Pandanglah dengan Cinta. Begitu kira-kira tema kita kali ini, mencoba membaca sejarah Nabi dari sudut pandang cinta.
Memahami sejarah Nabi dengan kacamata
cinta, sehingga perjalanan hidup Nabi selama 63 tahun dari Makkah sampai
Madinah adalah perjalanan cinta termulia sepanjang sejarah makhluk hidup.
Nabi bersama para sahabatnya adalah sampel
pertama kisah cinta dan kesetiaan yang menjadi ikon yang tidak pernah kering
dibaca setiap masa karena selalu memberi pemahaman segar tentang hakikat cinta
yang sesungguhnya.
Saking mulianya kisah cinta Nabi dan
para sahabatnya, baik sebagai pembawa ajaran, sebagai sosok ayah bagi
anak-anaknya, sosok suami bagi istrinya, kisah ini di zaman sekarang sudah
terasa sulit untuk diungkap, diterjemahkan dan ditafsirkan. Saking mulianya
nilai cinta tersebut, dan saking sudah jauhnya kehidupan masa sekarang dengan
keluhuran cinta di masa Nabi. Bahkan sebagian orang yang tidak beriman begitu
lancang mengingkari.
Kita baru bisa membaca sejarah cinta
yang murni ini hanya dengan menggunakan perspektif cinta; dengan memahami bahwa
hidup Nabi hakikatnya adalah sejarah tentang cinta. Bahwa Nabi adalah sebuah
energi cinta yang hadir dengan kekuatan luar biasa dan daya tersebut berdampak pada
sekitarnya, bukan hanya manusia, bahkan benda-benda tidak bernyawa sekalipun jadi
punya kepekaan rasa.
Ada kata kunci kenapa Nabi dicintai oleh
semua bahkan oleh benda mati yang kemudian menjadi hidup, adalah sebab Nabi
makhluk yang paling sempurna dalam keindahan lahir dan batin sehingga mampu
dicintai oleh apapun dan siapapun.
Tahukah kita bahwa Nabi dicintai oleh
semua orang, bahkan oleh orang yang tidak beriman padanya. Tentu mereka yang
mau membuka hati dan pikiran mereka. Hati dan pikiran yang mau terbuka untuk
itu, pasti akan mencintainya. Benda padat saja menjadi punya rasa di hadapan
Nabi, akan tetapi manusia memang ada yang memiliki hati keras melebihi kerasnya
batu sehingga tidak mau membuka diri.
Sebelum membahas cintanya sahabat Nabi
yang memang sudah beriman, coba kita perhatikan sejarah pecinta Nabi yang tidak
beriman dulu:
Abu Sufyan bin Harb
Sebeluk masuk Islam, sosok yang menjadi
aktor utama pada Perang Badar, Perang Uhud, sampai perang koalisi Ahzab. Dia
yang terlihat menyerang Nabi bertubi-tubi itu, ternyata menaruh cinta yang
terpendam; yaitu ketika dia dibawa oleh Abbas bin Abdil Muttalib (paman Nabi)
kepada Nabi menjelang penaklukan Makkah. Dia tidak diapa-apakan oleh Nabi. Nabi
hanya bilang, "Abu Sufyan... bukankah sudah saatnya kau mengakui kalau
aku utusan Allah?" Abu Sufyan hanya menjawab:
بأبي
أنت وأمي ما أحلمك، وأكرمك، وأوصلك
"Betapa besarnya hatimu, betapa
mulianya dirimu, betapa menjaganya dirimu terhadap silaturahim"
Pernyataan seperti ini baru muncul dari
sosok Abu Sufyan setelah dia mau membuka diri, dalam suasana yang tenang,
kalimat suci dari hatinya baru muncul secara tulus melalui bibirnya. Lalu
serangan bertubi-tubi selama ini itu apa? Ya jawabannya sebab ia belum mau
membuka diri saja. Kafir itu artinya ya kurang lebih begitu.
Abu Lahab
Orang yang paling getol mengganggu
perjalanan dakwah Nabi. Tapi bukankah ia yang memerdekakan budaknya yang
bernama Tsuwaibah hanya gara-gara
memberitakan kelahiran keponakannya yang bernama Muhammad? Kebahagiaan apa yang
menimpa hati Abu Lahab? Padahal yang lahir bukan anaknya, bukan pula cucunya.
Hanya ponakannya. Dan bukankah ponakan Abu Lahab tidak hanya Nabi Muhammad
saja? Sebahagia itukah Abu Lahab?
Tahu tidak, bahwa posisi budak itu
memang bisa diperjualbelikan? Tapi itu bukan perkara gampang. Sebab posisi
budak itu sangat berarti. Mereka manusia yang bisa diajak bicara, bisa disuruh
sana sini, dan harganya pun sangat mahal. Tapi semudah itukah Abu Lahab
memerdekakan Tsuwaibah hanya karena memberi kabar kelahiran ponakannya? Kalau
bukan cinta lantas ini apa?
Bahkan gara-gara ini Abu Lahab punya
keringanan siksa di neraka setiap hari Senin. Hari Senin menjadi sangat
berharga bagi Abu Lahab ketika di neraka. Sebab dia bisa merasakan betapa
dahsyatnya pengaruh mencintai Nabi secara tulus.
Lebih dari itu semua, ketika Nabi sudah dikaruniai
anak, malah besanan dengan Nabi, dengan meminang dua putri Nabi, tidak
tanggung- tanggung. Sayyidah Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dengan Utbah dan
Utaibah. Bagaimana kita terjemahkan orang yang sangat bahagia ketika lahirnya,
sampai akhirnya menjalin hubungan keluarga, bahkan untuk kedua anaknya.
Walid bin Mughirah
Pembesar kafir Quraisy. Dia yang pernah
diutus oleh kaum elit Quraisy untuk menemui Nabi secara langsung. Isu tersebar
bahwa Nabi penyihir, dukun, gila atau apalah itu. Tapi ketika Walid ini datang
menemui Nabi, mendengar hikmah dan pembacaan Al-Quran dari lisan Nabi langsung,
dia pulang kembali ke Quraisy dengan wajah yang berbeda sama sekali dengan
wajah ketika dia berangkat.
Lantas dia bilang kepada pembesar Quraisy
memuji-muji Al-Quran yang duturunkan kepada Nabi Muhammad:
والله
إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله
"Demi Allah! Apa yang dia
(Muhammad) ucapkan (Al-Quran) itu manis. Memiliki thalawah (kenikmatan, kebaikan,
dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya
begitu subur"
Terus yang selama ini dia sendiri dan
rekan-rekannya sesama Quraisy nyatakan bagaimana? bahwa Nabi itu bla-bla-bla
itu apa? Kenapa ketika berhadapan langsung dan mendengar langsung dia tidak
mampu menahan kejujuran hatinya bahkan kepada rekannya sendiri? Dia memuji-muji
Al-Quran yang dibacakan oleh Nabi yang selama ini ia kesankan negatif?
Teringat sebuah syair:
وشمائل
شهد العدو بفضلها * والفضل ما شهدت به الأعداء
"Kepribadian mulia yang
disaksikan bahkan oleh musuh- musuhnya. Sungguh kemuliaan itu benar adanya
kalau sampai diakui oleh orang yang memusuhinya"
Abdullah bin Uraiqith
Dia orang musyrik. Orang yang disewa
oleh Nabi untuk menjadi penunjuk jalan hijrah Nabi menuju Madinah. Nabi
menggunakan jasa Abdullah bin Uraiqith ini untuk menunjukkan jalan tikus yang
tidak dikenal banyak orang agar tidak terdeteksi oleh Quraisy yang sedang
mengincarnya.
Logika apa yang enggan membenarkan bahwa
Abdullah ini menaruh cinta pada Nabi?
Dia berani menanggung resiko nyawanya
sendiri hanya untuk mengantar orang yang tidak dia imani, sepanjang jarak
kurang lebih 100 km dari Makkah ke Madinah. Seberapakah ongkos sewa yang dibayar
oleh Nabi sehingga dia berani menanggung resiko itu? Seberapa besarkah nominal
ongkosnya dibanding sayembara Quraisy yang menjanjikan 100 unta kepada siapapun
yang menunjukkan posisi Nabi?
Kalau kita bayangkan harga standar unta
saat ini misal 50 juta, lalu berapa miliar kalau sampai 100 unta? Tentu Nabi
tidak mungkin membayar Abdullah ini dengan biaya sebesar itu. Dari mana? wong
melepas lahan di Madinah untuk pembangunan Masjid saja menggunakan harta Abu
Bakar?
Jawabannya adalah tidak ada lain kecuali
karena ada cinta yang tersembunyi di balik hati Abdullah bin Uraiqith sekalpun
cinta itu belum menjelma sebagai keimanan.
Suraqah bin Ju'syum
Musyrik Quraisy yang berusaha mengejar
Nabi ketika perjalanan hijrah. Dia ambisi mendapatkan 100 unta itu sehingga dia
mengejar Nabi dan berhasil menemukan jejak beliau. Hanya saja Nabi memang
dijaga oleh Allah, sehingga kuda hebat yang dia naiki tersungkur beberapa kali
setelah berusaha bangun berulang-ulang.
Akhirnya Suraqah memanggil Nabi dari
jauh, "Tunggu aku... aku janji tidak akan membahayakan kalian, aku
hanya ingin berbicara dengan kalian" Nabi berkata, "Apa yang
kau mau?" Suraqah menjawab, "Aku hanya ingin kau tulis
kesepakatan antara kita berdua" kemudian Nabi memerintahkan Abu Bakar
untuk menulis bahwa kelak Suraqah akan diberi baju kebesaran Raja Kisra Persia.
Suraqah pun memegang kertas itu dengan penuh percaya.
Pada pertemuan singkat ini jelas sekali
bahwa Suraqah menaruh cinta pada Nabi. Dia mau mempercayai janji orang yang
sedang lari dari kejaran kaumnya sendiri, dengan janji yang begitu besar yaitu
akan memberikan baju kebesar seorang raja, bukankah begitu? Tapi Suraqah begitu
yakin akan janji Nabi itu. Dan itu terbukti beberapa tahun kemudian setelah
khilafah Umar.
Anehnya lagi, ia pulang bermanuver kepada
Quraisy dengan memberitakan kepada mereka dengan menunjukkan arah hijrah ke
jalan yang tidak searah dengan Nabi sehingga konsentrasi Quraisy menjadi pecah.
Padahal dia bisa mendapatkan 100 unta kalau mau jujur menceritakan posisi Nabi,
kenapa dia memilih mempercayai Nabi yang menjanjikan peristiwa besar mengenakan
pakaian kebesaran Raja Kisra di Persia? Ya apalagi kalau bukan cinta.
Umar bin Khtattab
Kisahnya ketika masuk Islam. Dia yang
awalnya datang pada Nabi dengan membawa pedang bermaksud membunuhnya, namun
setelah mendengar bacaan Al-Quran surat Thaha yang bahkan dibacakan oleh orang
lain, beliau berbalik ingin menjumpai Nabi dengan penuh cinta dan rindu.
Akhirnya Sayyidina Umar masuk Islam. Ini terjadi saat Sayyidina Umar mencoba
membuka hati dan pikiran, membuang semua ego dan keangkuhannya.
Addas
Budak dari Syaibah dan Utbah, kedua
putra Rabi'ah, pembesar Quraisy. Ketika perjalanan pulang setelah Nabi menerima
perlakuan tidak manusiawi dari penduduk Thaif, Nabi merehatkan diri sejenak,
kebetulan berdekatan dengan kebun kepunyaan Utbah dan Syaibah. Terlihatlah oleh
Utbah dan Syaibah. Merasa iba dan kasian, akhirnya Addas diperintahkan untuk
mengantar setangkai kurma.
Saat hendak memakannya, Nabi membaca
basmalah. Addas kaget, sebab bacaan tersebut tidak mungkin dibaca oleh siapapun
kalau bukan seorang Nabi. Setelah Addas tahu kalau Nabi Muhammad adalah seorang
utusan sebagaimana Nabi Yunus bin Matta yang kebetulan juga dari daerahnya,
Nainawa, Nabi segera didekap oleh Addas dan diciumi dari ubun-ubun sampai
kakinya. Dan akhirnya kecintaan ini membuat dia iman.
Memang budak di zaman Nabi lebih cepat
masuk Islam. Tidak seperti majikannya. Sebab islam membawa seseorang memiliki
sifat rendah hati, sifat ini begitu sulit bagi orang yang pongah dan angkuh.
Berbeda dengan Addas. Oleh sebab itu pengikut para Nabi dari dulu memang
kebanyakan Mustadh'afin (orang-orang lemah).
Ummu Ma’bad
Dia punya kemah yang biasa dihampiri
oleh kafilah dari berbagai daerah sebab posisinya cukup strategis di jalan jurusan
Makkah menuju Syam. Termasuk ketika sampai di kemah Ummu Ma'bad ini, Nabi
Muhammad dan rombongan hijrah berhenti sejenak untuk rehat. Namun naif sekali
sebab di sana tidak ada yang bisa disuguhkan kepada tamu sekalipun hanya
seteguk susu. Sebab kambing yang ada tidak mengeluarkan susu.
Nabi tanya kepada Ummu Ma'bad, "Apakah
kambing ini ada susunya?" Ummu Ma'bad menjawab, "Kambing ini
tidak mengeluarkan susu" Lalu Nabi minta izin untuk memerahnya.
Setelah diusap oleh telapak mulia Nabi, kambing itu memancarkan susu banyak dan
cukup diminum oleh semua rombongan, juga oleh tuan rumah sendiri. Bahkan ada
sisanya.
Nabi tidak lama singgah di sini.
Langsung melanjutkan perjalanan. Tak lama, suaminya Ummu Ma'bad yang kebetulan
lagi ke luar rumah datang. Kaget karena tiba-tiba melihat susu di bejana.
Setelah ditanya, Ummu Ma'bad menjelaskan bahwa tadi ada orang penuh berkah (rojul
mubarak) singgah di sini, lalu menceritakan kronologisnya.
Abu Ma'bad sudah curiga bahwa ini adalah
sosok Nabi dari Quraisy yang selama ini jadi perbincangan. Abu Ma'bad minta
jelaskan ciri fisik Nabi, lalu dijelaskanlah oleh Ummu Ma'bad dengan penjalasan
yang sangat indah dan sampai saat ini riwayat ini menjadi riwayat syamail (kepribadian
Nabi) dalam penjelasan sifat fisik Nabi.
Bayangkan, Ummu Ma'bad yang hanya
sejenak melihat Nabi langsung jatuh cinta dan mampu menjelaskan fisik Nabi
secara indah. Begitu juga Abu Ma'bad, jatuh cinta sebelum melihat Nabi secara
langsung, hanya karena mendengar cerita istrinya.
Sayyidina Hamzah
Islamnya Sayyidina Hamzah, paman Nabi,
juga sebab cinta. Ceritanya, ketika Sayyidina Hamzah sedang berburu -karena
beliau memang punya hobi berburu. Ketika pulang, Sayyidina Hamzah dikabari oleh
budak wanita dari Abdullah bin Jud'an kalau keponakannya yang bernama Muhammad
di-usilin oleh Abu Jahal. Dan Nabi tidak meladini sedikitpun.
Mendengar kabar itu, Hamzah langsung
mendatangi Abu Jahal membawa murka. Setelah dia datangi ternyata Abu Jahal sedang
duduk bersama rekan-rekannya. Saat Abu Jahal bangun langsung dihantam oleh
Hamzah, pemuda yang memang terkenal pemberani di kalangan Quraisy.
Anehnya, kalimat yang keluar dari lisan
Hamzah kepada Abu Jahal adalah "berani-beraninya kamu mencaci Muhammad
padahal aku ikut agama Muhammad dan aku mengatakan apa yang dia katakan? Ayo
lawan aku kalau kamu berani!!"
Kalimat yang spontan dan jujur itu lah
yang membuat Hamzah masuk Islam. Cinta itu telah lama terpendam. Akan tetapi
momentum ini yang membuat cinta itu menjelma menjadi keimanan pada Nabi
Muhammad. Hasilnya Hamzah resmi memeluk agama Islam.
Kali ini Nabi tidak lagi persis seperti
dulu, sosok keponakan sekaligus saudara susuan. Tetapi Nabi Muhammad adalah
sosok Nabi yang segala perintahnya menjadi wajib ditaati.
Wallahu a’lam
Rabu, 28 Februari 2024 M – 18 Sya’ban
1445 H
Referensi:
Cerita instagram Kiai Nurizzain Tibyan
dari al-Ustadz al-Duktur al-Syekh Ali Jum’ah, Haakamuu al-Hub, Masiirah
al-Hubb fi Hayaati Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam (Mesir: Nahdhah
al-Mishr).

إرسال تعليق