Ber-azam menulis pembahasan ini, sedikit bergerak menuju realisasi di pertengahan bulan Rajab ketika salah seorang rekan bertanya langsung:
Setelah alfaqir muraja’ah, tangan
ini mulai menulis sedikit isi dari "Tabyin al-'Ajab bi Maa Warada fii
Fadhli Rajab," uraian penting terhadap riwayat-riwayat keutamaan bulan
Rajab.
Sebelum membaca lebih jauh, penting
diketahui bahwa Tabyin al-'Ajab adalah salah satu karya seorang alim
besar Mazhab Syafi'i, Imam Ibn Hajar Al-Asqalani. Beliau bernama lengkap Ahmad
bin Ali bin Muhammad ibn Hajar al-Asqalani al-Mishri al-Syafi'i. Beliau lahir
di Askelon, Palestina tahun 773 H, wafat di Mesir tahun 852 H. Alfaqir
yakin hampir seluruh umat Islam kenal dengan karya beliau, mulai dari fikih Bulughul Maram hingga Fathul
Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, kitab penjelasan Shahih Bukhari yang
diakui oleh ulama Islam dari zaman ke zaman kedetailan isinya.
Imam Ibn Hajar hidup dalam pengembaraan
ilmu hingga sejarah menyematkan di sisi nama beliau gelar Syaikhul Islam,
memiliki pemahaman mendalam mengenai al-Quran dan Sunah dilengkapi kompleksitas
bidang keilmuan, baik ushul dan furu', yang berkontribusi besar
di dunia Islam. Beliau adalah Amirul Mukminin fil-Hadits, predikat pemimpin
agung nan prestisius seorang pakar hadis yang mencerminkan kedalaman dan
kecakapan dalam seluk beluk hadis dengan segala perangkat keilmuan di dalamnya.
Beliau adalah al-Hafidz al-'Ashr,
menghafal 100.000 hadis lengkap dengan sanad disertai jarh wa ta'dil
yang komprehensif di setiap rantaian perawi yang menjadi rujukan dunia pada
zamannya. Beliau adalah Syihabuddin, bintang lentera yang memancarkan
cahaya keilmuan luar biasa dalam agama. Dalam mazhab Syafi'i beliau adalah Qadhiy
al-Qudhat, seorang hakim agung.
Sedikit tentang beliau ini perlu alfaqir
cantumkan sebagai pengingat bahwa tulisan ini bukan pendapat recehan dari orang
yang baru belajar agama beberapa bulan, kemudian berfatwa. Melainkan mengutip
seorang imam besar alim 'allamah sandaran umat Islam yang telah
menyelami agama di sepanjang hidupnya.
***
Sekadar informasi penegas, peta pembahasan
Tabyin al-'Ajab dan permasalahan dalam masyarakat dibagi menjadi dua:
hukum puasa Rajab dan hadis mengenai keutamaan di bulan Rajab, baik keutamaan
puasa atau salat tertentu di bulan Rajab.
Hukum Puasa Rajab
Hukum puasa rajab adalah sunah. Dalil
kesunahan ini terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 36 sebagai penunjuk untuk
menjauhi segala pelanggaran dan menyibukkan diri dalam berbagai bentuk ketaatan
di bulan-bulan mulia:
"Sesungguhnya bilangan bulan di
sisi Allah adalah 12 bulan, sebagaimana ketetapan Allah di Lauh al-Mahfudz pada
waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya 4 bulan haram; mulia.
Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi diri kamu
dalam bulan yang empat itu" [1]
Berikutnya ada hadis berstatus hasan yang
diriwayatkan Imam Nasa’i dari Usamah bin Zaid -radhiyallahu ‘anhu-, “Wahai
Rasulallah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lainnya
sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Sya’ban
adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, terletak di antara Rajab dan
Ramadan. Sya’ban adalah bulan amal-amal diangkat kepada Tuhan Semesta Alam,
maka aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [2]
Hadis di atas memberikan informasi bahwa
bentuk ibadah yang dilakukan orang-orang pada Rajab serupa dengan semangat
ibadah Ramadan, “Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang,
terletak di antara Rajab dan Ramadan,” banyak manusia sibuk ibadah di bulan
Rajab begitu juga bulan Ramadan, tapi tidak demikian di bulan Sya’ban. Dengan riwayat
ini kita tahu bahwa sejak zaman Rasulullah telah dilakukan puasa Rajab, beliau memberi
semangat umat Islam untuk menyinambungkan puasa sunah semampunya di bulan
Sya’ban.
Lebih lanjut, ada hadis mengindikasikan anjuran puasa di bulan Rajab dengan status yang diselisihkan
tiga pendapat, sahih; hasan; dhaif. Perselisihan ini muncul sebab
identitas perawi bernama Mujibah al-Bahiliyah (dalam riwayat lain Mujib
al-Bahili). Namun, Tabyin al-‘Ajab menulis al-Bahiliyah termasuk sahabat
Nabi dan rijal dalam hadis tersebut tsiqah.
Al-Bahili bertemu Rasulullah dan masuk
Islam. Setahun kemudian datang menemui Rasul seraya berkata, “Wahai Rasulallah,
apakah engkau tidak mengenaliku?” Rasulullah bertanya, “siapa engkau?”
Al-Bahili menjawab, “saya adalah al-Bahili yang datang pada engkau tahun
lalu.” “Apa yang mengubahmu? Padahal dulu penampilanmu sangat baik.”
“Sejak saya berpisah dari engkau, saya tidak makan kecuali malam hari saja
(puasa, pen).” “Kenapa engkau menyiksa dirimu sendiri? Puasa
lah pada bulan sabar (Ramadan, pen) dan puasa sehari di setiap
bulan.” “Tambahkan lagi padaku wahai Rasul, aku merasa masih kuat.”
“Puasa lah dua hari.” “Tambahkan lagi padaku wahai Rasul, aku merasa
masih kuat.” “Puasa lah tiga hari.” “Tambahkan lagi wahai Rasul.”
Rasulullah menjawab, “Puasa lah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah (puasa
semampunya, pen)” [3]
Sebagai tambahan, puasa di bulan haram,
termasuk Rajab, adalah puasa yang dianjurkan setelah kewajiban Ramadan.
Demikian ini dipaparkan oleh al-Imam Syaikhul Islam Muhyiddin
Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Syafi'i (w. 676 H), masyhur dengan Imam Nawawi
Dimasyqi, dalam Majmu'-nya:
"Para ulama kami dari Syafi'iyah
berpendapat termasuk puasa yang dianjurkan adalah puasa di bulan-bulan haram, yaitu
Zulkaidah; Zulhijah; Muharam dan Rajab. Dari keempat itu yang paling utama
adalah Muharram" [4] [5]
Keutamaan Puasa dan Salat Tertentu
Bulan Rajab
Imam Ibn Hajar dengan tegas mengatakan
tidak ada riwayat sahih yang dapat dijadikan hujjah untuk pengkhususan
keutamaan bulan rajab, dalam hal puasa atau salat tertentu. Namun, telah
masyhur sesungguhnya ahlul ilmi tidak terlalu keras dalam meriwayatkan
hadis-hadis dhaif untuk fadhail a'mal (keutamaan amal sebagai
inspirasi dan motivasi semangat ibadah) selama tidak sampai derajat maudhu',
sebagaimana yang dikutip oleh al-Imam Mujtahid Muntasib Jalaluddin
Abdurrahman al-Suyuthi (w. 911 H) dari Imam Ibn Hajar.
Imam Ibn Hajar menjelaskan setidaknya
ada 2 syarat saat mengamalkan hadis dhaif. Pertama, meyakini yang
diamalkan adalah hadis dengan derajat dhaif. Kedua, tidak memopulerkan
ke khalayak luas tanpa menyebutkan rujukan dan kualitas hadis, sehingga orang
awam beramal dengan hujjah yang lemah, selain itu agar mereka tidak
menetapkan sesuatu yang tidak disyariatkan atau menyangka bahwa telah melakukan
sunah yang kuat. [6]
Lebih jelasnya syarat pengamalan hadis dhaif
dipaparkan oleh Imam Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, syarah
(penjelasan) dari Taqrib karya Imam Nawawi Dimasyqi berikut:
1. Hadis dhaif tsb tidak
sampai derajat syadid al-dhaif (terlampau lemah). Imam al-'Alla'i
mengatakan syarat pertama ini telah disepakati oleh semua ulama.
2. Hadis dhaif tsb masih
termasuk bagian dari keumuman hadis yang berstatus sahih dan hasan.
3. Saat mengamalkan hadis dhaif
tidak meyakini bahwa hadis tsb adalah hadis yang tsabit dari Rasulullah
saw.
2 syarat terakhir diatas disebutkan oleh
Syaikhul Islam Sultan al-Ulama' al-Imam Izzuddin Abd al-Aziz bin
Abdissalam dan Syaikhul Islam Imam Ibn Daqiq al-'Id. Imam Abu Dawud dan
Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat serupa, beliau memandang bahwa hadis dhaif
masih lebih kuat daripada pendapat seseorang. [7]
Dalam Tabyin al-'Ajab, Imam Ibn Hajar menyebutkan banyak
riwayat tentang keutamaan puasa dan salat pada bulan Rajab, disusul kesimpulan kualitasnya
dengan beberapa pertimbangan. Namun, jika jelas kepalsuannya, maka beliau tidak
lagi memberikan tambahan thuruq (jalan periwayatan) lainnya.
Diantara hadis keutamaan puasa Rajab
yang berstatus dhaif, “Barang siapa berpuasa tiga hari (Kamis, Jumat,
Sabtu) di setiap bulan haram, maka ditulis untuknya pahala ibadah 700 tahun.
[8]” “Sesungguhnya di Surga ada sebuah sungai yang disebut Rajab, airnya
lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barang siapa yang berpuasa
satu hari di bulan Rajab, Allah akan memberinya minuman dari sungai tersebut.
[9]” “Nabi ketika memasuki bulan Rajab berdoa, ’Ya Allah, berkahilah kami di
bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikanlah kami ke bulan Ramadan’ [10] [11]” dan
masih banyak riwayat lainnya yang bisa dipertimbangkan sebagai fadhail a’mal.
Adapun riwayat bathil; maudhu’
mengenai ibadah khusus di bulan Rajab diantaranya mengenai puasa Rajab selama
30 hari berturut-turut dengan ganjaran fantastis di setiap harinya, lalu “keutamaan
Rajab atas bulan lainnya seperti keutamaan al-Quran atas zikir lainnya, keutamaan
Sya’ban atas bulan lainnya layaknya keutamaan Muhammad atas para nabi,
keutamaan Ramadan atas bulan lainnya diumpamakan keutamaan Allah atas para
hamba-Nya. [12]” “Siapa puasa sehari di bulan Rajab dan salat 4 rakaat
dengan membaca ayat kursi di rakaat pertama 100 kali dan al-Ikhlas 100 kali di
rakaat kedua, maka tidak akan meninggal sampai dia melihat tempat duduknya di
surga. [13]” “Siapa salat di malam 27 Rajab sebanyak 12 rakaat, setelah
salat membaca al-Fatihah 7 kali sembari duduk dilanjutkan ‘subhanallah,
wa-lhamdulillah, wa-laailahaillallah, wa-llahu akbar, wa laa hawla wa laa
quwwata illa billahil-‘aliyyil-‘adzim’ 4 kali, besoknya berpuasa, maka Allah
akan menghapus dosanya selama 60 tahun. [14]” serta lagi banyak lainnya.
Kiranya alfaqir cukupkan sampai
disini, sebagai penguat silakan cek di catatan kaki, untuk lengkapnya silakan
cek di kitab terkait. Akhir, kesimpulan dari Tabyin al-'Ajab karya Syaikhul
Islam Amirul Mukminin fil-Hadits al-Imam Ibn Hajar al-Asqalani sebagai berikut:
1. Hukum puasa Rajab adalah sunah dengan keumuman dalil yang telah disebutkan tentang memuliakan Bulan Haram (Rajab, Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam).
2. Klasifikasi derajat hadis-hadis
mengenai kekhususan/keutamaan ibadah tertentu (salat, puasa) di bulan Rajab
antara 2, dhaif atau maudhu'.
Wallahu a’lam
Ahad, 19 Januari 2025 M - 19 Rajab 1446
H
تراب نعلي الحبيب ﷺ
Catatan Kaki:
1.
اِنَّ عِدَّةَ
الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ
الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ (سورة التوبة: 36)
2.
ما رواه النسائي
من حديث أسامة بن زيد -رضي الله عنهما- قال: قلت يا رسول الله لم أرك تصوم من الشهور
ما تصوم في شعبان. قال: ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ... الحديث
النسائي في كتاب الصيام. باب صوم النبي الله بأبي هو وأمي. ولفظه، عن أسامة بن زيد قال قلت يا رسول الله الله: لم أرك تصوم شهراً من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان. وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
3.
حدثنا موسى بن
إسماعيل، حدثنا حماد -يعني ابن سلمة- عن سعيد عن مجيبة الباهلية، عن الجريري، عن
أبي السليل -يعني ضريب بن نفير أبيها- أو عمها أنه أتى رسول
الله الله فأسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة، وقد تغير حاله وهيئته، فقال: يا رسول
الله، أما تعرفني؟ قال ومن أنت؟ قال: أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول. قال:
فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة؟ قال: ما أكلت طعاماً منذ فارقتك إلا بليل. فقال
رسول الله الله: لم عذبت نفسك؟ ثم قال: صم شهر الصبر، ويوماً من كل شهر. قال:
زدني، فإن بي قوة. قال: صم يومين. قال: زدني، فإن بي قوة. قال: صم ثلاثة أيام. قال: زدني. قال: صم من الحرم واترك. صم من الحرم واترك. فقال بأصابعه
الثلاثة، فضمها ثم أرسلها
4.
قَالَ
أَصْحَابُنَا وَمِنْ الصَّوْمِ الْمُسْتَحَبِّ صَوْمُ الاشهر الحرم وهي ذوالقعدة
وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ قَالَ
الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ أَفْضَلُهَا رَجَبٌ وَهَذَا غَلَطٌ لِحَدِيثِ أَبِي
هُرَيْرَةَ الَّذِي سَنَذْكُرُهُ إنْ شَاءَ الله تعالى "افضل الصوم بعد مضان
شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ" وَمِنْ الْمَسْنُونِ صَوْمُ شَعْبَانَ
وَمِنْهُ صَوْمُ الْأَيَّامِ التِّسْعَةِ مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ ... (ص386 -
كتاب المجموع شرح المهذب ط المنيرية - مسائل تتعلق بكتاب الصيام - المكتبة الشاملة)
5.
قُلْتُ:
وَمِنَ الْمَسْنُونِ، صَوْمُ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، غَيْرَ الْعِيدِ، وَالصَّوْمُ
مِنْ آخِرِ كُلِّ شَهْرٍ. وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ،
الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ، ذُو الْقِعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ،
وَرَجَبٌ. وَأَفْضَلُهَا: الْمُحَرَّمُ، وَيْلِي الْمُحَرَّمَ فِي الْفَضِيلَةِ،
شَعْبَانُ (ص388 - كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين - فصل - المكتبة الشاملة)
6.
...ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيراد
الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعف، ما لم تكن موضوعة. وينبغي مع ذلك اشتراط أن
يعتقد العامل كون ذلك الحديث ضعيفاً، وأن لا يشهر ذلك، لئلا يعمل المرء بحديث ضعيف،
فيشرع ما ليس بشرع، أو يراه بعض الجهال فيظن أنه سنة صحيحة. (تبيين العجب، شيخ
الإسلام ابن حجر الأسقلاني)
7.
أحدها: أن يكون
الضعف غير شديد، فيخرج من انفرد من الكذابين والمتهمين
بالكذب، ومن فَحُش غلطه نقل العلائي الاتفاق عليه. الثاني: أن يندرج تحت أصل معمول
به.. الثالث: أن لا يعتقد عند العمل به ثبوته، بل يعتقد الاحتياط. وقال: هذان ذكرهما
ابن عبد السلام وابن دقيق العيد.
وقيل: «لا يجوز
العمل به مطلقًا» قاله أبو بكر بن العربي.
وقيل: «يُعمل به
مطلقًا» وتقدم عزو ذلك إلى أبي داود وأحمد، وأنهما يريان ذلك أقوى من رأي الرجال.
وعبارة الزركشي: والضعيف مردود، ما لم يقتض ترغيبا أو ترهيبا، أو تتعدد طرقه، ولم يكن المتابع منحطا
عنه.
وقيل: «لا يقبل
مطلقا».
وقيل: «يُقبل إن
شهد له أصل، واندرج تحت عموم» انتهى.
ويُعمل بالضعيف
أيضًا في الأحكام إذا كان فيه احتياط.
8.
حديث أنس عن
النبي من صام من كل شهر حرام: الخميس والجمعة والسبت - كتبت له عبادة سبعمائة سنة
( فرويناه في فوائد تمام الرازي. وفي سنده ضعفاء ومجاهيل (تبيين العجب، شيخ الإسلام
ابن حجر الأسقلاني).
9.
ما أخبرنا أبو
الحسن بن عقيل: أنبأنا أبو الفرج بن قدامة، أنبأنا أحمد بن عبد الدائم، أنبأنا
يحيى بن محمود، أنبأنا جدي لأمي، الحافظ أبو القاسم التيمي، في كتاب الترغيب
والترهيب له، أخبرنا سليمان بن إبراهيم وغيره، قال: حدثنا أبو سعيد النقاش،
أخبرنا أبو أحمد العسال، حدثنا جعفر بن أحمد بن فارس، حدثنا محمد بن إسماعيل
البخاري، حدثنا محمد بن المغيرة بن بسام حدثنا منصور يعني ابن زيد، حدثنا موسى بن
عبدالله بن يزيد الأنصاري، سمعت أنس بن مالك، يقول: إن في الجنة
نهراً يقال له رجب، ماؤه أشد بياضاً من اللبن، وأحلى من العسل: من صام يوماً من
رجب سقاه الله من ذلك النهر (تبيين العجب، شيخ الإسلام ابن حجر الأسقلاني).
10. قال
أبو بكر البزار في مسنده: حدثنا أحمد بن مالك القشيري، أنبأنا زائدة بن أبي الرقاد،
عن زياد النميري، عن أنس، أن النبي الله كان إذا دخل رجب، قال: اللهم بارك لنا في
رجب وشعبان، وبلغنا رمضان (تبيين العجب، شيخ الإسلام ابن حجر الأسقلاني).
11.
(أخبرناه) أبو الحسن بن أبي المجد، أخبرنا
سليمان بن حمزة، وعيسى بن معالي. إجازة. قالا أنبأنا جعفر بن علي الهمداني، أنبأنا
الحافظ أبو طاهر السلفي، حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن عبد الواحد، حدثنا أبو
القاسم بن بشران، حدثنا أبو بك: محمد بن إسماعيل الوراق، حدثنا عبد الله بن محمد
بن العزيز، هو البغوي، حدثنا عبد الله بن عمر القواريري، حدثنا زائدة بن أبي
الرقاد، عن زياد النميري، عن أنس ـ رضي الله عنه قال. كان رسول الله
الله إذا دخل رجب، قال: اللهم بارك لنا في رجب وشعبان، وبلغنا رمضان. ورواه
الطبراني في الأوسط، من حديث زائدة . وقال: لا يروى
عن النبي الله إلا بهذا الإسناد. وتفرد به زائدة، ورواه البيهقي في فضائل الأوقاف
من القواريري، عن زائدة. وقال تفرد به زائدة، عن زياد، وهو حديث ليس بالقوي، ورواه
يوسف القاضي في كتاب الصيام له، عن محمد بن أبي بكر المقدمي، عن زائدة به (تبيين العجب،
شيخ الإسلام ابن حجر الأسقلاني).
12. ومنها: ما قرأت بخط سلفي الحافظ، قال: أنبأنا الشيخ أبو البركات هبة الله ابن المبارك
السقطي، أخبرنا أبو جعفر بن المسلمة، أنبأنا محمد بن عبدالله ابن أخي ميمي،
أنبأنا عبد الله بن محمد البغوي، أنبأنا منصور بن أبي مزاحم، ومحمد ابن حبيب
الجارودي، قال: حدثنا مالك، عن الزهري، عن أنس، قال: قال رسول الله، فضل رجب
على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار وفضل شعبان على سائر الشهور، كفضل
محمد على سائر الأنبياء. وفضل رمضان على سائر الشهور، كفضل الله على عباده. ورجال
هذا الإسناد ثقة، إلا السقطي فهو الآفة، وكان مشهوراً بوضع الحديث، وتركيب
الأسانيد، ولم يحدث واحد من رجال هذا الإسناد بهذا الحديث ق. (تبيين العجب، شيخ الإسلام
ابن حجر الأسقلاني).
13. قال رسول الله الله: "من صام يوماً من رجب، وصلى فيه أربع ركعات، يقرأ في أول ركعة مائة مرة آية الكرسي، وفي الركعة الثانية قل هو الله أحد مائة مرة، لم يمت حتى يرى مقعده من الجنة، أو يرى له. قال المصنف: هذا حديث موضوع على رسول الله الله. وأكثر رواته مجاهيل. عثمان متروك عند المحدثين.

إرسال تعليق