Imam
Ibn Katsir menukil sebuah riwayat bahwa Uzair adalah salah seorang yang pernah
menjadi tawanan di zaman Raja Bukhtanashar, ketika itu Uzair memasuki usia
balig. Saat mencapai 40 tahun, Allah memberinya ilmu hikmah, tidak ada seorang
pun paling hafal dan tahu Taurat selain Uzair.
Dalam
riwayat lain dikatakan, Uzair merupakan hamba Allah yang dimatikan oleh-Nya
selama 100 tahun, lalu dihidupkan kembali. Penuturan lain menambahkan bahwa
Uzair adalah hamba Allah yang saleh lagi bijak.
Menurut
pendapat yang masyhur, Uzair adalah seorang nabi Allah diantara para nabi yang
diutus untuk orang-orang Israel. Dia hidup antara Daud dan Sulaiman; antara
Zakaria dan Yahya.
Suatu
hari, Uzair keluar dari kampungnya. Dalam perjalanan pulang di tengah hari
sambil menaiki keledai dia melewati bangunan rusak, sehingga panas matahari
menyengat kulitnya. Uzair turun dari keledai bernaung di dalam bangunan itu
sambil membawa sejenis kantong yang berisi buah tin, kantong lain berisi buah
anggur.
Uzair
keluarkan anggur dari kantong kemudian memerasnya di bejana yang dia bawa. Lalu
dia keluarkan roti kering sambil dicelup ke dalam perasan anggur dan
memakannya. Setelah itu, Uzair menyelonjorkan kaki sambil bersandar ke dinding
bangunan. Uzair melihat atap rumah dan isi bangunan berantakan, penghuninya
telah hancur berserakan tulang belulangnya.
Melihat kejadian ini Uzair berkata, "Bagaimana cara Allah menghidupkan kembali setelah menghancurkannya?" (QS. Al-Baqarah: 259)
Pertanyaan itu bukan dia meragukan Tuhan, melainkan atas dasar kagum dan heran.
Selanjutnya Allah mengutus malaikat maut untuk mencabut ruh Uzair dan
mematikannya dalam 100 tahun.
Setelah
100 tahun berlalu. Banyak persoalan dan peristiwa yang terjadi di kalangan Bani
Israel, Allah mengutus malaikat untuk mengembalikan ruh Uzair yang telah mati
seabad yang lalu. Pertama-tama, atas izin-Nya malaikat itu menghidupkan hati Uzair,
kemudian menghidupkan kedua matanya, sehingga Uzair dapat melihat bagaimana
Allah menghidupkan orang yang telah mati. Malaikat itu merakit kerangka Uzair,
sementara Uzair melihat langsung bagaimana daging-daging menyelimuti tulang belulangnya, kulit dan rambut berada di posisinya masing-masing. Terakhir,
ditiuplah ruh Uzair untuk hidup dan berfikir.
Uzair
duduk, difirmankan padanya, "Berapa lama kamu tinggal disini?."
Uzair menjawab, "Sehari, atau setengah hari." Uzair menjawab
demikian karena dia merasa terlelap 100 tahun yang lalu di siang hari, lalu ia
dibangkitkan 100 tahun kemudian saat matahari hendak tenggelam. Allah berfirman,
"Kamu tertidur disini selama 100 tahun, coba lihat makanan dan
minumanmu." Uzair melihat posisi bejana masih belum berubah, begitu
pula dengan tin dan anggur tidak pindah posisi sedikitpun. Seakan-akan Uzair
menyangkal dalam hati, lalu difirmankan, "Apa kamu tidak percaya apa
yang Aku katakan? Lihat keledaimu!" Uzair melihat keledainya telah
hancur.
Malaikat
menyeru pada tulang belulang keledai Uzair yang hancur itu. Semua tulang yang
berserakan di berbagai sisi berkumpul. Malaikat menyusun kerangka keledai,
Uzair menyaksikan kejadian ini. Selanjutnya, malaikat membungkus tulang itu
dengan daging, kulit, lengkap dengan bulu-bulu, lalu ditiupkan ruh
kedalamnya. Keledai itu hidup, bangkit menengadah ke langit mengira kiamat
telah terjadi.
Kisah demikian sebagaimana firman-Nya:
"...lihatlah
keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang) dan Kami akan menjadikanmu
sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai
itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan
daging (sehingga hidup kembali)..." (Al-Baqarah: 259)
Lihat
tulang belulang keledaimu Uzair! Bagaimana ia tersusun kembali bagian-bagiannya
membentuk kerangka kemudian dibalut daging, urat, kulit dan bulu-bulu?!
"...Maka,
ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, 'Aku mengetahui bahwa Allah
Mahakuasa atas segala sesuatu'" (QS. Al-Baqarah: 259)
Uzair menaiki keledainya. Uzair lekas menuju kampung asalnya. Ketika memasuki kampung, Uzair hampir tidak memercayai apa yang dia lihat, mulai penduduk hingga tempat-tempatnya. Semua telah berubah. Uzair dengan ragu, pelan-pelan ia cari rumahnya. Uzair sampai di rumahnya dan menjumpai seorang wanita tua renta berumur 120 tahun, samar-samar masih dapat dikenali. Wanita tersebut bekerja di rumah Uzair 100 tahun lalu di umur 20 tahun.
"Apa
benar ini rumahnya Uzair?," Tanya Uzair. Wanita tua itu menjawab,
"Iya, benar, ini rumahnya Uzair." Wanita tua itu kemudian
menangis mengingat Uzair, berkata, "Aku belum pernah menjumpai seorang
pun selama bertahun-tahun yang mengingat Uzair, orang-orang sudah melupakan
dia."
Uzair
berkata, "Aku ini Uzair! Allah mematikanku selama 100 tahun, lalu Allah
hidupkan lagi aku."
Wanita
tua itu menimpali, "Maha Suci Allah, sesungguhnya Uzair menghilang
dariku sejak seratus tahun yang lalu, aku juga tidak mendengar kabarnya lagi."
"Aku
ini Uzair!," Tegasnya lagi.
Wanita
tua ini masih ragu, menyangsikan pengakuan Uzair, kemudian berkata, "Sesungguhnya
Uzair itu orang yang doanya mustajab, dia biasa mendoakan kesembuhan orang
sakit dan yang terkena bala', bila kamu benar Uzair berdoalah pada Allah supaya
Dia mengembalikan penglihatanku agar aku bisa melihatmu, bila kamu memang Uzair
pasti aku dapat mengenalimu."
Uzair
berdoa pada Allah, dia usapkan telapak tangannya pada mata dan memegang tangan
wanita tersebut seraya berkata, "Bangkitlah atas izin Allah!"
Seketika itu Allah berikan kemampuan pada wanita tua untuk bisa berdiri sehat
kembali.
Saat
wanita tua itu melihat Uzair, "Aku bersaksi, kamu benar-benar Uzair."
Wanita tua itu bergegas ke tempat pertemuan Bani Israel. Disana sedang diadakan
perkumpulan. Disana ada putera Uzair yang berumur 118 tahun, sudah sangat tua, dia berkumpul dengan anak cucunya. Wanita tua itu memanggil mereka,
"Ini! Uzair! Uzair telah datang lagi!."
Putera
Uzair, anak cucunya, dan masyarakat tidak memercayainya. Wanita itu berkata
lagi, "Aku dulu bekerja dengan kalian (keluarga Uzair), Uzair telah
mendoakanku akhirnya aku bisa lihat lagi, dia mengatakan Allah telah
mematikannya selama 100 tahun dan menghidupkannya lagi."
Khalayak
masyarakat berdiri menemui Uzair. Mereka melihat Uzair. Putera Uzair berkata,
"Sesungguhnya orang tuaku punya tanda hitam diantara dua pundaknya."
Dibukalah bajunya, benar dia adalah Uzair.
Orang-orang Israel berkata:
"Sesungguhnya tidak ada seorang pun diantara kami hafal Taurat, selain Uzair. Taurat sudah dibakar Bukhtanashar, tidak ada sisanya, kecuali yang dihafal beberapa orang saja. Tuliskan kami Taurat, ayahnya seorang ahli Taurat, dia memendam Taurat di zaman Bukhtanashar, tidak ada yang tahu tempatnya kecuali Uzair."
Uzair bersama masyarakat bergegas menuju
tempat ayahnya memendam Taurat. Uzair menggali tempat itu dan mengeluarkan
Taurat dari dalamnya.
Uzair
duduk dan orang-orang Israel berkerumun disekelilingnya. Uzair menyalin kitab
Taurat. Tiba-tiba ada dua cahaya turun dari langit yang masuk tubuh Uzair,
sejak saat itu dia ingat seluruh kandungan Taurat. Uzair menyalin Taurat dalam
bentuk naskah yang diperbarui fisiknya.
Kejadian
ini membuat orang-orang Israel menyebut, "Uzair putra Allah." Uzair
dimatikan oleh Allah di usia 40 tahun selama 100 tahun, kemudian dibangkitkan
dalam kondisi sebagaimana dia berumur 40 tahun.
Karena
tidak ada seorang pun di kalangan Bani Israel yang hafal Taurat, Allah
memberikan ilham pada Uzair untuk dapat menghafalnya. Dikatakan oleh Wahab ibn
Munabbih, "Allah menyuruh malaikat turun dalam bentuk cahaya, lalu
melemparkan Taurat ke dalam diri Uzair, kemudian Uzair menyalinnya huruf demi
huruf hingga sempurna dalam bentuk naskah kitab Taurat."
Ibn Asakir meriwayatkan dari Ibn Abbas, dia pernah bertanya pada
Abdullah bin Salam tentang firman:
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair putra Allah."
(QS. Al-Baqarah: 30)
Kenapa mereka mengatakan demikian? Ibn Salam menjawab bahwa Uzair adalah satu-satunya orang Bani Israel yang hafal kitab Taurat. Bani Israel pernah berkata bahwa Musa tidak sanggup mendatangkan Taurat pada mereka, kecuali yang tertulis dalam kitab itu. Sedangkan Uzair mampu mendatangkanya tanpa adanya kitab Taurat yang tertulis. Sekelompok dari mereka mengucapkan Uzair putra Allah.
Wallahua'lam
Rabu, 22 Februari 2023 M - 1 Syakban 1444 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Referensi:
Ibn Katsir. Qishashul Anbiya' (Surabaya: Amelia,
2015), 820-825.


%20Turbesi.jpg)


إرسال تعليق