Polemik Mushafahah III: Upaya yang Kami Pahami

Dok. Pribadi | Screenshot @dariosilva & Ustadz Taufiq Assegaf


Dari pembahasan blog ini yang “mencoba” untuk ilmiah sebelumnya (Tulisan II & II), selanjutnya akan muncul sebuah pertanyaan, “Jika tidak dengan bersalaman, murid belajar hormat dan rendah hati darimana??!”

 

Dengan kefakiran ilmu penulis, sependek yang kami pahami sampai saat ini adalah dengan ilmu dan kedekatan pada Allah dan Rasul-Nya.

 

Pertama, ilmu. Ajarkan anak didik kita ilmu, adab, kisah teladan orang-orang saleh dari kalangan alim dan auliya’, serta representasikanlah “keadaan” para pendahulu kita yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sekadar cerita dan tahadduts bin-ni’mah, penulis masih berusaha untuk selalu hadir dalam pengajian terjadwal Kitab Fushul al-Ilmiyyah karya Quthb al-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alawi al-Haddad sebulan sekali yang diasuh Ustadz Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf di Perak, Surabaya.

 

Siapa yang tak kenal beliau?? Mungkin orang akan rela mengantri panjang demi “ambil berkah” mencium tangannya.

 

Apakah dalam pengajian tersebut semua orang, termasuk penulis, bisa mushafahah dengan Ustadz Taufiq? Tidak! Kami jarang bisa mushafahah dengan beliau, mungkin ada yang tidak pernah sama sekali.

 

Apakah jarangnya hidung dan bibir kami mencium tangan beliau mengurangi rasa hormat dan rendah hati kami di hadapan beliau? Tidak...

 

Tidak jarang wibawa beliau yang membuat kami tercegah mendekat dan meminta tangan beliau untuk kami cium. Tidak satu dua kali pandangan mata beliau saat menatap kami di sela-sela pengajian atau tengah break dikumandangkannya azan membuat kepala tertunduk dengan hati bergetar mengundang ingatan maksiat dosa yang pernah kami lakukan.

 

Inilah keadaan kami berada di dekat poro beliau, tidak hanya Ustadz Taufiq, tapi guru-guru kami yang lain, mungkin ada beberapa yang telah penulis ceritakan di blog ini.

 

Karena “keadaan” poro beliau ini kami sedikit paham:

 

المدد على قدر المشهد

“Pemberian dan kemanfaatan yang diberikan Allah Swt. terhadap seorang murid atau santri itu tergantung sebesar apa keyakinan yang dia miliki terhadap gurunya, setulus apa rasa hormat dan ta’dzim yang dia rasakan terhadap gurunya”

 

Saat mengerjakan skripsi pun demikian, penulis membuka salah satu mahakarya Hadhrah al-Kiram al-Syaikh Hasyim Asy’ari:

 

الذي لا يعتقد جلالة أستاذه لايفلح

“Orang yang tidak meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya, dia tidak akan hidup beruntung dan bahagia”

 

Sementara ini kami simpulkan bahwa mushafahah bukan jalan satu-satunya bagi murid untuk hormat dan ta’dzim pada para guru, melainkan ada jalan halus yang menghunus kalbu, yaitu akhlak dan ilmu. Ilmu dibarengi suri teladan yang tertanam dalam kepribadian guru akan membawa pemahaman dalam hati murid bahwa seorang guru adalah wakil dari makhluk yang paling agung (Rasulullah Saw.)

 

Kedua, kedekatan pada Allah dan Rasul-Nya. Dengan beberapa keadaan kami diatas saat berhadapan dengan poro beliau, kiranya ucapan salah satu mahabintang tabi’in, Imam Hasan al-Bashri bisa mewakili bagian kedua ini:

 

قيل للحسن البصري رحمه الله : ما بال المتهجدين من أحسن الناس وجوها؟ قال : لأنهم خلوا بالرحمن فألبسهم من نوره نوراً .

“Seseorang bertanya kepada Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta’ala: ‘Ada apa gerangan orang-orang saleh yang senang tahajud pada malam hari memiliki paras yang menawan?” Imam Hasan al-Bashri menjawab: ‘Bagaimana tidak?! Lha wong mereka menyendiri di malam hari dengan Sang Maha Rahman, Dia yang menyelimuti wajah mereka dengan cahaya dari cahaya-Nya hingga terlihat menawan.’”

 

Pun tak lupa, menyitir kaul Sayyid Ahmad bin Zein al-Habsyi rahimahullah ta’ala:

 

من أطاع اللّه أطاعه كل شيء, ومن خدم اللّه خدمه كل شيء, ومن أحب اللّه أحبه كل شيء, ومن خاف اللّه خوف اللّه منه كل شيء

“Siapa saja yang patuh pada Allah, segala sesuatu akan patuh padanya. Siapa saja yang mengabdi pada Allah, segala sesuatu akan mengabdi padanya. Siapa saja yang mencintai Allah, segala sesuatu akan mencintainya. Siapa saja yang takut pada Allah, Allah jadikan segala sesuatu segan padanya.”

 

Dari kutipan Imam Hasan al-Bashri dan Sayyid Ahmad bin Zein al-Habsyi kami tahu, “oh ternyata ini yang menyebabkan mereka berwibawa”, “oh ternyata dekatnya mereka ke Allah sama Nabi itu sebab kita segan pada mereka”. Tanpa perlu mereka berkoar-koar “hormati aku sebagai gurumu!” kami sudah dibuat tunduk dihadapan mereka hafidzahumullah.

 

Jika kita tindak lanjuti poin ilmu diatas, disusul petikan kisi-kisi dari para cendekiawan Islam pada masa lalu, maka sekarang adalah waktu koreksi diri “apakah kita sebagai guru telah merepresentasikan dengan baik sosok Rasulullah di mata para murid?”

 

Setelah membaca ini mungkin terbesit, "terlalu tinggi! Ini untuk murid SMA atau sekelas perguruan tinggi", tidak...

 

Bila menunggu SMA atau perguruan tinggi, terlambat. Seharusnya cara pandang (masyhad) terhadap ilmu dan pembawanya dibentuk sedini mungkin. Jadi sebelum terlambat jauh, tanamkan itu disela-sela pembelajaran atau luangkan waktu khusus dalam pembahasan yang dimaksud.

 

Bila masih perlu menawar “mana poin yang diutamakan?” mungkin poin kedua adalah utama, ini perspektif penulis yang fakir. Karena kedekatan seseorang pada Allah dan Rasul-Nya akan berdampak pada gerak-geriknya dalam keseharian, terserah percaya atau tidak.

 

Guru yang baik adalah sebagaimana dikatakan oleh para pendahulu yang saleh:

 

من لا ينفعك لحظه لا ينفعك لفظه

"Siapa yang saat kamu pandang tidak memberikan manfaat untukmu, jangan harap perkataannya akan bermanfaat bagimu."

 

Segala puji atas karunia-Nya kami menemukan maksud narasi diatas pada guru-guru kami. Ketika melihat poro beliau, akhlak mereka bagaikan kitab berjalan. Ketika melihat poro beliau, kami rasakan tentramnya hati. Ketika melihat poro beliau, kami teringat luasnya rahmat dan besarnya pengampunan Allah. Ketika melihat poro beliau, menghilang gundah dan gelisah dalam hati kami. Ketika melihat poro beliau, dorongan taat dalam hati kami bertambah. Kekuatan apa dalam diri mereka sehingga melahirkan impresi yang besar bagi muridnya?!

 

Kekuatan mereka adalah dekatnya jiwa mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Kedekatan dalam diri mereka memiliki konsekuensi lembutnya hati, terangnya wajah, dan tambahnya rasa cinta di hati manusia pada mereka.

 

Jika dengan ilmu kurang memungkinkan, maka dengan akhlak dan "kembali" pada Allah akan membuat seorang guru disegani juga dicintai oleh murid-muridnya

 

Wallahu a’lam

Senin, 1 Januari 2024 M – 19 Jumadi al-Tsani 1445 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ

Post a Comment

أحدث أقدم