Lihat
gambar diatas tidak asing dengan ukiran gambar terompah [1] itu di kopyah
bukan?
Sebelum membahas tentang terompah lebih jauh, lebih dulu melihat sedikit perjalanan Isra dan Mikraj yang mampu membuat bergidik ketika mendengar dan membaca setiap apa yang telah dicapai oleh Kekasih Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah beliau melihat bermacam-macam kejadian selama perjalanan Masjid al-Haram menuju Masjid al-Asqa dengan buraq diteruskan menembus berlapis-lapis langit dengan sullam al-rabbani, Jibril alaihissalam mendampingi Rasulullah sampai langit ketujuh bertemu dengan Khalilullah Ibrahim yang sedang bersandar di Bait al-Makmur.
Naik satu tahap lagi, di Sidratil Muntaha, Nabi Muhammad melihat Jibril pada bentuk yang lain dengan enam sayap. Setiap sayapnya membentang menutupi cakrawala. Sayapnya dipenuhi dengan mutiara, rubi, dan segala jenis batu mulia lagi berharga yang hanya diketahui oleh Allah. “aku hanya dapat mengantarmu sampai disini, jika aku menembusnya maka aku akan terbakar” terang Jibril.
Nabi Muhammad dengan Jibril berpisah untuk menembus sebuah tempat yang sunyi. Sebuah tempat bila diliputi perintah Allah maka tempat itu berubah menjadi tempat yang paling indah tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga juga tidak pernah terlintas di benak setiap makhluk.
Ketinggian derajat Nabi Muhammad di sisi Allah tidak diragukan. Nabi Muhammad mendekat dan bertambah dekat, hingga mencapai qaba qawsaini, jarak sekitar dua busur panah, atau lebih dekat lagi. Beliau diberikan wahyu dengan apa yang telah ditetapkan. Hati beliau tidak berdusta atas apa-apa yang telah dilihatnya. Kedudukan dan jarak ini belum pernah dicapai oleh seorang dari para nabi dan rasul.
Pantaslah
Imam Bushiri rahimahullah ta'ala mengarang bait indah Burdah:
وَ
بِتَّ تَرقَى الى أن نِلتَ مَنزِلَةً • مِن قابِ قَوسَينِ لَم تُدرَك وَلَم
تُرَمِ
وَقَدَمتُكَ جَمِيعُ الأَنبِيَاءِ بِهَا • وَالرُّسلِ تَقدِيمَ مَخدُومٍ عَلى خَدَمِ [2]
“Dan
engkau terus naik di waktu malam hingga suatu tempat yang engkau gapai, yaitu
tempat sekira-kira tali busur dengan panahnya yang belum pernah dicapai dan
diasa. Para nabi dan utusan menyilakan engkau di depan, laksana penghormatan
pelayan pada sang majikan”
Tak
sampai disitu, setiap subuh penulis dan pembaca mendengar syair karya
Syekh Mahmud Khalil al-Hussary rahimahullah ta'ala:
الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكْ • يَامَنْ اَسْرَى
بِكَ الْمُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامُ
وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامُ • وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ النِّدَاءَ عَلَيْكَ السَّلَامُ [3]
“Salawat
dan salam atas hadiratmu wahai Rasulallah. Wahai Dzat yang telah memperjalankan
engkau di malam hari, Dia yang Maha Melindungi, engkau mendapat apa yang kau
dapati ketika semua manusia tidur. Engkau diutamakan dalam shalat menjadi imam
dan seluruh penghuni langit berdiri dibelakangmu. Engkau dinaikkan ke Sidratil
Muntaha dengan mulia dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu”
Sampailah
Rasulullah di Mustawa, sebuah tempat yang tak pernah ditembus oleh
siapapun. Tempat khusus untuk sang kekasih. Disinilah Rasulullah bersimpuh menghadap
dan menerima perintah hadirat Allah yang Maha Agung.
“Segala
kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan milik Allah”
“Keselamatan
atas engkau, Wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkah-Nya”
“Keselamatan
dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang saleh”
“Wahai
Muhammad”
“Aku
memenuhi panggilanmu, Ya Rabb”
“Mintalah”
“Sesungguhnya
Engkau telah memilih Ibrahim sebagai kesayangan-Mu dan Engkau memberinya
kekuasaan yang besar. Engkau berbicara dengan Musa secara
langsung. Engkau memberi Dawud kekuasaan yang gemilang, Engkau menjadikan besi
lunak untuknya, Engkau juga menundukkan gunung-gunung untuknya. Engkau memberi
Sulaiman kekuasaan yang megah, Engkau tundukkan jin, manusia, dan setan
untuknya, Engkau tundukkan angin untuknya, Engkau juga memberikan kerajaan yang
tidak dimiliki oleh siapapun setelahnya. Engkau mengajarkan Isa Taurat dan
Injil, Engkau menjadikan dia mampu menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan
menghidupkan orang mati atas izin-Mu, Engkau juga melindungi dia dan ibunya
dari setan yang terkutuk sehingga setan tidak memiliki jalan untuk menggoda
mereka”
“Sungguh
Aku telah memilihmu sebagai kekasih-Ku”
Allahumma
shalli wasallim wabaarik ‘ala Sayyidina Muhammad
Setiap
kisah perjalanan Isra Mikraj tidak lepas dari salat dan salawat, begitu juga
cerita diatas. Tapi, kali ini lain dari kedua hal itu, melainkan tentang benda
yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika pergi
isra, naik mikraj menembus tujuh lapis langit, sidratul muntaha dan mustawa,
yaitu terompah.
Dalam
libur Isra Mikraj 1445 Hijriyah, penulis menemukan video Dr. Ahmad Bushili
al-Azhari yang mengutip syair Syekh Yusuf bin Ismail al-Nabhani rahimahullah ta'ala:
عَلى
رأسِ هذا الكون نعلٌ محمّدٍ • عَلَت فجميعُ الخلق تحت ظلالهِ
لَدى الطورِ موسى نوديَ اِخلع وأحمدٌ • عَلى العرشِ لم يؤذن بخلع نعالهِ [4]
“Diatas
alam semesta ini terompah Nabi Muhammad pernah berpijak, maka seluruh makhluk
berada di bawah naungan terompah itu”
“Ketika
Nabi Musa di panggil oleh Tuhannya di Bukit Thur, beliau diperintah untuk
melepaskan terompahnya, sedangkan Nabi Muhammad berada diatas Arsy tidak
diizinkan untuk melepaskan terompahnya”
Pernah
Nabi Musa dan istrinya berjalan menuju Mesir di musim dingin. Mereka berdua
beristirahat di lereng bukit hendak menghangatkan badan, mereka memantik
percikan api dengan batu, namun hasilnya nihil. Dalam cuaca yang dingin
berselimutkan kabut dan senyapnya malam, Nabi Musa melihat api menyala di bukit
sebelah kanannya, Bukit Thur. Nabi Musa berkata, “Kamu disini sebentar, aku
lihat api diatas sana, semoga aku dapat membawa sedikit suluh api,
agar kita dapat menghangatkan badan atau mungkin aku akan dapat petunjuk dari
tempat itu.”
Ketika
mendekat ke arah api itu, Allah memanggil Nabi Musa, “Hai Musa, sesungguhnya
Aku adalah Allah. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu. Lepaskan kedua terompahmu
itu. Aku telah memilihmu maka dengarkan apa yang diwahyukan kepadamu” [5]
Ketika Nabi
Musa menapaki bukit suci turun perintah untuk melepaskan terompah, sedangkan Nabi
Muhammad?! Nabi Muhammad tidak demikian. Banyak guru kami mengatakan
terompah tetap beliau pakai semenjak naik buraq, ziarah ke pohon Nabi
Musa, ke bukit Thursina, melewati makam Sayyidah Masyithah, tempat kelahiran
Nabi Isa, mendarat di Masjid al-Aqsa kemudian terus menuju langit pertama
sampai ketujuh, berlanjut lagi masuk Sidratul Muntaha hingga mencapai Arsy.
Mengapa
terompah terukir di kopyah kemudian diletakkan kepala? Karena terompah Nabi
telah mencapai tempat tertinggi dalam menemani pemiliknya bertemu para nabi dan
Tuhannya. Bila terompah itu terikat dengan kaki Rasulullah menjadi mulia, maka pemahamannya
adalah hati seseorang yang terikat dengan Rasulullah akan naik bersama beliau di
tempat tertinggi.
Terompah
berada di kaki, anggota badan paling bawah. Jika terompah Rasulullah sudah
diatas kepala, maka siap lah menjadi pembantu dan pendukung yang menggerakkan
ajaran dan akhlak beliau.
Terompah adalah alas berjalan, bersentuhan dengan tanah dan debu. Jika tidak dapat menjadi jalan dakwah Rasulullah, maka jangan menjadi kerikil yang menghalangi jalan beliau.
Jadilah debu di jalan al-Mustafa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Dari
terompah kita belajar, tidak bisa seseorang menjadi mulia bila tidak
berhubungan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
Beliau adalah nabi yang mengumpulkan semua kebanggaan keutamaan nan tak terbagi
Beliau adalah nabi yang melewati setiap derajat ketinggian hanya seorang diri
Sungguh agung nilai derajat yang beliau dapati
Sungguh jarang lagi langka mendapatkan nikmat yang telah diberi
Wallahu
a’lam
Jumat, 9 Februari 2024 M – 28 Rajab 1445 H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan
Kaki:
[1]
Terompah adalah sandal, dalam KBBI arti terompah adalah lapik kaki yang dibuat
dari kulit, karet atau kayu yang dilengkapi dengan tali kulit sebagai penguat,
atau kayu bertudung bulat, tempat ibu jari kaki dan jari kaki tengah menjepit.
[2]
Burdah Pasal 7 Imam Muhammad bin Said al-Bushiri.
[3]
Syair Salawat Syekh Mahmud Khalil al-Hussary.
[4]
Syekh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, ‘ala Ra’s Hadza al-Kaun Na’l Muhammad.
[5] Tafsir Ibn Katsir QS. Thaha.
Daftar
Pustaka:
Sayid
Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki. 2003. Anwar al-Bahiyyah. Makkah:
Tp.

إرسال تعليق