Sayyidah Fatimah, Rasa Malu dan Keranda Jenazah

Dok. Pribadi | @shuhayr instagram

Sebelumnya: Bagian I

Diriwayatkan Anas, suatu waktu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanya pada para sahabat, "Apa yang terbaik bagi perempuan?". Diam. Tidak ada satupun suara. Ali pulang, menemui Sayyidah Fatimah, bertanya padanya. Sayyidah Fatimah menjawab:

"Yang terbaik bagi mereka, para perempuan, tidak melihat laki-laki dan tidak dilihat oleh laki-laki"

Ali kembali ke Rasulullah dan mengutarakan jawabannya. Lalu Rasul bertanya:

"Siapa yang mengajarimu hal ini?"

"Fatimah" jawab Ali.

"إنما فاطمة بضعة مني (Sungguh Fatimah adalah bagian dari diriku)," pungkas Rasulullah.

Sayyidah Fatimah simbol rasa malu, karena malu cabang dari iman, malu adalah sifat orang-orang saleh, malu adalah perhiasan bagi perempuan mukmin. Sayyidah Fatimah hidup dalam rasa malu yang tinggi tak tertandingi.

Kisah Sayyidah Fatimah tidak habis oleh waktu, tinta emas sejarah selalu menggaritkan namanya.

Suatu hari Sayyidah Fatimah bersama Asma' binti Umais (ipar Sayyidah Fatimah, istri Ja'far bin Abi Thalib). Kemudian Sayyidah Fatimah menangis, bertambah menderu tangisnya. Asma' bingung bukan kepalang, "Apa yang membuatmu menangis, wahai putri Rasul?" Alasan tangisan Pemimpin Wanita Surga ini adalah hari wafatnya, dia akan dimandikan, dibalut beberapa helai kafan, dipikul di atas kepala manusia, tapi khawatir bentuk lekuk tubuhnya dilihat oleh orang-orang.

"Wahai Fatimah, pada waktu yang lalu, saat aku ke daerah Habasyah, aku melihat ada orang meninggal, dia diletakkan dalam sebuah kotak lalu ditutup dengan pelepah kurma, sehingga tak nampak oleh orang-orang jenazahnya," jawab Asma' menenangkan putri Rasul itu.

Sayyidah Fatimah gembira, tersenyum dengan seyuman yang sudah jarang terlihat semenjak kewafatan ayahnya. Sayyidah Fatimah berwasiat pada Asma' untuk melakukan pada dirinya apa yang dia lihat di Habasyah. Sayyidah Fatimah berterima kasih dan berdoa untuk Asma', "Semoga Allah menutup (aib) mu, sebagaimana engkau menutup (aib) ku".

Setelah Rasulullah menghadap ke hadirat Ilahi, Fatimah hanya menyisakan kesedihan. 

Fatimah terngiang bisikan ayahnya, "Wahai Fatimah, engkau orang pertama dari keluargaku yang menyusul diriku."

Hingga datanglah waktu yang telah ditetapkan. 

Waktu untuk bersua dengan kekasih hati kian mendekat. Sayyidah Fatimah berkata pada sang suami, Ali:

"Wahai suamiku, aku telah meratapi diriku sendiri, tidaklah aku melihat kondisiku kecuali aku akan menyusul ayahku waktu demi waktu, dan aku akan berwasiat kepadamu"

"Wasiatkan pada diriku apa yang engkau mau, wahai putri Rasul"

Ali duduk mendekati kepala Sayyidah Fatimah, kemudian menyuruh keluar siapa saja yang ada disekelilingnya.

"Wahai sepupuku (Ali), tidaklah kau kenal diriku sebagai seorang pembohong atau penakut, dan tidak pula mendurhakaimu sejak aku menjadi istrimu"

"Ya Allah, jangan sampai, wahai Fatimah! Engkau lebih dekat dengan Allah, engkau lebih penuh dengan kebajikan, lebih saleh, lebih mulia, dan lebih takwa pada Allah. Sungguh, Dia telah memuliakan perpisahanku dengamu, itu adalah perkara yang pasti dari-Nya. Demi Allah! Kehilanganmu akan menambah kesedihanku setelah perginya Rasulullah, sungguh kita adalah milik Allah dan pada-Nya lah kita kembali"

Pecahlah keadaan dengan tangisan, suasana membiru, Ali mengusap dan meraih kepala Sayyidah Fatimah dengan kedua tangannya.

"Beritahukan padaku, apapun yang kau inginkan", lanjut Ali.

"(Pertama, setelah aku wafat -pen) Menikahlah dengan Umamah, putri dari kakakku, Zainab. Dia untuk anakku (Hasan dan Husain) akan menjadi ibu seperti diriku dalam kebaikan dan kelembutan". Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya Umamah adalah anak saudara perempuanku dan dia menyayangi putraku."

Sayyidah Fatimah melanjutkan, "(Kedua, saat wafat -pen) Bawa aku menggunakan keranda seperti yang telah dijelaskan oleh Asma'", sambil menggambarkan bentuknya.

"(Ketiga, saat wafat -pen) Kuburkan aku di Baqi' pada malam hari"

Ali memenuhi seluruh permintaan terakhir dari Sayyidah Fatimah, menikah dengan Umamah, mengantarkan jenazah menggunakan keranda, dan menguburkan di malam hari. Ada riwayat kuburan Sayyidah Fatimah "dikaburkan" dengan kuburan lain disebelahnya dengan tujuan agar tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Sayyidah Fatimah adalah teladan keranda pertama dalam Islam. Permintaan-permintaan terakhirnya jelas menunjukkan tingginya rasa malu adalah perhiasan bagi beliau radhiyallahu 'anha wa ardhaha.

Sayyidah Fatimah hidup dipenuhi rasa malu, menjauh dari aib-aib dunia yang samar dan penuh petaka, karena inilah ada riwayat:

"Esok saat hari kiamat akan terdengar seruan suara dari balik hijab, 'Wahai orang-orang yang sedang berkumpul, tundukkanlah pandangan kalian hingga Fatimah bint Muhammad lewat'" (HR. Hakim dari Ali bin Abi Thalib)

Rasul pernah bersabda dalam riwayat Ibn Abbas:

"Cintailah Allah karena nikmat yang telah Dia berikan pada kalian, cintailah aku karena cinta kalian pada Allah, dan cintailah Ahlibaitku karena cinta kalian padaku"

Pada 20 Jumadil Akhir, hari lahirnya Sayyidah Fatimah, sudahkah mencintai beliau?

Sudahkah mengambil iktibar dari kisah beliau

Apakah cukup mencintai tanpa meneladani? 

Mencintai tanpa meneladani adalah dusta, meneladani tanpa mencintai adalah hampa.

Cinta diikuti peneladanan kepada Sayyidah Fatimah serta keluarganya butuh kesadaran yang besar. Batalnya salat disebabkan tidak membaca salawat atas Nabi dan keluarganya cukup sebagai pengetahuan kadar kemuliaan mereka di sisi Allah.


يَا حُبَابَتِي يَا سَيِّدَتِي يَا فَاطِمَة يَا بِنتَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَاةُ اللّٰهِ وَ سَلَامُهُ الأَتَمَّانِ الأَكمَلَانِ عَلى أَبِيكِ وَ أُمِّكِ وَعَلَيكِ وَ عَلى زَوجِكِ و عَلى إبنَيكِ وَ عَلى مَن وَالَاكُم لِلّٰه

"Duhai kekasihku, duhai junjunganku, duhai Fatimah, duhai putri Rasulullah, semoga salawat Allah dan salam-Nya yang sempurna tetap tercurah kepada ayahandamu, ibundamu, kepadamu, suamimu, anak lelakimu, serta semua yang mencintaimu karena Allah"


Wallahu a'lam

Jumat, 13 Januari 2023 M - 20 Jumadil Akhir 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ


Daftar Pustaka:

[1] Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fatimah az-Zahra (Damaskus: al-Manar lin-Nasyr wa al-Tarikh: 1996).

[2] Abu Nu'aim Al-Ashfahani, Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Jilid 3 (Jakarta: Pustaka Azzam, tt).

[3] Naam Qalby Maak (Habib Abdul Qadir Ba'abud).

[4] Salawat Sayyidah Fatimah: Ustadzah Halimah Alaydrus.

Post a Comment

أحدث أقدم