah Swt. menjauhkannya dari api neraka (فَطَمَ = menyapih; memotong), sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Dailami melalui jalur Abu Hurairah dan Imam al-Hakim melalui jalur Ali. Ditemukan sebuah riwayat:

"Putriku Fatimah, bidadari dari golongan bangsa manusia, ia tidak haid. Dan sungguh dikenal dengan 'Fatimah' karena Allah menjauhkannya dan para pecintanya dari api neraka"

Dijuluki "Az-Zahra" karena Sayyidah Fatimah adalah kembang bagi ayahnya. Dikatakan juga panggilan "Az-Zahra" karena memiliki kulit yang putih. Terdapat pula riwayat, panggilan itu disebabkan ketika beliau berdiri dalam mihrabnya memancarkan cahaya pada penduduk langit sebagaimana cahaya bintang pada penduduk bumi. 

Sayyidah Fatimah radhiyallahu 'anha wa ardhaha memiliki banyak nama, diantaranya al-Shiddiqah, al-Mubarakah, al-Thaahirah, al-Zakiyyah, al-Radhiyyah, al-Mardhiyyah, sebagai tanda keridaan Allah atas kejujuran, keberkahan, kesucian, kerelaan, dan ketenangannya.

Disematkan pada beliau nama "al-Batuul" karena Allah membedakannya dari wanita lain dalam hal kebajikan, keutamaan, kemuliaan, dan kesungguhan dalam memutuskan diri dari selain rida-Nya. Diriwayatkan pula julukan "al-Batuul" karena keluhuran derajat Sayyidah Fatimah layaknya Sayyidah Maryam di sisi Allah. Sayyidah Fatimah dikenal dengan "Ummu Abiiha (Ibu dari bapaknya, pen)", karena beliau adalah putri bungsu yang merawat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemuliaan Sayyidah Fatimah terpatri abadi dalam al-Quran:

"Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya" (QS. Al-Ahzab: 33)

Dikatakan bahwa ayat di atas turun atas lima orang, yaitu Nabi Muhammad, Sayyidah Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husain.

Dijelaskan oleh al-Wahidi al-Naisaburi, saat Rasulullah salat dalam mihrabnya turun ayat di atas. Beliau bergegas menuju rumah Sayyidah Fatimah kemudian menyelimuti putrinya, Ali, Hasan, dan Husain, lalu berdoa, "Wahai Tuhanku, mereka adalah ahliku dan ahlibaitku, bersihkan mereka dari seluruh kotoran dan sucikan mereka sesuci-sucinya."

Sebab kejadian itu mereka disebut Ahlu al-Kisa' (Kisa' artinya selimut; jubah -pen). Lain lagi dengan riwayat Ibn Abbas dan Ikrimah yang mengatakan ayat di atas khusus ditujukan pada perempuan Nabi.

***

Sayyidah Fatimah, sebagaimana sabda ayahnya adalah Pemimpin Wanita Surga:

"Telah datang kepadaku malaikat dari langit yang tidak pernah datang kepadaku, meminta izin untuk datang kepadaku dan memberi kabar gembira bahwa putriku Fatimah adalah pemimpin para wanita umatku"

Sayyidah Fatimah dicintai dan dibanggakan oleh Nabi. Saking cintanya, saat Rasul hendak pergi, rumah Fatimah yang terakhir dikunjungi. Saat Rasul pulang, rumah Fatimah paling awal dihampiri. Namun, hidupnya terbalik dengan derajat dan nasabnya, dibawah kata cukup. Harusnya cocok bagi sang putri Rasul mengenakan muruth sutra lembut, berhak lagi pantas memakai gamis yang elok. Tapi nyatanya riwayat menyebut baju beliau berhias tembelan. Sang ayah, Rasulullah, tidak ingin keluarganya mengambil bagian dunia. Rasulullah ajarkan kesederhanaan karena tahu kelak anaknya akan menjadi suri teladan bagi kaum hawa di seluruh dunia hingga akhir zaman.

Salah satu wanita termulia dalam potret sejarah umat manusia ini pernah tangannya membengkak demi menumbuk gandum untuk suami dan anak-anaknya.

Tidak ada makanan, dapur sepi dari asap adalah hal biasa dalam rumah Sayyidah Fatimah. Rumah beliau kecil, berdempet dengan rumah istri Nabi yang lain, namun rumah Sayyidah Fatimah memiliki mihrab lurus dengan kamar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena pengaturan posisi ini, kebiasaan bagi Nabi ketika masuk waktu salat, beliau memanggil keluarganya, "Salat! Salat! Salat! Sesungguhnya Allah hendak membersihkan dari kalian kotoran wahai Ahlalbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya".

Dalam karyanya, Syekh Abduh Yamani mengutip Syekh Muhammad Ghali al-Syanqithi tentang posisi rumah Sayyidah Fatimah dan Ahlulbait lainnya:
Ket: 10. Rumah Sayyidah Fatimah

Itu adalah rumah didikan rabbani berhiaskan zuhud, wara', dan terkumpulnya segenap sifat serta ciri mulia. Bila melihat bentuk dan kondisi dalamnya, tidak sederajat dengan kebangsawanan mereka. Mungkin saja ketika melihat kesederhanaan ini akan terbayangkan, "Itu zaman dulu, maklum susah", tidak demikian! Muhammad bin Abdllah adalah utusan pembawa risalah Tuhan, kawan dan lawan segan padanya, menaruh hormat adalah keniscayaan, baju berlapis emas adalah salah satu hadiah dari banyaknya pemberian yang didapatnya. Tapi, akankah semua pernak-pernik itu memengaruhi kehidupan putrinya, Sayyidah Fatimah?!

Coba kita perhatikan kisah ini!

Suatu hari, Ali berkata pada Fatimah, "Demi Allah, aku telah mengambil air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit. Sementara itu, Allah telah memberikan tawanan perang pada ayahmu. Coba pergilah dan minta pelayan padanya"

Fatimah berkata, "Demi Allah, aku juga memasak sendiri sampai kedua tanganku bengkak"

Kemudian Fatimah menemui ayahnya. Rasul bertanya, "Ada apa, wahai putriku?". Fatimah menjawab, "Aku datang untuk menyampaikan salam kepadamu". Fatimah malu untuk meminta sesuatu pada ayahnya dan kembali pulang.

Ali bertanya, "Bagaimana, wahai putri Rasul?". Fatimah menjawab "Aku malu untuk minta sesuatu pada beliau"

Ali dan Fatimah bersama-sama menemui Rasul. Ali membuka, "Wahai Rasulallah, Demi Allah, aku telah mengambil air dari sumur sehingga dadaku sakit". Fatimah menambah, "Aku memasak sendiri sampai kedua tanganku bengkak. Allah telah memberikan pada engkau tawanan perang yang banyak, ayah, mohon berikan seorang dari mereka sebagai pelayan kami"

Rasulullah berkata, "Demi Allah, aku tidak memberikannya pada kalian, sementara aku membiarkan sahabat Ahlus-Shuffah menahan lapar karena aku tidak mendapat apapun yang bisa diberikan pada mereka. Oleh karena itu, aku akan menjual budak-budak itu dan hasilnya akan kuberikan pada mereka"

Ali dan Fatimah pun kembali ke rumah. Tak lama Rasul menyusul mereka dan mendapati mereka sedang berselimut. Selimut mereka jika di tarik keatas untuk menutup kepala, maka terlihat kaki mereka. Jika di tarik kebawah untuk menutup kaki, maka terlihat kepala mereka. 

Kedatangan Rasul membuat mereka berdua terperanjat malu, hingga Rasul berkata, "Tetaplah di tempat kalian... Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta dariku?"

Mereka menjawab, "Tentu"

Rasul melanjutkan sabdanya, "Ada beberapa kalimat yang telah diajarkan oleh Jibril kepadaku,... (diantaranya) Ketika hendak tidur, bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh empat kali." Ali berkata, "Demi Allah, sejak Rasulullah mengajarkannya padaku, aku tidak pernah meninggalkannya..." (HR. Bukhari Muslim)




Wallahu a'lam
Jumat, 13 Januari 2022 M - 20 Jumadil Akhir 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ


Referensi:

[1] Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fatimah az-Zahra (Damaskus: al-Manar lin-Nasyr wa al-Tarikh: 1996)

[2] Musthafa Murad, Nisa' Ahl al-Jannah, Terj. Khoiron Durori (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008)

[3] Naam Qalby Maak (Habib Abdul Qadir Ba'abud)



Post a Comment

أحدث أقدم