Dari
pembahasan blog ini yang “mencoba” untuk ilmiah sebelumnya (Tulisan II & II), selanjutnya akan
muncul sebuah pertanyaan, “Jika tidak dengan bersalaman, murid belajar hormat
dan rendah hati darimana??!”
Dengan
kefakiran ilmu penulis, sependek yang kami pahami sampai saat ini adalah dengan
ilmu dan kedekatan pada Allah dan Rasul-Nya.
Pertama,
ilmu. Ajarkan anak didik kita ilmu, adab, kisah teladan orang-orang saleh dari
kalangan alim dan auliya’, serta representasikanlah “keadaan” para
pendahulu kita yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Sekadar
cerita dan tahadduts bin-ni’mah, penulis masih berusaha untuk selalu hadir dalam pengajian terjadwal Kitab Fushul al-Ilmiyyah karya Quthb al-Da’wah
wa al-Irsyad Abdullah bin Alawi al-Haddad sebulan sekali yang diasuh Ustadz
Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf di Perak, Surabaya.
Siapa
yang tak kenal beliau?? Mungkin orang akan rela mengantri panjang demi “ambil
berkah” mencium tangannya.
Apakah
dalam pengajian tersebut semua orang, termasuk penulis, bisa mushafahah
dengan Ustadz Taufiq? Tidak! Kami jarang bisa mushafahah dengan
beliau, mungkin ada yang tidak pernah sama sekali.
Apakah
jarangnya hidung dan bibir kami mencium tangan beliau mengurangi rasa hormat
dan rendah hati kami di hadapan beliau? Tidak...
Tidak
jarang wibawa beliau yang membuat kami tercegah mendekat dan meminta
tangan beliau untuk kami cium. Tidak satu dua kali pandangan mata beliau saat
menatap kami di sela-sela pengajian atau tengah break dikumandangkannya
azan membuat kepala tertunduk dengan hati bergetar mengundang ingatan maksiat
dosa yang pernah kami lakukan.
Inilah
keadaan kami berada di dekat poro beliau, tidak hanya Ustadz
Taufiq, tapi guru-guru kami yang lain, mungkin ada beberapa yang telah penulis
ceritakan di blog ini.
Karena
“keadaan” poro beliau ini kami sedikit paham:
المدد
على قدر المشهد
“Pemberian
dan kemanfaatan yang diberikan Allah Swt. terhadap seorang murid atau santri
itu tergantung sebesar apa keyakinan yang dia miliki terhadap gurunya, setulus
apa rasa hormat dan ta’dzim yang dia rasakan terhadap gurunya”
Saat
mengerjakan skripsi pun demikian, penulis membuka salah satu mahakarya Hadhrah
al-Kiram al-Syaikh Hasyim Asy’ari:
الذي
لا يعتقد جلالة أستاذه لايفلح
“Orang
yang tidak meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya, dia tidak akan hidup
beruntung dan bahagia”
Sementara
ini kami simpulkan bahwa mushafahah bukan jalan satu-satunya bagi murid
untuk hormat dan ta’dzim pada para guru, melainkan ada jalan halus yang
menghunus kalbu, yaitu akhlak dan ilmu. Ilmu dibarengi suri teladan yang tertanam
dalam kepribadian guru akan membawa pemahaman dalam hati murid bahwa seorang
guru adalah wakil dari makhluk yang paling agung (Rasulullah Saw.)
Kedua,
kedekatan pada Allah dan Rasul-Nya. Dengan beberapa keadaan kami diatas saat
berhadapan dengan poro beliau, kiranya ucapan salah satu mahabintang tabi’in,
Imam Hasan al-Bashri bisa mewakili bagian kedua ini:
قيل للحسن البصري رحمه الله : ما بال المتهجدين من أحسن الناس وجوها؟ قال :
لأنهم خلوا بالرحمن فألبسهم من نوره نوراً .
“Seseorang
bertanya kepada Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta’ala: ‘Ada apa
gerangan orang-orang saleh yang senang tahajud pada malam hari memiliki paras yang
menawan?” Imam Hasan al-Bashri menjawab: ‘Bagaimana tidak?! Lha wong
mereka menyendiri di malam hari dengan Sang Maha Rahman, Dia yang menyelimuti wajah
mereka dengan cahaya dari cahaya-Nya hingga terlihat menawan.’”
Pun
tak lupa, menyitir kaul Sayyid Ahmad bin Zein al-Habsyi rahimahullah ta’ala:
من
أطاع اللّه أطاعه كل شيء, ومن خدم اللّه خدمه كل شيء, ومن أحب اللّه أحبه كل شيء,
ومن خاف اللّه خوف اللّه منه كل شيء
“Siapa
saja yang patuh pada Allah, segala sesuatu akan patuh padanya. Siapa saja yang
mengabdi pada Allah, segala sesuatu akan mengabdi padanya. Siapa saja yang
mencintai Allah, segala sesuatu akan mencintainya. Siapa saja yang takut pada
Allah, Allah jadikan segala sesuatu segan padanya.”
Dari
kutipan Imam Hasan al-Bashri dan Sayyid Ahmad bin Zein al-Habsyi kami tahu, “oh
ternyata ini yang menyebabkan mereka berwibawa”, “oh ternyata dekatnya
mereka ke Allah sama Nabi itu sebab kita segan pada mereka”. Tanpa perlu
mereka berkoar-koar “hormati aku sebagai gurumu!” kami sudah dibuat tunduk
dihadapan mereka hafidzahumullah.
Jika
kita tindak lanjuti poin ilmu diatas, disusul petikan kisi-kisi dari para
cendekiawan Islam pada masa lalu, maka sekarang adalah waktu koreksi diri
“apakah kita sebagai guru telah merepresentasikan dengan baik sosok Rasulullah di
mata para murid?”
Setelah
membaca ini mungkin terbesit, "terlalu tinggi! Ini untuk murid SMA atau
sekelas perguruan tinggi", tidak...
Bila
menunggu SMA atau perguruan tinggi, terlambat. Seharusnya cara pandang (masyhad)
terhadap ilmu dan pembawanya dibentuk sedini mungkin. Jadi sebelum terlambat
jauh, tanamkan itu disela-sela pembelajaran atau luangkan waktu khusus dalam
pembahasan yang dimaksud.
Bila
masih perlu menawar “mana poin yang diutamakan?” mungkin poin kedua adalah
utama, ini perspektif penulis yang fakir. Karena kedekatan seseorang pada Allah
dan Rasul-Nya akan berdampak pada gerak-geriknya dalam keseharian, terserah
percaya atau tidak.
Guru
yang baik adalah sebagaimana dikatakan oleh para pendahulu yang saleh:
من
لا ينفعك لحظه لا ينفعك لفظه
"Siapa
yang saat kamu pandang tidak memberikan manfaat untukmu, jangan harap
perkataannya akan bermanfaat bagimu."
Segala
puji atas karunia-Nya kami menemukan maksud narasi diatas pada guru-guru kami. Ketika
melihat poro beliau, akhlak mereka bagaikan kitab berjalan. Ketika
melihat poro beliau, kami rasakan tentramnya hati. Ketika melihat poro
beliau, kami teringat luasnya rahmat dan besarnya pengampunan Allah. Ketika
melihat poro beliau, menghilang gundah dan gelisah dalam hati kami. Ketika
melihat poro beliau, dorongan taat dalam hati kami bertambah. Kekuatan
apa dalam diri mereka sehingga melahirkan impresi yang besar bagi muridnya?!
Kekuatan
mereka adalah dekatnya jiwa mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Kedekatan dalam
diri mereka memiliki konsekuensi lembutnya hati, terangnya wajah, dan tambahnya
rasa cinta di hati manusia pada mereka.
Jika dengan ilmu kurang memungkinkan, maka dengan akhlak dan "kembali" pada Allah akan membuat seorang guru disegani juga dicintai oleh murid-muridnya
Wallahu a’lam

إرسال تعليق