Impresi Bersua Syaikh as-Syuhawi

Dok. Syaikh Abdul Aziz al-Syuhawi | Majlis Masyayikh AU

Sabtu, 25 Rajab 1446 H, mengikuti Dars Ilmiyyah PP. Amanatul Ummah Surabaya diampu oleh masyayikh Universitas Al-Azhar, diantaranya Sayyid al-Syaikh Yusri Jabar al-Hasani; Syaikh Jamal Faruq al-Daqqoq; Syarif al-Syaikh Abdul Aziz al-Syuhawi al-Husaini; Syaikh Muhammad Abdusshamad Muhanna. Hembusan sejuknya wajah dan ilmu mereka sedari 5 hari yang lalu adalah salah satu alasan mengunggah tulisan ini.

 

Awal mula mengikuti ini karena ingin bersua dan mengambil ilmu pada salah seorang ulama senior Dar al-Ifta al-Mishriyyah, seorang Mursyid Tarekat Syuhawiyah Burhamiyah, bergelar Syaikh al-Syafi'iyah, seorang Guru Besar Mazhab Syafi'i Mesir, al-'Alim al-'Allamah al-Syaikh al-Syarif Abdul Aziz al-Syuhawi al-Husaini.

 

Dalam transmisi keilmuan, beliau ber-talaqqi sanad Syafi'iyyah dengan al-Syarif al-Syaikh Abdul Hamid al-Syuhawi. Bersambung ke al-Syarif al-Syaikh Abdul Majid al-Syuhawi. Bersambung ke al-'Allamah al-Syaikh Umar bin Ja'far al-Syabrawi. Bersambung ke al-Imam Syaikh al-Azhar Ibrahim al-Bajuri al-Syafi'i (w. 1276 H), pemilik Hasyiyah al-Bajuri. Bersambung ke al-Imam Syaikh al-Azhar Abdullah al-Syarqawi al-Syafi'i (w. 1227 H), penulis Hasyiyah al-Syarqawi. Rantai ini bergerak terus menuju Syaikhul Islam Ibn Hajar al-Asqalani, berlanjut hingga Syaikhul Islam Yahya bin Syaraf al-Nawawi, bermuara pada Imam Ismail Muzanni murid Nashir al-Sunnah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i.

 

Dalam nasab, beliau adalah Sadah Syarif al-Husaini, Syarif Abdul Aziz bin Ahmad bin Rizq bin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim bin Dasuqi bin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad al-Syuhawi bin Syuhawi bin Abdul Majid bin Muhammad Syihabuddin bin Muhammad bin Muhammad Abu al-Anwar bin Muhammad Syamsudin bin Musa al-Dasuqi bin Abdul Aziz bin Ali Quraisy bin Muhammad Abi al-Najjar bin Zainal Abidin bin Abdul Khaliq bin Muhammad bin Abdullah al-Katim bin Abdul Khaliq bin Musa al-Qa'im bin Ja'far al-Zaki bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad bin Ali Ridha bin Musa al-Kadzim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Imam Ali dan Sayyidah Fatimah bint Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. [1]

 

Terkumpul kemuliaan ilmu dan nasab dalam diri beliau, beruntunglah para azhari. Pasalnya, dari beberapa referensi menyebut adat klan Syuhawi menjauh dari popularitas, tidak menonjolkan diri dan menyepi. Alhamdulillah beliau ditakdirkan untuk dikenal khalayak dan mengajar di Masjid al-Azhar.

 

Saat itu dars Hikam oleh al-Ustadz al-Duktur al-Syaikh Muhanna masih berlangsung, sedikit mengakhirkan waktu masuk dars fikih guna mencapai bagian akhir kitab tersebut.

 

Tanpa disangka, Syekh Abdul Aziz Al-Syuhawi datang dan langsung duduk di belakang -kurang lebih alfaqir berjarak 1 meter dengan beliau. Beliau beri isyarat tangan "ssttt" agar tidak mengganggu Syekh Muhanna dan thullab barisan depan.

 

Sedikit keributan suara kurang lebih 1 menit membuat Syaikh Muhanna menghentikan pembacaan Hikam. Salah seorang syaikh menjemput beliau ke barisan belakang. Syaikh Muhanna berdiri menyambut dan thullab menoleh ke belakang. Beliau menyuruh melanjutkan bacaan dan ingin tetap duduk di belakang. Lumayan sulit membujuk beliau agar maju ke depan, di kursi pengajar. Syaikh Muhanna berkata, "Laa yajuz yaa Maulana... Tafadhol ya Sidi (jangan duduk dibelakang seperti itu, wahai panutan kami. Silakan kesini tuanku)"

 

Sebagaimana kami dulu diajarkan untuk beradab dalam belajar, jika datang tatkala majelis ilmu telah dimulai maka jangan memaksakan diri untuk bergerak ke depan karena akan mengganggu yang lain, kami melihat pengamalan itu dalam diri seorang alim yang disegani jajaran pembesar Al-Azhar.

 

Dari sini terlihat, bukan hanya ilmu dalam lembaran kertas yang berjilid, tapi mengambil ilmu haal (laku kehidupan) adalah tujuan berkumpul dan berinteraksi langsung dengan guru; pembesar zaman; alim; salihin yang tidak akan bisa diberikan oleh teknologi canggih manapun.

 

Ini pertama kali bersua, satu majelis dengan Syaikh al-Syuhawi, disuguhkan kerendahan hati dan wajah khusyuk. Karena wajah beliau air mata menggenang. Wajah yang tidak ada tanda "dunia," wajah seorang ahli ilmu dan amal.

 

Tulisan ini bukan untuk memuji seseorang yang baru ditemui secara berlebihan. Namun, untuk mengabadikan salah satu momen alfaqir mengingat ucapan generasi saleh terdahulu, Sayyid Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih:

 

فهو لهم سيما على الجبـاهِ

إذا رؤوا يُشهـر ذكـر اللهِ

من حيث ما يعرف ذو الجلالِ

يعرف معناهم بــــلا اشتبـــاهِ

عند لقاهُم تنزل السكينـــة

لهم في التقوى أجلّ زينة

ولا بحسن الوعظ والأقوال

لا بارتفاع الجاه والخوارق

وكل ذي قلب منير لامع

فإنهم كل منيبٌ خاشــــع

 

Memandang mereka mengingatkan pada Allah dan itulah tanda kemuliaan di wajah mereka

Kemuliaan mereka dikenal tanpa ada keraguan lagi sebagaimana dikenalnya Sang Pemilik Keagungan

Bagi mereka ketakwaan adalah hiasan terindah, rasa tenang dan kedamaian turun menyertai saat berjumpa mereka

Bukan karena kedudukan tinggi atau keajaiban yang muncul dalam diri mereka, pun bukan karena indahnya nasihat dan susunan kata memukau

Mereka adalah orang yang selalu kembali pada-Nya dengan khusyuk, dibarengi hati yang bersinar dengan cahaya iman

 

Benar saja, setelah mengambil ilmu dengan melihat keadaan beliau, alfaqir sedikit banyak menangkap fawaid dalam penjelasan beliau. Salah satunya ketika sampai bab azan, ditanyakan pada beliau, "Kaifa bi zidayati as-siyadah fil-adzan? (Bagaimana dengan penambahan kata ‘Sayyidina’ ketika azan?)" Beliau menjawab, "Aywa, yajuz bi ziyadati as-siyadah fil-adzan, kamaa fii Hasyiyah as-Syarqawi (Ya, boleh menambahkan kata 'Sayyidina' ketika azan, hal ini seperti dalam penjelasan Hasyiyah al-Syarqawi)" [2] Berlanjut dengan pembahasan hadis terkait dari sisi bahasa.

 

Metode mengajar beliau yang alfaqir lihat dari pertemuan kemarin diantaranya, murid membacakan kitab dan syaikh menyimak; murid bertanya dan syaikh menjawab; diskusi; mengulang dan menghafal. Beliau dalam memberikan penjelasan dibubuhi hafalan-hafalan. Tidak sekali beliau mengajak azhari yang hadir mengulang hafalan guna memahamkan suatu masalah. Demikian ini juga terlihat awal dars dimulai, beliau memberikan semangat dengan membawakan beberapa riwayat dan nadzam keutamaan pencari ilmu, diantaranya:

 

فضلُ العالمِ على العابدِ كَفَضلِ القمرِ لَيلةَ البَدرِ على سائِرِ الكوَاكبِ

“Keutamaan orang berilmu atas orang ahli ibadah tanpa ilmu bagaikan keutamaan rembulan di malam hari atas bintang-bintang yang lain” [3]

 

فضلُ العالمِ على العابدِ كَفَضلِي على أَدنَاكُم

“Keutamaan orang berilmu dengan orang ahli ibadah tanpa ilmu seperti keutamaanku atas orang yang paling bawah diantara kalian”[4]

 

من سلك طريقاً يلتمِسُ فيه علماً سهّلَ الله له طريقاً إلى الجنّةِ، وإن الملائكةَ لتضَعُ أجنحتها لِطالبِ العلم رِضاً بما يصنع

“Sesiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga, sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu sebagai bentuk rida mereka terhadap apa yang dia lakukan”[5]

 

مَن في طريقٍ للتّعلُّمِ يَسلُكُ • فإلى الجنَانِ له طريقٌ سُهِّلاَ

“Siapa saja yang menapaki jalan untuk mencari ilmu, maka baginya dimudahkan jalan untuk menuju surga” [6]

 

Saat salat, alhamdulillah alfaqir berada di belakang beliau sebelah kanan, diberi nikmat untuk dapat melihat bagaimana cara salat dari Mahaguru Syafi'iyah Mesir. Sependek pendengaran alfaqir, surat yang beliau baca dalam salat tidak hanya menggunakan qiraat Imam Hafs 'an Ashim, karena ada perbedaan bacaan dari yang kami pelajari. Sepertinya wajar, karena dalam biografi beliau juga disebut sebagai Al-Muqri', sejak 16 tahun telah hafal Qiraat 'Asyr.

 

Ada satu lagi. Di awal dars, pun waktu melanjutkan pelajaran setelah break, beliau mengulang doa belajar. Sepertinya itu salah satu ucapan yang langgeng di lisan beliau. Tidak ada salahnya jika alfaqir tulis, hafal dan sebarkan:

 

اللهم افتح علينا فتوح العارفين بحكمتك، وانشر علينا رحمتك، وذكرنا ما نسينا، يا ذالجلال و الإكرام، اللهم اجعلنا بشرائك عالمين، و ما علمنا عاملين، و عملنا مخلصين

 

Akhir kata, semoga Allah selalu menyelimuti sehat dan afiyah dalam penjagaan-Nya terhadap beliau. Semoga Allah menakdirkan berjumpa dan istifadah di lain waktu dalam keadaan yang lebih baik. Aamiin.

 

Wallahu a’lam

 

Kamis, 30 Rajab 2025 H - 30 Februari 2025 M

تراب نعلي الحبيب ﷺ

 
 
 

Catatan Kaki:

[1] Sejarah Marga al-Syahawi al-Dasuki al-Husaini, Konten Instagram @tobudarkah

[2] Keterangan Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala Tuhfah al-Thullab mengutip fatwa Dar al-Ifta al-Mishriyyah nomor 6087 tertanggal 3 September 2009 tentang "Hukum menyebut nama Nabi dibarengi dengan lafaz 'siyadah (sayyidina)' dalam azan, iqamah dan tasyahud" sebagai berikut:

وقد أجمعت الأمة على ثبوت السيادة للنبي صلى الله عليه وآله وسلم، وعلى عَلَمِيَّته في السيادة، قال العلامة الشرقاوي: [فلفظ سيدنا عَلَمٌ عليه صلى الله عليه وآله وسلم] اهـ. انظر: "حاشية الشرقاوي على تحفة الطلاب" (1/ 21، ط. مصطفى الحلبي)

Fatwa Dar al-Ifta al-Mishriyyah nomor 2128 tertanggal 4 November 2006 tentang “Hukum mengucapkan ‘Sayyidina’ kepada Nabi dalam azan dan tasyahud dalam salat” sebagai berikut: 

قد أجمعت الأمة على ثبوت السيادة للنبي صلى الله عليه وآله وسلم، وعلى عَلَميَّتِهِ في السيادة، قال الشرقاوي: [فَلَفْظُ (سَيِّدِنَا) عَلَمٌ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ] اهـ. "الموسوعة الفقهية الكويتية" (ج11 ص 346، حرف التاء، تسويد، ط. وزارة الأوقاف الكويتية)

[3] Hadis sahih riwayat Imam Abu Dawud. Diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibn Majjah dan Imam Ahmad bin Hanbal. Redaksi sebagai berikut:

من سلك طريقًا يطلبُ فيه علمًا ، سلك اللهُ به طريقًا من طرقِ الجنةِ، وإنَّ الملائكةَ لتضعُ أجنحتَها رضًا لطالبِ العِلمِ، وإنَّ العالِمَ ليستغفرُ له من في السماواتِ ومن في الأرضِ، والحيتانُ في جوفِ الماءِ، وإنَّ فضلَ العالمِ على العابدِ كفضلِ القمرِ ليلةَ البدرِ على سائرِ الكواكبِ، وإنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ، وإنَّ الأنبياءَ لم يُورِّثُوا دينارًا ولا درهمًا، ورَّثُوا العِلمَ فمن أخذَه أخذ بحظٍّ وافرٍ

[4] Hadis sahih riwayat Imam Tirmidzi dengan redaksi sebagai berikut:

ذُكِرَ لرَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ علَيه وسلَّم رجُلانِ؛ أحدهما عابدٌ، والآخَرُ عالِمٌ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيه وسلَّم: فضلُ العالمِ على العابدِ كفضلي على أدناكم ثمَّ قالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ إنَّ اللَّهَ وملائِكتَهُ وأَهلَ السَّماواتِ والأرضِ حتَّى النَّملةَ في جُحرِها وحتَّى الحوتَ ليصلُّونَ على معلِّمِ النَّاسِ الخيرَ

Terdapat redaksi lain sebagai berikut:

فضل العالم على العابد كفضلي على أدنى رجل من أصحابي

فضل العالم على العابد كفضلى على أمتى

[5] Hadis ini memiliki banyak jalur periwayatan, diantaranya catatan kaki nomor 3, diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibn Majjah, Imam Ibn Hibban dan Imam Ali bin Hasan (Ibn Asakir) dalam Tarikh Dimasyq. Redaksi sebagai berikut:

مَن سَلَكَ طَريقًا يَطلُبُ فيه عِلمًا، سَلَكَ اللهُ به طَريقًا إلى الجنَّةِ، وإنَّ المَلائكةَ تَضَعُ أجنِحَتَها لطالِبِ العِلْمِ رِضًا بما يَصنَعُ، وإنَّه لَتَستَغفِرُ له دَوابُّ البَحرِ، حتى الحيتانُ في البَحرِ، وإنَّ فَضلَ العالِمِ على العابِدِ كفَضلِ القَمَرِ لَيلةَ البَدرِ على الكَواكِبِ، وإنَّ العُلَماءَ وَرَثةُ الأنبياءِ، إنَّ الأنبياءَ لم يَدَعوا دينارًا ولا دِرهَمًا، ولكِنَّهم -وفي حديثِ زاهِرٍ: ولكنْ- وَرَّثوا العِلْمَ؛ فمَن أخَذَ به -وقال زاهِرٌ: فمَن أخَذَه- فقد أخَذَ بحَظٍّ وافِرٍ.

[6] Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al-Malibari, Hidayah al-Adzkiya’ ilaa Thariq al-Auliya’.

Post a Comment

أحدث أقدم