Beberapa bulan terakhir tidak lagi menulis, berat? Pasti, tidak ada keajegan yang ringan. Tulisan kali ini anggap saja sebagai penutup di tahun 2024. Tulisan yang lahir dari salah satu pertanyaan random generasi alpha keluaran pertama.
"Pak?! Tanya?"
"Ya?"
"Mau tanya, Allah sedang apa
sekarang?"
"Hah?!" Mata sedikit
terbelalak, mata menatap penanya, otak berpikir dan diam sejenak.
Semua menunggu jawaban.
"Allah sedang apa sekarang?"
Alfaqir tanya balik meyakinkan dia bahwa ada jawaban
"Iya"
"Allah beserta para malaikatnya
sekarang sedang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa aalihi
wa shahbihi wasallam"
Wajahnya agak menyeritkan dahi
"Kamu pingin tahu dalilnya?"
"Iya"
"Dalam Al-Quran jelas, innallaha
wa malaaikatahu yushalluuna 'alan-nabiy, yaa ayyuhalladzina aamanuu shallu
'alaihi wasallimu tasliima. Perlu dijelaskan?"
"Iyaa," sahut mereka
Mari kita bahas:
اِنَّ اللّٰهَ
وَمَلٰۤىِٕكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Innallāha saktemene Gusti Allah wa malā'ikatahū lan
pira-pira malaikate Allah, iku yuṣallūna maca salawat sapa
Allah lan malaikat, 'alan-nabiyyi ing atasae Kanjeng Nabi
Muhammad, yā ayyuhal-lażīna āmanū he wong-wong kang pada
iman kabeh, ṣallū maca o salawat sapa sira kabeh, 'alaihi
ing atase Kanjeng Nabi Muhammad, wa sallimū lan uluk o salam
sapa sira kabeh marang Kanjeng Nabi Muhammad, taslīmān kelawan
uluk salam temenan
Kita lihat, Al-Quran menggunakan fi'il
mudhari' pada lafaz yuṣallūna untuk dinisbatkan pada
"pekerjaan" Allah dan para malaikat-Nya. Sedangkan dalam Bahasa Arab,
fi'il mudhari adalah kata kerja untuk pekerjaan yang sedang dilakukan
atau yang akan datang, menunjukkan kelanjutan, pengulangan dan kesinambungan
suatu tindakan atau peristiwa (tadullu ala al-istimrari al-amri wa takrarihi
wa daymumatihi). Sehingga jika kita sesuaikan dengan bahasa yang digunakan,
maka memiliki arti kurang lebih: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
sedang bersalawat dan akan selalu bersalawat untuk Nabi Muhammad."
“Jadi, jawaban dari pertanyaanmu
‘Allah sedang apa sekarang?’ berdasarkan ayat itu sedang bersalawat pada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa shahbihi wasallam. Kalau kalian
lihat terjemah Kemenag (Kementerian Agama, pen) yaa biasa aja, tapi
kalau kita lihat sisi bahasanya baru tahu. Maka itu, kita gabisa memahami al-Quran
pakai modal terjemah, biar kelihatan mukjizatnya harus ada ilmu lain buat
mengungkap. Jangan berhenti belajar mumpung kalian masih muda”
***
Jika kita coba tilik lagi, maka terlihat susunan ayat
di atas menunjukkan keistimewaan derajat Nabi Muhammad.
Bila kita menengok sekilas arti dan
tafsir Q.S. Al-Ahzab: 56, akan ditemukan hubungan dengan
ayat-ayat sebelumnya mengenai etika komunikasi dan interaksi dengan Nabi Muhammad
serta para istri beliau demi menjaga kehormatan dan keagungan pribadi Rasulullah.
Kehormatan dan agungnya beliau di
susul dengan ayat Innallāha wa malā'ikatahū yuṣallūna ‘alan-nabiyyi. Lafaz Inna merupakan harf al-taukid (huruf penegas), memberikan arti ini adalah berita penting yang patut diberi
perhatian lebih. Inna disusul dengan lafaz Allāh
(nama-Nya sendiri), menunjukkan bahwa salawat atas Nabi Muhammad adalah hal mu’akkadah
yang telah Allah awali dengan Dirinya sendiri.
Tidak berhenti disitu, semakin
menunjukkan penegasan atas kemuliaan Nabi Muhammad yang luar biasa dengan
bentuk jumlah ismiyyah bermakna kesinambungan salawat dari Allah dan
para malaikat untuk Nabi Muhammad (dalalah ‘ala al-dawami wa al-istimrari).
Kemudian diikuti dengan jumlah fi’liyyah (Innallāha wa malā'ikatahū
yuṣallūna), sehingga makna yang dapat dipahami adalah keberlanjutan salawat
Allah dan para malaikat-Nya pada Nabi Muhammad dan akan terus diulang dari
waktu ke waktu (mufaaduha istimrara al-shalati wa tajaddudaha waqtan fa
waqtan).
Tidak lupa pula, Al-Quran menggunakan wa
malā'ikatahū. Pada lafaz ini menggunakan kata ganti kepemilikan (hū)
artinya tidak berdiri sendiri ‘para malaikat,’ melainkan ‘para malaikatnya
Allah.’ Mengapa demikian? Karena segala sesuatu yang disandarkan pada ‘Allah’
akan menjadi mulia, lafaz ini menunjukkan isyarat kedudukan mereka yang mulia, bermakna
mutlak seluruh malaikat Allah (idhafatu al-malaikati li al-istighraq).
Keterangan tentang kemuliaan para
malaikat juga menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad, mengapa demikian? Karena
tidaklah dari sesuatu yang mulia (‘para malaikat’ yang disandarkan pada ‘Allah’)
melainkan akan muncul sesuatu yang mulia pula (Nabi Muhammad), meminjam istilah
Imam al-Alusi dalam tafsirnya, ‘inna al-adzima laa yashduru minhu illa
adzimun.’
Dilanjutkan yuṣallūna
bukan ṣallaw, artinya selalu bersalawat (yufidu
‘ala al-dawaam).
Berikutnya ‘alan-nabiyyi menggunakan
al ta’rif (al-nabiyyi) dimaksudkan hanya Nabi Muhammad saja. Panggilan
kepada Nabi Muhammad tidak pernah tertulis eksplisit dalam Al-Quran. Panggilan
semacam ini sangat berbeda bila kita memerhatikan panggilan Allah kepada para
nabi lainnya.
Nabi Adam dalam Q.S. Al-Baqarah: 35, “Wahai
Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga”
Nabi Nuh dalam Q.S. Hud: 48, “Wahai
Nuh, turunlah dari bahteramu dengan penuh keselamatan dari Kami”
Nabi Ibrahim dalam Q.S. As-Shaffat:
104–105, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu”
Nabi Musa dalam Q.S. An-Naml: 10, “Wahai
Musa, jangan takut!”
Nabi Zakaria dalam Q.S. Maryam: 7, “Wahai
Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki
bernama Yahya”
Nabi Yahya dalam Q.S. Maryam: 12, “Wahai
Yahya, ambillah Kitab Taurat itu dengan sungguh-sungguh”
Nabi Isa dalam Q.S. Al-Maidah: 116, “Wahai
Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang ‘Jadikanlah aku
dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’”
Beda halnya dengan Nabi Muhammad berikut:
Q.S. Al-Ahzab: 1, “Wahai Nabi (Muhammad), bertakwalah kepada Allah.”
Q.S. Al-Ahzab: 45, “Wahai Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutus engkau untuk menjadi saksi, pemberi kabar gembira, dan pemberi peringatan.”
Q.S. Al-Muzammil: 1, “Wahai orang yang berkelumun (Nabi Muhammad).”
Q.S. Al-Muddassir: 1, “Wahai orang yang berselimut
(Nabi Muhammad).”
Perbedaan ini menunjukkan keistimewaan
Rasulullah dalam aspek tingginya kemuliaan, keagungan dan kedudukan beliau.
Ada ayat secara eksplisit menyebut nama “Muhammad,”
namun bukan sebuah panggilan. Tidaklah ayat yang menyebut nama beliau
kecuali akan dibarengi dengan risalah ketuhanan dan pangkat beliau sebagai
seorang nabi.
Kita cek:
Q.S. Ali-Imran: 144, “Dan tidaklah Muhammad hanya seorang rasul.”
Q.S. Al-Ahzab: 40, “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.”
Q.S. Al-Hujurat: 29, “Muhammad adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir
(yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
Langsung
saja, wa sallimū taslīmān, lafaz salam diikuti dengan
bentuk mashdar (taslīmān) menunjukkan penegasan dalam memberikan
salam atas Nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya kepatuhan terhadap syariat yang
telah diajarkan oleh beliau.
Ini adalah sedikit tulisan dari luasnya
penafsiran mufassir mengenai Q.S. Al-Ahzab: 56, belum juga lengkap satu
ayat rasanya alfaqir perlu akhiri.
Terakhir, jangan pernah berhenti
bersalawat kepada Rasulullah, karena Allah menugaskan malaikat khusus yang akan
menyampaikan salawat dan salam dari umat Islam pada beliau. Jangan sia-siakan
kesempatan untuk dikenal oleh beliau. Sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin
Mas’ud berikut:
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنَّ لِلَّهِ
مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ"
“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat
yang berkeliling di bumi, mereka bertugas menyampaikan salam untuk diriku dari
umatku” [1]
Dalam riwayat lain dikatakan:
وَعَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَا مِنْكُمْ
مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِذَا مُتُّ إِلَّا جَاءَنِي سَلَامُهُ مَعَ
جِبْرِيلَ يَقُولُ يَا مُحَمَّدُ هَذَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ يَقْرَأُ عَلَيْكَ
السَّلَامَ فَأَقُولُ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Tidaklah di antara kalian yang
mengucapkan salam kepadaku ketika aku telah meninggal, melainkan salamnya itu
akan datang kepadaku bersama Jibril seraya berkata: 'Wahai Muhammad, ini
adalah Fulan bin Fulan yang mengucapkan salam kepadamu,' maka aku menjawab,
'wa’alaihis-salam warahmatullahi wabarakatuhu, semoga keselamatan,
rahmat, dan berkah Allah tercurah kepadanya.” [2]
Wallahu a’lam
Catatan Kaki:
[1] Keterangan
ini diriwayatkan juga dalam beberapa kitab hadis, diantaranya Imam An-Nasa’i
jilid 3 hal. 43, Imam Ad-Darimi jilid 2 hal. 225, Imam Al-Hakim jilid 2 hal.
421 disepakati juga oleh Imam Adz-Dzahabi, Imam Ahmad jilid 1 hal, 387 dan 441,
Imam Ibn Hibban dalam al-Mawarid al-Zaman no. 2392 hal. 595, Al-Qadhi Ismail
dalam Fadl al-Shalah ‘ala al-Nabi no. 22 hal. 11, Imam Al-Baghawi Al-Muhaddits
dalam Syarh al-Sunah jilid 3 hal. 197, Imam Ibn Qayyim dalam Jala’ al-Afham
hal. 60 menyatakan bahwa sanad hadis ini adalah sahih.
[2] Imam
Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Quran, Q.S. Al-Ahzab: 56.
Daftar Rujukan:
Imam Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alimu
al-Tanzil. Dalam tafsir.app.
Imam Sayyid Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi, Ruh
al-Ma’aniy fi Tafsir al-Quran al-Adzim wa al-Sab’ al-Matsani. Dalam
tafsir.app.
Imam Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkami al-Quran. Dalam tafsir.app.
إرسال تعليق